alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

BPBD Kembali Bentuk Relawan Pemadam

PUTUSSIBAU-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Hulu terus berupaya dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas Hulu Gunawan menuturkan, masalah Kebakaran Hutan merupakan masalah yang komplek, serta rumit.

“Karena hampir setiap tahun selalu terjadi, maka ini butuh penanangan dan upaya pencegahan serta pengendalian dengan melibat semua unsur elemen masyarakat setempat, untuk saling bersinergi dalam mengatasi Karhutlah,” kata Gunawan.

Saat ini kata Gunawan, upaya dengan menggerakkan partisipasi masyarakat menjadi langkah strategis dalam penanggulangan Karhutla. Oleh karenanya BPBD gencar membentuk dan melatih relawan pemadam kebakaran di desa – desa.

Pada 23 Juni 2021 kata Gunawan, pihaknya kembali membentuk dan pelatihan warga yang berfungsi sebagai relawan pemadam kebakaran di Desa Rantau Prapat Kecamatan Embaloh Hulu.

“Pembentukan ini juga merupakan program yang sudah di rancang sebelumnya, dan di tahun 2021 ini sudah ada 7 desa yang kita bentuk relawan pemadam kebakaran,” terang Gunawan.

Baca Juga :  Pemkab Dapatkan Dukungan Logistik Bagi Korban Banjir

Selain itu kata mantan Camat Batang Lupar ini, koordinasi antara kabupaten, kecamatan dan desa. perlu peningkatan. Gunanya untuk mendeteksi dini melalui penyebaran informasi terkait daerah yang rawan Karhutla.

“Kemudian pengaktifan Satgas di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, yang melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla dan memaksimalkan peralatan yang ada jika terjadi Karhutla,” katanya.

Gunawan menyebutkan berdasarkan data BPBD Kabupaten Kapuas Hulu bahwa sejumlah kecamatan rawan terjadi Karhutla, diantaranya Kecamatan Badau, Batang Lupar, Bika, Boyan Tanjung, Bunut Hilir, Bunut Hulu, Empanang, Hulu Gurung, Jongkong, Kalis, Mentebah, Pengkadan, Puring Kencana, Silat Hilir dan Kecamatan Suhaid.

Gunawan merinci bahwa dari beberapa kecamatan tersebut, ada beberapa desa potensi rawan Karhutla Kabupaten Kapuas Hulu berdasarkan (SK KLHK Nomor : 5/PKHLPP.4/1/2017) seperti Sepandan di Batang Lupar, Desa Gudang Hulu, Desa Dalam dan Desa Gudang Hilir di Kecamatan Selimbau.

Baca Juga :  BBTNBKDS Utus 12 KPP Studi Banding

Kemudian Desa Suhaid Kecamatan Suhaid, Desa Nanga Seberuang Kecamatan Semitau, Desa Ranyai Hilir Kecamatan Seberuang, berikutnya Desa Pulau Begerak Pena, Desa Pangeran, Desa Bongkong 1, Desa Nanga Luar dan Desa Kampung Baru di Kecamatan Silat Hilir.

Lebih lanjut Gunawan mengungkapkan, penanganan Karhutla di tahun 2021 ini memiliki sejumlah tantangan diantaranya, Satgas (pokos Satgas terpecah dengan adanya Covid-19, ancaman kesehatan bagi petugas dan masyarakat.

Selain itu desa -desa masih banyak yang belum mengalokasikan anggaran dalam penanganan Karhutla, masih banyak praktek pembukaan lahan dengan cara membakar. Untuk itu, kata dia, diperlukan aksi pengendalian Karhutla yang padat karya untuk masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat.

“Selain itu luas wiyah Kapuas Hulu membuat pergerakan tim terlambat ke lokasi kebakaran hutan dan lahan, kurangnya fasilitas pendukung untuk operasional bencana serta lokasi titik air jauh dari lokasi kebakaran,” pungkas Gunawan. (dRe)

PUTUSSIBAU-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Hulu terus berupaya dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas Hulu Gunawan menuturkan, masalah Kebakaran Hutan merupakan masalah yang komplek, serta rumit.

“Karena hampir setiap tahun selalu terjadi, maka ini butuh penanangan dan upaya pencegahan serta pengendalian dengan melibat semua unsur elemen masyarakat setempat, untuk saling bersinergi dalam mengatasi Karhutlah,” kata Gunawan.

Saat ini kata Gunawan, upaya dengan menggerakkan partisipasi masyarakat menjadi langkah strategis dalam penanggulangan Karhutla. Oleh karenanya BPBD gencar membentuk dan melatih relawan pemadam kebakaran di desa – desa.

Pada 23 Juni 2021 kata Gunawan, pihaknya kembali membentuk dan pelatihan warga yang berfungsi sebagai relawan pemadam kebakaran di Desa Rantau Prapat Kecamatan Embaloh Hulu.

“Pembentukan ini juga merupakan program yang sudah di rancang sebelumnya, dan di tahun 2021 ini sudah ada 7 desa yang kita bentuk relawan pemadam kebakaran,” terang Gunawan.

Baca Juga :  Peringati HPN 2022, Sejumlah Wartawan di Kapuas Hulu Gelar Aksi Sosial

Selain itu kata mantan Camat Batang Lupar ini, koordinasi antara kabupaten, kecamatan dan desa. perlu peningkatan. Gunanya untuk mendeteksi dini melalui penyebaran informasi terkait daerah yang rawan Karhutla.

“Kemudian pengaktifan Satgas di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, yang melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla dan memaksimalkan peralatan yang ada jika terjadi Karhutla,” katanya.

Gunawan menyebutkan berdasarkan data BPBD Kabupaten Kapuas Hulu bahwa sejumlah kecamatan rawan terjadi Karhutla, diantaranya Kecamatan Badau, Batang Lupar, Bika, Boyan Tanjung, Bunut Hilir, Bunut Hulu, Empanang, Hulu Gurung, Jongkong, Kalis, Mentebah, Pengkadan, Puring Kencana, Silat Hilir dan Kecamatan Suhaid.

Gunawan merinci bahwa dari beberapa kecamatan tersebut, ada beberapa desa potensi rawan Karhutla Kabupaten Kapuas Hulu berdasarkan (SK KLHK Nomor : 5/PKHLPP.4/1/2017) seperti Sepandan di Batang Lupar, Desa Gudang Hulu, Desa Dalam dan Desa Gudang Hilir di Kecamatan Selimbau.

Baca Juga :  Pemkab Tangani Warga Terdampak Banjir

Kemudian Desa Suhaid Kecamatan Suhaid, Desa Nanga Seberuang Kecamatan Semitau, Desa Ranyai Hilir Kecamatan Seberuang, berikutnya Desa Pulau Begerak Pena, Desa Pangeran, Desa Bongkong 1, Desa Nanga Luar dan Desa Kampung Baru di Kecamatan Silat Hilir.

Lebih lanjut Gunawan mengungkapkan, penanganan Karhutla di tahun 2021 ini memiliki sejumlah tantangan diantaranya, Satgas (pokos Satgas terpecah dengan adanya Covid-19, ancaman kesehatan bagi petugas dan masyarakat.

Selain itu desa -desa masih banyak yang belum mengalokasikan anggaran dalam penanganan Karhutla, masih banyak praktek pembukaan lahan dengan cara membakar. Untuk itu, kata dia, diperlukan aksi pengendalian Karhutla yang padat karya untuk masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat.

“Selain itu luas wiyah Kapuas Hulu membuat pergerakan tim terlambat ke lokasi kebakaran hutan dan lahan, kurangnya fasilitas pendukung untuk operasional bencana serta lokasi titik air jauh dari lokasi kebakaran,” pungkas Gunawan. (dRe)

Most Read

Artikel Terbaru

/