alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 27, 2022

Ribuan Warga Ketapang Salat Meminta Hujan

KETAPANG – Ribuan orang berkumpul dan melaksanakan salat Istisqa di halaman Masjid Agung Alikhlas Ketapang pada Minggu (15/9) pagi. Salat meminta turun hujan ini dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ketapang, Faishol Maksum. Hadir pula Wakil Bupati Ketapang Suprapto bersama jajaran Forkopimda Ketapang.

Hingga saat ini, kebakaran hutan dan lahan di masih terjadi di Ketapang. Akibatnya, kabut asap menyelimuti Ketapang. Sementara itu, sudah satu bulan lebih Ketapang belum diguyur hujan. Oleh karena itu, berbagai lapisan dan kalangan masyarakat hadir dan melaksanakan salat Istisqa, meminta agar hujan segera turun dan musibah kabut asap ini cepat berlalu.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ketapang, Faishol Maksum, mengatakan salat Istisqa ini bertujuan untuk meminta kepada Allah, agar dapat menurunkan hujan, agar bencana yang disebabkan oleh tangan manusia bisa teratasi. “Karena asap sudah terlalu kuat pekatnya, kita berharap segera diturunkan hujan,” harapnya, kemarin (15/9).

Baca Juga :  SDN 41 Amboyo Inti Dibobol Maling, TV Hingga Tabung Raib

Dia menjelaskan, doa merupakan senjata bagi orang mukmin. Untuk itu, dia mengajak seluruh umat Islam, khususnya di Ketapang, agar bisa bersama-sama berdoa kepada Allah, agar segera diturunkan hujan. “Insyaallah Allah akan mengijabah doa kita semua. Karena hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan kepada kita semua,” ucapnya.

Wakil Bupati (Wabup) Ketapang, Suprapto, mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah dilakukan oleh Pemda bersama dengan pihak terkait, selama kurang lebih dua bulan lamanya. Upaya pemadaman dilakukan mereka baik melalui pemadaman lewat udara hingga darat. Akan tetapi, Wabup mengakui keterbatasan personel dan peralatan, membuat tidak semua api bisa dipadamkan dengan cepat. Terlebih lagi kebakaran hutan dan lahan, menurut dia, terjadi di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan.

Untuk itu, selain upaya pemadaman yang terus dilakukan, pihaknya berikhtiar dengan melakukan salat Istisqa. Mereka meminta kepada Allah agar segera menurunkan hujan, seperti harapan seluruh masyarakat dalam upaya penanggulangan karhutla. “Saat ini status tanggap darurat belum kita tentutkan, kita masih melakukan evaluasi. Ke depan kalau memang kondisi tidak memungkinkan dan harus ditetapkan status tanggap darurat, maka kita akan segera lakukan itu,” akunya.

Baca Juga :  Tumbang Titi – Manismata jadi Jalan Nasional

Suprapto juga menambahkan, pada APBD Perubahan 2019, Pemda Ketapang telah mengalokasikan dana tambahan sebesar Rp200 juta. Sehingga, diharapkan dia, total anggaran yang sudah dialokasikan seluruhnya mencapai Rp500 juta, untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. “Semoga dengan dana ini cukup menanggulangi kesulitan dana yang kita alami dalam rangka oprasional di lapangan,” harapnya.

Dia juga mendukung langka penegak hukum, termasuk Polda Kalbar, dalam melakukan penyegelan perusahaan. Hal tersebut dilakukan mereka sebagai upaya syok terapi terhadap perusahaan yang selama ini terkesan mengabaikan kewajiban perusaahan, berkaitan dengan masalah pemeliharaan wilayah bersangkutan. (afi)

KETAPANG – Ribuan orang berkumpul dan melaksanakan salat Istisqa di halaman Masjid Agung Alikhlas Ketapang pada Minggu (15/9) pagi. Salat meminta turun hujan ini dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ketapang, Faishol Maksum. Hadir pula Wakil Bupati Ketapang Suprapto bersama jajaran Forkopimda Ketapang.

Hingga saat ini, kebakaran hutan dan lahan di masih terjadi di Ketapang. Akibatnya, kabut asap menyelimuti Ketapang. Sementara itu, sudah satu bulan lebih Ketapang belum diguyur hujan. Oleh karena itu, berbagai lapisan dan kalangan masyarakat hadir dan melaksanakan salat Istisqa, meminta agar hujan segera turun dan musibah kabut asap ini cepat berlalu.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ketapang, Faishol Maksum, mengatakan salat Istisqa ini bertujuan untuk meminta kepada Allah, agar dapat menurunkan hujan, agar bencana yang disebabkan oleh tangan manusia bisa teratasi. “Karena asap sudah terlalu kuat pekatnya, kita berharap segera diturunkan hujan,” harapnya, kemarin (15/9).

Baca Juga :  Tumbang Titi – Manismata jadi Jalan Nasional

Dia menjelaskan, doa merupakan senjata bagi orang mukmin. Untuk itu, dia mengajak seluruh umat Islam, khususnya di Ketapang, agar bisa bersama-sama berdoa kepada Allah, agar segera diturunkan hujan. “Insyaallah Allah akan mengijabah doa kita semua. Karena hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan kepada kita semua,” ucapnya.

Wakil Bupati (Wabup) Ketapang, Suprapto, mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah dilakukan oleh Pemda bersama dengan pihak terkait, selama kurang lebih dua bulan lamanya. Upaya pemadaman dilakukan mereka baik melalui pemadaman lewat udara hingga darat. Akan tetapi, Wabup mengakui keterbatasan personel dan peralatan, membuat tidak semua api bisa dipadamkan dengan cepat. Terlebih lagi kebakaran hutan dan lahan, menurut dia, terjadi di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan.

Untuk itu, selain upaya pemadaman yang terus dilakukan, pihaknya berikhtiar dengan melakukan salat Istisqa. Mereka meminta kepada Allah agar segera menurunkan hujan, seperti harapan seluruh masyarakat dalam upaya penanggulangan karhutla. “Saat ini status tanggap darurat belum kita tentutkan, kita masih melakukan evaluasi. Ke depan kalau memang kondisi tidak memungkinkan dan harus ditetapkan status tanggap darurat, maka kita akan segera lakukan itu,” akunya.

Baca Juga :  SDN 41 Amboyo Inti Dibobol Maling, TV Hingga Tabung Raib

Suprapto juga menambahkan, pada APBD Perubahan 2019, Pemda Ketapang telah mengalokasikan dana tambahan sebesar Rp200 juta. Sehingga, diharapkan dia, total anggaran yang sudah dialokasikan seluruhnya mencapai Rp500 juta, untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. “Semoga dengan dana ini cukup menanggulangi kesulitan dana yang kita alami dalam rangka oprasional di lapangan,” harapnya.

Dia juga mendukung langka penegak hukum, termasuk Polda Kalbar, dalam melakukan penyegelan perusahaan. Hal tersebut dilakukan mereka sebagai upaya syok terapi terhadap perusahaan yang selama ini terkesan mengabaikan kewajiban perusaahan, berkaitan dengan masalah pemeliharaan wilayah bersangkutan. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/