alexametrics
23.4 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Pengunjung Bisa Berselfie dari Ketinggian Pulau Sepandan

Menikmati Keindahan Taman Nasional Danau Sentarum

Pulau Sepandan adalah satu dari sekian banyak destinasi wisata di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Di sini pengunjung bisa berselfie sambil menikmati keindahan danau unik yang berada di jantung Kalimantan.

ARIEF NUGROHO, Lanjak

HARI itu, Minggu (27/10), di sela-sela kegiatan Festival Danau Sentarum, rombongan Balai Besar Taman Nasional Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum (Tanabentarum) mengantarkan kami mengunjungi Pulau Sepandan. Sebuah pulau kecil yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Pulau Sepandan sendiri terletak di Desa Sepandan, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu.

Untuk menuju ke sana, kami diantar menggunakan speedboat. Jarak yang ditempuh pun tidak terlampau jauh. Sekitar 15-20 menit dari dermaga Lanjak. Pulau Sepandan yang kami kunjungi kali ini jauh berbeda dengan Sepandan yang saya kunjungi dua tahun lalu. Pulau tanpa penghuni itu kini sudah menjelma menjadi destinasi andalan bagi masyarakat lokal, nasional maupun mancanegara.

Selain jarak yang lumayan dekat, biaya yang dikeluarkan pun tidak terlampau mahal. Begitu speedboat yang kami tumpangi tiba di bibir dermaga, kami seakan disambut dengan ucapan selamat datang. Seperti yang tertulis pada gapura dermaga “Welcome to Sepandan Island”.

Di sisi kiri terlihat tulisan “Pulau Sepandan” dengan ukuran besar. Sementara di sisi kanan tampak sebuah bangunan kayu yang rencananya akan digunakan sebagai fasilitas penginapan bagi pengunjung. “Di atas ada spot untuk berselfie,” ujar Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Tanabentarum, Ardi Andono.

Kami pun penasaran. Tidak sabar rasanya ingin sampai ke puncak bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut itu. Perlahan namun pasti, anak tangga kami tapaki. Meski tidak terlampau tinggi, tetapi cukup menguras tenaga. Keringat pun bercucuran. Untunglah sejak dua tahun terakhir, di pulau ini telah dibangun berbagai fasilitas, lengkap dengan gazebo untuk sekadar melepas lelah.

Gazebo itu juga bisa dimanfaatkan untuk mengambil objek keindahan Danau Sentarum dari berbagai sudut yang berbeda. Tentu dengan latar belakang pegunungan yang berjajar bagaikan pagar membuat Danau Sentarum semakin eksotis. Untuk menikmati eksotisme Danau Sentarum ini, pengunjung cukup membayar tiket Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 5 ribu per orang.

Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Tanabentarum, Ardi Andono mengatakan, sejak dibuka untuk umum, tercatat lebih dari dua ribu pengunjung per tahun datang ke sini. Sebagian berasal dari masyarakat lokal dan ada pula wisatawan asing. “Selain wisatawan lokal, yang paling banyak dari Malaysia,” kata Ardi.

Baca Juga :  Polsek Jongkong Amankan Pencuri Speedboat

Menurutnya, Pulau Sepandan akan dipenuhi pengunjung di saat libur sekolah atau ketika event-event tertentu. “Paling banyak pas hari libur dan saat event festival seperti ini. Kebetulan TN ini merupakan salah satu kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Ini juga sangat berkaitan dengan adanya perbatasan (Indonesia-Malaysia) di Badau,” lanjut Ardi.

Pengelolaan Sepandan ini juga berdampak positif pada perekonomian masyarakat, khususnya mereka yang memiliki speed dan long boat. Mereka dapat melayani transportasi wisatawan ke Sepandan dengan biaya Rp 250 ribu-300 ribu (pulang-pergi) per speed.

Selain membangun infrastruktur dan sarana prasarana di Pulau Sepandan, Balai Besar TNBKDS juga mengembangkan objek wisata Bukit Tekenang. Bukit ini pun berada di dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

“Untuk di Tekenang, kita menyediakan areal yang cukup baik. Di situ juga ada penginapannya, ada atraksi wisatanya, shelter, camping ground, dan juga rumah-rumah lanting yang sudah kita bangun. Masyarakat bisa tidur di rumah lanting tersebut. Rumah lanting kita cat warna-warni sehingga cukup indah dipandang,” katanya.

Tapi, kata Ardi, untuk ke sana membutuhkan biaya yang cukup besar. Minimal pengunjung harus menyiapkan Rp 1 juta-Rp 1,5 juta hanya untuk transportasi menggunakan speedboat.

“Nah, karena itu kita mengelola objek wisata yang cukup dekat dan ramah terhadap kantong, terutama untuk masyarakat kaum millenial. Kami membangun infrastruktur, sarana dan prasarana di Sepandan yang cukup ditempuh dalam waktu 15 menit saja dari dermaga Lanjak,” jelas Ardi.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalbar, Natalia Karyawati mengatakan, pemanfaatan Sumber Daya Alam harus digunakan secara bijaksana. “Mari kita turut menjaga keanekaragaman hayati demi generasi sekarang dan akan datang,” ajaknya.

Kalbar memiliki tiga taman nasional salah satunya, TNBKDS di Kapuas Hulu yang merupakan kawasan konservasi. Menurutnya, TNBKDS memiliki ekosistem lahan basah yang unik dan hamparan terluas di Indonesia serta Asia tenggara.

Sebagai wilayah konservasi, TNBKDS menyimpan banyak potensi alam, seperti ikan, madu dan sumber alam lainnya. Bahkan, kata Natalia, Danau Sentarum sudah diakui dunia.

Baca Juga :  Raih Dua Penghargaan, Masyarakat Sungai Utik Gelar Syukuran

“Ini menjadi peluang yang harus dikelola dengan arif dan bijaksana. Apalagi sekarang akses PLBN Badau telah dibuka, dan memudahkan wisatawan untuk berkunjung,” ungkapnya.

Natalia berharap kekayaan alam dan kearifan lokal masyarakat yang ada dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Oleh karenanya, peran kelembagaan dalam manajemen destinasi harus ditingkatkan dengan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan.

“Ini faktor vital dalam pengembangan pariwisata. Harapan kami, kita bisa memiliki rasa bangga dan cinta atas kearifan lokal, bangun kerjasama dan kolaborasi antar stakeholder serta sinkronisasi pengembangan yang maksimal,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II, Kementerian Pariwisata, Fahmizal. Menurutnya, Kapuas Hulu menjadi cerminnya Indonesia, karena berhadapan langsung dengan negara Malaysia. Festival Danau Sentarum diharapkan mampu menarik wisatawan masuk ke Kapuas Hulu, dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Fahmi membeberkan, kunjungan wisatawan mancanegara ke dalam negeri sejak tahun 2013 sampai 2018 persentase peningkatannya mencapai 278 persen. “Ini tentu memberikan dampak positif untuk mendorong pariwisata kita di Kapuas Hulu menjadi destinasi utama. Pariwisata memiliki manfaat besar bagi masyarakat, dengan alam dan budaya, sehingga masyarakat juga menerima manfaat ekonomi,” ungkapnya.

Bupati Kapuas Hulu AM Nasir mengungkapkan, Festival Danau Sentarum tahun 2019 ini merupakan yang kedelapan diselenggarakan. Nasir mengatakan, Kabupaten Kapuas Hulu sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi sejak 2013.

“Kapuas Hulu juga  sudah mendapat sertifikat UNISCO, berkaitan dengan penetapan Kapuas Hulu sebagai cagar biosfer,” katanya.

Selain itu, Kapuas Hulu sebagai paru-paru dunia, dan 100 persen Jantung Borneo. Lebih dari 51 persen Kapuas Hulu masuk dalam kawasan (konservasi), dengan luas TNBK 800 ribu hektare dan Danau Sentarum 230 ribu hektare.

“Kawasan ini memiliki keunikan flora fauna, potensi alam dan hasil alam bukan kayu seperti gaharu, ikan arwana, madu hutan dan usaha kratom yang sekarang sedang digeluti masyarakat,” ucap Nasir.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menata infrastruktur menuju kawasan pariwisata. Untuk itu, tahun ini pemerintah pusat menganggarkan biayanya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). “Tahun ini kita dapat DAK, kemudian kita dukung juga dari APBD Kabupaten Kapuas Hulu untuk membangun kawasan pariwisata Danau Sentarum,” pungkasnya. (*)

 

Menikmati Keindahan Taman Nasional Danau Sentarum

Pulau Sepandan adalah satu dari sekian banyak destinasi wisata di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Di sini pengunjung bisa berselfie sambil menikmati keindahan danau unik yang berada di jantung Kalimantan.

ARIEF NUGROHO, Lanjak

HARI itu, Minggu (27/10), di sela-sela kegiatan Festival Danau Sentarum, rombongan Balai Besar Taman Nasional Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum (Tanabentarum) mengantarkan kami mengunjungi Pulau Sepandan. Sebuah pulau kecil yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Pulau Sepandan sendiri terletak di Desa Sepandan, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu.

Untuk menuju ke sana, kami diantar menggunakan speedboat. Jarak yang ditempuh pun tidak terlampau jauh. Sekitar 15-20 menit dari dermaga Lanjak. Pulau Sepandan yang kami kunjungi kali ini jauh berbeda dengan Sepandan yang saya kunjungi dua tahun lalu. Pulau tanpa penghuni itu kini sudah menjelma menjadi destinasi andalan bagi masyarakat lokal, nasional maupun mancanegara.

Selain jarak yang lumayan dekat, biaya yang dikeluarkan pun tidak terlampau mahal. Begitu speedboat yang kami tumpangi tiba di bibir dermaga, kami seakan disambut dengan ucapan selamat datang. Seperti yang tertulis pada gapura dermaga “Welcome to Sepandan Island”.

Di sisi kiri terlihat tulisan “Pulau Sepandan” dengan ukuran besar. Sementara di sisi kanan tampak sebuah bangunan kayu yang rencananya akan digunakan sebagai fasilitas penginapan bagi pengunjung. “Di atas ada spot untuk berselfie,” ujar Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Tanabentarum, Ardi Andono.

Kami pun penasaran. Tidak sabar rasanya ingin sampai ke puncak bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut itu. Perlahan namun pasti, anak tangga kami tapaki. Meski tidak terlampau tinggi, tetapi cukup menguras tenaga. Keringat pun bercucuran. Untunglah sejak dua tahun terakhir, di pulau ini telah dibangun berbagai fasilitas, lengkap dengan gazebo untuk sekadar melepas lelah.

Gazebo itu juga bisa dimanfaatkan untuk mengambil objek keindahan Danau Sentarum dari berbagai sudut yang berbeda. Tentu dengan latar belakang pegunungan yang berjajar bagaikan pagar membuat Danau Sentarum semakin eksotis. Untuk menikmati eksotisme Danau Sentarum ini, pengunjung cukup membayar tiket Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 5 ribu per orang.

Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Tanabentarum, Ardi Andono mengatakan, sejak dibuka untuk umum, tercatat lebih dari dua ribu pengunjung per tahun datang ke sini. Sebagian berasal dari masyarakat lokal dan ada pula wisatawan asing. “Selain wisatawan lokal, yang paling banyak dari Malaysia,” kata Ardi.

Baca Juga :  Cek Wilayah Perbatasan dan Kesiapan Pemilukada Serentak

Menurutnya, Pulau Sepandan akan dipenuhi pengunjung di saat libur sekolah atau ketika event-event tertentu. “Paling banyak pas hari libur dan saat event festival seperti ini. Kebetulan TN ini merupakan salah satu kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Ini juga sangat berkaitan dengan adanya perbatasan (Indonesia-Malaysia) di Badau,” lanjut Ardi.

Pengelolaan Sepandan ini juga berdampak positif pada perekonomian masyarakat, khususnya mereka yang memiliki speed dan long boat. Mereka dapat melayani transportasi wisatawan ke Sepandan dengan biaya Rp 250 ribu-300 ribu (pulang-pergi) per speed.

Selain membangun infrastruktur dan sarana prasarana di Pulau Sepandan, Balai Besar TNBKDS juga mengembangkan objek wisata Bukit Tekenang. Bukit ini pun berada di dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

“Untuk di Tekenang, kita menyediakan areal yang cukup baik. Di situ juga ada penginapannya, ada atraksi wisatanya, shelter, camping ground, dan juga rumah-rumah lanting yang sudah kita bangun. Masyarakat bisa tidur di rumah lanting tersebut. Rumah lanting kita cat warna-warni sehingga cukup indah dipandang,” katanya.

Tapi, kata Ardi, untuk ke sana membutuhkan biaya yang cukup besar. Minimal pengunjung harus menyiapkan Rp 1 juta-Rp 1,5 juta hanya untuk transportasi menggunakan speedboat.

“Nah, karena itu kita mengelola objek wisata yang cukup dekat dan ramah terhadap kantong, terutama untuk masyarakat kaum millenial. Kami membangun infrastruktur, sarana dan prasarana di Sepandan yang cukup ditempuh dalam waktu 15 menit saja dari dermaga Lanjak,” jelas Ardi.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalbar, Natalia Karyawati mengatakan, pemanfaatan Sumber Daya Alam harus digunakan secara bijaksana. “Mari kita turut menjaga keanekaragaman hayati demi generasi sekarang dan akan datang,” ajaknya.

Kalbar memiliki tiga taman nasional salah satunya, TNBKDS di Kapuas Hulu yang merupakan kawasan konservasi. Menurutnya, TNBKDS memiliki ekosistem lahan basah yang unik dan hamparan terluas di Indonesia serta Asia tenggara.

Sebagai wilayah konservasi, TNBKDS menyimpan banyak potensi alam, seperti ikan, madu dan sumber alam lainnya. Bahkan, kata Natalia, Danau Sentarum sudah diakui dunia.

Baca Juga :  Mengabdi Dua Tahun, Masa Tugas Tenaga NS Berakhir 

“Ini menjadi peluang yang harus dikelola dengan arif dan bijaksana. Apalagi sekarang akses PLBN Badau telah dibuka, dan memudahkan wisatawan untuk berkunjung,” ungkapnya.

Natalia berharap kekayaan alam dan kearifan lokal masyarakat yang ada dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Oleh karenanya, peran kelembagaan dalam manajemen destinasi harus ditingkatkan dengan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan.

“Ini faktor vital dalam pengembangan pariwisata. Harapan kami, kita bisa memiliki rasa bangga dan cinta atas kearifan lokal, bangun kerjasama dan kolaborasi antar stakeholder serta sinkronisasi pengembangan yang maksimal,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II, Kementerian Pariwisata, Fahmizal. Menurutnya, Kapuas Hulu menjadi cerminnya Indonesia, karena berhadapan langsung dengan negara Malaysia. Festival Danau Sentarum diharapkan mampu menarik wisatawan masuk ke Kapuas Hulu, dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Fahmi membeberkan, kunjungan wisatawan mancanegara ke dalam negeri sejak tahun 2013 sampai 2018 persentase peningkatannya mencapai 278 persen. “Ini tentu memberikan dampak positif untuk mendorong pariwisata kita di Kapuas Hulu menjadi destinasi utama. Pariwisata memiliki manfaat besar bagi masyarakat, dengan alam dan budaya, sehingga masyarakat juga menerima manfaat ekonomi,” ungkapnya.

Bupati Kapuas Hulu AM Nasir mengungkapkan, Festival Danau Sentarum tahun 2019 ini merupakan yang kedelapan diselenggarakan. Nasir mengatakan, Kabupaten Kapuas Hulu sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi sejak 2013.

“Kapuas Hulu juga  sudah mendapat sertifikat UNISCO, berkaitan dengan penetapan Kapuas Hulu sebagai cagar biosfer,” katanya.

Selain itu, Kapuas Hulu sebagai paru-paru dunia, dan 100 persen Jantung Borneo. Lebih dari 51 persen Kapuas Hulu masuk dalam kawasan (konservasi), dengan luas TNBK 800 ribu hektare dan Danau Sentarum 230 ribu hektare.

“Kawasan ini memiliki keunikan flora fauna, potensi alam dan hasil alam bukan kayu seperti gaharu, ikan arwana, madu hutan dan usaha kratom yang sekarang sedang digeluti masyarakat,” ucap Nasir.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menata infrastruktur menuju kawasan pariwisata. Untuk itu, tahun ini pemerintah pusat menganggarkan biayanya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). “Tahun ini kita dapat DAK, kemudian kita dukung juga dari APBD Kabupaten Kapuas Hulu untuk membangun kawasan pariwisata Danau Sentarum,” pungkasnya. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/