alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Krisis Air di Kayong Utara, Warga Terpaksa Membeli

SUKADANA – Krisis air bersih masih terjadi di Kayong Utara. Padahal, beberapa hari terakhir curah hujan sudah terjadi di beberapa wilayah, namun keran keran air milik warga  masih kering kerontang. Kondisi ini memaksa warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih. Untuk 2 ribu liter air bersih di dalam Kota Sukadana saja, warga harus merogoh kocek hingga Rp130 ribu.

“Sudah satu bulan air tidak mengalir, padahal ini sudah ada hujan. Kemarin (7/4) sudah beli air, seharga 130 ribu (rupiah),“ keluah Dini Aminarti,  warga Sukadana.

Diakui ibu  dua anak ini, air 2 ribu liter yang dibeli ini hanya mampu bertahan 3 – 5 hari ke depan, karena kebutuhan rumah tangga cukup banyak membutuhkan air. “Kalau setiap minggu beli air tidak mampu juga rasanya. Kita di sini juga tidak ada sumber air lain, sumur misalnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Siapkan Diri untuk Calon Senator

Pelaksanatugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kayong Utara Budi Utomo memberikan penjelasan terkait krisis air bersih yang terjadi di Kabupaten Kayong Utara. Diakui dia, faktor pertama disebabkan debit air yang keluar dari gunung tak mampu ditampung dengan baik, sehingga ketika curah hujan berkurang air di tempat penampungan dengan mudah menyusut.

“Sehingga dengan terpaksa menggunakan sistem buka tutup atau jadwal. selain itu juga kita selalu melakukan perbaikan dan pemeliharaan pipa yang mengalami kebocoran baik di pipa Induk maupun pipa pembagi,” ungkap Budi, Jumat (8/4) di Sukadana.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya berencana meningkatkan tempat-tempat penampungan air, sehingga memiliki daya tampung yang lebih besar. Karena saat ini jumlah konsumsi air bersih di Sukadana dan sekitarnya, diakui dia, sudah sangat banyak.

Baca Juga :  Jadikan Petani Kopi Hebat, Indonesia Tangguh

“Maka ke depan kita akan tingkatkan daya tampung debit air seiring juga bertambahnya konsumsi air,” tuturnya.

Untuk langkah cepat penanganan krisis air bersih ini, pihaknya menyarankan pihak desa untuk mengajukan surat permohonan suplai air bersih. Dengan dasar tersebut dapat ditangani pihaknya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

“Untuk mengatasi kekurangan suplai air ke masyarakat, kita akan suplai pada titik yang desa/perangkat desa ajukan. Namun desa harus siapkan PAH  penampungannya sehingga kami bisa mensuplai dengan berjadwal,” tutupnya. (dan)

SUKADANA – Krisis air bersih masih terjadi di Kayong Utara. Padahal, beberapa hari terakhir curah hujan sudah terjadi di beberapa wilayah, namun keran keran air milik warga  masih kering kerontang. Kondisi ini memaksa warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih. Untuk 2 ribu liter air bersih di dalam Kota Sukadana saja, warga harus merogoh kocek hingga Rp130 ribu.

“Sudah satu bulan air tidak mengalir, padahal ini sudah ada hujan. Kemarin (7/4) sudah beli air, seharga 130 ribu (rupiah),“ keluah Dini Aminarti,  warga Sukadana.

Diakui ibu  dua anak ini, air 2 ribu liter yang dibeli ini hanya mampu bertahan 3 – 5 hari ke depan, karena kebutuhan rumah tangga cukup banyak membutuhkan air. “Kalau setiap minggu beli air tidak mampu juga rasanya. Kita di sini juga tidak ada sumber air lain, sumur misalnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Peringatan Hari Peduli Sampah Bersama Tanagupa

Pelaksanatugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kayong Utara Budi Utomo memberikan penjelasan terkait krisis air bersih yang terjadi di Kabupaten Kayong Utara. Diakui dia, faktor pertama disebabkan debit air yang keluar dari gunung tak mampu ditampung dengan baik, sehingga ketika curah hujan berkurang air di tempat penampungan dengan mudah menyusut.

“Sehingga dengan terpaksa menggunakan sistem buka tutup atau jadwal. selain itu juga kita selalu melakukan perbaikan dan pemeliharaan pipa yang mengalami kebocoran baik di pipa Induk maupun pipa pembagi,” ungkap Budi, Jumat (8/4) di Sukadana.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya berencana meningkatkan tempat-tempat penampungan air, sehingga memiliki daya tampung yang lebih besar. Karena saat ini jumlah konsumsi air bersih di Sukadana dan sekitarnya, diakui dia, sudah sangat banyak.

Baca Juga :  DPRD Kayong Utara Terus Mendorong Perubahan Status Jalan di Kayong Utara

“Maka ke depan kita akan tingkatkan daya tampung debit air seiring juga bertambahnya konsumsi air,” tuturnya.

Untuk langkah cepat penanganan krisis air bersih ini, pihaknya menyarankan pihak desa untuk mengajukan surat permohonan suplai air bersih. Dengan dasar tersebut dapat ditangani pihaknya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

“Untuk mengatasi kekurangan suplai air ke masyarakat, kita akan suplai pada titik yang desa/perangkat desa ajukan. Namun desa harus siapkan PAH  penampungannya sehingga kami bisa mensuplai dengan berjadwal,” tutupnya. (dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/