alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Wow… Sedapnya Canggai; Kerang Bambu dengan Saus Tradisional

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) berkomitmen mengembangkan potensi wisata serta didukung dengan kuliner khas daerah, satu di antaranya canggai atau kerang bambu. Kepala Disporapar Kayong Utara, Tasfirani mengatakan salah satu bagian pendukung di sektor pariwisata yakni pada sektor kuliner. Tentunya, kata dia, kuliner berasal dari daerah setempat.

“Salah satu sub sektor ekomomi kreatif sub sektor kuliner. Tentu kuliner yang berasal dari kuliner daerah, khas daerah. Salah satu contoh canggai atau kerang bambu merupakan salah salah satu makanan khas daerah yang memiliki cita rasa khas, sehingga perlu dikembangkan dan dipromosikan,” terang Tasfirani di Sukadana, Jumat (5/2).

Selanjutnya Tasfirani menambahkan, dalam pengembangan pariwisata ada empat hal yang mesti dilakukan untuk membangun,  kelambagaan, destinasi, industri, dan pemasaran pariwisata.

“Mesti dilakukan membangun kelembagaan, destinasi, industri dan pemasaran pariwisata, keempatnya harus dibangun bersama-sama, salah satunya adalah industri pariwisata,” sebutnya.

Sementara, bagian dari industri pariwisata adalah pada sektor ekonomi kreaktif yang harus sering digali dan terus dikembangkan. “Salah satu bagian dari industri pariwisata adalah industri sub sektor ekonomi kreatif yang harus selalu digali dan dikembangkan berbarengan dengan pengembangan pariwisata,” kata Tasfirani.

Baca Juga :  Hutan Rusak, Boncel Ditranslokasi Kali Kedua

Sementara itu, Juleha (33), satu di antara penjual makanan khas daerah. Ia mengatakan, dengan adanya komitmen pemerintah daerah mengembangkan potensi wisata di Kayong Utara, tentunya disambut baik oleh para pelaku usaha. Hal tersebut, menurut dia, akan turut dirasakan masyarakat, satu diantaranya bagi para pedagang yang menjual makanan hasil laut.

“Ini akan mendongkrak perekonomian masyarakat juga. Apa lagi di lokasi wisata, salah satunya di Pantai Mutiara, di Desa Gunung Sembilan, Kecamatan Sukadana ini. Masyarakat yang ada sudah mulai berdagang, diantaranya menjual makanan hasil laut,” kata dia.

Ia menceritakan, untuk saat ini dirinya menjual canggai atau kerang bambu yang diperoleh dari masyarakat. Selanjutnya, dia menambahkan, diolah dan menjadi hidangan bagi pengunjung pantai yang ingin membeli.

Baca Juga :  Midji Siap Tanggung Jawab Soal Dugaan Penyimpangan Pengadaan 12 Ambulans Infeksius

“Biasanya warga selesai mencari banyak jualnya ke kami. Orang nyarik canggai saat air laut surut. Sudah lama, dan sekarang sudah ada pembeli tetap, berapa yang didapat pasti saya beli. Nanti dijual lagi, ada yang dimasak, dan juga ada yang dijual belum dimasak. Ini bagian dari seafood, selain ikan, dan hasil laut lainya. Biasanya pun orang nyari canggai sore, dan biasa ada malam, pulangnya subuh, nunggu air surutlah,” ceritanya.

Dikatakan dia, semenjak dibukanya lokasi wisata ini, saat ini pengunjung yang datang tidak jarang menanyakan perihal canggai ini. Mengenai harga,  untuk yang sudah dimasak dijual mereka dengan harga Rp25 ribu perporsi.

“Canggai dapat dimasak sambel, dengan bumbu, serai, cabai, tomat, bawang putih, bawang merah, tergantung selera mau pesan apa. Bisa juga dimasak pakai santan. Satu porsi kita jual dengan nasi Rp25 ribu,” terang pedagang di lokasi wisata Pantai Mutiara, Desa Gunung Sembilan tersebut. (dan)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) berkomitmen mengembangkan potensi wisata serta didukung dengan kuliner khas daerah, satu di antaranya canggai atau kerang bambu. Kepala Disporapar Kayong Utara, Tasfirani mengatakan salah satu bagian pendukung di sektor pariwisata yakni pada sektor kuliner. Tentunya, kata dia, kuliner berasal dari daerah setempat.

“Salah satu sub sektor ekomomi kreatif sub sektor kuliner. Tentu kuliner yang berasal dari kuliner daerah, khas daerah. Salah satu contoh canggai atau kerang bambu merupakan salah salah satu makanan khas daerah yang memiliki cita rasa khas, sehingga perlu dikembangkan dan dipromosikan,” terang Tasfirani di Sukadana, Jumat (5/2).

Selanjutnya Tasfirani menambahkan, dalam pengembangan pariwisata ada empat hal yang mesti dilakukan untuk membangun,  kelambagaan, destinasi, industri, dan pemasaran pariwisata.

“Mesti dilakukan membangun kelembagaan, destinasi, industri dan pemasaran pariwisata, keempatnya harus dibangun bersama-sama, salah satunya adalah industri pariwisata,” sebutnya.

Sementara, bagian dari industri pariwisata adalah pada sektor ekonomi kreaktif yang harus sering digali dan terus dikembangkan. “Salah satu bagian dari industri pariwisata adalah industri sub sektor ekonomi kreatif yang harus selalu digali dan dikembangkan berbarengan dengan pengembangan pariwisata,” kata Tasfirani.

Baca Juga :  Raih Predikat Wajar dengan Pengecualian

Sementara itu, Juleha (33), satu di antara penjual makanan khas daerah. Ia mengatakan, dengan adanya komitmen pemerintah daerah mengembangkan potensi wisata di Kayong Utara, tentunya disambut baik oleh para pelaku usaha. Hal tersebut, menurut dia, akan turut dirasakan masyarakat, satu diantaranya bagi para pedagang yang menjual makanan hasil laut.

“Ini akan mendongkrak perekonomian masyarakat juga. Apa lagi di lokasi wisata, salah satunya di Pantai Mutiara, di Desa Gunung Sembilan, Kecamatan Sukadana ini. Masyarakat yang ada sudah mulai berdagang, diantaranya menjual makanan hasil laut,” kata dia.

Ia menceritakan, untuk saat ini dirinya menjual canggai atau kerang bambu yang diperoleh dari masyarakat. Selanjutnya, dia menambahkan, diolah dan menjadi hidangan bagi pengunjung pantai yang ingin membeli.

Baca Juga :  Hutan Rusak, Boncel Ditranslokasi Kali Kedua

“Biasanya warga selesai mencari banyak jualnya ke kami. Orang nyarik canggai saat air laut surut. Sudah lama, dan sekarang sudah ada pembeli tetap, berapa yang didapat pasti saya beli. Nanti dijual lagi, ada yang dimasak, dan juga ada yang dijual belum dimasak. Ini bagian dari seafood, selain ikan, dan hasil laut lainya. Biasanya pun orang nyari canggai sore, dan biasa ada malam, pulangnya subuh, nunggu air surutlah,” ceritanya.

Dikatakan dia, semenjak dibukanya lokasi wisata ini, saat ini pengunjung yang datang tidak jarang menanyakan perihal canggai ini. Mengenai harga,  untuk yang sudah dimasak dijual mereka dengan harga Rp25 ribu perporsi.

“Canggai dapat dimasak sambel, dengan bumbu, serai, cabai, tomat, bawang putih, bawang merah, tergantung selera mau pesan apa. Bisa juga dimasak pakai santan. Satu porsi kita jual dengan nasi Rp25 ribu,” terang pedagang di lokasi wisata Pantai Mutiara, Desa Gunung Sembilan tersebut. (dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/