alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

 Arwana, Doa, dan Kearifan, Di Balik Bisnis Ikan Endemik Borneo

Kecamatan Selimbau cukup terkenal sebagai penghasil ikan hias arwana jenis super red. Pontianak Post berkesempatan melihat langsung panen budidaya ikan endemik Kabupaten Kapuas Hulu tersebut. Bagaimana prosesnya?

IDIL AQSA AKBARY & SHANDO SAFELA, Selimbau

PAGI masih gelap ketika Abu Bakar (59) memeriksa kolam budidaya arwana super red yang hendak dipanen, Minggu (31/2). Berbekal sebuah senter, ia melihat satu per satu kolam di luas lahan mencapai lima hektare tersebut. Tugas Abu adalah memastikan indukan arwana jantan yang mana saja yang siap dipanen.

Belasan tahun warga Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu itu bekerja sebagai tukang panen ikan arwana. Abu dikenal ahli menentukan mana saja ikan yang siap dipanen dan mana yang tidak. Kali ini ia bertugas memanen ikan arwana di kolam milik Ade Munawir (56).

Perkembangbiakan ikan hias asal Kapuas Hulu ini memang unik. Dalam tiap petak kolam dihuni sembilan sampai 10 indukan arwana. Jika jumlahnya sembilan, biasanya terdiri dari enam indukan betina dan tiga indukan jantan. Perbandingan betina dengan jantan dalam satu kolam harus dua banding satu.

Sementara proses panen ikan ini dimulai dari bertelurnya indukan betina. Setelah induk betina bertelur, telur-telur yang dikeluarkannya otomatis bakal dimakan oleh indukan jantan. Arti dimakan dalam hal ini bukan benar-benar dimakan, melainkan diperam di dalam mulut jantan. Di dalam mulut jantan itulah nantinya ikan menetas dan anak ikan bakal terus disimpan di dalam mulut sampai waktunya dikeluarkan.

Sederhanannya, tugas Abu hanya memastikan indukan jantan mana saja yang di dalam mulutnya sudah tersimpan anak arwana. Proses pengambilan anak ikan dari mulut jantan itulah yang disebut sebagai panen ikan arwana.

Setelah memastikan ikan jantan mana yang siap dipanen, Abu tinggal menunggu tim atau warga lain untuk membantu proses memanen. Pagi itu, pemilik kolam Ade Munawir mengajak delapan sampai 10 orang untuk ikut memanen ikan arwana di tempatnya.

Baca Juga :  Wabup Kukuhkan Anggota Paskibraka 2020

Sekitar pukul 09.00 WIB, setelah semua warga yang membantu datang dan peralatan siap, panen pun dimulai. Sebelum bekerja mereka meriung sebentar untuk memanjatkan doa dan selawat agar diberkahi. Prosesi panen arwana ini memang lekat dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Yang paling tampak adalah doa-doa selawat yang lantang diucapkan di momen-momen tertentu.

Enam pria bertugas mengangkat jaring dan membentangkannya di kolam. Sementara dua orang, Abu dan seorang temannya terjun ke kolam sebagai yang bertugas memanen. Ketika jaring mulai diangkat dan ruang gerak induk arwana semakin kecil, semua indukan akan terlihat ke permukaan. Dari hasil pemantauan subuh tadi, Abu tahu betul jantan mana yang harus ditangkap. Yang pasti jantan yang menyimpan anak-anaknya di dalam mulut.

Ketika jantan yang sudah ditentukan tadi ditangkap menggunakan serok atau tangguk berukuran besar, Abu-lah yang mengeluarkan anak-anaknya dari mulut si jantan. Sementara satu teman yang mendampinginya bertugas memegang tangguk untuk menampung anakan yang keluar.

“Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidina Muhammad,” ucap Abu ketika ia membuka mulut pejantan. Seruan selawatnya kemudian ditimpali seluruh warga di sana. Sambil menggoyang-goyangkan badan pejantan itu, ikan-ikan kecil pun berkeluaran ke dalam serok.

Abu terus menggoyang sampai ikan di mulut pejantan itu habis. Sebelum dilepas kembali, pejantan tersebut dicium oleh Abu sebagai ucapan terima kasih. Ikan-ikan kecil anakan tadi selanjutnya dimasukkan ke kantong plastik putih yang sudah diisi air bersih dan oksigen. Telur berwarna kuning berukuran kacang tanah, terlihat menggantung di bagian bawah perut ikan kecil tersebut. Dari telur yang terhubung plasenta itulah anakan ikan bisa makan dan tidak bergantung lagi dengan induknya.

Hal yang sama terus diulang untuk kolam yang lain dan ikan pejantan yang lain. Dalam satu mulut pejantan, ketika itu bisa menghasilkan 40 sampai 50 ekor anakan. Anakan tersebut yang kemudian bakal dijual ke penampung di Kota Pontianak. Harga jualnya mencapai jutaan rupiah per ekor, tergantung ukuran dan usia. “Untuk proses kawin hingga panen membutuhkan sekitar 60 hari hingga anakan arwana tidak lagi menggantung telurnya,” ungkap pemilik kolam Ade Munawir.

Baca Juga :  PT SMS Dan PT MAK Gelar Pelatihan Karhutla, Dukung Upaya Pemerintah Cegah Karhutla

Munawir sudah puluhan tahun menjadi pembudidaya ikan arwana. Kolam yang ada di belakang rumahnya itu kini sudah mencapai 40-an petak. Meski demikian, tidak semua ikan di kolam itu miliknya. Ada sebagian kolam yang diisi oleh indukan milik kerabat atau orang lain yang berinvestasi. Sistemnya bagi hasil.

Di kolam budidaya miliknya rata-rata usia indukan yang ada antara 2,5 hingga 15 tahun. Ukuran paling besar bisa mencapai satu depa orang dewasa. Sementara untuk waktu bertelur ikan dipengaruhi cuaca dan tingkat keasaman air.

Air di kolam harus bersih dan tidak tercemar. Itulah mengapa kolam arwana harus dibuat jauh dari pemukiman penduduk dan tidak boleh ada perkebunan di sekitarnya. Hal tersebut penting agar air kolam tidak tercemar oleh limbah. Kesuksesan kolam arwana bergantung dari kelestarian lingkungan sekitar.

Selain kondisi air, hal lain yang juga tak kalah penting diperhatikan adalah ketersediaan pakan. Meski indukan arwana tidak harus makan setiap hari, makanannya berupa anak ikan gabus, katak dan kelabang cukup sulit dicari.

“Jadi, kolam harus bersih dan steril. Selain itu juga harus ada sumber air. Kunci berhasilnya satu kolam tergantung air. Untuk pakan memang agak sulit, kami biasanya sampai pesan ke Pontianak,” katanya.

Munawir menekankan bahwa budidaya arwana bukan hanya soal bisnis atau pencaharian tetapi lebih dari itu. Usaha ini juga merupakan wadah atau media untuk memperkuat asas gotong-royong sesama kerabat dan warga. Saat panen mereka bisa berkumpul, berdoa dan makan bersama. Rezeki yang didapat dibagi-bagi untuk menghidupi banyak orang dari masing-masing kepala keluarga yang terlibat. (*)

Kecamatan Selimbau cukup terkenal sebagai penghasil ikan hias arwana jenis super red. Pontianak Post berkesempatan melihat langsung panen budidaya ikan endemik Kabupaten Kapuas Hulu tersebut. Bagaimana prosesnya?

IDIL AQSA AKBARY & SHANDO SAFELA, Selimbau

PAGI masih gelap ketika Abu Bakar (59) memeriksa kolam budidaya arwana super red yang hendak dipanen, Minggu (31/2). Berbekal sebuah senter, ia melihat satu per satu kolam di luas lahan mencapai lima hektare tersebut. Tugas Abu adalah memastikan indukan arwana jantan yang mana saja yang siap dipanen.

Belasan tahun warga Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu itu bekerja sebagai tukang panen ikan arwana. Abu dikenal ahli menentukan mana saja ikan yang siap dipanen dan mana yang tidak. Kali ini ia bertugas memanen ikan arwana di kolam milik Ade Munawir (56).

Perkembangbiakan ikan hias asal Kapuas Hulu ini memang unik. Dalam tiap petak kolam dihuni sembilan sampai 10 indukan arwana. Jika jumlahnya sembilan, biasanya terdiri dari enam indukan betina dan tiga indukan jantan. Perbandingan betina dengan jantan dalam satu kolam harus dua banding satu.

Sementara proses panen ikan ini dimulai dari bertelurnya indukan betina. Setelah induk betina bertelur, telur-telur yang dikeluarkannya otomatis bakal dimakan oleh indukan jantan. Arti dimakan dalam hal ini bukan benar-benar dimakan, melainkan diperam di dalam mulut jantan. Di dalam mulut jantan itulah nantinya ikan menetas dan anak ikan bakal terus disimpan di dalam mulut sampai waktunya dikeluarkan.

Sederhanannya, tugas Abu hanya memastikan indukan jantan mana saja yang di dalam mulutnya sudah tersimpan anak arwana. Proses pengambilan anak ikan dari mulut jantan itulah yang disebut sebagai panen ikan arwana.

Setelah memastikan ikan jantan mana yang siap dipanen, Abu tinggal menunggu tim atau warga lain untuk membantu proses memanen. Pagi itu, pemilik kolam Ade Munawir mengajak delapan sampai 10 orang untuk ikut memanen ikan arwana di tempatnya.

Baca Juga :  Wabup Kukuhkan Anggota Paskibraka 2020

Sekitar pukul 09.00 WIB, setelah semua warga yang membantu datang dan peralatan siap, panen pun dimulai. Sebelum bekerja mereka meriung sebentar untuk memanjatkan doa dan selawat agar diberkahi. Prosesi panen arwana ini memang lekat dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Yang paling tampak adalah doa-doa selawat yang lantang diucapkan di momen-momen tertentu.

Enam pria bertugas mengangkat jaring dan membentangkannya di kolam. Sementara dua orang, Abu dan seorang temannya terjun ke kolam sebagai yang bertugas memanen. Ketika jaring mulai diangkat dan ruang gerak induk arwana semakin kecil, semua indukan akan terlihat ke permukaan. Dari hasil pemantauan subuh tadi, Abu tahu betul jantan mana yang harus ditangkap. Yang pasti jantan yang menyimpan anak-anaknya di dalam mulut.

Ketika jantan yang sudah ditentukan tadi ditangkap menggunakan serok atau tangguk berukuran besar, Abu-lah yang mengeluarkan anak-anaknya dari mulut si jantan. Sementara satu teman yang mendampinginya bertugas memegang tangguk untuk menampung anakan yang keluar.

“Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidina Muhammad,” ucap Abu ketika ia membuka mulut pejantan. Seruan selawatnya kemudian ditimpali seluruh warga di sana. Sambil menggoyang-goyangkan badan pejantan itu, ikan-ikan kecil pun berkeluaran ke dalam serok.

Abu terus menggoyang sampai ikan di mulut pejantan itu habis. Sebelum dilepas kembali, pejantan tersebut dicium oleh Abu sebagai ucapan terima kasih. Ikan-ikan kecil anakan tadi selanjutnya dimasukkan ke kantong plastik putih yang sudah diisi air bersih dan oksigen. Telur berwarna kuning berukuran kacang tanah, terlihat menggantung di bagian bawah perut ikan kecil tersebut. Dari telur yang terhubung plasenta itulah anakan ikan bisa makan dan tidak bergantung lagi dengan induknya.

Hal yang sama terus diulang untuk kolam yang lain dan ikan pejantan yang lain. Dalam satu mulut pejantan, ketika itu bisa menghasilkan 40 sampai 50 ekor anakan. Anakan tersebut yang kemudian bakal dijual ke penampung di Kota Pontianak. Harga jualnya mencapai jutaan rupiah per ekor, tergantung ukuran dan usia. “Untuk proses kawin hingga panen membutuhkan sekitar 60 hari hingga anakan arwana tidak lagi menggantung telurnya,” ungkap pemilik kolam Ade Munawir.

Baca Juga :  Cegah Banjir di Sungai Raya Dalam, Normalisasi Parit dengan Exacavator Amphibi

Munawir sudah puluhan tahun menjadi pembudidaya ikan arwana. Kolam yang ada di belakang rumahnya itu kini sudah mencapai 40-an petak. Meski demikian, tidak semua ikan di kolam itu miliknya. Ada sebagian kolam yang diisi oleh indukan milik kerabat atau orang lain yang berinvestasi. Sistemnya bagi hasil.

Di kolam budidaya miliknya rata-rata usia indukan yang ada antara 2,5 hingga 15 tahun. Ukuran paling besar bisa mencapai satu depa orang dewasa. Sementara untuk waktu bertelur ikan dipengaruhi cuaca dan tingkat keasaman air.

Air di kolam harus bersih dan tidak tercemar. Itulah mengapa kolam arwana harus dibuat jauh dari pemukiman penduduk dan tidak boleh ada perkebunan di sekitarnya. Hal tersebut penting agar air kolam tidak tercemar oleh limbah. Kesuksesan kolam arwana bergantung dari kelestarian lingkungan sekitar.

Selain kondisi air, hal lain yang juga tak kalah penting diperhatikan adalah ketersediaan pakan. Meski indukan arwana tidak harus makan setiap hari, makanannya berupa anak ikan gabus, katak dan kelabang cukup sulit dicari.

“Jadi, kolam harus bersih dan steril. Selain itu juga harus ada sumber air. Kunci berhasilnya satu kolam tergantung air. Untuk pakan memang agak sulit, kami biasanya sampai pesan ke Pontianak,” katanya.

Munawir menekankan bahwa budidaya arwana bukan hanya soal bisnis atau pencaharian tetapi lebih dari itu. Usaha ini juga merupakan wadah atau media untuk memperkuat asas gotong-royong sesama kerabat dan warga. Saat panen mereka bisa berkumpul, berdoa dan makan bersama. Rezeki yang didapat dibagi-bagi untuk menghidupi banyak orang dari masing-masing kepala keluarga yang terlibat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/