alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Irigasi Tidak Berfungsi,  Rumah Kebanjiran

SUKADANA- Rehabilitasi jaringan irigasi Tanjung Belimbing, Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara dinilai tidak berdampak positif bagi masyarkat. Sebab, belum lama turunnya hujan sejumlah permukiman warga sekitar kebanjiran. Pekerjaan tersebut dikerjakan Bidang Sumber Daya Air (SDA), Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kayong Utara, dengan anggaran Rp1,8 miliar.

Bahkan, terkait hal ini, salah satu warga setempat Adi akan melapor kepada pihak kepolisian. Pasalnya rehabilitasi dinilai semakin memperparah kondisi banjir sekitar irigasi di Tanjung Belimbing yang terdalat sejumlah rumah warga.

Adi menjelaskan, kondisi banjir yang disebabkan curah hujan yang tinggi, limpahan air dari saluran Tanjung Belimbing cepat menggenangi pemukiman warga. Karena kondisi dinding irigasi bagian belakang pemukiman tidak mendapatkan penambahan tinggi. Malahan, kata dia dinding irigasi yang sebelahnya, yang jauh dari pemukiman warga.

“Besok (Senin, (8/3).red ) kita akan laporkan ke Polres, saya sebagai masyarakat. Bukan hanya pribadi, tapi saya memikirkan masyarakat lain yang juga terdampak (banjir) bukan hanya saya. Takutnya ada korban jiwa, maklumlah takutnya air naik kondisi kita sedang tidur, air cepat naik, kesetrum apa. Kemarin tetangga kita ada kipas anginnya hidup di dalam air, untung cepat dicabut (listriknya) kalau tidak kesetrum,” kata Adi, di Dusun Tanjung belimbing, Minggu (7/3) kemarin.

Baca Juga :  Yudie Chaniago Harapkan Sutarmidji Perbaikan Jalan Provinsi

Terkait hal ini, dirinya menceritakan, sebelum pekerjaan berlangsung sudah dilakukan pertemuan di kantor Desa setempat, dengan menghadirkan kelompok tani, pelaksana dan pihak PUPR Kayong Utara.

Namun, sambung dia saat pertemuan tersebut, dirinya mengaku tidak dilibatkan, padahal dirinya warga terdekat dengan pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi tersebut. Tetapi, dirinya berhasil bertemu dengan pihak PUPR, dalam hal ini Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Emi Yuliana, dan meminta kepada kepada pihak Emi Yuliana untuk menambah tinggi dinding bangunan irigasi, dan tidak merubah saluran pembuangan air, yang sebelumnya berukuran 6 meter.

“Harapan saya kepada pihak PU dan pelaksana waktu itu, harapan kita minta buatkan pelimpahan ukuran seperti yang lama dan tingginya di tambah. Ukuran pelimpahan lama itu 6 meter, diganti sekitar 1 meter lebih. Kalau memang sebelah sana (pelimpahan ditinggikan, sebelah sini (rumah warga) juga ditinggikan juga, minilam ditambah 10 cm dari sebelah sana, supaya airnya tidak lari (meluber) kerumah atau pemukiman warga,”ceritanya.

Baca Juga :  Tanjung Belimbing Korban Banjir

Bahkan, kata Adi  berdasarkan kesepakatan pihak SDA PUPR Kayong Utara bersama warga sekitar, pihak PUPR akan mendatangkan alat berat berupa exavator dalam item pekerjaan. Nyatanya dilapangan, berdasarkan pemantauannya,tidak ada alat berrat beraktivitas saat pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Tanjung Belimbing dilakukan.

“Exa tidak ada, tidak ada alat berat satupun. kalau molen ada, tapi kalau alat berat (exavator) dari awal sampai selesai tidak ada. Kalau hujan datang lagi lebih lama dari tadi malam Sabtu (6/3) bisa tenggelam lalu rumah kami, lebih parah. Malam tadi air naik sampai 3 jari dari lantai rumah, itu pun curah hujan hanya 1 jam, air sangat cepat naik. Saya dari kecil tinggal di Sukadana ini, jadi tahu  kondisi air. Dulu kalau hujan 8 sampai 9 jam baru air naik, itu pun tidak terlalu cepat,”jelasnya. (dan)

SUKADANA- Rehabilitasi jaringan irigasi Tanjung Belimbing, Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara dinilai tidak berdampak positif bagi masyarkat. Sebab, belum lama turunnya hujan sejumlah permukiman warga sekitar kebanjiran. Pekerjaan tersebut dikerjakan Bidang Sumber Daya Air (SDA), Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kayong Utara, dengan anggaran Rp1,8 miliar.

Bahkan, terkait hal ini, salah satu warga setempat Adi akan melapor kepada pihak kepolisian. Pasalnya rehabilitasi dinilai semakin memperparah kondisi banjir sekitar irigasi di Tanjung Belimbing yang terdalat sejumlah rumah warga.

Adi menjelaskan, kondisi banjir yang disebabkan curah hujan yang tinggi, limpahan air dari saluran Tanjung Belimbing cepat menggenangi pemukiman warga. Karena kondisi dinding irigasi bagian belakang pemukiman tidak mendapatkan penambahan tinggi. Malahan, kata dia dinding irigasi yang sebelahnya, yang jauh dari pemukiman warga.

“Besok (Senin, (8/3).red ) kita akan laporkan ke Polres, saya sebagai masyarakat. Bukan hanya pribadi, tapi saya memikirkan masyarakat lain yang juga terdampak (banjir) bukan hanya saya. Takutnya ada korban jiwa, maklumlah takutnya air naik kondisi kita sedang tidur, air cepat naik, kesetrum apa. Kemarin tetangga kita ada kipas anginnya hidup di dalam air, untung cepat dicabut (listriknya) kalau tidak kesetrum,” kata Adi, di Dusun Tanjung belimbing, Minggu (7/3) kemarin.

Baca Juga :  Jembatan di Desa Sepahat Nyaris Ambruk

Terkait hal ini, dirinya menceritakan, sebelum pekerjaan berlangsung sudah dilakukan pertemuan di kantor Desa setempat, dengan menghadirkan kelompok tani, pelaksana dan pihak PUPR Kayong Utara.

Namun, sambung dia saat pertemuan tersebut, dirinya mengaku tidak dilibatkan, padahal dirinya warga terdekat dengan pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi tersebut. Tetapi, dirinya berhasil bertemu dengan pihak PUPR, dalam hal ini Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Emi Yuliana, dan meminta kepada kepada pihak Emi Yuliana untuk menambah tinggi dinding bangunan irigasi, dan tidak merubah saluran pembuangan air, yang sebelumnya berukuran 6 meter.

“Harapan saya kepada pihak PU dan pelaksana waktu itu, harapan kita minta buatkan pelimpahan ukuran seperti yang lama dan tingginya di tambah. Ukuran pelimpahan lama itu 6 meter, diganti sekitar 1 meter lebih. Kalau memang sebelah sana (pelimpahan ditinggikan, sebelah sini (rumah warga) juga ditinggikan juga, minilam ditambah 10 cm dari sebelah sana, supaya airnya tidak lari (meluber) kerumah atau pemukiman warga,”ceritanya.

Baca Juga :  Terkendala Anggaran, PJU Rusak Belum Diperbaiki

Bahkan, kata Adi  berdasarkan kesepakatan pihak SDA PUPR Kayong Utara bersama warga sekitar, pihak PUPR akan mendatangkan alat berat berupa exavator dalam item pekerjaan. Nyatanya dilapangan, berdasarkan pemantauannya,tidak ada alat berrat beraktivitas saat pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Tanjung Belimbing dilakukan.

“Exa tidak ada, tidak ada alat berat satupun. kalau molen ada, tapi kalau alat berat (exavator) dari awal sampai selesai tidak ada. Kalau hujan datang lagi lebih lama dari tadi malam Sabtu (6/3) bisa tenggelam lalu rumah kami, lebih parah. Malam tadi air naik sampai 3 jari dari lantai rumah, itu pun curah hujan hanya 1 jam, air sangat cepat naik. Saya dari kecil tinggal di Sukadana ini, jadi tahu  kondisi air. Dulu kalau hujan 8 sampai 9 jam baru air naik, itu pun tidak terlalu cepat,”jelasnya. (dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/