alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Workshop SITB Cegah Penyakit Menular

PUTUSSIBAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas Hulu melalui Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular menggelar Workshop Sistem Pelaporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Tingkat Kabupaten Kapuas Hulu.

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Dinkes Kapuas Hulu itu berlangsung selama 2 (dua) hari, dari Tanggal 16-17 Maret 2021. Dihadiri pengelola program RSUD dan seluruh pengelola program Puskesmas se Kabupaten Kapuas Hulu.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu Herberia Karosekali, SKM menyampaikan Workshop sistem pelaporan SITB  tingkat Kabupaten Tahun 2021 agar tersosialisasinya sistem pelaporan sistem informasi tuberkulosis Program Pengendalian TB.

“Diharapkan setelah mengikuti workshop, peserta mampu berperan aktif selaku pengelola program TB untuk melaporkan kasus TB melalui Sistem Informasi Tuberkulosis di Kabupaten Kapuas Hulu,” harapnya.

Selain itu pengelola program Program TB berfungsi

melaksanakan pencatatan dan pelaporan melaui SITB sesuai program TB nasional secara terstandart  ditingkat Pengelola Program Kabupaten Kapuas Hulu. serta Faskes Pertama (FKTP) dan Faskes Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Lebih lanjut Herberia menyampaikan, Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan melalui udara, sumber penularan adalah pasien TB yang dahaknya mengandung kuman TB.

“Sejak tahun 1995, program penanggulangan TB nasional mengadopsi strategi DOTS atau Directly Observed Treatment Shortcourse, yang direkomendasi oleh WHO. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost effective,” jelas Herberia.

Baca Juga :  Asuransi Sinar Mas Berikan Literasi Keuangan bagi Petani serta Siswa/i Di Kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu

Dikatakannya, materi Program Penanggulangan TB berisi target dan strategi nasional penanggulangan TB terutama elimanasi TB tahun 2030 dan Indonesia bebas TB tahun 2050, sehingga diperlukan penguatan kepemimpinan program TB, peningkatan akses pelayanan TB yang bermutu.

“Kemudian pengendalian faktor risiko TB, peningkatan kemitraan, peningkatan kemandirian masyarakat dalam pengendalian TB, dan penguatan manajemen program TB,” paparnya.

Dijelaskan Herberia, penyakit Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global dan nasional. Indonesia masih merupakan salah satu dari negara dengan beban TB tertinggi.

Dikatakannya, surveilans TB merupakan salah satu kegiatan untuk memperoleh data epidemiologi yang diperlukan dalam sistem informasi program penanggulangan TB.

“Sistem informasi program pengendalian TB adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan nasional,” ucapnya.

Ditambahkannya, data untuk program Penanggulangan TB diperoleh dari sistem pencatatan-pelaporan TB. Pencatatan menggunakan formulir baku secara manual didukung dengan sistem informasi secara elektronik, sedangkan pelaporan TB menggunakan sistem informasi elektronik.

Baca Juga :  Baznas Bagi Sembako pada Warga Jongkong

“Penerapan sistem informasi TB secara elektronik di semua faskes dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya di wilayah tersebut,” ungkap Kabid P2P.

Kemudian kata Herberia, sistem pencatatan-pelaporan TB secara elektronik menggunakan sistem informasi TB yang berbasis web dan diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan secara nasional dan sistem informasi publik yang lain.

Oleh karenanya, Sumber daya manusia (SDM) adalah unsur yang sangat menentukan keberhasilan program. Pengembangan SDM TB untuk mendukung pelaksanaan kegiatan Program Pengendalian TB (P2TB) telah dilaksanakan sejak tahun 2000/2001, dan secara kuantitas telah sesuai standar minimal di semua tingkatan layanan kesehatan.

“Pada tahun 2020 pelaporan TB berbasis online disetiap fasilitas kesehatan yaitu pelaporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).  Sebagian besar pengelola Program TB di Fasyankes belum paham tentang pelaporan terbaru Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dikarenakan dengan berbagai alasan diantaranya belum pernah di latih sistem pelaporan SITB, tidak ada sinyal internet di puskesmas dan tidak ada laptop, maka perlu adanya Workshop on the implementation of integrated notification and reporting system (SITB) at districts level,” tuntas Herberia. (dRe)

PUTUSSIBAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas Hulu melalui Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular menggelar Workshop Sistem Pelaporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Tingkat Kabupaten Kapuas Hulu.

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Dinkes Kapuas Hulu itu berlangsung selama 2 (dua) hari, dari Tanggal 16-17 Maret 2021. Dihadiri pengelola program RSUD dan seluruh pengelola program Puskesmas se Kabupaten Kapuas Hulu.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu Herberia Karosekali, SKM menyampaikan Workshop sistem pelaporan SITB  tingkat Kabupaten Tahun 2021 agar tersosialisasinya sistem pelaporan sistem informasi tuberkulosis Program Pengendalian TB.

“Diharapkan setelah mengikuti workshop, peserta mampu berperan aktif selaku pengelola program TB untuk melaporkan kasus TB melalui Sistem Informasi Tuberkulosis di Kabupaten Kapuas Hulu,” harapnya.

Selain itu pengelola program Program TB berfungsi

melaksanakan pencatatan dan pelaporan melaui SITB sesuai program TB nasional secara terstandart  ditingkat Pengelola Program Kabupaten Kapuas Hulu. serta Faskes Pertama (FKTP) dan Faskes Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Lebih lanjut Herberia menyampaikan, Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan melalui udara, sumber penularan adalah pasien TB yang dahaknya mengandung kuman TB.

“Sejak tahun 1995, program penanggulangan TB nasional mengadopsi strategi DOTS atau Directly Observed Treatment Shortcourse, yang direkomendasi oleh WHO. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost effective,” jelas Herberia.

Baca Juga :  Penyaluran Beras di Dua Desa di Kecamatan Kalis

Dikatakannya, materi Program Penanggulangan TB berisi target dan strategi nasional penanggulangan TB terutama elimanasi TB tahun 2030 dan Indonesia bebas TB tahun 2050, sehingga diperlukan penguatan kepemimpinan program TB, peningkatan akses pelayanan TB yang bermutu.

“Kemudian pengendalian faktor risiko TB, peningkatan kemitraan, peningkatan kemandirian masyarakat dalam pengendalian TB, dan penguatan manajemen program TB,” paparnya.

Dijelaskan Herberia, penyakit Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global dan nasional. Indonesia masih merupakan salah satu dari negara dengan beban TB tertinggi.

Dikatakannya, surveilans TB merupakan salah satu kegiatan untuk memperoleh data epidemiologi yang diperlukan dalam sistem informasi program penanggulangan TB.

“Sistem informasi program pengendalian TB adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan nasional,” ucapnya.

Ditambahkannya, data untuk program Penanggulangan TB diperoleh dari sistem pencatatan-pelaporan TB. Pencatatan menggunakan formulir baku secara manual didukung dengan sistem informasi secara elektronik, sedangkan pelaporan TB menggunakan sistem informasi elektronik.

Baca Juga :  Pengunjung Bisa Berselfie dari Ketinggian Pulau Sepandan

“Penerapan sistem informasi TB secara elektronik di semua faskes dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya di wilayah tersebut,” ungkap Kabid P2P.

Kemudian kata Herberia, sistem pencatatan-pelaporan TB secara elektronik menggunakan sistem informasi TB yang berbasis web dan diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan secara nasional dan sistem informasi publik yang lain.

Oleh karenanya, Sumber daya manusia (SDM) adalah unsur yang sangat menentukan keberhasilan program. Pengembangan SDM TB untuk mendukung pelaksanaan kegiatan Program Pengendalian TB (P2TB) telah dilaksanakan sejak tahun 2000/2001, dan secara kuantitas telah sesuai standar minimal di semua tingkatan layanan kesehatan.

“Pada tahun 2020 pelaporan TB berbasis online disetiap fasilitas kesehatan yaitu pelaporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).  Sebagian besar pengelola Program TB di Fasyankes belum paham tentang pelaporan terbaru Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dikarenakan dengan berbagai alasan diantaranya belum pernah di latih sistem pelaporan SITB, tidak ada sinyal internet di puskesmas dan tidak ada laptop, maka perlu adanya Workshop on the implementation of integrated notification and reporting system (SITB) at districts level,” tuntas Herberia. (dRe)

Most Read

Artikel Terbaru

/