alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

BBTNBKDS Utus 12 KPP Studi Banding

PUTUSSIBAU-Dalam rangka peningkatan pengelolaan dan pengembangan pariwisata alam, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bekerjasama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi menyelenggarakan Studi banding di 3 lokasi diantaranya BKSDA Jawa Barat-TN Gunung Ciremai-TN Gunung Merapi, BKDSA Sumatra Utara-TN Gunung Leuser, dan BKSDA Nusa Tenggara Barat-TN Gunung Rinjani

Studi banding tersebut juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat di wilayah  TNBK dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Kepala BBTNBKDS Arief Mahmud menyampaikan, Study banding direncanakan selama 6 (enam) hari. Dalam kegiatan studi banding peserta melibatkan masyarakat desa yang berasal dari Bidang PTN Wilayah I Mataso, Bidang PTN Wilayah II Kedamin, dan Bidang PTN Wilayah III Lanjak.

“Masing masing perserta dari masyarakat desa berjumlah 12 (dua Belas) orang berasal dari Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) dan didampingi oleh 6 (enam) orang pegawai BBTNBKDS,” jelas Arief Mahmud saat memberi pembekalan kepada peserta, sehari sebelum keberangkatan menuju Jakarta, Selasa (6/4) kemarin.

Baca Juga :  Salurkan Beras PPKM, Tiap Kelurahan 1,5 Ton

Untuk itu Arief berpesan agar semua tim dapat memanfaatkan studi banding ini sebaik-baiknya, dengan mempelajari semua bentuk pengelolaan ekowisata di masing-masing destinasi pada lokasi studibanding.

“Setiap peserta harus menyiapkan catatan harian hasil kunjungan yang akan dilaporkan setelah selesai studi banding,” pinta Arief.

Arief juga mengingatkan peserta agar selalu menerapkan protokol kesehatan selama pelaksanaan Study banding.

Ditambahkan Kepala Bidang Teknis Konservasi, Ardi Andono berharap dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat meningkatan dan menggali potensi kekayaan alam yang ada.

“Sehingga nanti dapat menciptakan kondisi pemanfaatan hutan secara lestari dan bermanfaatan secara sosial ekonomi bagi masyarakat kawasan TNBKDS,” harap Ardi.

Pada kesempatan yang sama, Wiratno selaku Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyampaikan, dalam pengembangan serta menggali potensi wisata diperlukan waktu yang cukup lama.

Baca Juga :  BBTNBKDS Lepasliarkan Tiga Orangutan

“Seperti halnya pada waktu itu ketika saya ditugaskan di Taman Nasional Leuser, di daerah tangkahan. Saat ini Tangkahan menjadi potensi wisata yang bernilai ekonomis tinggi khususnya bagi masyarakat,” ungkap Wiratno.

Untuk itu dirinya mendorong pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat, jadikan mereka (masyarakat) mengelola potensi sumber daya alam  khususnya pemanfaatan jasa lingkungan bidang pengembangan ekowisata alam di masing-masing destinasi yang ada, baik Danau Sentarum maupun Betung Kerihun.

Dijelaskan Wiratno, dalam pengembangan ekowisata, masyarakat perlu bukti nyata dan bila perlu diajak duduk bersama diskusi dalam menyusun strategi pengelolaan ekowisata.

Ia berpesan agar semua peserta dapat menyiapkan segala bentuk keperluan untuk menghimpun informasi dan ilmu dalam pengelolaan ekowisata dimasing-masing lokasi.

“Saya berharap semua peserta harus membawa buku catatan untuk dan mencatat segala bentuk temuan yang diperoleh dilokasi. Buatkan catatan lapangan dan laporkan langsung pada saya,” pinta Wiratno. (dRe)

PUTUSSIBAU-Dalam rangka peningkatan pengelolaan dan pengembangan pariwisata alam, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bekerjasama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi menyelenggarakan Studi banding di 3 lokasi diantaranya BKSDA Jawa Barat-TN Gunung Ciremai-TN Gunung Merapi, BKDSA Sumatra Utara-TN Gunung Leuser, dan BKSDA Nusa Tenggara Barat-TN Gunung Rinjani

Studi banding tersebut juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat di wilayah  TNBK dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Kepala BBTNBKDS Arief Mahmud menyampaikan, Study banding direncanakan selama 6 (enam) hari. Dalam kegiatan studi banding peserta melibatkan masyarakat desa yang berasal dari Bidang PTN Wilayah I Mataso, Bidang PTN Wilayah II Kedamin, dan Bidang PTN Wilayah III Lanjak.

“Masing masing perserta dari masyarakat desa berjumlah 12 (dua Belas) orang berasal dari Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) dan didampingi oleh 6 (enam) orang pegawai BBTNBKDS,” jelas Arief Mahmud saat memberi pembekalan kepada peserta, sehari sebelum keberangkatan menuju Jakarta, Selasa (6/4) kemarin.

Baca Juga :  Jaringan Telekomunikasi Belum Maksimal, Pemda Terus Perjuangkan Usulan ke Pusat

Untuk itu Arief berpesan agar semua tim dapat memanfaatkan studi banding ini sebaik-baiknya, dengan mempelajari semua bentuk pengelolaan ekowisata di masing-masing destinasi pada lokasi studibanding.

“Setiap peserta harus menyiapkan catatan harian hasil kunjungan yang akan dilaporkan setelah selesai studi banding,” pinta Arief.

Arief juga mengingatkan peserta agar selalu menerapkan protokol kesehatan selama pelaksanaan Study banding.

Ditambahkan Kepala Bidang Teknis Konservasi, Ardi Andono berharap dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat meningkatan dan menggali potensi kekayaan alam yang ada.

“Sehingga nanti dapat menciptakan kondisi pemanfaatan hutan secara lestari dan bermanfaatan secara sosial ekonomi bagi masyarakat kawasan TNBKDS,” harap Ardi.

Pada kesempatan yang sama, Wiratno selaku Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyampaikan, dalam pengembangan serta menggali potensi wisata diperlukan waktu yang cukup lama.

Baca Juga :  Banjir Rendam Sejumlah Kecamatan

“Seperti halnya pada waktu itu ketika saya ditugaskan di Taman Nasional Leuser, di daerah tangkahan. Saat ini Tangkahan menjadi potensi wisata yang bernilai ekonomis tinggi khususnya bagi masyarakat,” ungkap Wiratno.

Untuk itu dirinya mendorong pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat, jadikan mereka (masyarakat) mengelola potensi sumber daya alam  khususnya pemanfaatan jasa lingkungan bidang pengembangan ekowisata alam di masing-masing destinasi yang ada, baik Danau Sentarum maupun Betung Kerihun.

Dijelaskan Wiratno, dalam pengembangan ekowisata, masyarakat perlu bukti nyata dan bila perlu diajak duduk bersama diskusi dalam menyusun strategi pengelolaan ekowisata.

Ia berpesan agar semua peserta dapat menyiapkan segala bentuk keperluan untuk menghimpun informasi dan ilmu dalam pengelolaan ekowisata dimasing-masing lokasi.

“Saya berharap semua peserta harus membawa buku catatan untuk dan mencatat segala bentuk temuan yang diperoleh dilokasi. Buatkan catatan lapangan dan laporkan langsung pada saya,” pinta Wiratno. (dRe)

Most Read

Artikel Terbaru

/