alexametrics
30.6 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Trenggiling Terpanggang

Satwa Korban Karhutla

KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak yang cukup besar. Selain menimbulkan masalah kabut asap, karhutla juga merusak lingkungan. Membuat tumbuh-tumbuhan hangus terbakar, juga membunuh binatang yang ada di dalamnya. Kebakaran hebat yang terjadi di Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan, contohnya. Selain menghanguskan ratusan hektare lahan, banyak satwa ikut mati karena tidak bisa keluar dari kepungan api.

Di sela-sela memadamkan api, petugas menemukan seekor trenggiling (manis javanica) mati di tengah sisa-siwa lahan yang terbakar pada Selasa (20/8). Satwa yang dilindungi tersebut mati dengan kondisi badan yang sudah hangus. Meski memikiki sisik yang kuat, tetap tidak mampu menahan panas api dari lahan yang terbakar tersebut.

Penemuan bangkai trenggiling tersebut bermula saat tim pemadam kebakaran yang terdiri dari Manggala Agni Daops Ketapang, TNI dan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Pelang, melakukan penyisiran lokasi Jalan Pelang-Tumbang Titi, Dusun 4 Kanalisasi Desa Sungai Pelang, Kecamatan, Matan Hilir Selatan. Tanpa sengaja, tim menemukan bangkai trenggiling tersebut di lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan sekitar pukul 10.00 WIB.

Baca Juga :  Program TJSL PLN, Taman Merdeka Jadi Lokasi 'Healing' Favorit Warga Ketapang

Trenggiling tersebut ditemukan dalam keadaan sudah mati terpanggang dengan tubuh yang sudah gosong. Sebagian sisiknya juga mengelupas. Trenggiling tersebut diperkirakan berasal dari hutan sekitar yang terbakar dan terkepung oleh api. Tim kemudian menghubungi pihak BKSDA Seksi Wilayah 1 Ketapang.
Bhabinkamtibmas Pelang, Matan Hilir Selatan, Brigadir Suhanadi, mengatakan trenggiling tersebut ditemukan sudah dalam keadaan mati. “Kami menemukan di sisa-sisa kebakaran, kemudian kami bawa untuk dikuburkan, karena BKSDA meminta agar dikuburkan saja,” katanya.

Menurutnya, kebakaran lahan yang terjadi di Pelang kemarin memang cukup besar. Sangat kecil sekali kemungkinan hidup bagi satwa yang ada di dalamnya jika tidak segera melarikan diri. Tidak hanya trenggiling saja, mungkin masih ada binatang lain yang terkepung api pada kebakaran lahan tersebut dan juga mati terpanggang.

Baca Juga :  Muncul Titik Api di Jawai

Trenggiling atau disebut juga sebagai trenggiling biasa, merupakan hewan yang hidupnya mendiami wilayah-wilayah sekitar hutan hujan di Asia, termasuk di hutan hujan Indonesia. Di Indonesia, sebaran trenggiling adalah di Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Di dunia, hewan yang tergolong mamalia nokturnal ini memiliki delapan spesies, empat spesies di antaranya terdapat di Asia dan empat spesies lainnya di Afrika.

Saat ini, keberadaan atau nasib Si Manis semakin laris manis sesuai namanya, karena beberapa hal, salah satunya karena masih maraknya perburuan dan hilangnya habitat hidup mereka berupa hutan. Perburuan terhadap daging dan sisik trenggiling untuk diperdagangkan menjadikan hewan ini keberadaannya dari hari ke hari semakin langka hingga terancam punah. Dari data International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya. (afi)

Satwa Korban Karhutla

KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak yang cukup besar. Selain menimbulkan masalah kabut asap, karhutla juga merusak lingkungan. Membuat tumbuh-tumbuhan hangus terbakar, juga membunuh binatang yang ada di dalamnya. Kebakaran hebat yang terjadi di Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan, contohnya. Selain menghanguskan ratusan hektare lahan, banyak satwa ikut mati karena tidak bisa keluar dari kepungan api.

Di sela-sela memadamkan api, petugas menemukan seekor trenggiling (manis javanica) mati di tengah sisa-siwa lahan yang terbakar pada Selasa (20/8). Satwa yang dilindungi tersebut mati dengan kondisi badan yang sudah hangus. Meski memikiki sisik yang kuat, tetap tidak mampu menahan panas api dari lahan yang terbakar tersebut.

Penemuan bangkai trenggiling tersebut bermula saat tim pemadam kebakaran yang terdiri dari Manggala Agni Daops Ketapang, TNI dan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Pelang, melakukan penyisiran lokasi Jalan Pelang-Tumbang Titi, Dusun 4 Kanalisasi Desa Sungai Pelang, Kecamatan, Matan Hilir Selatan. Tanpa sengaja, tim menemukan bangkai trenggiling tersebut di lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan sekitar pukul 10.00 WIB.

Baca Juga :  Manis Mata Punya GOR Gelora Kecubung

Trenggiling tersebut ditemukan dalam keadaan sudah mati terpanggang dengan tubuh yang sudah gosong. Sebagian sisiknya juga mengelupas. Trenggiling tersebut diperkirakan berasal dari hutan sekitar yang terbakar dan terkepung oleh api. Tim kemudian menghubungi pihak BKSDA Seksi Wilayah 1 Ketapang.
Bhabinkamtibmas Pelang, Matan Hilir Selatan, Brigadir Suhanadi, mengatakan trenggiling tersebut ditemukan sudah dalam keadaan mati. “Kami menemukan di sisa-sisa kebakaran, kemudian kami bawa untuk dikuburkan, karena BKSDA meminta agar dikuburkan saja,” katanya.

Menurutnya, kebakaran lahan yang terjadi di Pelang kemarin memang cukup besar. Sangat kecil sekali kemungkinan hidup bagi satwa yang ada di dalamnya jika tidak segera melarikan diri. Tidak hanya trenggiling saja, mungkin masih ada binatang lain yang terkepung api pada kebakaran lahan tersebut dan juga mati terpanggang.

Baca Juga :  Sambut dengan Sederhana

Trenggiling atau disebut juga sebagai trenggiling biasa, merupakan hewan yang hidupnya mendiami wilayah-wilayah sekitar hutan hujan di Asia, termasuk di hutan hujan Indonesia. Di Indonesia, sebaran trenggiling adalah di Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Di dunia, hewan yang tergolong mamalia nokturnal ini memiliki delapan spesies, empat spesies di antaranya terdapat di Asia dan empat spesies lainnya di Afrika.

Saat ini, keberadaan atau nasib Si Manis semakin laris manis sesuai namanya, karena beberapa hal, salah satunya karena masih maraknya perburuan dan hilangnya habitat hidup mereka berupa hutan. Perburuan terhadap daging dan sisik trenggiling untuk diperdagangkan menjadikan hewan ini keberadaannya dari hari ke hari semakin langka hingga terancam punah. Dari data International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/