alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Jamin Hak Pelajar Korban Pencabulan, Disdikbud Tinjau Ulang Legalitas Sanggar Milik Pelaku

BENGKAYANG – Kasus pencabulan terhadap 10 anak di sebuah sanggar milik pelaku JP di Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang masih menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Pasalnya seluruh korban merupakan kaum pelajar dan bahkan beberapa di antaranya merupakan anak berstatus di bawah umur.

Kini kasus tersebut sudah dalam penanganan pihak kepolisian, sementara para korban telah mendapat penanganan lanjutan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bengkayang untuk didampingi secara psikologis dan kerohaniaannya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Bengkayang, Gustian Andiwinata memastikan hak belajar anak-anak, yang menjadi korban pencabulan oleh oknum pengajar di salah satu sanggar tari di Kecamatan Sungai Betung tetap mendapatkan haknya sebagai pelajar. Khususnya bagi mereka yang masih duduk di bangku SMP.

“Kita sudah dapat kabar berita tersebut dan yang jelas koordinasi terus kita lakukan. Terutama dengan pengawas UPT (unit pelaksana tugas) dan Kepala Sekolah tempat siswi-siswi tersebut bersekolah,” kata Gustian saat diwawancarai, Selasa (26/1).

Dia menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan yang dilalui anak-anak tersebut selama dibina oleh pihak Dinsos Kabupaten Bengkayang. Selain itu, hak mereka sebagai pelajar untuk menimba ilmu juga tetap diberikan sebagaimana pada murid pada umumnya.

“Tugas tetap diberikan, kesempatan belajar tetap diberikan. Tugas-tugas itu tetap dikirim secara daring,” katanya.

Di samping itu, Gustian memastikan pihaknya saat ini juga sedang mendalami izin dari sanggar milik pelaku JP. Hal tersebut mengacu pada Perda Kemajuan Kebudayaan Tahun 2020. Dalam regulasi tersebut, kata Gustian, izin setiap sanggar-sanggar bernilai kebudayaan berada di bawah naungan Disdikbud Kabupaten Bengkayang.

Baca Juga :  Montir Sepeda Cabuli Gadis 14 Tahun

“Untuk sanggar yang sedang dalam kasus ini akan kita tinjau kembali, terutama mengenai izin, akta berdiri, dan juga surat kepengurusannya. Dalam hal ini kita ingin tinjau lagi apakah sanggar tersebut memiliki kepengurusan yang jelas. Apabila memang ada, maka pengurus yang terlibat hukum ini akan diberhentikan tetapi sanggar tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya,”  terangnya.

“Jadi untuk sanggar apabila memang memenuhi persyaratan dan kepengurusannya jelas maka akan tetap kita bina. Karena bagaimanapun terkait kebudayaan adalah dibawah naungan Disdikbud, apalagi yang namanya kebudayaan ini adalah cerminan bagi setiap daerah sebagai rekreasi budaya,” tambahnya.

Seiring terjadinya kasus tersebut, ia mengatakan pihaknya akan mulai memperketat pengawasan di setiap sanggar-sanggar yang ada lewat bidang kebudayaan. Dia melanjutkan, apabila memang diperlukan, pihaknya akan mulai merutinkan survei rutin untuk memastikan bahwa setiap aktivitas yang ada di lingkungan sanggar berjalan sebagaimana mestinya.

“Karena tentunya di sini kita tidak ingin hal-hal seperti ini (kasus pencabulan) tidak terulang kembali,” katanya. Ke depan, Gustian juga mengimbau kepada setiap orangtua agar tidak menjadikan kasus tersebut sebagai cerminan untuk melarang anak-anak mengikuti kegiatan berbau kebudayaan di setiap sanggar. Sebab tidak semua sanggar demikian. Namun, hal tersebut harus dibarengi kontrol dari semua pihak, termasuk setiap orangtua terkait hal-hal apa saja yang terjadi pada anaknya.

“Apabila ada perilaku anak yang nampak berbeda langsung tanyakan. Karena yang ditakutkan adalah apabila si anak salah pergaulan. Maka dari itu, setiap orang tua kita minta untuk terus kontrol dan menanyakan kegiatannya apa dan bagaimana, serta tak melepas bebas anak-anaknya begitu saja. Karena kita sama-sama tak mau ambil risiko dan kejadian seperti ini terulang kembali,” tutupnya.

Baca Juga :  Cabuli 11 Siswa, Oknum Kepsek di Landak Dipecat

Sementara itu, Pj Bupati Bengkayang, Yohanes Budiman ikut prihatin atas kasus yang melibatkan 10 remaja yang menjadi korban pelecehan seksual di kabupaten Bengkayang tersebut. Yohanes menyatakan bahwa kabar tersebut sudah ia terima dan pemerintah juga telah melakukan pendampingan bagi korban. Saat ini dikatakan, korban tengah berada di kantor Dinas Sosial, PP, PA kabupaten Bengkayang. Kemudian pelaku sudah diamankan di Polres Bengkayang untuk proses hukum selanjutnya.

“Kita sangat prihatin atas kasus yang terjadi baru-baru ini terjadi di Kabupaten Bengkayang. Kasus ini sudah diambil alih pihak kepolisian dan untuk anak-anak yang menjadi korban sudah ditangani oleh dinas sosial untuk pendampingan psikis,” katanya.

Atas kasus tersebut, Yohanes berpesan kepada masyarakat terutama orang tua untuk lebih waspada menjaga dan mengontrol anak-anaknya. Banyak kasus yang terjadi baik pelaku ada orang tak dikenal  dengan iming-iming pengobatan, uang dan lain-lain, bahkan juga pelaku merupakan orang  terdekat sekalipun. Hal itu, kata dia, sudah banyak terjadi sehingga peran orang tua sangat penting dalam mengawasi anaknya.

“Mereka memanfaatkan keluguan anak-anak. Masyarakat diharapkan ikut mengawasi, serta peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini sehingga anak-anak dapat mengenal ancaman terhadap mereka,” tuturnya.

Kasus dengan modus seperti ini menurutnya harus selalu diwaspadai. Anak-anak hendaknya diajarkan untuk mengenal sejak dini soal ancaman kekerasan seksual. “Kita wajib mendidik anak kita, memberikan edukasi seputar ancaman itu,  serta tak lepas peran  masyarakat juga turut mengawasi,” pungkasnya. (sig)

BENGKAYANG – Kasus pencabulan terhadap 10 anak di sebuah sanggar milik pelaku JP di Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang masih menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Pasalnya seluruh korban merupakan kaum pelajar dan bahkan beberapa di antaranya merupakan anak berstatus di bawah umur.

Kini kasus tersebut sudah dalam penanganan pihak kepolisian, sementara para korban telah mendapat penanganan lanjutan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bengkayang untuk didampingi secara psikologis dan kerohaniaannya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Bengkayang, Gustian Andiwinata memastikan hak belajar anak-anak, yang menjadi korban pencabulan oleh oknum pengajar di salah satu sanggar tari di Kecamatan Sungai Betung tetap mendapatkan haknya sebagai pelajar. Khususnya bagi mereka yang masih duduk di bangku SMP.

“Kita sudah dapat kabar berita tersebut dan yang jelas koordinasi terus kita lakukan. Terutama dengan pengawas UPT (unit pelaksana tugas) dan Kepala Sekolah tempat siswi-siswi tersebut bersekolah,” kata Gustian saat diwawancarai, Selasa (26/1).

Dia menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan yang dilalui anak-anak tersebut selama dibina oleh pihak Dinsos Kabupaten Bengkayang. Selain itu, hak mereka sebagai pelajar untuk menimba ilmu juga tetap diberikan sebagaimana pada murid pada umumnya.

“Tugas tetap diberikan, kesempatan belajar tetap diberikan. Tugas-tugas itu tetap dikirim secara daring,” katanya.

Di samping itu, Gustian memastikan pihaknya saat ini juga sedang mendalami izin dari sanggar milik pelaku JP. Hal tersebut mengacu pada Perda Kemajuan Kebudayaan Tahun 2020. Dalam regulasi tersebut, kata Gustian, izin setiap sanggar-sanggar bernilai kebudayaan berada di bawah naungan Disdikbud Kabupaten Bengkayang.

Baca Juga :  Oknum Guru Cabuli Siswa dengan Cara tak Wajar

“Untuk sanggar yang sedang dalam kasus ini akan kita tinjau kembali, terutama mengenai izin, akta berdiri, dan juga surat kepengurusannya. Dalam hal ini kita ingin tinjau lagi apakah sanggar tersebut memiliki kepengurusan yang jelas. Apabila memang ada, maka pengurus yang terlibat hukum ini akan diberhentikan tetapi sanggar tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya,”  terangnya.

“Jadi untuk sanggar apabila memang memenuhi persyaratan dan kepengurusannya jelas maka akan tetap kita bina. Karena bagaimanapun terkait kebudayaan adalah dibawah naungan Disdikbud, apalagi yang namanya kebudayaan ini adalah cerminan bagi setiap daerah sebagai rekreasi budaya,” tambahnya.

Seiring terjadinya kasus tersebut, ia mengatakan pihaknya akan mulai memperketat pengawasan di setiap sanggar-sanggar yang ada lewat bidang kebudayaan. Dia melanjutkan, apabila memang diperlukan, pihaknya akan mulai merutinkan survei rutin untuk memastikan bahwa setiap aktivitas yang ada di lingkungan sanggar berjalan sebagaimana mestinya.

“Karena tentunya di sini kita tidak ingin hal-hal seperti ini (kasus pencabulan) tidak terulang kembali,” katanya. Ke depan, Gustian juga mengimbau kepada setiap orangtua agar tidak menjadikan kasus tersebut sebagai cerminan untuk melarang anak-anak mengikuti kegiatan berbau kebudayaan di setiap sanggar. Sebab tidak semua sanggar demikian. Namun, hal tersebut harus dibarengi kontrol dari semua pihak, termasuk setiap orangtua terkait hal-hal apa saja yang terjadi pada anaknya.

“Apabila ada perilaku anak yang nampak berbeda langsung tanyakan. Karena yang ditakutkan adalah apabila si anak salah pergaulan. Maka dari itu, setiap orang tua kita minta untuk terus kontrol dan menanyakan kegiatannya apa dan bagaimana, serta tak melepas bebas anak-anaknya begitu saja. Karena kita sama-sama tak mau ambil risiko dan kejadian seperti ini terulang kembali,” tutupnya.

Baca Juga :  Satgas TMMD ke-108 Lakukan Pengerasan Jalan di Hari ke-13

Sementara itu, Pj Bupati Bengkayang, Yohanes Budiman ikut prihatin atas kasus yang melibatkan 10 remaja yang menjadi korban pelecehan seksual di kabupaten Bengkayang tersebut. Yohanes menyatakan bahwa kabar tersebut sudah ia terima dan pemerintah juga telah melakukan pendampingan bagi korban. Saat ini dikatakan, korban tengah berada di kantor Dinas Sosial, PP, PA kabupaten Bengkayang. Kemudian pelaku sudah diamankan di Polres Bengkayang untuk proses hukum selanjutnya.

“Kita sangat prihatin atas kasus yang terjadi baru-baru ini terjadi di Kabupaten Bengkayang. Kasus ini sudah diambil alih pihak kepolisian dan untuk anak-anak yang menjadi korban sudah ditangani oleh dinas sosial untuk pendampingan psikis,” katanya.

Atas kasus tersebut, Yohanes berpesan kepada masyarakat terutama orang tua untuk lebih waspada menjaga dan mengontrol anak-anaknya. Banyak kasus yang terjadi baik pelaku ada orang tak dikenal  dengan iming-iming pengobatan, uang dan lain-lain, bahkan juga pelaku merupakan orang  terdekat sekalipun. Hal itu, kata dia, sudah banyak terjadi sehingga peran orang tua sangat penting dalam mengawasi anaknya.

“Mereka memanfaatkan keluguan anak-anak. Masyarakat diharapkan ikut mengawasi, serta peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini sehingga anak-anak dapat mengenal ancaman terhadap mereka,” tuturnya.

Kasus dengan modus seperti ini menurutnya harus selalu diwaspadai. Anak-anak hendaknya diajarkan untuk mengenal sejak dini soal ancaman kekerasan seksual. “Kita wajib mendidik anak kita, memberikan edukasi seputar ancaman itu,  serta tak lepas peran  masyarakat juga turut mengawasi,” pungkasnya. (sig)

Most Read

Jejak Kepahlawanan Muhammadiyah

Sanggau Siaga Karhutla

Bantu Warga Pada Hari Pers Nasional

Pasang Banner Himbauan

Artikel Terbaru

/