alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Gotong Royong Atasi Stunting

SUNGAI DURI – Plt Deputi Dalduk BKKBN, Dwi Listyawardani mengajak semua elemen untuk bersama-sama mengentaskan persoalan stunting. Hal tersebut ia katakan saat menghadiri kegiatan sosialisasi Pendataan Keluarga dan kelompok sasaran Bangga Kencana bersama mitra, di Kabupaten Bengkayang, (18/10).

Dalam pengelolaan analisis data kata dia, tentunya sudah mencakup persoalan yang berkaitan dengan program Bangga Kencana. Termasuk di dalamnya mendeteksi keluarga beresiko stunting.

Bicara tentang keluarga beresiko Stunting mungkin agak berbeda dari konsep sebelumnya. Jika dulu stunting hanya dilihat dari anak yang lahir stunting, selama dua tahun dia menjadi sembuh tidak menjadi stunting atau bahkan akan menjadi stunting. Jadi dua tahun periode pertama kehidupan atau ditambah pada masa dalam kandungan itu menjadi 1000 hari pertama kehidupan.

Untuk keluarga hal-hal untuk memperhatikan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan bahkan sekarang untuk konsep yang baru tidak hanya diawali dengan adanya kehamilan tapi bahkan sebelum pasangan tersebut menikah. Jadi calon pengantin nanti akan dilakukan pemeriksaan terutama untuk calon pengantin perempuan bahkan daftarnya 3 bulan sebelumnya dan juga harus dilakukan pemeriksaan kesehatannya, diukur tinggi dan berat badan untuk mengukur indeks masa tubuh, ini semua dilakukan agar pada saat menjadi pengantin akan menjadi sehat.

Baca Juga :  Bupati Kapuas Hulu Salurkan BLT-DD, Sekaligus Resmikan BUMDes

Potensi terjadinya lahir anak stunting disebabkan kalau saat ibu hamil kondisi badannya tidak bagus atau tidak sehat, kurang gizi maka itulah resiko pertama terjadinya bayi janin yang kurang gizi atau stunting. Anak lahir stunting dapat diukur dari panjangnya kurang dari 48 cm, beratnya kurang dari 2500 gram,” ujarnya.

Pada intinya untuk pencegahan agar tidak ada anak lahir stunting, ke depannya masalah untuk pendekatan penurunan stunting ini diawali dari masa calon pengantin.

Kemudian juga kita melihat resiko stunting yang lain, termasuk lingkungan harus bersih, kondisi rumahnya, sumber air bersih di rumah tersebut apa ada dan kondisi jambannya.

Jadi inilah persoalan yang harus ditangani bersama-sama dan mari bergotong-royong untuk mengatasi Stunting ini. “Mudah mudahan di Kecamatan Sungai Raya ini bisa menjadi pelopor bagaimana pencegahan penurunan stunting bisa dilakukan termasuk juga melalui Tim Pendamping Keluarga dimana nanti dari tim inilah akan mengetahui dimana keluarga yang beresiko stunting,” ujarnya.

Baca Juga :  Utamakan Peningkatan SDM dan IPM

Tim Pendamping Keluarga ini sendiri terdiri dari Kader PKK, Kader KB dan Bidan/Tenaga Kesehatan.

Dikatakannya, resiko terjadinya stunting ini bisa terjadi setiap saat dan inilah yang harus diwaspadai. “Mari kita bersama-sama membangun desa peduli stunting termasuk juga intervensi dapur sehat atasi stunting,” ujarnya.(iza)

SUNGAI DURI – Plt Deputi Dalduk BKKBN, Dwi Listyawardani mengajak semua elemen untuk bersama-sama mengentaskan persoalan stunting. Hal tersebut ia katakan saat menghadiri kegiatan sosialisasi Pendataan Keluarga dan kelompok sasaran Bangga Kencana bersama mitra, di Kabupaten Bengkayang, (18/10).

Dalam pengelolaan analisis data kata dia, tentunya sudah mencakup persoalan yang berkaitan dengan program Bangga Kencana. Termasuk di dalamnya mendeteksi keluarga beresiko stunting.

Bicara tentang keluarga beresiko Stunting mungkin agak berbeda dari konsep sebelumnya. Jika dulu stunting hanya dilihat dari anak yang lahir stunting, selama dua tahun dia menjadi sembuh tidak menjadi stunting atau bahkan akan menjadi stunting. Jadi dua tahun periode pertama kehidupan atau ditambah pada masa dalam kandungan itu menjadi 1000 hari pertama kehidupan.

Untuk keluarga hal-hal untuk memperhatikan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan bahkan sekarang untuk konsep yang baru tidak hanya diawali dengan adanya kehamilan tapi bahkan sebelum pasangan tersebut menikah. Jadi calon pengantin nanti akan dilakukan pemeriksaan terutama untuk calon pengantin perempuan bahkan daftarnya 3 bulan sebelumnya dan juga harus dilakukan pemeriksaan kesehatannya, diukur tinggi dan berat badan untuk mengukur indeks masa tubuh, ini semua dilakukan agar pada saat menjadi pengantin akan menjadi sehat.

Baca Juga :  Dukung Pendataan Keluarga Tahun 2020

Potensi terjadinya lahir anak stunting disebabkan kalau saat ibu hamil kondisi badannya tidak bagus atau tidak sehat, kurang gizi maka itulah resiko pertama terjadinya bayi janin yang kurang gizi atau stunting. Anak lahir stunting dapat diukur dari panjangnya kurang dari 48 cm, beratnya kurang dari 2500 gram,” ujarnya.

Pada intinya untuk pencegahan agar tidak ada anak lahir stunting, ke depannya masalah untuk pendekatan penurunan stunting ini diawali dari masa calon pengantin.

Kemudian juga kita melihat resiko stunting yang lain, termasuk lingkungan harus bersih, kondisi rumahnya, sumber air bersih di rumah tersebut apa ada dan kondisi jambannya.

Jadi inilah persoalan yang harus ditangani bersama-sama dan mari bergotong-royong untuk mengatasi Stunting ini. “Mudah mudahan di Kecamatan Sungai Raya ini bisa menjadi pelopor bagaimana pencegahan penurunan stunting bisa dilakukan termasuk juga melalui Tim Pendamping Keluarga dimana nanti dari tim inilah akan mengetahui dimana keluarga yang beresiko stunting,” ujarnya.

Baca Juga :  Kalbar Target Vaksin 3,4 Juta Jiwa

Tim Pendamping Keluarga ini sendiri terdiri dari Kader PKK, Kader KB dan Bidan/Tenaga Kesehatan.

Dikatakannya, resiko terjadinya stunting ini bisa terjadi setiap saat dan inilah yang harus diwaspadai. “Mari kita bersama-sama membangun desa peduli stunting termasuk juga intervensi dapur sehat atasi stunting,” ujarnya.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/