alexametrics
30 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Polisi Bekuk Penggelapan 17 Laptop

Satu Guru Honorer dan Tiga Mahasiswa

SUKADANA – Tim Response Cepat Tindak (Respatti) Satreskrim Polres Kayong Utara berhasil membekuk pelaku penggelapan 17 unit laptop SMP Negeri 1 Pulau Maya, Kecamatan Pulau Maya; dan otak pelakunya merupakan seorang guru honorer. Paursubbaghumas Polres Kayong Utara, Iptu Jaminto memastikan bahwa kepolisian telah berhasil mengamankan tiga pelaku penggelapan laptop tersebut.

“Kronologi SMP N 1 Pulau Maya mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan (sebanyak) 22 unit laptop, dan diambil oleh guru honer HD, kemudian dibagikan ke guru lain masing-masing lima unit, sisanya sebanyak 17 unit disimpan di rumah pribadinya,” terangnya di Sukadana, Selasa (1/12) kepada Pontianak Post. Selanjutnya, dia menjelaskan, ketika terjadi pergantian kepala sekolah, terlapor melaporkan kepada kepala sekolah pengganti, jika sekolah mengalami kebobolan. Padahal laptop tersebut, menurut mereka, telah dijual oleh pelaku.

“Begitu ganti kepala sekolah terlapor melaporkan ke kepala sekolah bila sekolah kebobolan, dan pengakuannya laptop disimpan di ruang perpustakaan sekolah. Kemudian tanggal 9 September kepala sekolah membuat laporan ke Polsek,” sambungnya.

Baca Juga :  BUMDes Tampung Produk Masyarakat Sekitar Tanagupa

Ia menambahkan, selanjutnya pada 25 November, kepolisian berhasil mengamankan satu unit laptop dan kemudian dilakukan pengembangan. Dari hasil pengembangan tersebut, mereka berhasil mengungkap penggelapan 17 laptop yang dijual oleh pelaku yang merupakan seorang guru.

“Tanggal 25 November kami amankan satu laptop dan kemudian kami tangkap terlapor dan dikembangkan ternyata laptop sebanyak 17 yang menurutnya hilang ternyata dia yang jual (pelaku, Red),” papar Jaminto.

Selanjutnya, dijelaskan dia, untuk jumlah pelaku ada tiga orang, satu di antaranya guru honorer dikenakan sanksi pasal 374 KUH Pidana Jo. Pasal 372 KUH Pidana Jo. 55 KUHPidana atau Pasal 480 KUHPidana.

Para pelakunya, menurut dia, terdiri dari HD, guru honor SMP Negeri 1 Satai; HS, warga Tanjung Satai; dan AR, warga Sungai Awan Kanan, Kabupaten Ketapang. Dua pelaku terakhir dipastikan dia merupakan mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi negeri di Kabupaten Ketapang. “Untuk tindak pidana penggelapan dengan ancaman hukuman sesuai persangkaan pasalnya maksimal kurungan penjara selama 5 tahun,” jelasnya.

Baca Juga :  Jembatan Tanjung Belimbing Perlu Dibangun baru 

Dijelaskana dia, saat melakukan aksinya, pelaku utama meminta kepada dua tersangka lain untuk menjualkan laptop. Pelaku utama, menurut dia, menghantar laptop tersebut ke Ketapang, di indekosannya HS dan AR.  Berbekal alasan, guru honorer tersebut, diceritakan dia, berkilah kepada kedua pelaku telah mendapatkan proyek, di mana laptop tersebut sebagai hasil dari proyek sekolah.

“Pelaku guru honor HD tersebut menjualkan laptop, yang mana pelaku mengantar laptop tersebut ke Ketapang di tempat kosnya HS dan AR, dengan alasan dirinya mendapatkan proyek. Ketiga pelaku tersebut diantaranya HD (29), HS (19), AR (24),” katanya.

Sementara itu, untuk pembelinya, didapati mereka ternyata cukup banyak. Sementara kasus ini masih dalam pendalaman mereka, apakah kelak pembeli akan memiliki peran atau hanya murni selaku pembeli? (dan)

Satu Guru Honorer dan Tiga Mahasiswa

SUKADANA – Tim Response Cepat Tindak (Respatti) Satreskrim Polres Kayong Utara berhasil membekuk pelaku penggelapan 17 unit laptop SMP Negeri 1 Pulau Maya, Kecamatan Pulau Maya; dan otak pelakunya merupakan seorang guru honorer. Paursubbaghumas Polres Kayong Utara, Iptu Jaminto memastikan bahwa kepolisian telah berhasil mengamankan tiga pelaku penggelapan laptop tersebut.

“Kronologi SMP N 1 Pulau Maya mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan (sebanyak) 22 unit laptop, dan diambil oleh guru honer HD, kemudian dibagikan ke guru lain masing-masing lima unit, sisanya sebanyak 17 unit disimpan di rumah pribadinya,” terangnya di Sukadana, Selasa (1/12) kepada Pontianak Post. Selanjutnya, dia menjelaskan, ketika terjadi pergantian kepala sekolah, terlapor melaporkan kepada kepala sekolah pengganti, jika sekolah mengalami kebobolan. Padahal laptop tersebut, menurut mereka, telah dijual oleh pelaku.

“Begitu ganti kepala sekolah terlapor melaporkan ke kepala sekolah bila sekolah kebobolan, dan pengakuannya laptop disimpan di ruang perpustakaan sekolah. Kemudian tanggal 9 September kepala sekolah membuat laporan ke Polsek,” sambungnya.

Baca Juga :  Bupati Terima Sejumlah Aduan Warga, Mampu tapi Terima PKH dan BTS

Ia menambahkan, selanjutnya pada 25 November, kepolisian berhasil mengamankan satu unit laptop dan kemudian dilakukan pengembangan. Dari hasil pengembangan tersebut, mereka berhasil mengungkap penggelapan 17 laptop yang dijual oleh pelaku yang merupakan seorang guru.

“Tanggal 25 November kami amankan satu laptop dan kemudian kami tangkap terlapor dan dikembangkan ternyata laptop sebanyak 17 yang menurutnya hilang ternyata dia yang jual (pelaku, Red),” papar Jaminto.

Selanjutnya, dijelaskan dia, untuk jumlah pelaku ada tiga orang, satu di antaranya guru honorer dikenakan sanksi pasal 374 KUH Pidana Jo. Pasal 372 KUH Pidana Jo. 55 KUHPidana atau Pasal 480 KUHPidana.

Para pelakunya, menurut dia, terdiri dari HD, guru honor SMP Negeri 1 Satai; HS, warga Tanjung Satai; dan AR, warga Sungai Awan Kanan, Kabupaten Ketapang. Dua pelaku terakhir dipastikan dia merupakan mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi negeri di Kabupaten Ketapang. “Untuk tindak pidana penggelapan dengan ancaman hukuman sesuai persangkaan pasalnya maksimal kurungan penjara selama 5 tahun,” jelasnya.

Baca Juga :  Hari Jadi Kabupaten Kayong Utara Bersama Melawan Covid 19

Dijelaskana dia, saat melakukan aksinya, pelaku utama meminta kepada dua tersangka lain untuk menjualkan laptop. Pelaku utama, menurut dia, menghantar laptop tersebut ke Ketapang, di indekosannya HS dan AR.  Berbekal alasan, guru honorer tersebut, diceritakan dia, berkilah kepada kedua pelaku telah mendapatkan proyek, di mana laptop tersebut sebagai hasil dari proyek sekolah.

“Pelaku guru honor HD tersebut menjualkan laptop, yang mana pelaku mengantar laptop tersebut ke Ketapang di tempat kosnya HS dan AR, dengan alasan dirinya mendapatkan proyek. Ketiga pelaku tersebut diantaranya HD (29), HS (19), AR (24),” katanya.

Sementara itu, untuk pembelinya, didapati mereka ternyata cukup banyak. Sementara kasus ini masih dalam pendalaman mereka, apakah kelak pembeli akan memiliki peran atau hanya murni selaku pembeli? (dan)

Most Read

Jaring 129 Orang

Selamat Jalan Bapak Teknologi

Order Dupa Naik Jelang Imlek

Artikel Terbaru

/