alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Ikhtiar Tangkal Korona dengan Kearifan Lokal

Bupati dan Kapolres Gelar Prosesi Betangas

Berbagai ikhtiar dilakukan untuk menangkal serta memutus rantai penyebaran virus korona. Bahkan, untuk masyarakat yang tetap berada di rumah, dianjurkan untuk melakukan prosesi betangas.

DANANG PRASETYO, Sukadana

ISTILAH betangas di kalangan masyarakat Melayu serumpun dapat diartikan sebagai tradisi mandi uap rempah. Cara ini sebetulnya merupakan upaya yang dilakukan untuk menghilangkan bau badan bagi calon pengantin. Tak disangka betangas ternyata juga bagus untuk menghilangkan toksin dan racun di dalam tubuh dan diyakini membunuh kuman.

Betangas merupakan salah satu kearifan lokal yang ada di masyarakat Kayong Utara. “Kita menganjurkan masyarakat untuk betangas. Kegiatan ini bagus untuk kesehatan karena dapat mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui keringat kita,” tutur Bupati Kayong Utara, Citra Duani, ketika melakukan betangas di kediamannya,  Minggu (5/4) pukul 10.00 WIB.

Betangas adalah spa tradisional, menggunakan tikar pandan yang dibuat melengkung. Ada rempah-rempah pilihan yang disiapkan, terdiri dari akar serai wangi, pandan wangi, langir, akar buloh atau bambu, daun kunyit, daun lengkuas, daun ribu-ribu, daun gende ruse, akar restu, serta akar ilalang. Bahan-bahan ini bisa dijumpai di daerah kita. Tetapi biasanya lain wilayah, lain pula penyebutan nama bahan tersebut. Sekalipun itu masih dalam satu kawasan di provinsi ini.

Baca Juga :  Zidam XII/TPR Cegah Penyebaran Covid-19 di Bansir Laut

Bupati sendiri melakukan betangas di kediamannya. Hal ini dilakukannya untuk memberikan contoh kepada masyarakat.

Semua bahan itu direbus dalam wadah. Biasanya menggunakan periuk (wadah berbentuk bulat, pada zaman dahulu periuk digunakan untuk menanak nasi), yang direbus sampai mendidih. “Ini adalah warisan leluhur kita yang perlu dilestarikan,” jelasnya lagi.

Periuk yang memuat semua bahan harus ditutup rapat, agar uap air tidak banyak yang keluar. Uap itulah yang nantinya berfungsi untuk mengeluarkan keringat.

Proses pelaksanannya dilakukan di mana orang yang akan betangas duduk di atas kursi kecil.  Di hadapannya diletakkan periuk atau panci rebusan rempah-rempah tadi. Kemudian masuk di dalam tikar pandan yang sudah digulung. Bagian atasnya ditutup dengan beberapa lapis kain. Kain ini berperan penting agar hasil betangas menjadi lebih maksimal.

Baca Juga :  Tiga Daerah di Kalbar Zona Merah

Ketika penutup rempah dibuka, uap dari dalam periuk pun keluar. Aroma wangi pun menyeruak hingga keluar tikar pandan. Kemudian rempah mengaduknya menggunakan sendok yang dibuat dari kayu secara perlahan sampai uap dalam periuk habis. Uap tersebut dipercaya baik untuk tubuh.

Itulah kenapa harus menggunakan kain berlapis-lapis untuk menutupi tikar yang digulung. Tujuannya agar uapnya lebih banyak menempel di badan dan keringat pun menjadi lebih wangi.

Selain membuat tubuh menjadi wangi. Tradisi ini juga berfungsi membuang racun di dalam tubuh. Masih dengan tujuan tersebut, pakaian yang kenakan selama betangas sebaiknya satu baju dan satu celana saja.

Betangas kali ini dilakukan Bupati bersama Wakil Bupati Effendi Ahmad, serta Kapolres AKBP Asep I Rosadi.

Ditemui usai betangas, Kapolres mengaku baru pertama kali melakukan prosesi yang dinilainya unik ini. Dia merasakan bagaimana badannya menjadi segar, begitu juga udara yang keluar dari hidungnya pun menjadi segar. “Rasa plong dan ini benar-benar membuat saya lebih segar. Terima kasih telah memperkenalkan betangas ini,” ungkap Kapolres. (*)

Bupati dan Kapolres Gelar Prosesi Betangas

Berbagai ikhtiar dilakukan untuk menangkal serta memutus rantai penyebaran virus korona. Bahkan, untuk masyarakat yang tetap berada di rumah, dianjurkan untuk melakukan prosesi betangas.

DANANG PRASETYO, Sukadana

ISTILAH betangas di kalangan masyarakat Melayu serumpun dapat diartikan sebagai tradisi mandi uap rempah. Cara ini sebetulnya merupakan upaya yang dilakukan untuk menghilangkan bau badan bagi calon pengantin. Tak disangka betangas ternyata juga bagus untuk menghilangkan toksin dan racun di dalam tubuh dan diyakini membunuh kuman.

Betangas merupakan salah satu kearifan lokal yang ada di masyarakat Kayong Utara. “Kita menganjurkan masyarakat untuk betangas. Kegiatan ini bagus untuk kesehatan karena dapat mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui keringat kita,” tutur Bupati Kayong Utara, Citra Duani, ketika melakukan betangas di kediamannya,  Minggu (5/4) pukul 10.00 WIB.

Betangas adalah spa tradisional, menggunakan tikar pandan yang dibuat melengkung. Ada rempah-rempah pilihan yang disiapkan, terdiri dari akar serai wangi, pandan wangi, langir, akar buloh atau bambu, daun kunyit, daun lengkuas, daun ribu-ribu, daun gende ruse, akar restu, serta akar ilalang. Bahan-bahan ini bisa dijumpai di daerah kita. Tetapi biasanya lain wilayah, lain pula penyebutan nama bahan tersebut. Sekalipun itu masih dalam satu kawasan di provinsi ini.

Baca Juga :  Vaksin Tiba di Kalbar Hari Ini, Midji Akui Tak Masuk Kriteria Penerima

Bupati sendiri melakukan betangas di kediamannya. Hal ini dilakukannya untuk memberikan contoh kepada masyarakat.

Semua bahan itu direbus dalam wadah. Biasanya menggunakan periuk (wadah berbentuk bulat, pada zaman dahulu periuk digunakan untuk menanak nasi), yang direbus sampai mendidih. “Ini adalah warisan leluhur kita yang perlu dilestarikan,” jelasnya lagi.

Periuk yang memuat semua bahan harus ditutup rapat, agar uap air tidak banyak yang keluar. Uap itulah yang nantinya berfungsi untuk mengeluarkan keringat.

Proses pelaksanannya dilakukan di mana orang yang akan betangas duduk di atas kursi kecil.  Di hadapannya diletakkan periuk atau panci rebusan rempah-rempah tadi. Kemudian masuk di dalam tikar pandan yang sudah digulung. Bagian atasnya ditutup dengan beberapa lapis kain. Kain ini berperan penting agar hasil betangas menjadi lebih maksimal.

Baca Juga :  Babinsa Teluk Melano Bantu Masyarakat Perbaiki Jembatan

Ketika penutup rempah dibuka, uap dari dalam periuk pun keluar. Aroma wangi pun menyeruak hingga keluar tikar pandan. Kemudian rempah mengaduknya menggunakan sendok yang dibuat dari kayu secara perlahan sampai uap dalam periuk habis. Uap tersebut dipercaya baik untuk tubuh.

Itulah kenapa harus menggunakan kain berlapis-lapis untuk menutupi tikar yang digulung. Tujuannya agar uapnya lebih banyak menempel di badan dan keringat pun menjadi lebih wangi.

Selain membuat tubuh menjadi wangi. Tradisi ini juga berfungsi membuang racun di dalam tubuh. Masih dengan tujuan tersebut, pakaian yang kenakan selama betangas sebaiknya satu baju dan satu celana saja.

Betangas kali ini dilakukan Bupati bersama Wakil Bupati Effendi Ahmad, serta Kapolres AKBP Asep I Rosadi.

Ditemui usai betangas, Kapolres mengaku baru pertama kali melakukan prosesi yang dinilainya unik ini. Dia merasakan bagaimana badannya menjadi segar, begitu juga udara yang keluar dari hidungnya pun menjadi segar. “Rasa plong dan ini benar-benar membuat saya lebih segar. Terima kasih telah memperkenalkan betangas ini,” ungkap Kapolres. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/