alexametrics
33.9 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Kaji dan Evaluasi Pembangunan PLTN

BENGKAYANG – Tokoh masyarakat Kabupaten Bengkayang meminta pemerintah untuk mengkaji dan mengevaluasi secara mendalam terkait rencana pembangunan Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yang rencananya bakal dibangun di kawasan Pantai Gosong, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Salah satunya adalah tokoh masyarakat budaya Dayak, Yulius Heri.

Heri meminta kepada pemerintah untuk memikirkan terkait dampak seperti apa yang bakal terjadi apabila wacana tersebut terealisasi ke depannya. Diungkapkan dia, baik itu dampak yang bersifat positif maupun negatif.

“Kalau dilihat dari yang beberapa negara maju yang memang sudah menggunakan listrik bertenaga nuklir ini, bisa kita lihat bahwa mereka sudah mempuni untuk menggunakan nuklir, dan itu sangat jelas. Seperti salah satu alasan adalah mereka negara adidaya dan sudah sangat maju,” jelas Heri, Senin (4/10) di Bengkayang.

“Kemudian alasan lainnya adalah berkaitan dengan sumber daya alam mereka juga terbatas, sehingga salah satu opsi terbaik mereka adalah dengan menghemat daya. Salah satu opsinya tentu bisa menggunakan nuklir itu sendiri sebagai daya listrik,” timpalnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, tentu dirasa berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia, apabila pemerintah berencana hendak menggunakan nuklir sebagai sumber utama tenaga listrik. Dia mengatakan, ada beberapa daerah yang rencananya bakal dibangun PLTN di Indonesia.

Baca Juga :  Dansatgas TMMD Reg 108 Tinjau Lokasi Hingga Malam Hari

“Dari yang saya baca, pertama di Jateng, kemudian di Gorontalo, Bangka Belitung, dan Kalbar khususnya di kabupaten bengkayang sendiri,” katanya.

Kendati demikian, sebagai warga negara, dirinya tentu tahu betul bahwa terkait penolakan maupun dukungan tak boleh semata-mata dilontarkan. Tentunya, menurut dia, dalam hal ini memerlukan evaluasi dan persiapan matang. “Karena kita lihat untuk PLTN ini memang murah dari sisi operasional. Kemudian alasan lain powernya lebih kuat dibanding lainnya,” ucapnya.

Meski demikian, sambungnya, hal seperti ini tak boleh asal dibangun. Terutama, dia menambahkan, diperlukan pengkajian dan penelitian mendalam. Dia memisalkan seperti pada dampak negatif dari PLTN yang sangat signifikan. Termasuk terkait radioaktif yang dikhawatirkan dia berpengaruh dengan lingkungan sekitar.

“Apalagi kalau sewaktu-waktu pusat PLTN ini bocor karena berbagai hal, seperti misalnya bencana alam. Tentunya ini harus dipikirkan juga. Apakah kita mampu mengatasi masalah seperti itu nantinya,” kata Heri.

“Karena sebelumnya negara jepang jga menggunakan nuklir sebagai pusat tenaga listrin dan bocor terkena tsunami. Terbukti mereka juga kewalahan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Heboh! Penemuan Bayi Dalam Kardus

Dia juga mempertanyakan apakah untuk Indonesia, khususnya Kalbar sendiri sudah siap menghadapi hal seperti itu. Diingatkan dia, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang lebih dulu memikirkan untuk menggunakan nuklir, namun sekarang sudah tak jelas bagaimana kelanjutannya.

“Sebut saja Vietnam dan Filipina yang dari dulu juga sudah mewacanakan penggunaan nuklir sebagai sumber tenaga listrik. Namun sampai saat ini tidak ada kejelasan tidaklanjutnya,” ucapnya.

“Dari yang saya baca ada beberapa hal yang menjadi faktor. Pertama biaya, selain itu persiapannya juga. Sehingga sampai sekarang juga belum jelas,” sambungnya.

Di sisi lain, dirinya juga melirik untuk pengoperasian PLTN yang membutuhkan bahan baku utama, yakni uranium. Sementara apabila tidak ada uranium, menurut dia, tentu PLTN takkan bisa beroperasional.

“Terlebih untuk uranium ini, di indonesia hanya asa dua. Yakni di kalbar (melawi) dan kedua di papua,” tegasnya.

“Harapan saya kedepannya, semoga rencana ini (pembangunan PLTN) perlu di evaluasi dan dikaji mendalam lagi. Termasuk yang paling utama untuk memikirkan keselamatan semua pihak, khususnya masyarakat luas,” pungkasnya. (Sig)

BENGKAYANG – Tokoh masyarakat Kabupaten Bengkayang meminta pemerintah untuk mengkaji dan mengevaluasi secara mendalam terkait rencana pembangunan Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yang rencananya bakal dibangun di kawasan Pantai Gosong, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Salah satunya adalah tokoh masyarakat budaya Dayak, Yulius Heri.

Heri meminta kepada pemerintah untuk memikirkan terkait dampak seperti apa yang bakal terjadi apabila wacana tersebut terealisasi ke depannya. Diungkapkan dia, baik itu dampak yang bersifat positif maupun negatif.

“Kalau dilihat dari yang beberapa negara maju yang memang sudah menggunakan listrik bertenaga nuklir ini, bisa kita lihat bahwa mereka sudah mempuni untuk menggunakan nuklir, dan itu sangat jelas. Seperti salah satu alasan adalah mereka negara adidaya dan sudah sangat maju,” jelas Heri, Senin (4/10) di Bengkayang.

“Kemudian alasan lainnya adalah berkaitan dengan sumber daya alam mereka juga terbatas, sehingga salah satu opsi terbaik mereka adalah dengan menghemat daya. Salah satu opsinya tentu bisa menggunakan nuklir itu sendiri sebagai daya listrik,” timpalnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, tentu dirasa berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia, apabila pemerintah berencana hendak menggunakan nuklir sebagai sumber utama tenaga listrik. Dia mengatakan, ada beberapa daerah yang rencananya bakal dibangun PLTN di Indonesia.

Baca Juga :  Dansatgas Kodim 1202 Skw Tinjau Pekerjaan Fisik

“Dari yang saya baca, pertama di Jateng, kemudian di Gorontalo, Bangka Belitung, dan Kalbar khususnya di kabupaten bengkayang sendiri,” katanya.

Kendati demikian, sebagai warga negara, dirinya tentu tahu betul bahwa terkait penolakan maupun dukungan tak boleh semata-mata dilontarkan. Tentunya, menurut dia, dalam hal ini memerlukan evaluasi dan persiapan matang. “Karena kita lihat untuk PLTN ini memang murah dari sisi operasional. Kemudian alasan lain powernya lebih kuat dibanding lainnya,” ucapnya.

Meski demikian, sambungnya, hal seperti ini tak boleh asal dibangun. Terutama, dia menambahkan, diperlukan pengkajian dan penelitian mendalam. Dia memisalkan seperti pada dampak negatif dari PLTN yang sangat signifikan. Termasuk terkait radioaktif yang dikhawatirkan dia berpengaruh dengan lingkungan sekitar.

“Apalagi kalau sewaktu-waktu pusat PLTN ini bocor karena berbagai hal, seperti misalnya bencana alam. Tentunya ini harus dipikirkan juga. Apakah kita mampu mengatasi masalah seperti itu nantinya,” kata Heri.

“Karena sebelumnya negara jepang jga menggunakan nuklir sebagai pusat tenaga listrin dan bocor terkena tsunami. Terbukti mereka juga kewalahan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Dansatgas TMMD Reg 108 Tinjau Lokasi Hingga Malam Hari

Dia juga mempertanyakan apakah untuk Indonesia, khususnya Kalbar sendiri sudah siap menghadapi hal seperti itu. Diingatkan dia, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang lebih dulu memikirkan untuk menggunakan nuklir, namun sekarang sudah tak jelas bagaimana kelanjutannya.

“Sebut saja Vietnam dan Filipina yang dari dulu juga sudah mewacanakan penggunaan nuklir sebagai sumber tenaga listrik. Namun sampai saat ini tidak ada kejelasan tidaklanjutnya,” ucapnya.

“Dari yang saya baca ada beberapa hal yang menjadi faktor. Pertama biaya, selain itu persiapannya juga. Sehingga sampai sekarang juga belum jelas,” sambungnya.

Di sisi lain, dirinya juga melirik untuk pengoperasian PLTN yang membutuhkan bahan baku utama, yakni uranium. Sementara apabila tidak ada uranium, menurut dia, tentu PLTN takkan bisa beroperasional.

“Terlebih untuk uranium ini, di indonesia hanya asa dua. Yakni di kalbar (melawi) dan kedua di papua,” tegasnya.

“Harapan saya kedepannya, semoga rencana ini (pembangunan PLTN) perlu di evaluasi dan dikaji mendalam lagi. Termasuk yang paling utama untuk memikirkan keselamatan semua pihak, khususnya masyarakat luas,” pungkasnya. (Sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/