alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Aktivitas PETI Kembali Marak, Warga Khawatir Sebabkan Stunting

PUTUSSIBAU – Meski sudah dilakukan penegakan hukum, Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kapuas Hulu kembali marak. Kegiatan penambangan emas ilegal ini terlihat di beberapa lokasi, di antaranya daerah Suruk, Kecamatan Bunut Hulu; Kecamatan Boyan Tanjung; Lintas Timur, Kecamatan Putussibau Selatan; Kecamatan Pengkadan; Kecamatan Hulu Gurung; Kecamatan Jongkong; dan sejumlah kecamatan lainnya.

Ujang, salah satu warga Kecamatan Bunut Hilir mengungkapkan bahwa PETI ini sudah cukup meresahkan, kkhususnya pencemaran air Sungai Kapuas. Dia yakin, tercemarnya air Sungai Kapuas sudah menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya stunting.

“Pemerintahan selalu menyalahkan masyarakat, kurang mengonsumsi daging ikan, sayur, dan sebagainya. Pernah tidak, melakukan uji laboratorium, sejauh mana tercemarnya Sungai Kapuas akibat penambang emas?” tantangnya.

Dirinya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas Hulu agar segera menyikapi dengan serius persoalan tersebut. Dia tak ingin masyakarat lintas Kapuas malah menjadi korban. “Kalau masalah perut, kami di Sungai Kapuas juga berbicara masyarakat perut,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polres Disinfeksi Massal Pemukiman

Warga lainnya, Bambang, menyatakan masalah PETI di Kapuas Hulu menjadi persoalan yang sangat besar. Kalau tak segera teratasi dengan baik, maka dikhawatirkan dia sesuatu yang akan terjadi seperti beberapa tahun lalu. “Kita tahu bersama saat ini, yang menikmati hasil penambang emas hanya segelintir orang saja, tetap kembali menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Dia meminta Gubernur Kalbar, Kapolda, Bupati Kapuas Hulu, Kapolres, dan pihak terkait agar kembali membahas masalah PETI di Kapuas Hulu. “Sebab ada yang dirugikan baik kesehatan, lingkungan, maupun lainnya,” katanya.

Sementara itu, hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 30,8 persen balita menderita stunting di Kabupaten Kapuas Hulu. Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir dalam workshop percepatan penurunan stunting pada 1000 hari pertama kehidupan di wilayah Kapuas Hulu, di Aula Bappeda Kapuas Hulu, pada awal Desember lalu menyebutkan keadaan gizi masyarakat Indonesia pada saat ini masih belum mengembirakan. Salah satu di antara masalah tersebut, diakui dia adalah stunting (pendek).

Baca Juga :  Satgas Yonif 407 jadi Tenaga Pendidik

“Hasil pemantauan status gizi balita di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2019, terdapat 27,7 persen atau sekitar 1.922 anak usia bawah 2 tahun menderita stunting,” ujarnya.

Dia menjelaskan, tingginya prevalensi stunting saat ini menunjukkan bahwa terdapat permasalahan mendasar, yaitu ketidaktahuan masyarakat terhadap faktor-faktor penyebab stunting. Kemudian pemberian pelayanan kesehatan yang diakui dia, belum sesuai standar, baik di tingkat masyarakat maupun di fasilitas pelayanan kesehatan yang mendorong terjadinya stunting. “Peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk setiap kelompok sasaran sesuai perannya dalam pencegahan stunting menjadi penting,” pungkasnya. (arf)

PUTUSSIBAU – Meski sudah dilakukan penegakan hukum, Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kapuas Hulu kembali marak. Kegiatan penambangan emas ilegal ini terlihat di beberapa lokasi, di antaranya daerah Suruk, Kecamatan Bunut Hulu; Kecamatan Boyan Tanjung; Lintas Timur, Kecamatan Putussibau Selatan; Kecamatan Pengkadan; Kecamatan Hulu Gurung; Kecamatan Jongkong; dan sejumlah kecamatan lainnya.

Ujang, salah satu warga Kecamatan Bunut Hilir mengungkapkan bahwa PETI ini sudah cukup meresahkan, kkhususnya pencemaran air Sungai Kapuas. Dia yakin, tercemarnya air Sungai Kapuas sudah menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya stunting.

“Pemerintahan selalu menyalahkan masyarakat, kurang mengonsumsi daging ikan, sayur, dan sebagainya. Pernah tidak, melakukan uji laboratorium, sejauh mana tercemarnya Sungai Kapuas akibat penambang emas?” tantangnya.

Dirinya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas Hulu agar segera menyikapi dengan serius persoalan tersebut. Dia tak ingin masyakarat lintas Kapuas malah menjadi korban. “Kalau masalah perut, kami di Sungai Kapuas juga berbicara masyarakat perut,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sektor Pertanian Pegang Peranan Penting

Warga lainnya, Bambang, menyatakan masalah PETI di Kapuas Hulu menjadi persoalan yang sangat besar. Kalau tak segera teratasi dengan baik, maka dikhawatirkan dia sesuatu yang akan terjadi seperti beberapa tahun lalu. “Kita tahu bersama saat ini, yang menikmati hasil penambang emas hanya segelintir orang saja, tetap kembali menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Dia meminta Gubernur Kalbar, Kapolda, Bupati Kapuas Hulu, Kapolres, dan pihak terkait agar kembali membahas masalah PETI di Kapuas Hulu. “Sebab ada yang dirugikan baik kesehatan, lingkungan, maupun lainnya,” katanya.

Sementara itu, hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 30,8 persen balita menderita stunting di Kabupaten Kapuas Hulu. Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir dalam workshop percepatan penurunan stunting pada 1000 hari pertama kehidupan di wilayah Kapuas Hulu, di Aula Bappeda Kapuas Hulu, pada awal Desember lalu menyebutkan keadaan gizi masyarakat Indonesia pada saat ini masih belum mengembirakan. Salah satu di antara masalah tersebut, diakui dia adalah stunting (pendek).

Baca Juga :  Polres Gelar Rakor Lintas Sektoral

“Hasil pemantauan status gizi balita di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2019, terdapat 27,7 persen atau sekitar 1.922 anak usia bawah 2 tahun menderita stunting,” ujarnya.

Dia menjelaskan, tingginya prevalensi stunting saat ini menunjukkan bahwa terdapat permasalahan mendasar, yaitu ketidaktahuan masyarakat terhadap faktor-faktor penyebab stunting. Kemudian pemberian pelayanan kesehatan yang diakui dia, belum sesuai standar, baik di tingkat masyarakat maupun di fasilitas pelayanan kesehatan yang mendorong terjadinya stunting. “Peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk setiap kelompok sasaran sesuai perannya dalam pencegahan stunting menjadi penting,” pungkasnya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/