alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Kopi Sambas, Ramaikan Festival Kopi Nusantara di Sail Nias 2019

SAMBAS – Kabupaten Sambas ikut Ajang Festival Kopi Nusantara di Gunung Sitoli, Nias, yang  berlangsung 11-14 September 2019. Festival kopi ini menjadi satu di antara rangkaian kegiatan digelaran Sail Nias 2019.

Adalah Lang Jagat dan Ellys Mei Sundari, dua peneliti yang juga pegiat pemberdayaan kopi di kabupaten Sambas ikut serta dalam even tersebut. Mereka juga sebagai pemilik dan sekaligus barista pada kegiatan Festival kopi nusantara 2019 tersebut yang mewakili Sambas.  Menariknya, bahwa jenis kopi yang mereka promosikan dan dibudidayakan

di Sambas adalah jenis kopi Liberika, memiliki nama ilmiah Coffea liberica var. Liberica,  merupakan salah satu varian kopi yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia, bahkan secara global hanya menyumbang 2% (termasuk varian Excelsa)  dari seluruh  total kopi yang diperdagangkan  didunia dan secara nasional.

“Salama ini produksi kopi Indonesia lebih banyak jenis Robusta diikuti dengan jenis Arabika. Oleh karena itu jenis ini  tidak begitu familiar di telinga kita,” ungkap Ellys.

Menurut dia, salah satu desa yang mulai melirik potensi usaha kopi ini adalah Desa Sempadian. Jenis kopi yang dikembangkan adalah jenis liberika, Kopi yang ada di Sempadian telah diolah dan dikemas dalam kemasan yang cukup baik dan menarik. Dan akan terus dikembangkan mulai dari suplai bahan baku, Teknologi dan pengolahan, serta pemasaran kopi.

Baca Juga :  Usai Dilantik, Langsung Turun Ke Lapangan Cegah Covid-19

“Saat ini, melalui kerjasama beberapa instansi, seperti Politeknik Negeri Sambas, Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas berupaya untuk mengangkat potensi kopi sebagai salah satu komoditas yang mampu menggerakkan perekonomi masyarakat di desa,” jelas Ellys lagi.

Melihat potensi dan kondisi kopi yang ada di Kabupaten Sambas, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktoran Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu memfasilitasi Kopi liber.co yang merupakan produk kopi jenis liberika yang dikembangkan oleh BUMDES dari Desa Sempadian.

Dalam kesempatan itu, saat mencicipi kopi Sambas, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo merasakan bahwa kopi Sambas memiliki cita rasa yang khas, yang sangat berbeda dari kopi- kopi lain yang mengisi booth di pameran, dengan aroma kopi yang tidak sekuat arabika akan tetapi memiliki cita rasa yang strong. Menurut Eko, perlu di kembangkan , melihat Sambas merupakan daerah perbatasan dan memiliki peluang besar untuk menjadi komoditas unggulan untuk bisa sampai menjadi produk ekspor. Selain itu, perlu terus ditingkatkan terkait kualitas kopi, pentingnya pelatihan dan pendampingan yang dilakukan untuk menjaga kualitas dan memperhatikan proses.

Baca Juga :  Dosen Poltesa Bantu Petani Sambas, Perkenalkan Alat Pengusir Burung

Kegiatan Festival kali  ini dihadiri oleh Menteri  Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H Laoly. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Taufik Madjid, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo) Eko Sri Haryanto dan Wakil Walikota Gunungsitoli mengunjungi setidaknya ada 20 booth yang menyajikan kopi nusantara.

Tujuan kegiatan Festival Kopi Nusantara yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Samsul Widodo, adalah untuk mempromosikan kopi-kopi nusantara pada masyarakat luas, memberikan edukasi pengolahan kopi kepada para petani dan pelaku usaha kopi. Selain untuk mempromosikan kopi-kopi Indonesia, melalui kegiatan ini (Festival Kopi Nusantara) juga untuk memberikan edukasi pengolahan kopi kepada para petani dan pelaku usaha kopi terutama di Nias.(fah)

SAMBAS – Kabupaten Sambas ikut Ajang Festival Kopi Nusantara di Gunung Sitoli, Nias, yang  berlangsung 11-14 September 2019. Festival kopi ini menjadi satu di antara rangkaian kegiatan digelaran Sail Nias 2019.

Adalah Lang Jagat dan Ellys Mei Sundari, dua peneliti yang juga pegiat pemberdayaan kopi di kabupaten Sambas ikut serta dalam even tersebut. Mereka juga sebagai pemilik dan sekaligus barista pada kegiatan Festival kopi nusantara 2019 tersebut yang mewakili Sambas.  Menariknya, bahwa jenis kopi yang mereka promosikan dan dibudidayakan

di Sambas adalah jenis kopi Liberika, memiliki nama ilmiah Coffea liberica var. Liberica,  merupakan salah satu varian kopi yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia, bahkan secara global hanya menyumbang 2% (termasuk varian Excelsa)  dari seluruh  total kopi yang diperdagangkan  didunia dan secara nasional.

“Salama ini produksi kopi Indonesia lebih banyak jenis Robusta diikuti dengan jenis Arabika. Oleh karena itu jenis ini  tidak begitu familiar di telinga kita,” ungkap Ellys.

Menurut dia, salah satu desa yang mulai melirik potensi usaha kopi ini adalah Desa Sempadian. Jenis kopi yang dikembangkan adalah jenis liberika, Kopi yang ada di Sempadian telah diolah dan dikemas dalam kemasan yang cukup baik dan menarik. Dan akan terus dikembangkan mulai dari suplai bahan baku, Teknologi dan pengolahan, serta pemasaran kopi.

Baca Juga :  Pembatasan Sosial Khusus di Menjalin, Tak Boleh Ada Aktivitas Kerumunan

“Saat ini, melalui kerjasama beberapa instansi, seperti Politeknik Negeri Sambas, Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas berupaya untuk mengangkat potensi kopi sebagai salah satu komoditas yang mampu menggerakkan perekonomi masyarakat di desa,” jelas Ellys lagi.

Melihat potensi dan kondisi kopi yang ada di Kabupaten Sambas, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktoran Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu memfasilitasi Kopi liber.co yang merupakan produk kopi jenis liberika yang dikembangkan oleh BUMDES dari Desa Sempadian.

Dalam kesempatan itu, saat mencicipi kopi Sambas, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo merasakan bahwa kopi Sambas memiliki cita rasa yang khas, yang sangat berbeda dari kopi- kopi lain yang mengisi booth di pameran, dengan aroma kopi yang tidak sekuat arabika akan tetapi memiliki cita rasa yang strong. Menurut Eko, perlu di kembangkan , melihat Sambas merupakan daerah perbatasan dan memiliki peluang besar untuk menjadi komoditas unggulan untuk bisa sampai menjadi produk ekspor. Selain itu, perlu terus ditingkatkan terkait kualitas kopi, pentingnya pelatihan dan pendampingan yang dilakukan untuk menjaga kualitas dan memperhatikan proses.

Baca Juga :  Tiga WNA Ditahan

Kegiatan Festival kali  ini dihadiri oleh Menteri  Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H Laoly. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Taufik Madjid, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo) Eko Sri Haryanto dan Wakil Walikota Gunungsitoli mengunjungi setidaknya ada 20 booth yang menyajikan kopi nusantara.

Tujuan kegiatan Festival Kopi Nusantara yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Samsul Widodo, adalah untuk mempromosikan kopi-kopi nusantara pada masyarakat luas, memberikan edukasi pengolahan kopi kepada para petani dan pelaku usaha kopi. Selain untuk mempromosikan kopi-kopi Indonesia, melalui kegiatan ini (Festival Kopi Nusantara) juga untuk memberikan edukasi pengolahan kopi kepada para petani dan pelaku usaha kopi terutama di Nias.(fah)

Most Read

Artikel Terbaru

/