alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Ribuan Warga Terserang ISPA

KETAPANG – Ribuan warga Ketapang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dalam kurun waktu empat hari saja, sudah tercatat 529 penderita ISPA. Penyakit yang disebabkan oleh kabut asap ini banyak menyerang balita dan anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ketapang, Basaria Rajagukguk, mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun oleh pihaknya dari seluruh puskesmas di Ketapang, terdapat ribuan penderita ISPA di September ini. “Ada ribuan. Karena per harinya saja sudah ada ratusan yang terserang ISPA,” katanya, kemarin (16/9) di Ketapang.

Dia menjelaskan, data terbaru yang dihimpun mereka sepanjang 13 – 16 September, terdapat 529 kasus ISPA yang tersebar di 20 kecamatan. “Untuk status tanggap darurat memang belum, hanya saja untuk penanggulangan sudah terus kita lakukan, mulai dari pembagian masker melalui puskesmas-puskesmas maupun pembukaan posko kesehatan dengan menempatkan tim kesehatan diposko tersebut,” jelasnya.

Pendataan terhadap penderita ISPA ini dilakukan mereka setiap hari. Dalam sehari, khususnya pada September ini, diakui dia jika jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. “Bulan Agustus kemarin terdapat 3.847 penderita ISPA. Di bulan September ini bisa lebih banyak lagi. Karena dari 13 sampai 16 September saja sudah ada 529 kasus ISPA,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya sedang mengajukan oksigen fortabel serta nebo yang dinilai sangat diperlukan dalam situasi kabut asap seperti ini. Oksigen fortabel dan beberapa peralatan nantinya direncanakan akan didistribusikan ke posko dan puskesmas-puskesmas. “Kalau untuk obat-obatan ISPA sudah tersedia di puskesmas-puskesmas. Masyarakat yang mengeluhkan sakit silakan datang ke puskesmas,” pintanya.

Baca Juga :  Ribuan Warga Ketapang Salat Meminta Hujan

Meski menyerang ribuan warga, namun sejauh ini dipastikan dia, belum ada korban jiwa akibat terserang ISPA. Hanya saja warga yang terserang ISPA, diingatkan dia, harus mendapatkan perawatan intensif, seperti rawat inap. “Kita minta agar aktivitas diluar rumah bisa dikurangi, selain harapan penanggulangan terhadap persoalan bisa dilakukan bersama-sama semua pihak terkait,” harapnya.

Salah satu orang tua yang anaknya terkena ISPA, Emanuel Acun (43), mengaku sudah tiga hari ada di rumah sakit. Dia membawa anaknya, Julianus (6) berobat karena penyakit asmanya kambuh akibat kabut asap. “Memang ada riwayat sakit asma, tapi karena kabut pekat asmanya kambuh dan parah, makanya sampai harus dirawat inap,” katanya saat ditemui di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, kemarin (16/9).

Warga Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara (MHU) ini mengakui jika kabut asap di desanya sangat parah. Terlebih lagi kebakaran hutan dan lahan di sekitar desanya, diakui dia, terjadi cukup memperihatinkan. Bahkan menurutnya, kebakaran kali ini sangat parah. “Dulu juga terbakar, tapi tidak seperti sekarang. Sekarang ini sangat parah,” jelasnya.

Sementara itu, Ria (30), orang tua anak yang juga sakit karena sesak nafas, tidak tahu harus berbuat apa. Anaknya yang masih berusia 7 bulan terpaksa harus dirawat inap karena sesak napas. “Sudah lima hari di sini. Kemarin sudah keluar karena sesak nafas, tapi baru beberapa hari kambuh lagi. Jadi harus dirawat inap lagi,” katanya.

Baca Juga :  Gaduh Isu Limbah PT MBK Terbantahkan

Ria mengaku sangat jarang membawa anaknya keluar rumah. Hanya saja karena kabut asap sudah memasuki ke dalam rumah, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Tidak mungki tutup pintu 24 jam, pasti buka pintu. Saat buka pintu itulah asap masuk ke dalam rumah. Mungkin asap yang masuk ke dalam rumah itu yang buat anak saya sesak napas,” jelasnya.

Dia berharap bencana kabut asap ini cepat berlalu. “Kasihan anak-anak. Tidak keluar rumah masih kena kabut asap. Apalagi anak-anak kurang paham bahaya kabut asap. Mereka hanya tau bermain keluar rumah. Anak-anak juga jarang mau pakai masker. Mudah-mudahan kabut asap ini cepat hilang,” harapnya.

Kepala Pelayanan Rekam Medik RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, Syaiful Ramsyah, mengatakan, pasien ISPA sudah ditemukan mereka sejak beberapa bulan lalu. Namun, peningkatan diakui dia terjadi sejak Agustus dan September. “Sekitar bulan lalu mulai ada pasien ISPA, perhari ada 7 sampai 8 pasien kunjungan untuk dilakukan rawat jalan berkaitan dengan ISPA,” katanya.

Kondisi tersebut sejauh ini masih bisa ditangani oleh pihaknya, lantaran kebanyakan para pasien hanya dilakukan rawan jalan. Hanya ada beberapa pasien yang menurut dia harus dirawat inap. Hal tersebut dikarenakan ISPA yang diderita pasien, diakui dia, cukup parah. “Usia rata-rata 6 sampai 7 tahun, sebagain besar hanya rawat jalan, rawat inap yang memang parah ada beberap orang saja,” tuturnya. (afi)

KETAPANG – Ribuan warga Ketapang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dalam kurun waktu empat hari saja, sudah tercatat 529 penderita ISPA. Penyakit yang disebabkan oleh kabut asap ini banyak menyerang balita dan anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ketapang, Basaria Rajagukguk, mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun oleh pihaknya dari seluruh puskesmas di Ketapang, terdapat ribuan penderita ISPA di September ini. “Ada ribuan. Karena per harinya saja sudah ada ratusan yang terserang ISPA,” katanya, kemarin (16/9) di Ketapang.

Dia menjelaskan, data terbaru yang dihimpun mereka sepanjang 13 – 16 September, terdapat 529 kasus ISPA yang tersebar di 20 kecamatan. “Untuk status tanggap darurat memang belum, hanya saja untuk penanggulangan sudah terus kita lakukan, mulai dari pembagian masker melalui puskesmas-puskesmas maupun pembukaan posko kesehatan dengan menempatkan tim kesehatan diposko tersebut,” jelasnya.

Pendataan terhadap penderita ISPA ini dilakukan mereka setiap hari. Dalam sehari, khususnya pada September ini, diakui dia jika jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. “Bulan Agustus kemarin terdapat 3.847 penderita ISPA. Di bulan September ini bisa lebih banyak lagi. Karena dari 13 sampai 16 September saja sudah ada 529 kasus ISPA,” ungkapnya.

Saat ini pihaknya sedang mengajukan oksigen fortabel serta nebo yang dinilai sangat diperlukan dalam situasi kabut asap seperti ini. Oksigen fortabel dan beberapa peralatan nantinya direncanakan akan didistribusikan ke posko dan puskesmas-puskesmas. “Kalau untuk obat-obatan ISPA sudah tersedia di puskesmas-puskesmas. Masyarakat yang mengeluhkan sakit silakan datang ke puskesmas,” pintanya.

Baca Juga :  Cabai Tembus Rp 95.000 per Kilogram

Meski menyerang ribuan warga, namun sejauh ini dipastikan dia, belum ada korban jiwa akibat terserang ISPA. Hanya saja warga yang terserang ISPA, diingatkan dia, harus mendapatkan perawatan intensif, seperti rawat inap. “Kita minta agar aktivitas diluar rumah bisa dikurangi, selain harapan penanggulangan terhadap persoalan bisa dilakukan bersama-sama semua pihak terkait,” harapnya.

Salah satu orang tua yang anaknya terkena ISPA, Emanuel Acun (43), mengaku sudah tiga hari ada di rumah sakit. Dia membawa anaknya, Julianus (6) berobat karena penyakit asmanya kambuh akibat kabut asap. “Memang ada riwayat sakit asma, tapi karena kabut pekat asmanya kambuh dan parah, makanya sampai harus dirawat inap,” katanya saat ditemui di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, kemarin (16/9).

Warga Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara (MHU) ini mengakui jika kabut asap di desanya sangat parah. Terlebih lagi kebakaran hutan dan lahan di sekitar desanya, diakui dia, terjadi cukup memperihatinkan. Bahkan menurutnya, kebakaran kali ini sangat parah. “Dulu juga terbakar, tapi tidak seperti sekarang. Sekarang ini sangat parah,” jelasnya.

Sementara itu, Ria (30), orang tua anak yang juga sakit karena sesak nafas, tidak tahu harus berbuat apa. Anaknya yang masih berusia 7 bulan terpaksa harus dirawat inap karena sesak napas. “Sudah lima hari di sini. Kemarin sudah keluar karena sesak nafas, tapi baru beberapa hari kambuh lagi. Jadi harus dirawat inap lagi,” katanya.

Baca Juga :  Atlet Mempawah Masuk Timnas

Ria mengaku sangat jarang membawa anaknya keluar rumah. Hanya saja karena kabut asap sudah memasuki ke dalam rumah, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Tidak mungki tutup pintu 24 jam, pasti buka pintu. Saat buka pintu itulah asap masuk ke dalam rumah. Mungkin asap yang masuk ke dalam rumah itu yang buat anak saya sesak napas,” jelasnya.

Dia berharap bencana kabut asap ini cepat berlalu. “Kasihan anak-anak. Tidak keluar rumah masih kena kabut asap. Apalagi anak-anak kurang paham bahaya kabut asap. Mereka hanya tau bermain keluar rumah. Anak-anak juga jarang mau pakai masker. Mudah-mudahan kabut asap ini cepat hilang,” harapnya.

Kepala Pelayanan Rekam Medik RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, Syaiful Ramsyah, mengatakan, pasien ISPA sudah ditemukan mereka sejak beberapa bulan lalu. Namun, peningkatan diakui dia terjadi sejak Agustus dan September. “Sekitar bulan lalu mulai ada pasien ISPA, perhari ada 7 sampai 8 pasien kunjungan untuk dilakukan rawat jalan berkaitan dengan ISPA,” katanya.

Kondisi tersebut sejauh ini masih bisa ditangani oleh pihaknya, lantaran kebanyakan para pasien hanya dilakukan rawan jalan. Hanya ada beberapa pasien yang menurut dia harus dirawat inap. Hal tersebut dikarenakan ISPA yang diderita pasien, diakui dia, cukup parah. “Usia rata-rata 6 sampai 7 tahun, sebagain besar hanya rawat jalan, rawat inap yang memang parah ada beberap orang saja,” tuturnya. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/