alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

PAD Desa Muara Jekak Tertinggi

Satu Tahun Capai Rp3 Miliar Mampu Bangun Mes

Desa Muara Jekak yang terletak di Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang memiliki pendapatan asli desa tertinggi di Kalbar. Desa yang mengandalkan perkebunan sawit itu mampu membiayai berabagai hal untuk warganya.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

KEPALA Desa Muara Jekak Sinarsyah mengungkapkan, PAD terbesar didapat dari perkebunan sawit. Desanya kini memiliki 75 kaveling kebun plasma. Awalnya ia menceritakan, per kepala keluarga (KK) ingin dibagi satu kaveling kebun. Namun karena jumlah KK jauh lebih banyak yakni ada sekitar 800-an, maka kebun plasma seluruhnya dikelola oleh desa.

Pengelolaan kebun plasma oleh desa sudah berjalan sekitar 15 tahun sejak 2005. Dana hasilnya semua digunakan untuk kepentingan masyarakat. Banyak program yang dijalankan lewat dana tersebut.
Seperti diantaranya, jika ada warga yang sakit, per orang mendapat santunan sebesar Rp1,5 juta. Lalu setiap hari besar keagamaan, per KK juga mendapat tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp500 ribu. Bagi warga yang janda atau duda mendapat santunan Rp200 ribu per orang.

“Saya sudah bagikan uang itu lima kali, Rp5 juta per KK, kalau yang janda duda itu Rp1,5 juta, kalau orang meninggal, fardu kifayah itu semuanya dari desa, ditanggung oleh desa,” ungkap Kades yang sudah menjabat tiga periode itu.

Semua pendapatan desa menurutnya sudah dikelola dengan baik. Dalam satu tahun, rata-rata dari kebun plasma yang ada mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 miliar. Bahkan dulu di saat usia tanaman sawit masih sangat produktif dalam satu bulan pendapatan kotor mencapai sekitar Rp700 juta.
“Itu satu bulan, tapi belum dipotong apa-apa, masih kotor, terus sekarang tinggal Rp300 juta lebih per bulan, itu masih kotor juga,” paparnya.

Baca Juga :  Bantah Limbah PT. MBK

Ke depan ia berencana bakal meningkatkan usaha di bidang lain lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Diantaranya membeli mesin pemecah batu. Karena ada perusahaan yang ingin kerja sama dengan kuota mencapai ribuan kubik batu. “Jadi saya bentuk lewat BUMDes, memang desa kami kalau masalah PAD cukup lumayan,” katanya.

Sementara dari alokasi dana desa pemerintah pusat yang mencapai Rp1 miliar lebih per tahun, dikatakan Sinarsyah dimanfaatkan untuk Tim Pengelola Kegiatan (TPK). Pola pengerjaannya secara bergotong royong untuk membangun berbagai infrastruktur yang dibutuhkan di desa. “Bagi saya kepala desa hanya melegalitaskan atau menyetujui saja (TPK),” ucapnya.

Selain itu sebagian pembangunan infrastruktur di desa juga menggunakan hasil PAD. Seperti yang lalu, Sinarsyah menyebut sudah membangun jalan dengan total anggaran mencapai sekitar Rp6 miliar. Jalan yang dibangun berupa jalan lingkungan untuk perkebunan karet, sawah dan sawit.

Bahkan pemerintah desa juga sudah mampu membeli mes khusus untuk masyarakat desa Muara Jekak di Kota Pontianak. Mes yang terletak di Jalan Sungai Raya Dalam, Komplek Bali Mas I itu memiliki total 25 kamar. Sebagian digunakan untuk pelajar asal desa Muara Jekak yang melanjutkan pendidikan di Pontianak dan sebagian lagi untuk warga desa yang sakit atau rawat jalan.

Baca Juga :  Karolin Lantik Pengurus Baznas Kabupaten Landak 2017-2022

“Di situ lengkap, ada alat masak dan sebagainya. Tidak bayar, paling bayar leding dan listrik saja. Tahun ini mau kami rehab juga,” ucapnya.

Soal pendidikan memang cukup menjadi perhatian pemerintah desa. Masing-masing warga yang ingin menyekolahkan anaknya diberi santunan. Untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK) diberi Rp100 ribu per tahun, sedangkan mahasiswa Rp500 ribu per semester.

Meski sudah memiliki pendapatan yang tinggi, saat ini status desa Muara Jekak masih sebagai desa maju. Ditargetkan di tahun 2020 ini Muara Jekak sudah bisa berubah status menjadi desa mandiri.
Gubernur Kalbar Sutarmidji melihat selama ini memang banyak desa memiliki lahan namun tidak dimanfaatkan maksimal. Ke depan pihaknya bakal menginventarisir desa mana saja yang memiliki lahan luas dan meneliti lahan tersebut cocok untuk tanaman tertentu.

“Kalau misalnya bagus untuk singkong kami bantu bibit singkong. Desa Muara Jekak itu saya akan lihat, kalau bisa saya kunjungi, lihat tata kelolanya bagaimana kalau memang itu (PAD tinggi) ya bagus,” katanya.

Ke depan menurutnya banyak desa-desa yang inovatif harus ditampilkan. Sehingga perlu dilaksanakan lomba inovasi desa, yang rencananya dimulai tahun depan. “Dengan hadiah program yang lumayan besar,” pungkasnya.(*)

Satu Tahun Capai Rp3 Miliar Mampu Bangun Mes

Desa Muara Jekak yang terletak di Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang memiliki pendapatan asli desa tertinggi di Kalbar. Desa yang mengandalkan perkebunan sawit itu mampu membiayai berabagai hal untuk warganya.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

KEPALA Desa Muara Jekak Sinarsyah mengungkapkan, PAD terbesar didapat dari perkebunan sawit. Desanya kini memiliki 75 kaveling kebun plasma. Awalnya ia menceritakan, per kepala keluarga (KK) ingin dibagi satu kaveling kebun. Namun karena jumlah KK jauh lebih banyak yakni ada sekitar 800-an, maka kebun plasma seluruhnya dikelola oleh desa.

Pengelolaan kebun plasma oleh desa sudah berjalan sekitar 15 tahun sejak 2005. Dana hasilnya semua digunakan untuk kepentingan masyarakat. Banyak program yang dijalankan lewat dana tersebut.
Seperti diantaranya, jika ada warga yang sakit, per orang mendapat santunan sebesar Rp1,5 juta. Lalu setiap hari besar keagamaan, per KK juga mendapat tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp500 ribu. Bagi warga yang janda atau duda mendapat santunan Rp200 ribu per orang.

“Saya sudah bagikan uang itu lima kali, Rp5 juta per KK, kalau yang janda duda itu Rp1,5 juta, kalau orang meninggal, fardu kifayah itu semuanya dari desa, ditanggung oleh desa,” ungkap Kades yang sudah menjabat tiga periode itu.

Semua pendapatan desa menurutnya sudah dikelola dengan baik. Dalam satu tahun, rata-rata dari kebun plasma yang ada mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 miliar. Bahkan dulu di saat usia tanaman sawit masih sangat produktif dalam satu bulan pendapatan kotor mencapai sekitar Rp700 juta.
“Itu satu bulan, tapi belum dipotong apa-apa, masih kotor, terus sekarang tinggal Rp300 juta lebih per bulan, itu masih kotor juga,” paparnya.

Baca Juga :  160 ASN dan Honorer Tes Urine

Ke depan ia berencana bakal meningkatkan usaha di bidang lain lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Diantaranya membeli mesin pemecah batu. Karena ada perusahaan yang ingin kerja sama dengan kuota mencapai ribuan kubik batu. “Jadi saya bentuk lewat BUMDes, memang desa kami kalau masalah PAD cukup lumayan,” katanya.

Sementara dari alokasi dana desa pemerintah pusat yang mencapai Rp1 miliar lebih per tahun, dikatakan Sinarsyah dimanfaatkan untuk Tim Pengelola Kegiatan (TPK). Pola pengerjaannya secara bergotong royong untuk membangun berbagai infrastruktur yang dibutuhkan di desa. “Bagi saya kepala desa hanya melegalitaskan atau menyetujui saja (TPK),” ucapnya.

Selain itu sebagian pembangunan infrastruktur di desa juga menggunakan hasil PAD. Seperti yang lalu, Sinarsyah menyebut sudah membangun jalan dengan total anggaran mencapai sekitar Rp6 miliar. Jalan yang dibangun berupa jalan lingkungan untuk perkebunan karet, sawah dan sawit.

Bahkan pemerintah desa juga sudah mampu membeli mes khusus untuk masyarakat desa Muara Jekak di Kota Pontianak. Mes yang terletak di Jalan Sungai Raya Dalam, Komplek Bali Mas I itu memiliki total 25 kamar. Sebagian digunakan untuk pelajar asal desa Muara Jekak yang melanjutkan pendidikan di Pontianak dan sebagian lagi untuk warga desa yang sakit atau rawat jalan.

Baca Juga :  Tegur Pejabat Saat Pelantikan, Karolin: Acara Belum Selesai, Kok Sudah Ribut?

“Di situ lengkap, ada alat masak dan sebagainya. Tidak bayar, paling bayar leding dan listrik saja. Tahun ini mau kami rehab juga,” ucapnya.

Soal pendidikan memang cukup menjadi perhatian pemerintah desa. Masing-masing warga yang ingin menyekolahkan anaknya diberi santunan. Untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK) diberi Rp100 ribu per tahun, sedangkan mahasiswa Rp500 ribu per semester.

Meski sudah memiliki pendapatan yang tinggi, saat ini status desa Muara Jekak masih sebagai desa maju. Ditargetkan di tahun 2020 ini Muara Jekak sudah bisa berubah status menjadi desa mandiri.
Gubernur Kalbar Sutarmidji melihat selama ini memang banyak desa memiliki lahan namun tidak dimanfaatkan maksimal. Ke depan pihaknya bakal menginventarisir desa mana saja yang memiliki lahan luas dan meneliti lahan tersebut cocok untuk tanaman tertentu.

“Kalau misalnya bagus untuk singkong kami bantu bibit singkong. Desa Muara Jekak itu saya akan lihat, kalau bisa saya kunjungi, lihat tata kelolanya bagaimana kalau memang itu (PAD tinggi) ya bagus,” katanya.

Ke depan menurutnya banyak desa-desa yang inovatif harus ditampilkan. Sehingga perlu dilaksanakan lomba inovasi desa, yang rencananya dimulai tahun depan. “Dengan hadiah program yang lumayan besar,” pungkasnya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/