alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

BKKKBN Ajak Semua Bergotong Royong Atasi Stunting

SUNGAI RAYA – Pelaksanatugas Deputi Dalduk BKKBN, Dwi Listyawardani mengajak semua elemen untuk bersama-sama mengentaskan persoalan stunting. Hal tersebut ia katakan saat menghadiri kegiatan sosialisasi Pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Bangga Kencana bersama Mitra, di Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Senin (18/10).

Dalam pengelolaan analisis data, kata dia, tentunya sudah mencakup persoalan yang berkaitan dengan Program Bangga Kencana. Termasuk di dalamnya, disebutkan dia, bagaimana mendeteksi keluarga berisiko stunting.

“Bicara tentang keluarga berisiko stunting mungkin agak berbeda dari konsep sebelumnya. Jika dulu stunting hanya dilihat dari anak yang lahir stunting, selama 2 tahun dia menjadi sembuh tidak menjadi stunting atau bahkan akan menjadi stunting,” jelasnya.

“Jadi dua tahun periode pertama kehidupan atau ditambah pada masa dalam kandungan itu menjadi seribu hari pertama kehidupan,” timpalnya.

Dia turut meminta agar setiap keluarga untuk memperhatikan setiap hal secara rinci, termasuk periode Seribu Hari Pertama Kehidupan. Bahkan, sambungnya, saat ini untuk konsep yang baru tidak hanya diawali dengan adanya kehamilan, tapi bahkan sebelum pasangan tersebut menikah.

Baca Juga :  BKKBN Rangkul Perguruan Tinggi Turunkan Stunting

Jadi, calon pengantin nanti, menurut dia, akan dilakukan pemeriksaan terutama untuk calon pengantin perempuan. Bahkan, dia menambahkan, daftarnya 3 bulan sebelumnya juga harus dilakukan pemeriksaan kesehatannya, diukur tinggi dan berat badan untuk mengukur indeks masa tubuh, yang dilakukan agar pada saat menjadi pengantin akan menjadi sehat.

“Karena pada dasarnya potensi terjadinya lahir anak stunting disebabkan kalau saat ibu hamil kondisi badannya tidak bagus atau tidak sehat, kurang gizi maka itulah resiko pertama terjadinya bayi janin yang kurang gizi atau stunting. Anak lahir stunting dapat diukur dari panjangnya kurang dari 48 sentimeter, beratnya kurang dari 2.500 gram,” ujarnya.

Pada intinya untuk pencegahan agar tidak ada anak lahir stunting, ke depannya, diharapkan dia agar masalah untuk pendekatan  penurunan stunting ini diawali dari masa calon pengantin. Kemudian, dia menambahkan, bagaimana melihat risiko stunting yang lain, termasuk lingkungan harus bersih, kondisi rumahnya, sumber air bersih di rumah tersebut apa ada dan kondisi jambannya. “Jadi inilah persoalan yang harus ditangani bersama-sama dan mari bergotong-royong untuk mengatasi stunting ini,” timpal dia.

Baca Juga :  Kadin Singkawang Salurkan Sembako untuk Masyarakat Terdampak Banjir

“Mudah-mudahan di Kecamatan Sungai  Raya ini bisa menjadi pelopor bagaimana pencegahan penurunan stunting bisa dilakukan termasuk juga melalui Tim Pendamping Keluarga di mana nanti dari tim inilah akan mengetahui dimana keluarga yang berisiko stunting,” ujarnya.

Tim Pendamping Keluarga ini sendiri terdiri dari Kader PKK, Kader KB dan Bidan/Tenaga Kesehatan. Dikatakannya, risiko terjadinya stunting ini bisa terjadi setiap saat dan inilah yang harus diwaspadai. “Mari kita bersama-sama membangun desa peduli stunting termasuk juga intervensi dapur sehat atasi stunting,” ujarnya. (Sig)

SUNGAI RAYA – Pelaksanatugas Deputi Dalduk BKKBN, Dwi Listyawardani mengajak semua elemen untuk bersama-sama mengentaskan persoalan stunting. Hal tersebut ia katakan saat menghadiri kegiatan sosialisasi Pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Bangga Kencana bersama Mitra, di Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Senin (18/10).

Dalam pengelolaan analisis data, kata dia, tentunya sudah mencakup persoalan yang berkaitan dengan Program Bangga Kencana. Termasuk di dalamnya, disebutkan dia, bagaimana mendeteksi keluarga berisiko stunting.

“Bicara tentang keluarga berisiko stunting mungkin agak berbeda dari konsep sebelumnya. Jika dulu stunting hanya dilihat dari anak yang lahir stunting, selama 2 tahun dia menjadi sembuh tidak menjadi stunting atau bahkan akan menjadi stunting,” jelasnya.

“Jadi dua tahun periode pertama kehidupan atau ditambah pada masa dalam kandungan itu menjadi seribu hari pertama kehidupan,” timpalnya.

Dia turut meminta agar setiap keluarga untuk memperhatikan setiap hal secara rinci, termasuk periode Seribu Hari Pertama Kehidupan. Bahkan, sambungnya, saat ini untuk konsep yang baru tidak hanya diawali dengan adanya kehamilan, tapi bahkan sebelum pasangan tersebut menikah.

Baca Juga :  Cegah Laka Lantas, Polres Bengkayang bersama pihak Jasa Raharja Pasang Spanduk

Jadi, calon pengantin nanti, menurut dia, akan dilakukan pemeriksaan terutama untuk calon pengantin perempuan. Bahkan, dia menambahkan, daftarnya 3 bulan sebelumnya juga harus dilakukan pemeriksaan kesehatannya, diukur tinggi dan berat badan untuk mengukur indeks masa tubuh, yang dilakukan agar pada saat menjadi pengantin akan menjadi sehat.

“Karena pada dasarnya potensi terjadinya lahir anak stunting disebabkan kalau saat ibu hamil kondisi badannya tidak bagus atau tidak sehat, kurang gizi maka itulah resiko pertama terjadinya bayi janin yang kurang gizi atau stunting. Anak lahir stunting dapat diukur dari panjangnya kurang dari 48 sentimeter, beratnya kurang dari 2.500 gram,” ujarnya.

Pada intinya untuk pencegahan agar tidak ada anak lahir stunting, ke depannya, diharapkan dia agar masalah untuk pendekatan  penurunan stunting ini diawali dari masa calon pengantin. Kemudian, dia menambahkan, bagaimana melihat risiko stunting yang lain, termasuk lingkungan harus bersih, kondisi rumahnya, sumber air bersih di rumah tersebut apa ada dan kondisi jambannya. “Jadi inilah persoalan yang harus ditangani bersama-sama dan mari bergotong-royong untuk mengatasi stunting ini,” timpal dia.

Baca Juga :  Bersama Bina dan Lahirkan Bibit-bibit Atlet Berbakat

“Mudah-mudahan di Kecamatan Sungai  Raya ini bisa menjadi pelopor bagaimana pencegahan penurunan stunting bisa dilakukan termasuk juga melalui Tim Pendamping Keluarga di mana nanti dari tim inilah akan mengetahui dimana keluarga yang berisiko stunting,” ujarnya.

Tim Pendamping Keluarga ini sendiri terdiri dari Kader PKK, Kader KB dan Bidan/Tenaga Kesehatan. Dikatakannya, risiko terjadinya stunting ini bisa terjadi setiap saat dan inilah yang harus diwaspadai. “Mari kita bersama-sama membangun desa peduli stunting termasuk juga intervensi dapur sehat atasi stunting,” ujarnya. (Sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/