alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Kisah Para Pengrajin Bidai di Batas Negeri

Penjualan Menurun, Pandemi Covid-19 Rontokkan Pendapatan

Dampak pandemi Covid-19 tak hanya merontokan pendapatan pelaku usaha di perkotaan. Pengrajin Bidai di perbatasan negeri juga merasakannya. Pilihannya, tetap bertahan meski jumlah bidai yang bisa dijual turun drastis.

RAMSES, Jagoi Babang

Antonius Bujong namanya. Pria berusia 42 itu berada di rumahnya, Rabu siang kemarin, Dusun Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Belakang rumahnya berdiri bangunan berwarna hijau tanpa dinding semen.  Dindingnya hanya menggunakan anyaman kawat. Dalam bangunan itu terhampar belasan bidai. Tikar yang dibuat dari anyaman rotan dan kulit kayu. “Ini bidai yang tidak laku,” kata Antonius.

Sebagi pengrajin, ia merasakan dampak yang dahsyat dari pandemi Covid-19 yang sudah berjalan hampir satu tahun ini. Selama itu juga jumlah bidai yang dijual merosot drastis.  Jika kondisinya normal, dalam sebulan ia bisa menjual 100 tikar. Namun dalam kondisi pandemi seperti sekarang, baginya sulit menjual 100 tikar dalam sebulan. Bahkan selama pandemi pun jumlah tikar yang terjual tidak sampai 100 helai.  “Jumlah tikar yang dijual pun merosot sangat jauh,” jelas Antonius.

Rerata bidai yang diproduksinya dijual di perbatasan Indonesia-Malaysia, Serikin. Pertimbangannya harga jual disana jauh lebih mahal. Jika dihitung secara rupiah, satu helai bidai di sana harganya Rp1.200.000 hingga Rp1.500.000. Jika dihitung dengan mata uang Malaysia, harganya sekitar 400 ringgit.  Namun disesuaikan lagi dengan ukuran tikar. Semakin besar ukuran tikar maka semakin tinggi harga jualnya. Sementara harga jual bidai ini, jika di jual di pusat Kota Bengkayang, hanya Rp900 ribu per helai, dengan ukuran standar 2 x 3 meter. “Wajar jika jual di Malaysia lebih mahal, karena nila mata uangnya saja satu berbanding tiga,” terang Antonius.

Baca Juga :  IMKB Tagih Janji Pemkab

Meski orderannya merosot, Antonius tetap bertahan memproduksi bidai. Namun ia harus mengurangi jumlah pengrajin. Ia tak sampai hati memberhentikan semua pengrajinnya. Mereka masih tetap bekerja, namun jumlah tak banyak. Dari 20 pengrajin yang bekerja, sekarang hanya tersisa dua hingga tiga orang saja.  “Kalau semua pekerja diberhentikan mereka mau makan apa. Tetap masih dipekerjakan, tak banyak, hanya dua hingga tiga orang saja,” sebut Antonius.

Antonius menggeluti usaha bidai ini sejak 2005. Terhitung hingga sekarang sudah 15 tahun berjalan. Namun sekarang semakin sulit mendapatkan bahan baku. Khusus Rotan, ia membeli dari Kalimantan Tengah.  Sedangkan bahan lainnya, seperti kulit kayu, bahan yang disandingkan dengan rotan untuk membuat bidai juga mulai berkurang.  “Kulit kayunya khusus yakni kayu tembarang dan sekarang mulai berkurang,” kata Antonius.

Proses pembuatannya sendiri memakan waktu dua minggu. Mulai dari membelah rotan dan kemudian menjemurnya. Untuk mendapatkan belahan rotan yang hitam, terlebih dahulu diredam di tanah. Proses rendaman itu berlangsung selama sehari. Kemudian rotan itu masak dengan kulit kayu khusus. Proses masak juga berlangsung hampir satu hari. Saat masak harus dipastikan api tidak boleh padam, sehingga bisa dijaga.

Baca Juga :  Imbau Perayaan Mengedepankan Prokes

Untuk kulit kayu diiris dan dianyam bersama rotan. Proses menganyam dilakukan satu hingga dua pengrajin. Proses penganyaman itu terkadang dilakukan sore atau malam hari karena para pengrajin itu terlebih dulu berladang atau bekerja di tempat lain.  Setelah jadi, tikar dibawa ke serikin, perbatasan Indonesia-Malaysia, untuk dijual disana. Tikar dibawa dengan menggunakan jasa ojek. Untuk satu tikar biaya membawanya sekitar lima ringgit atau setara dengan Rp15 ribu. “Biasanya kami gulung dan dalam satu gulungan ada lima tikar. Tukang ojek bisa membawa dua gulung, sekitar 10 helai tikar,” kata Antonius.

Sesampai disana, tikar kemudian disimpan di kios kecil. Antonius memang membuat bangunan kecil untuk menyimpan bidai yang siap dijual.  Sayangnya di masa pandemi tikar-tikar yang tersimpan tak bisa dijual. Pandemi Covid-19 membuat pintu perbatasan kedua negara ditutup. Ia tak bisa menyeberang dan kios pun tak bisa dibuka.  Antonius Bujong rugi dua kali. Selain omset yang merosot, karena tikar banyak tikar yang tak laku. Ia juga harus menelan kerugian karena tikar lama tersimpan pun rusak sehingga tak bisa dijual.  “Bagi kami dampak pandemi ini sangat dahsyat dan semoga segera berakhir,” harapnya. (*)

Penjualan Menurun, Pandemi Covid-19 Rontokkan Pendapatan

Dampak pandemi Covid-19 tak hanya merontokan pendapatan pelaku usaha di perkotaan. Pengrajin Bidai di perbatasan negeri juga merasakannya. Pilihannya, tetap bertahan meski jumlah bidai yang bisa dijual turun drastis.

RAMSES, Jagoi Babang

Antonius Bujong namanya. Pria berusia 42 itu berada di rumahnya, Rabu siang kemarin, Dusun Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Belakang rumahnya berdiri bangunan berwarna hijau tanpa dinding semen.  Dindingnya hanya menggunakan anyaman kawat. Dalam bangunan itu terhampar belasan bidai. Tikar yang dibuat dari anyaman rotan dan kulit kayu. “Ini bidai yang tidak laku,” kata Antonius.

Sebagi pengrajin, ia merasakan dampak yang dahsyat dari pandemi Covid-19 yang sudah berjalan hampir satu tahun ini. Selama itu juga jumlah bidai yang dijual merosot drastis.  Jika kondisinya normal, dalam sebulan ia bisa menjual 100 tikar. Namun dalam kondisi pandemi seperti sekarang, baginya sulit menjual 100 tikar dalam sebulan. Bahkan selama pandemi pun jumlah tikar yang terjual tidak sampai 100 helai.  “Jumlah tikar yang dijual pun merosot sangat jauh,” jelas Antonius.

Rerata bidai yang diproduksinya dijual di perbatasan Indonesia-Malaysia, Serikin. Pertimbangannya harga jual disana jauh lebih mahal. Jika dihitung secara rupiah, satu helai bidai di sana harganya Rp1.200.000 hingga Rp1.500.000. Jika dihitung dengan mata uang Malaysia, harganya sekitar 400 ringgit.  Namun disesuaikan lagi dengan ukuran tikar. Semakin besar ukuran tikar maka semakin tinggi harga jualnya. Sementara harga jual bidai ini, jika di jual di pusat Kota Bengkayang, hanya Rp900 ribu per helai, dengan ukuran standar 2 x 3 meter. “Wajar jika jual di Malaysia lebih mahal, karena nila mata uangnya saja satu berbanding tiga,” terang Antonius.

Baca Juga :  Masih Memerlukan Dukungan Infrastruktur

Meski orderannya merosot, Antonius tetap bertahan memproduksi bidai. Namun ia harus mengurangi jumlah pengrajin. Ia tak sampai hati memberhentikan semua pengrajinnya. Mereka masih tetap bekerja, namun jumlah tak banyak. Dari 20 pengrajin yang bekerja, sekarang hanya tersisa dua hingga tiga orang saja.  “Kalau semua pekerja diberhentikan mereka mau makan apa. Tetap masih dipekerjakan, tak banyak, hanya dua hingga tiga orang saja,” sebut Antonius.

Antonius menggeluti usaha bidai ini sejak 2005. Terhitung hingga sekarang sudah 15 tahun berjalan. Namun sekarang semakin sulit mendapatkan bahan baku. Khusus Rotan, ia membeli dari Kalimantan Tengah.  Sedangkan bahan lainnya, seperti kulit kayu, bahan yang disandingkan dengan rotan untuk membuat bidai juga mulai berkurang.  “Kulit kayunya khusus yakni kayu tembarang dan sekarang mulai berkurang,” kata Antonius.

Proses pembuatannya sendiri memakan waktu dua minggu. Mulai dari membelah rotan dan kemudian menjemurnya. Untuk mendapatkan belahan rotan yang hitam, terlebih dahulu diredam di tanah. Proses rendaman itu berlangsung selama sehari. Kemudian rotan itu masak dengan kulit kayu khusus. Proses masak juga berlangsung hampir satu hari. Saat masak harus dipastikan api tidak boleh padam, sehingga bisa dijaga.

Baca Juga :  Tekankan Wajib Prokes di Wilayah Pesisir

Untuk kulit kayu diiris dan dianyam bersama rotan. Proses menganyam dilakukan satu hingga dua pengrajin. Proses penganyaman itu terkadang dilakukan sore atau malam hari karena para pengrajin itu terlebih dulu berladang atau bekerja di tempat lain.  Setelah jadi, tikar dibawa ke serikin, perbatasan Indonesia-Malaysia, untuk dijual disana. Tikar dibawa dengan menggunakan jasa ojek. Untuk satu tikar biaya membawanya sekitar lima ringgit atau setara dengan Rp15 ribu. “Biasanya kami gulung dan dalam satu gulungan ada lima tikar. Tukang ojek bisa membawa dua gulung, sekitar 10 helai tikar,” kata Antonius.

Sesampai disana, tikar kemudian disimpan di kios kecil. Antonius memang membuat bangunan kecil untuk menyimpan bidai yang siap dijual.  Sayangnya di masa pandemi tikar-tikar yang tersimpan tak bisa dijual. Pandemi Covid-19 membuat pintu perbatasan kedua negara ditutup. Ia tak bisa menyeberang dan kios pun tak bisa dibuka.  Antonius Bujong rugi dua kali. Selain omset yang merosot, karena tikar banyak tikar yang tak laku. Ia juga harus menelan kerugian karena tikar lama tersimpan pun rusak sehingga tak bisa dijual.  “Bagi kami dampak pandemi ini sangat dahsyat dan semoga segera berakhir,” harapnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/