alexametrics
24 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Predator Anak Berkedok Guru Seni Ditangkap, Cabuli 10 Remaja dengan Modus Pengobatan Alternatif

BENGKAYANG – Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Bengkayang berhasil mengungkap tindakan kriminal seorang pria berinisial JP yang merupakan petugas keamanan di  salah satu hotel di Kabupaten Bengkayang. JP ditangkap lantaran telah melakukan tindak asusila terhadap sepuluh wanita yang notabene rata-rata merupakan kategori anak dibawah umur.

Hal tersebut dibeberkan pihak Polres Bengkayang saat melaksanakan giat press release, yang dilaksanakan di Aula Mapolres Bengkayang, pada Kamis (21/1).

Kapolres Bengkayang, AKBP NB. Dharma mengungkapkan bahwa dalam kasus tersebut, pelaku JP melakukan aksi bejatnya tersebut kepada anak didiknya sendiri. Mengingat pelaku JP merupakan pemilik salah satu sanggar di Kecamatan Sungai Betung.

Kapolres Bengkayang, AKBP NB. Dharma

Sementara dalam menjalankan aksinya, pelaku melakukan hal tersebut dengan modus  bujuk rayu dengan iming-iming pengobatan alternatif, berupa berkunci batin.

Terkait modus tersebut, Kapolres mengungkapkan para korban tidak mengetahui apa-apa terkait berkunci batin. Dalam hal ini, pelaku terus mendesak para korbannya sembari menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa setiap korbannya memiliki penyakit yang harus segera disembuhkan. Karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa bertambah parah seiring berjalannya waktu.

“Pelaku mengatakan hal tersebut kepada satu-per satu muridnya melalui chat WhatsApp terhadap masing-masing muridnya tersebut. Para korban yang merasa takut kemudian mendatangi rumah pelaku untuk melakukan pengobatan berkunci batin,” jelasnya.

Dalam hal ini, pelaku juga telah mengatur sedemikian rupa jadwal bertemu dengan tiap-tiap korbannya untuk melakukan ritual berkunci batin tersebut. Namun yang pasti, hal tersebut dilakukan saat istri pelaku sedang tak ada dirumah.

“Untuk manfaatnya sendiri, pelaku mengaku kepada para korban bahwa berkunci batin itu memiliki khasiat untuk mengusir perbuatan jahat seperti santet, sihir, dan sebagainya. Selain itu pelaku juga mengimi-imingi dengan berkunci batin adalah untuk menyucikan atau membersihkan badan dari hal-hal kotor,” ungkap Kapolres.

“Manfaat lainnya adalah untuk dijauhkan dari orang-orang jahat serta untuk menghilangkan berbagai penyakit,” tambahnya.

Ketika kesempatan itu datang, pelaku mulai menyuruh satu persatu korban untuk datang dan masuk ke rumahnya untuk melakukan ritual berkunci batin. Caranya adalah korban diminta berdoa sambil memegang beras kuning di depan sebuah pantak (patung kayu belian) yang berada di ruang tamu rumahnya. Setelah itu pelaku menghidupkan kemenyan dan dupa sembari korban disuruh menghirup asap tersebut (kemenyan dan dupa) dalam-dalam dengan dalih agar proses pembersihan badan berjalan lancar.

“Setelah itu korban merasa pusing dan diminta untuk masuk ke kamarnya dengan keadaan telanjang bulat. Korban kemudian diminta berbaring dikasur dan badan korban ditutupi menggunakan kain sarung,” terangnya.

“Kemudian pelaku menempelkan daun sirih di area kemaluan korban. Setelah itu pelaku memperlihatkan sebuah tengkuyung (yang telah disiapkan pelaku) yang seolah-olah keluar dari kemaluan korban. Pelaku juga memegang payudara korban sembari memegang sebuah batu yang seakan-akan batu itu keluar dari payudara korban,” timpalnya.

Aksi tersebut dilanjutkan pelaku dengan meminta para korban untuk menutup mata dan kembali menghirup asap dupa dan kemenyan, sehingga para korban kembali mengalami pusing. Dari situlah, lanjut Kapolres, pelaku melakukan aksinya sampai persetubuhan. Setelah selesai disetubuhi, korban kembali diminta berdoa lagi sembari memegang pantak.

Baca Juga :  Muathay Putri Kalbar Raih Perak

“Aksi itu tak berhenti sekali. Tapi pelaku mengatakan kepada setiap korban bahwa ritual berkunci batinnya belum selesai, karena masih ada tengkuyung (di dalam kemaluan korban). Jadi korban diminta datang lagi nanti, untuk melakukan berkunci batin agar korban sembuh dari penyakitnya,” paparnya.

Lebih jauh, pelaku juga mengancam korban agar tak memberitahu kepada siapapun terkait ritual berkunci batin tersebut. Dalam hal ini, pelaku menakut-nakuti korban bahwa apabila disebarluaskan, maka penyakit tersebut akan datang kembali dan kemaluan setiap korbannya akan membusuk.

Kapolres mengatakan, di sinilah peran penting setiap orang tua untuk mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya dari modus-modus semacam ini. “Begitu pula untuk anak-anak. Inilah pentingnya membangun komunikasi apapun bentuknya dengan orangtua guna memberantas sekaligus menjauhkan anak-anak dari perbuatan (seperti ini),” katanya.

“Saya rasa perlu juga kita untuk dapat mengampanyekan terhadap perlindungan anak. Mengingat di Bengkayang ini untuk  catatan penanganan kasus kejahatan terhadap anak di tahun 2020 itu cukup signifikan,” tutupnya

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bengkayang, AKP Marhiba mengungkapkan kronologis penangkapan terhadap pelaku. Menurutnya, penangkapan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari salah satu korban yang datang bersama orangtuanya ke Polsek Sungai Betung. Namun mengingat kejadian tersebut melibatkan anak bawah umur, maka kasus tersebut dilimpahkan ke Satreskrim Polres Bengkayang untuk ditindaklanjuti.

“Hal ini dilakukan pelaku dalam rentang waktu hampir enam bulan, mulai dari bulan Agustus 2020 hingga saat ini (pertengahan Januari),” bebernya.

“Untuk pengungkapan, kita baru ketahui saat salah satu korban bersama orangtuanya melapor ke Polsek Sungai Betung. Hal tersebut terus berlanjut, hingga satu persatu korban bersama orangtua lainnya juga melapor atas perbuatan serupa,”  ungkapnya.

Untuk memastikan kasus tersebut, Marhiba mengatakan pihaknya langsung melakukan cross check hingga akhirnya didapat fakta bahwa pelaku memang benar melakukan persetubuhan terhadap murid-murid di sanggarnya yang rata-rata merupakan anak bawah umur.

“Kasus ini dilimpahkan ke kita dan penangkapan terhadap pelaku kita lakukan pada Minggu (17/1) sekitar pukul 01.00 WIB di tempat dia bekerja. Selain itu, pengamanan terhadap pelaku kita lakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa pelaku bisa diamankan dari (amukan) pihak keluarga maupun masyarakat di lingkungan sekitar korban,” tambahya.

Untuk korban, kata Marhiba, sembilan di antaranya merupakan pelajar di tingkat SMP yang rata-rata bersekolah di satu lingkungan yang sama. Sedangkan satu lainnya pelajar tingkat SMA. Sementara untuk rentang usia, korban yang disetubuhi oleh pelaku mulai dari 13 hingga 19 tahun.

“Untuk para korban saat ini telah kita serahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Bengkayang untuk dilakukan pendampingan dan pemulihan dari sisi psikologis,” ucapnya.

Selain itu, ia juga memaparkan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan. Di antaranya pakaian korban serta alat-alat untuk melakukan ritual berkunci batin, yakni mangkuk plastik berisikan telur, batu, kemenyan dan daun sirih, mangkuk kaca berisi beras kuning serta satu tempayan berisi beras kuning.

“Dari pengakuan pelaku, dia melakukan aksi tersebut lantaran ajaran dari mantan gurunya dulu. Pelaku mengaku bahwa dirinya juga merupakan korban dari gurunya tersebut sehingga pelaku mendapatkan ilham untuk meneruskan kembali ajaran gurunya,” papar dia.

Baca Juga :  Optimis Memutus Rantai Penularan COVID-19

Lebih jauh, Kasat Reskrim juga mengungkapkan bahwa pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat 1 dan 2 Jo Pasal 76 D UU RI No.17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU RI No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

“Ancaman hukumnya penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak lima miliar rupiah,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Plt. Kepala Dinas Sosial, PP dan PA kabupaten Bengkayang, Antonius Freddy Romy membenarkan bahwa hingga saat ini pihaknya tengah melakukan pendampingan sosial  untuk pemulihan psikologis terhadap para korban.

“Korbannya yang ada di kantor  11 orang, dan dalam penanganan ini kita bekerjasama dengan Polres Bengkayang.  Kemungkinan nanti akan bertambah, karena kita juga sudah mencari informasi. Dan menurut mereka (korban)  jumlah anak murid di bawah naungan sanggar JP tersebut ada 76 orang,” jelas Romy.

“Dalam kurun waktu ini takutnya kasus ini berkembang dan ada penambahan korban. Tapi kami yakin dan percaya ini Polres yang akan menanganinya,” timpalnya.

Saat ini, kata Romy, selain melakukan pendampingan psikis, pihaknya melakukan siraman rohani kepada para korban. Dia berharap agar kasus ini cepat terungkap  secara terang benderang dan tidak ada lagi korban lainnya.

“Saat ini korban masih terus kita berikan pendampingan. Jujur sedih saya lihat korbannya. Selanjutnya kita serahkan semua ke pihak kepolisian, semoga semua terungkap secara terang benderang,” terangnya.

Sementara itu, Pelaku JP di hadapan awak media mengakui perbuatan tak bermoralnya tersebut. Dia juga mengaku bahwa dirinya merupakan pemilik salah satu sanggar yang ada di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang.

Saat ditanyai mengenai perbuatannya tersebut, pelaku mengaku aksi bejatnya dilakukan dengan menipu para korban menggunakan modus pengobatan. Aksi JP bermula pada tahun 2020 lalu, dengan korban pertama sesuai pengakuan  JP adalah gadis berinisial E (18).

JP melakukan dengan modus penguncian batin dengan menyetubuhi korban, agar penyakitnya bisa hilang. Sebelum melakukan itu, JP terlebih dahulu menanyakan kesanggupan dari korban. Kemudian  korban diminta untuk menemui pelaku secara pribadi.

“Sebelum melakukan berkunci batin dengan cara menyetubuhi korban, saya bertanya dulu apakah kalian (korban) sanggup melakukan itu, karena ini nanti dilakukan seperti hubungan suami istri. Itu saya ceritakan ke korban, kalau tidak sanggup jangan dilakukan, saya tidak paksa,” ucap JP pada awak media.

Kemudian setelah mengeluarkan penjelasan dari JP, dengan modus penyakit akhirnya korban menuruti.  Di luar kejadian tersebut, JP mengaku telah menyesali perbuatan keji itu. Ia lantas melontarkan kata maaf yang ditujukan kepada keluarga korban.

“Ini dilakukan atas kesepakatan dan sudah ditanya baik-baik pada korban. Di sini saya memohon dengan sangat, saya minta maaf kepada keluarga korban dan  juga desa,” pungkasnya. (Sig)

BENGKAYANG – Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Bengkayang berhasil mengungkap tindakan kriminal seorang pria berinisial JP yang merupakan petugas keamanan di  salah satu hotel di Kabupaten Bengkayang. JP ditangkap lantaran telah melakukan tindak asusila terhadap sepuluh wanita yang notabene rata-rata merupakan kategori anak dibawah umur.

Hal tersebut dibeberkan pihak Polres Bengkayang saat melaksanakan giat press release, yang dilaksanakan di Aula Mapolres Bengkayang, pada Kamis (21/1).

Kapolres Bengkayang, AKBP NB. Dharma mengungkapkan bahwa dalam kasus tersebut, pelaku JP melakukan aksi bejatnya tersebut kepada anak didiknya sendiri. Mengingat pelaku JP merupakan pemilik salah satu sanggar di Kecamatan Sungai Betung.

Kapolres Bengkayang, AKBP NB. Dharma

Sementara dalam menjalankan aksinya, pelaku melakukan hal tersebut dengan modus  bujuk rayu dengan iming-iming pengobatan alternatif, berupa berkunci batin.

Terkait modus tersebut, Kapolres mengungkapkan para korban tidak mengetahui apa-apa terkait berkunci batin. Dalam hal ini, pelaku terus mendesak para korbannya sembari menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa setiap korbannya memiliki penyakit yang harus segera disembuhkan. Karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa bertambah parah seiring berjalannya waktu.

“Pelaku mengatakan hal tersebut kepada satu-per satu muridnya melalui chat WhatsApp terhadap masing-masing muridnya tersebut. Para korban yang merasa takut kemudian mendatangi rumah pelaku untuk melakukan pengobatan berkunci batin,” jelasnya.

Dalam hal ini, pelaku juga telah mengatur sedemikian rupa jadwal bertemu dengan tiap-tiap korbannya untuk melakukan ritual berkunci batin tersebut. Namun yang pasti, hal tersebut dilakukan saat istri pelaku sedang tak ada dirumah.

“Untuk manfaatnya sendiri, pelaku mengaku kepada para korban bahwa berkunci batin itu memiliki khasiat untuk mengusir perbuatan jahat seperti santet, sihir, dan sebagainya. Selain itu pelaku juga mengimi-imingi dengan berkunci batin adalah untuk menyucikan atau membersihkan badan dari hal-hal kotor,” ungkap Kapolres.

“Manfaat lainnya adalah untuk dijauhkan dari orang-orang jahat serta untuk menghilangkan berbagai penyakit,” tambahnya.

Ketika kesempatan itu datang, pelaku mulai menyuruh satu persatu korban untuk datang dan masuk ke rumahnya untuk melakukan ritual berkunci batin. Caranya adalah korban diminta berdoa sambil memegang beras kuning di depan sebuah pantak (patung kayu belian) yang berada di ruang tamu rumahnya. Setelah itu pelaku menghidupkan kemenyan dan dupa sembari korban disuruh menghirup asap tersebut (kemenyan dan dupa) dalam-dalam dengan dalih agar proses pembersihan badan berjalan lancar.

“Setelah itu korban merasa pusing dan diminta untuk masuk ke kamarnya dengan keadaan telanjang bulat. Korban kemudian diminta berbaring dikasur dan badan korban ditutupi menggunakan kain sarung,” terangnya.

“Kemudian pelaku menempelkan daun sirih di area kemaluan korban. Setelah itu pelaku memperlihatkan sebuah tengkuyung (yang telah disiapkan pelaku) yang seolah-olah keluar dari kemaluan korban. Pelaku juga memegang payudara korban sembari memegang sebuah batu yang seakan-akan batu itu keluar dari payudara korban,” timpalnya.

Aksi tersebut dilanjutkan pelaku dengan meminta para korban untuk menutup mata dan kembali menghirup asap dupa dan kemenyan, sehingga para korban kembali mengalami pusing. Dari situlah, lanjut Kapolres, pelaku melakukan aksinya sampai persetubuhan. Setelah selesai disetubuhi, korban kembali diminta berdoa lagi sembari memegang pantak.

Baca Juga :  Main HP Saat Bupati Pidato, Sikap ASN Tuai Kecaman

“Aksi itu tak berhenti sekali. Tapi pelaku mengatakan kepada setiap korban bahwa ritual berkunci batinnya belum selesai, karena masih ada tengkuyung (di dalam kemaluan korban). Jadi korban diminta datang lagi nanti, untuk melakukan berkunci batin agar korban sembuh dari penyakitnya,” paparnya.

Lebih jauh, pelaku juga mengancam korban agar tak memberitahu kepada siapapun terkait ritual berkunci batin tersebut. Dalam hal ini, pelaku menakut-nakuti korban bahwa apabila disebarluaskan, maka penyakit tersebut akan datang kembali dan kemaluan setiap korbannya akan membusuk.

Kapolres mengatakan, di sinilah peran penting setiap orang tua untuk mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya dari modus-modus semacam ini. “Begitu pula untuk anak-anak. Inilah pentingnya membangun komunikasi apapun bentuknya dengan orangtua guna memberantas sekaligus menjauhkan anak-anak dari perbuatan (seperti ini),” katanya.

“Saya rasa perlu juga kita untuk dapat mengampanyekan terhadap perlindungan anak. Mengingat di Bengkayang ini untuk  catatan penanganan kasus kejahatan terhadap anak di tahun 2020 itu cukup signifikan,” tutupnya

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bengkayang, AKP Marhiba mengungkapkan kronologis penangkapan terhadap pelaku. Menurutnya, penangkapan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari salah satu korban yang datang bersama orangtuanya ke Polsek Sungai Betung. Namun mengingat kejadian tersebut melibatkan anak bawah umur, maka kasus tersebut dilimpahkan ke Satreskrim Polres Bengkayang untuk ditindaklanjuti.

“Hal ini dilakukan pelaku dalam rentang waktu hampir enam bulan, mulai dari bulan Agustus 2020 hingga saat ini (pertengahan Januari),” bebernya.

“Untuk pengungkapan, kita baru ketahui saat salah satu korban bersama orangtuanya melapor ke Polsek Sungai Betung. Hal tersebut terus berlanjut, hingga satu persatu korban bersama orangtua lainnya juga melapor atas perbuatan serupa,”  ungkapnya.

Untuk memastikan kasus tersebut, Marhiba mengatakan pihaknya langsung melakukan cross check hingga akhirnya didapat fakta bahwa pelaku memang benar melakukan persetubuhan terhadap murid-murid di sanggarnya yang rata-rata merupakan anak bawah umur.

“Kasus ini dilimpahkan ke kita dan penangkapan terhadap pelaku kita lakukan pada Minggu (17/1) sekitar pukul 01.00 WIB di tempat dia bekerja. Selain itu, pengamanan terhadap pelaku kita lakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa pelaku bisa diamankan dari (amukan) pihak keluarga maupun masyarakat di lingkungan sekitar korban,” tambahya.

Untuk korban, kata Marhiba, sembilan di antaranya merupakan pelajar di tingkat SMP yang rata-rata bersekolah di satu lingkungan yang sama. Sedangkan satu lainnya pelajar tingkat SMA. Sementara untuk rentang usia, korban yang disetubuhi oleh pelaku mulai dari 13 hingga 19 tahun.

“Untuk para korban saat ini telah kita serahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Bengkayang untuk dilakukan pendampingan dan pemulihan dari sisi psikologis,” ucapnya.

Selain itu, ia juga memaparkan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan. Di antaranya pakaian korban serta alat-alat untuk melakukan ritual berkunci batin, yakni mangkuk plastik berisikan telur, batu, kemenyan dan daun sirih, mangkuk kaca berisi beras kuning serta satu tempayan berisi beras kuning.

“Dari pengakuan pelaku, dia melakukan aksi tersebut lantaran ajaran dari mantan gurunya dulu. Pelaku mengaku bahwa dirinya juga merupakan korban dari gurunya tersebut sehingga pelaku mendapatkan ilham untuk meneruskan kembali ajaran gurunya,” papar dia.

Baca Juga :  Selangkah Lagi RFS Tersangka, Kirim SPDP ke Kejaksaan, Kasus Naik ke Penyidikan

Lebih jauh, Kasat Reskrim juga mengungkapkan bahwa pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat 1 dan 2 Jo Pasal 76 D UU RI No.17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU RI No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

“Ancaman hukumnya penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak lima miliar rupiah,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Plt. Kepala Dinas Sosial, PP dan PA kabupaten Bengkayang, Antonius Freddy Romy membenarkan bahwa hingga saat ini pihaknya tengah melakukan pendampingan sosial  untuk pemulihan psikologis terhadap para korban.

“Korbannya yang ada di kantor  11 orang, dan dalam penanganan ini kita bekerjasama dengan Polres Bengkayang.  Kemungkinan nanti akan bertambah, karena kita juga sudah mencari informasi. Dan menurut mereka (korban)  jumlah anak murid di bawah naungan sanggar JP tersebut ada 76 orang,” jelas Romy.

“Dalam kurun waktu ini takutnya kasus ini berkembang dan ada penambahan korban. Tapi kami yakin dan percaya ini Polres yang akan menanganinya,” timpalnya.

Saat ini, kata Romy, selain melakukan pendampingan psikis, pihaknya melakukan siraman rohani kepada para korban. Dia berharap agar kasus ini cepat terungkap  secara terang benderang dan tidak ada lagi korban lainnya.

“Saat ini korban masih terus kita berikan pendampingan. Jujur sedih saya lihat korbannya. Selanjutnya kita serahkan semua ke pihak kepolisian, semoga semua terungkap secara terang benderang,” terangnya.

Sementara itu, Pelaku JP di hadapan awak media mengakui perbuatan tak bermoralnya tersebut. Dia juga mengaku bahwa dirinya merupakan pemilik salah satu sanggar yang ada di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang.

Saat ditanyai mengenai perbuatannya tersebut, pelaku mengaku aksi bejatnya dilakukan dengan menipu para korban menggunakan modus pengobatan. Aksi JP bermula pada tahun 2020 lalu, dengan korban pertama sesuai pengakuan  JP adalah gadis berinisial E (18).

JP melakukan dengan modus penguncian batin dengan menyetubuhi korban, agar penyakitnya bisa hilang. Sebelum melakukan itu, JP terlebih dahulu menanyakan kesanggupan dari korban. Kemudian  korban diminta untuk menemui pelaku secara pribadi.

“Sebelum melakukan berkunci batin dengan cara menyetubuhi korban, saya bertanya dulu apakah kalian (korban) sanggup melakukan itu, karena ini nanti dilakukan seperti hubungan suami istri. Itu saya ceritakan ke korban, kalau tidak sanggup jangan dilakukan, saya tidak paksa,” ucap JP pada awak media.

Kemudian setelah mengeluarkan penjelasan dari JP, dengan modus penyakit akhirnya korban menuruti.  Di luar kejadian tersebut, JP mengaku telah menyesali perbuatan keji itu. Ia lantas melontarkan kata maaf yang ditujukan kepada keluarga korban.

“Ini dilakukan atas kesepakatan dan sudah ditanya baik-baik pada korban. Di sini saya memohon dengan sangat, saya minta maaf kepada keluarga korban dan  juga desa,” pungkasnya. (Sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/