alexametrics
28 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Setiap Hari Puluhan Jeriken Ludes Diborong

Menimba Rupiah dari Air Bersih Bukit Seliung

 

 Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Mempawah, menjadi berkah bagi sebagian masyarakat. Terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai penyedia jasa angkutan air bersih. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) di Sungai Pinyuh. Tiap hari, pasutri ini mengangkut puluhan jeriken untuk pelanggannya.

 

WAHYU ISMIR, SUNGAI PINYUH

 

ADALAH Aciap dan istrinya, Maria. Sejak kemarau panjang melanda daerah itu, pasutri warga Sungai Pinyuh ini mulai menjajakan jasanya mengangkut air bersih. Usaha yang tepat, diwaktu yang tepat pula. Masyarakat pun berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi pelanggan pasutri ini.

 

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya, Aciap dan Maria memanfaatkan sumber air bersih di kaki Bukit Seliung. Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 7-10 menit dari pusat Pasar Sungai Pinyuh. Air bersih dari kaki Bukit Seliung ini sangat segar dan dapat dikonsumsi menjadi air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

 

Namun, pasutri ini tidak sendirian. Banyak masyarakat Sungai Pinyuh dan sekitarnya yang memanfaatkan sumber mata air alami itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau berlangsung. Mereka pun harus bersabar menunggu antrian untuk mendapatkan air bersih tersebut.

Baca Juga :  Ingatkan Bahaya Gelombang Tinggi

 

Selain harus menunggu antrian, tak mudah untuk mendapatkan air bersih dari kaki Bukit Seliung ini. Mereka harus menuruni anak tangga yang biasanya terasa licin akibat tumpahan air. Jika tidak berhati-hati, mereka pun bisa celaka saat menuruni atau menaiki anak tangga menuju ke sumber air bersih.

 

Agar menghemat waktu, Aciap dan Maria membawa semaksimal mungkin jeriken yang dapat menampung banyak air. Namun, mereka pun harus memikirkan kemampuan fisiknya yang sudah tidak lagi muda. Biasanya, Aciap dan Maria masing-masing membawa 2 jeriken yang diangkut menggunakan sepeda motor dan sepeda engkol. Aciap memakai sepeda engkol dengan membawa dua jeriken, dan sisanya diangkut oleh Maria yang menggunakan sepeda motor.

 

Dalam sehari, pasutri ini dapat mengangkut hingga 5 kali. Jika sekali angkutan sebanyak 4 jeriken, maka mereka bisa memenuhi 20 jeriken air bersih milik pelanggannya. “Kalau dulu sewaktu masih muda, bisa mengangkut sampai 6 jeriken. Sekarang sudah tidak kuat, karena sudah renta,” lirih Maria sembari diamini Aciap.

 

Dari puluhan jeriken tersebut, sudah bisa dibayangkan pundi-pundi rupiah yang bisa dihasilkan pasutri ini dari bisnis berjualan air bersih dari kaki Bukit Seliung. Masalah harga, mereka menyesuaikan dengan jarak tempuh.

Baca Juga :  MTs dan MA Riyadhul Ulum Sungai Pinyuh Terbakar

 

Pelanggan yang rumahnya lebih dekat dari sumber air bersih tentu lebih murah dibandingkan yang rumahnya paling jauh. Tarifnya berkisar Rp 4.000-Rp 5.000 per jeriken. Berdasarkan tarif itu, maka pasutri ini bisa mengumpulkan Rp 80-Rp 100 ribu saban harinya dari bisnis jasa angkutan air bersih.

 

Usaha yang digeluti Aciap dan istrinya, Maria membuktikan tak selamanya alam memberikan dampak buruk terhadap masyarakat. Walau ditengah kemarau panjang, alam masih menyisakan kebaikan dengan menyediakan sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha bagi mereka yang menyediakan jasa angkutan air bersih.

 

“Usaha mengangkut air bersih ini hanya kami lakukan pada musim kemarau saja. Kalau musim hujan, maka kami beristirahat dirumah,” aku Maria sembari berlalu mengangkat jeriken yang sudah penuh terisi air bersih.

 

Apakah anda juga tertarik memanfaatkan musim kemarau ini untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dari berbisnis air bersih seperti yang dilakukan pasutri Aciap dan Maria? (*)

Menimba Rupiah dari Air Bersih Bukit Seliung

 

 Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Mempawah, menjadi berkah bagi sebagian masyarakat. Terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai penyedia jasa angkutan air bersih. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) di Sungai Pinyuh. Tiap hari, pasutri ini mengangkut puluhan jeriken untuk pelanggannya.

 

WAHYU ISMIR, SUNGAI PINYUH

 

ADALAH Aciap dan istrinya, Maria. Sejak kemarau panjang melanda daerah itu, pasutri warga Sungai Pinyuh ini mulai menjajakan jasanya mengangkut air bersih. Usaha yang tepat, diwaktu yang tepat pula. Masyarakat pun berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi pelanggan pasutri ini.

 

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya, Aciap dan Maria memanfaatkan sumber air bersih di kaki Bukit Seliung. Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 7-10 menit dari pusat Pasar Sungai Pinyuh. Air bersih dari kaki Bukit Seliung ini sangat segar dan dapat dikonsumsi menjadi air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

 

Namun, pasutri ini tidak sendirian. Banyak masyarakat Sungai Pinyuh dan sekitarnya yang memanfaatkan sumber mata air alami itu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau berlangsung. Mereka pun harus bersabar menunggu antrian untuk mendapatkan air bersih tersebut.

Baca Juga :  Perempuan Ketua Kelompok KPM Dikumpulkan

 

Selain harus menunggu antrian, tak mudah untuk mendapatkan air bersih dari kaki Bukit Seliung ini. Mereka harus menuruni anak tangga yang biasanya terasa licin akibat tumpahan air. Jika tidak berhati-hati, mereka pun bisa celaka saat menuruni atau menaiki anak tangga menuju ke sumber air bersih.

 

Agar menghemat waktu, Aciap dan Maria membawa semaksimal mungkin jeriken yang dapat menampung banyak air. Namun, mereka pun harus memikirkan kemampuan fisiknya yang sudah tidak lagi muda. Biasanya, Aciap dan Maria masing-masing membawa 2 jeriken yang diangkut menggunakan sepeda motor dan sepeda engkol. Aciap memakai sepeda engkol dengan membawa dua jeriken, dan sisanya diangkut oleh Maria yang menggunakan sepeda motor.

 

Dalam sehari, pasutri ini dapat mengangkut hingga 5 kali. Jika sekali angkutan sebanyak 4 jeriken, maka mereka bisa memenuhi 20 jeriken air bersih milik pelanggannya. “Kalau dulu sewaktu masih muda, bisa mengangkut sampai 6 jeriken. Sekarang sudah tidak kuat, karena sudah renta,” lirih Maria sembari diamini Aciap.

 

Dari puluhan jeriken tersebut, sudah bisa dibayangkan pundi-pundi rupiah yang bisa dihasilkan pasutri ini dari bisnis berjualan air bersih dari kaki Bukit Seliung. Masalah harga, mereka menyesuaikan dengan jarak tempuh.

Baca Juga :  Dampak Corona, Pedagang Sui Pinyuh Sepi Pembeli

 

Pelanggan yang rumahnya lebih dekat dari sumber air bersih tentu lebih murah dibandingkan yang rumahnya paling jauh. Tarifnya berkisar Rp 4.000-Rp 5.000 per jeriken. Berdasarkan tarif itu, maka pasutri ini bisa mengumpulkan Rp 80-Rp 100 ribu saban harinya dari bisnis jasa angkutan air bersih.

 

Usaha yang digeluti Aciap dan istrinya, Maria membuktikan tak selamanya alam memberikan dampak buruk terhadap masyarakat. Walau ditengah kemarau panjang, alam masih menyisakan kebaikan dengan menyediakan sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha bagi mereka yang menyediakan jasa angkutan air bersih.

 

“Usaha mengangkut air bersih ini hanya kami lakukan pada musim kemarau saja. Kalau musim hujan, maka kami beristirahat dirumah,” aku Maria sembari berlalu mengangkat jeriken yang sudah penuh terisi air bersih.

 

Apakah anda juga tertarik memanfaatkan musim kemarau ini untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dari berbisnis air bersih seperti yang dilakukan pasutri Aciap dan Maria? (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/