alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Semah Laut di Pesisir Karimata

Masyarakat pesisir Karimata, khususnya di Desa Padang, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kayong Utara memiliki cara unik menjaga laut mereka dari marabahaya. Yaitu, tradisi Semah Laut, sebuah ritual untuk mendatangan keberkahan dan rejeki yang melimpah.

ARIEF NUGROHO, Kepulauan Karimata

Desa Padang merupakan satu dari puluhan gugusan pulau di Kepulauan Karimata. Desa ini terletak di bagian Barat, Kabupaten Kayong Utara. Butuh waktu sekitar 8 hingga 12 jam untuk sampai di sana. Melintasi selat dengan kapal yang tak tentu jadwalnya.

Hari itu, Kamis (1/4), Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pulau itu. Kami menumpang kapal motor milik pemda setempat: KM Banawa Nusantara 133. Untuk menuju ke desa ini memang tidak ada transportasi umum. Kalau pun ada, harus menumpang kapal barang atau kapal ikan milik nelayan.

Kami berangkat dari dermaga Sukadana, Ibu kota Kabupaten Kayong Utara. Pagi itu cuaca terlihat cerah. Air laut begitu tenang dan membiru. Demikian juga dengan warna langit. Tak kalah birunya.

Kapal motor yang kami tumpangi perlahan meninggalkan dermaga. Kepulan asap yang keluar dari cerobong kapal, seolah memberi pesan “selamat tinggal”.

Perjalanan kami menuju Kepulauan Karimata sedikit mengalami tantangan. Cuaca yang sebelumnya terlihat cerah mendadak berubah. Awan hitam terlihat menggelantung seakan akan roboh. Air laut yang sedari awal terlihat tenang, berubah menjadi gelombang. Tak lama, hujan disertai angin kencang pun datang.

Gelombong setinggi lima meter menghantam kapal motor kami. Suasana di dalam kapal yang sebelumnya diwarnai canda tawa berubah menjadi histeris. Mereka berteriak. Ada yang berdoa. Beberapa orang di antaranya tak sadarkan diri dan pingsan.

Setelah hampir 12 jam dan tiga jam kami terobang-ambing di tengah lautan karena badai, kami pun tiba di Desa Padang.

Secara geografis, Desa Padang memiliki luas 99,39 kilometer persegi, atau sekitar 35.12 persen dari total luasan Kecamatan Kepulauan Karimata. Desa ini terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Tanjung Ru, Dusun Pantai Lestari, Dusun Benteng Jaya dan Dusun Sui Abon dengan jumlah 1.375 jiwa.

Sedangkan topografi desa Padang sendiri terdiri perbukitan dengan elevasi kurang lebih 1000 mdpl.

Sebagian besar peduduk Desa Padang mengantungkan hidupnya pada sumber daya kelautan. Secara administrasi status kawasan, Desa Padang, Kepulauan Karimata masuk dalam Kawasan Cagar Alam Laut berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981.

Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung alami.

Masyarakat Desa Padang memiliki cara yang unik untuk menjaga laut mereka dari marabahaya. Yaitu, dengan tradisi “Semah Laut”, sebuah ritual yang diyakini masyarakat setempat sebagai penolak marabahaya.

Ritual Semah Laut biasanya digelar pada bulan April setiap tahunnya, menjelang musim angin selatan. Prosesi ritual ini diawali dengan membuat sebuah replika kapal atau biasa disebut dengan “Ajung”, dan replika rumah yang disebut sebagai “Balai”.

Prosesi ritual Semah Laut dilakukan selama tiga hari. Dimulai sejak pembuatan Ajung dan Balai. Setelah selesai, Ajung dan Balai dibawa ke balai desa untuk persiapan ritual. Yakni pembacaan mantra (doa) oleh masing-masing dukun. Ajung dan Balai yang dirapal mantra, diisi sesajen berupa panganan yang terdiri dari tujuh warna.

Pada prosesi Semah Laut, masyarakat berkumpul di balai desa. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian dan topeng yang disimbulkan sebagai sosok jahat. Menari mengelingi Ajung dan Balai.

Keesokan harinya, ritual semah laut ditutup pelarungan Ajung ke laut. Sedangkan Balai diletakkan di sebuah tempat yang dianggap keramat setelah sebelumnya diarak mengelilingi pulau Desa Padang.

Baca Juga :  SPBU di Pulau Maya Beroperasi

“Ini tradisi budaya masyarakat desa kami. Sudah ada sejak moyang buyut kami,” ungkap Sudirman, Ketua dukun Desa Padang.

Sudirman mengatakan, Semah Laut sudah ada sejak Pulau Karimata ada. Tujuannya untuk memberikan persembahan seisi semesta agar masyarakat, khususnya Desa Padang terhindar dan dijauhkan dari marabahaya.

Upacara Semah Laut, lanjut Sudirman, juga sebagai cara masyarakat menjaga laut mereka agar masyarakat mendapatkan keberkahan dan rejeki yang melimpah.

Ajung dan Balai

Sebelum upacara Semah Laut sebagai perangkat harus disiapkan. Di antaranya adalah replica kapal yang disebut “Ajung” dan replica rumah yang disebut “Balai”. Kedua perangkat ini mewakili dua unsur yang berbeda, yakni Ajung mewakili unsur dari lautan, sedangkan balai mewakili unsur daratan (kampung).

Untuk membuat Ajung dan Balai dibutuhkan ketrampilan khusus, dan dilakukan oleh orang-orang terpilih. Satu diantaranya Saputra, seorang dukun darat dari Dusun Tanjung Ru, Desa Padang. Saputra adalah generasi kedua. Ia mendapat panggilan jiwa untuk meneruskan posisi ayahnya sebagai dukun darat. Saputra sendiri sudah 12 tahun menjadi dukun darat di sana.

“Jadi kata kami di sini, tradisi Semah Laut untuk buang setan atau hantu. Supaya pencarian kita di laut dan darat, hasilnya bagus. Memang di laut kita banyak hasil, tapi setelah Semah Laut, penghasilan tambah meningkat,” jelasnya.

Balai yang dibuat Saputra ini bentuknya seperti rumah. Ukurannya kira-kira satu meter persegi. Di dalamnya terdapat nasi berbentuk pocong, ketan berbagai warna, lilin, kemenyan, telur, sirih, rokok, bahan makanan berbentuk atau disebut lempeng dan lainnya.

“Pemberian lempeng dalam balai ini sebagai upaya kita agar tidak ada lagi penyakitnya. Kalau nasi supaya kampung itu bagus dan alamnya juga bagus,” terangnya.

Pada intinya, pelaksanaan Semah Laut ini untuk menjaga kampung di darat maupun di laut agar terhindar dari hal-hal gaib.

“Kadang-kadang kalau kita tidak jaga atau laksanakan tradisi ini, (hal negatif) bisa muncul. Makanya dijaga oleh masyarakat Desa Padang,” tutur Saputra.

Sementara Ajung dibuat oleh Jabar. Ia dipercayai untuk membuat Ajung. Karena hanya dia yang lihai.

“Adanya Pulau Karimata, tradisi ini sudah ada. Jadi saya tidak bisa menjelaskan asal mulanya. Saat bujangan, saya sudah ikut pengerjaan pembuatan Ajung ini. Sampailah sekarang, tidak ada yang lain bisa bikin selain saya,” jelas Jabar.

Ajung dibuat menggunakan kayu khusus. Keberadaan Ajung, sebagai pelengkap Balai dalam prosesi upacara Semah Laut. Kalau tidak ada Ajung, artinya pelaksanaan Semah Laut kurang pas. Maka, warga setempat meyakini, bisa saja dapat musibah dan penghasilan laut maupun darat kurang.

“Makanya harus diadakan dan lengkap setiap tahun pada tanggal empat bulan empat. Ini harus dilaksanakan,” bebernya.

“Dulu pernah ditinggalkan (Semah Laut) selama tiga tahun. Lalu masyarakat kena serangan penyakit sampai meninggal dan hasil laut kurang. Maklumlah waktu itu masyarakat awam, jadi banyak alasan sampai tradisi ini ditinggal. Karena itulah, Semah Laut kembali digelar lagi,” Sambungnya.

Selain Ajung dan Balai, piranti lainnya yang harus disiapkan adalah panganan tujuh rupa dan hiasannya. Seperti anyaman daun kelapa.

Rapiah salah satunya. Perempuan 70 tahun ini adalah satu dari beberapa kaum perempuan yang terlibat dalam membuat hiasan Ajung.

Daun kelapa yang dianyam membentuk pedang, keris dan macam-macam. “Jadi kami bagi tugas. Ada yang buat balai di Tanjung Ru, ada yang buat jong dan bikin nasi lempeng-lempeng kecil di Padang,” bebernya.

Baca Juga :  Pejuang Pendidikan Daerah Kepulauan, Setiap Hari Sebrangi Lautan

Rapiah mengaku, sudah lama terlibat membuat hiasan Ajung dalam prosesi Semah Laut. Ia mulai membuat anyaman ini dikala umurnya masih 15 tahun. Kini usianya memasuki 70 tahun.

“Dari usia 15 tahun saya sudah ikut, karena datok saya jadi dukun. Saya cucu dukun,” ucapnya.

Pantangan dan Sanksi

Masyarakat Desa Padang menyakini adanya makhluk halus penunggu laut dan kampung. Mereka tidak saja menyebabkan marabahaya, tetapi juga mendatangkan penyakit.

Pada malam hari menjelang pelaksanaan inti dari Semah Laut, pada dukun yang terdiri dari tujuh dukun laut maupun darat melakukan ritual pemanggilan roh halus. Mereka diundang untuk diberikan sesajen.

Dalam ritual malam ini juga ada tarian yang dilakukan muda-mudi di sana. Tarian itu disebut tarian hantu yang diiringi pukulan gendang dan gong. Para menari mengenakan topeng dan pakaian yang dibuat dengan bahan seadanya.

Dalam tarian hantu ini juga menggambarkan bahwa ada roh yang ingin menghancurkan atau mengambil alih balai maupun Ajung.

Selama prosesi Semah Laut, masyarakat dilarang melakukan aktivitas bekerja. Seperti, melaut bagi nelayan dan memanjat pohon atau mematahkan ranting bagi mereka yang bekerja di darat.

Bagi yang melanggar pantangan ini, maka sanksi atau denda akan dijatuhkan. Mereka akan didenda uang Rp2,5 juta dan ketupat 200 butir.

“Jika pantangan dilanggar akan mendatangkan musibah bagi pelanggar atau pun warga yang lain,” katanya.

“Pantangan ini berlaku semalam tiga hari, yakni sejak sebelum upacara Semah Laut berlangsunn,”sambungnya.

Wajib Dilestarikan

Bupati Kayong Utara, Citra Duani mengatakan, budaya Semah Laut ini harus tetap dilestarikan. “Maksud dan tujuannya adalah masyarakat ingin agar nelayan kita di laut aman dan tidak ada gangguan, kemudian mendapatkan rezeki yang melimpah, sehingga sebagian dari pada rezeki yang didapat disedekahkan kepada penghuni laut agar tetap terjaga,” katanya. Pelaksanaan Semah Laut 2021 ini disebut lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, dalam pelaksanaannya tidak mengabaikan protokol kesehatan.

“Ini karena Covid-19 saja. Sebenarnya banyak orang ingin datang ke sini. Karena banyak rangkaian dan ketertarikan yang bisa diikuti. Juga ada edukasi tentang sejarah di sini,” ujarnya.

Maka dari itu, ia ingin tradisi Semah Laut terus dibudayakan dan dilestarikan. Bahkan kepada seluruh masyarakat diminta supaya menjaga pelestarian ekosistem yang ada melalui tradisi lokal ini.

“Kita tidak tahu bahwa ada penghuni-penghuni laut yang tidak kasat mata. Kalau seandainya ada gelombang besar dan seterusnya, melalui ritual ini mereka sudah mendapatkan sedekah,” ujar Citra.

“Artinya mereka tidak banyak mengganggu nelayan. Ini juga salah satu melestarikan cagar alam kita dan sehingga budaya lokal bisa dikenang dan masyarakat itu positif. Mereka bisa mengikuti acara-acara ritual seperti ini,” sambungnya.

Ia mengaku siap mendorong dan memberikan dukungan penuh agar budaya lokal Semah Laut ini bisa lebih berkembang dan diminati para wisatawan. Namun kendalanya sekarang adalah, Desa Padang salah satu kawasan cagar alam.

Maka, ia berharap hati pemerintah pusat bisa terketuk untuk menyesuaikan status cagar alam ini menjadi taman nasional alam laut atau taman wisata alam laut.

“Saat ini kita tidak bisa menjual wisata di sini kalau masih cagar alam laut. Maka saya berharap ada penyesuaian status, sehingga siapapun yang datang ke sini mereka bisa berwisata dan wajib untuk melestarikan,” harapnya.

Tahun depan, kata Citra, budaya ini dikemas dengan baik agar menjadi perhatian pemerintah pusat. Tidak menutup kemungkinan, bisa dijadikan agenda nasional bahkan internasional. “Saya dukung,” pungkasnya. (*)

Masyarakat pesisir Karimata, khususnya di Desa Padang, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kayong Utara memiliki cara unik menjaga laut mereka dari marabahaya. Yaitu, tradisi Semah Laut, sebuah ritual untuk mendatangan keberkahan dan rejeki yang melimpah.

ARIEF NUGROHO, Kepulauan Karimata

Desa Padang merupakan satu dari puluhan gugusan pulau di Kepulauan Karimata. Desa ini terletak di bagian Barat, Kabupaten Kayong Utara. Butuh waktu sekitar 8 hingga 12 jam untuk sampai di sana. Melintasi selat dengan kapal yang tak tentu jadwalnya.

Hari itu, Kamis (1/4), Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pulau itu. Kami menumpang kapal motor milik pemda setempat: KM Banawa Nusantara 133. Untuk menuju ke desa ini memang tidak ada transportasi umum. Kalau pun ada, harus menumpang kapal barang atau kapal ikan milik nelayan.

Kami berangkat dari dermaga Sukadana, Ibu kota Kabupaten Kayong Utara. Pagi itu cuaca terlihat cerah. Air laut begitu tenang dan membiru. Demikian juga dengan warna langit. Tak kalah birunya.

Kapal motor yang kami tumpangi perlahan meninggalkan dermaga. Kepulan asap yang keluar dari cerobong kapal, seolah memberi pesan “selamat tinggal”.

Perjalanan kami menuju Kepulauan Karimata sedikit mengalami tantangan. Cuaca yang sebelumnya terlihat cerah mendadak berubah. Awan hitam terlihat menggelantung seakan akan roboh. Air laut yang sedari awal terlihat tenang, berubah menjadi gelombang. Tak lama, hujan disertai angin kencang pun datang.

Gelombong setinggi lima meter menghantam kapal motor kami. Suasana di dalam kapal yang sebelumnya diwarnai canda tawa berubah menjadi histeris. Mereka berteriak. Ada yang berdoa. Beberapa orang di antaranya tak sadarkan diri dan pingsan.

Setelah hampir 12 jam dan tiga jam kami terobang-ambing di tengah lautan karena badai, kami pun tiba di Desa Padang.

Secara geografis, Desa Padang memiliki luas 99,39 kilometer persegi, atau sekitar 35.12 persen dari total luasan Kecamatan Kepulauan Karimata. Desa ini terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Tanjung Ru, Dusun Pantai Lestari, Dusun Benteng Jaya dan Dusun Sui Abon dengan jumlah 1.375 jiwa.

Sedangkan topografi desa Padang sendiri terdiri perbukitan dengan elevasi kurang lebih 1000 mdpl.

Sebagian besar peduduk Desa Padang mengantungkan hidupnya pada sumber daya kelautan. Secara administrasi status kawasan, Desa Padang, Kepulauan Karimata masuk dalam Kawasan Cagar Alam Laut berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 tanggal 15 Juni 1981.

Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung alami.

Masyarakat Desa Padang memiliki cara yang unik untuk menjaga laut mereka dari marabahaya. Yaitu, dengan tradisi “Semah Laut”, sebuah ritual yang diyakini masyarakat setempat sebagai penolak marabahaya.

Ritual Semah Laut biasanya digelar pada bulan April setiap tahunnya, menjelang musim angin selatan. Prosesi ritual ini diawali dengan membuat sebuah replika kapal atau biasa disebut dengan “Ajung”, dan replika rumah yang disebut sebagai “Balai”.

Prosesi ritual Semah Laut dilakukan selama tiga hari. Dimulai sejak pembuatan Ajung dan Balai. Setelah selesai, Ajung dan Balai dibawa ke balai desa untuk persiapan ritual. Yakni pembacaan mantra (doa) oleh masing-masing dukun. Ajung dan Balai yang dirapal mantra, diisi sesajen berupa panganan yang terdiri dari tujuh warna.

Pada prosesi Semah Laut, masyarakat berkumpul di balai desa. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian dan topeng yang disimbulkan sebagai sosok jahat. Menari mengelingi Ajung dan Balai.

Keesokan harinya, ritual semah laut ditutup pelarungan Ajung ke laut. Sedangkan Balai diletakkan di sebuah tempat yang dianggap keramat setelah sebelumnya diarak mengelilingi pulau Desa Padang.

Baca Juga :  Gelar Ziarah Makam Gusti Panji

“Ini tradisi budaya masyarakat desa kami. Sudah ada sejak moyang buyut kami,” ungkap Sudirman, Ketua dukun Desa Padang.

Sudirman mengatakan, Semah Laut sudah ada sejak Pulau Karimata ada. Tujuannya untuk memberikan persembahan seisi semesta agar masyarakat, khususnya Desa Padang terhindar dan dijauhkan dari marabahaya.

Upacara Semah Laut, lanjut Sudirman, juga sebagai cara masyarakat menjaga laut mereka agar masyarakat mendapatkan keberkahan dan rejeki yang melimpah.

Ajung dan Balai

Sebelum upacara Semah Laut sebagai perangkat harus disiapkan. Di antaranya adalah replica kapal yang disebut “Ajung” dan replica rumah yang disebut “Balai”. Kedua perangkat ini mewakili dua unsur yang berbeda, yakni Ajung mewakili unsur dari lautan, sedangkan balai mewakili unsur daratan (kampung).

Untuk membuat Ajung dan Balai dibutuhkan ketrampilan khusus, dan dilakukan oleh orang-orang terpilih. Satu diantaranya Saputra, seorang dukun darat dari Dusun Tanjung Ru, Desa Padang. Saputra adalah generasi kedua. Ia mendapat panggilan jiwa untuk meneruskan posisi ayahnya sebagai dukun darat. Saputra sendiri sudah 12 tahun menjadi dukun darat di sana.

“Jadi kata kami di sini, tradisi Semah Laut untuk buang setan atau hantu. Supaya pencarian kita di laut dan darat, hasilnya bagus. Memang di laut kita banyak hasil, tapi setelah Semah Laut, penghasilan tambah meningkat,” jelasnya.

Balai yang dibuat Saputra ini bentuknya seperti rumah. Ukurannya kira-kira satu meter persegi. Di dalamnya terdapat nasi berbentuk pocong, ketan berbagai warna, lilin, kemenyan, telur, sirih, rokok, bahan makanan berbentuk atau disebut lempeng dan lainnya.

“Pemberian lempeng dalam balai ini sebagai upaya kita agar tidak ada lagi penyakitnya. Kalau nasi supaya kampung itu bagus dan alamnya juga bagus,” terangnya.

Pada intinya, pelaksanaan Semah Laut ini untuk menjaga kampung di darat maupun di laut agar terhindar dari hal-hal gaib.

“Kadang-kadang kalau kita tidak jaga atau laksanakan tradisi ini, (hal negatif) bisa muncul. Makanya dijaga oleh masyarakat Desa Padang,” tutur Saputra.

Sementara Ajung dibuat oleh Jabar. Ia dipercayai untuk membuat Ajung. Karena hanya dia yang lihai.

“Adanya Pulau Karimata, tradisi ini sudah ada. Jadi saya tidak bisa menjelaskan asal mulanya. Saat bujangan, saya sudah ikut pengerjaan pembuatan Ajung ini. Sampailah sekarang, tidak ada yang lain bisa bikin selain saya,” jelas Jabar.

Ajung dibuat menggunakan kayu khusus. Keberadaan Ajung, sebagai pelengkap Balai dalam prosesi upacara Semah Laut. Kalau tidak ada Ajung, artinya pelaksanaan Semah Laut kurang pas. Maka, warga setempat meyakini, bisa saja dapat musibah dan penghasilan laut maupun darat kurang.

“Makanya harus diadakan dan lengkap setiap tahun pada tanggal empat bulan empat. Ini harus dilaksanakan,” bebernya.

“Dulu pernah ditinggalkan (Semah Laut) selama tiga tahun. Lalu masyarakat kena serangan penyakit sampai meninggal dan hasil laut kurang. Maklumlah waktu itu masyarakat awam, jadi banyak alasan sampai tradisi ini ditinggal. Karena itulah, Semah Laut kembali digelar lagi,” Sambungnya.

Selain Ajung dan Balai, piranti lainnya yang harus disiapkan adalah panganan tujuh rupa dan hiasannya. Seperti anyaman daun kelapa.

Rapiah salah satunya. Perempuan 70 tahun ini adalah satu dari beberapa kaum perempuan yang terlibat dalam membuat hiasan Ajung.

Daun kelapa yang dianyam membentuk pedang, keris dan macam-macam. “Jadi kami bagi tugas. Ada yang buat balai di Tanjung Ru, ada yang buat jong dan bikin nasi lempeng-lempeng kecil di Padang,” bebernya.

Baca Juga :  Tugboat Rekanan PT. CMI Robohkan Dermaga Melano

Rapiah mengaku, sudah lama terlibat membuat hiasan Ajung dalam prosesi Semah Laut. Ia mulai membuat anyaman ini dikala umurnya masih 15 tahun. Kini usianya memasuki 70 tahun.

“Dari usia 15 tahun saya sudah ikut, karena datok saya jadi dukun. Saya cucu dukun,” ucapnya.

Pantangan dan Sanksi

Masyarakat Desa Padang menyakini adanya makhluk halus penunggu laut dan kampung. Mereka tidak saja menyebabkan marabahaya, tetapi juga mendatangkan penyakit.

Pada malam hari menjelang pelaksanaan inti dari Semah Laut, pada dukun yang terdiri dari tujuh dukun laut maupun darat melakukan ritual pemanggilan roh halus. Mereka diundang untuk diberikan sesajen.

Dalam ritual malam ini juga ada tarian yang dilakukan muda-mudi di sana. Tarian itu disebut tarian hantu yang diiringi pukulan gendang dan gong. Para menari mengenakan topeng dan pakaian yang dibuat dengan bahan seadanya.

Dalam tarian hantu ini juga menggambarkan bahwa ada roh yang ingin menghancurkan atau mengambil alih balai maupun Ajung.

Selama prosesi Semah Laut, masyarakat dilarang melakukan aktivitas bekerja. Seperti, melaut bagi nelayan dan memanjat pohon atau mematahkan ranting bagi mereka yang bekerja di darat.

Bagi yang melanggar pantangan ini, maka sanksi atau denda akan dijatuhkan. Mereka akan didenda uang Rp2,5 juta dan ketupat 200 butir.

“Jika pantangan dilanggar akan mendatangkan musibah bagi pelanggar atau pun warga yang lain,” katanya.

“Pantangan ini berlaku semalam tiga hari, yakni sejak sebelum upacara Semah Laut berlangsunn,”sambungnya.

Wajib Dilestarikan

Bupati Kayong Utara, Citra Duani mengatakan, budaya Semah Laut ini harus tetap dilestarikan. “Maksud dan tujuannya adalah masyarakat ingin agar nelayan kita di laut aman dan tidak ada gangguan, kemudian mendapatkan rezeki yang melimpah, sehingga sebagian dari pada rezeki yang didapat disedekahkan kepada penghuni laut agar tetap terjaga,” katanya. Pelaksanaan Semah Laut 2021 ini disebut lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, dalam pelaksanaannya tidak mengabaikan protokol kesehatan.

“Ini karena Covid-19 saja. Sebenarnya banyak orang ingin datang ke sini. Karena banyak rangkaian dan ketertarikan yang bisa diikuti. Juga ada edukasi tentang sejarah di sini,” ujarnya.

Maka dari itu, ia ingin tradisi Semah Laut terus dibudayakan dan dilestarikan. Bahkan kepada seluruh masyarakat diminta supaya menjaga pelestarian ekosistem yang ada melalui tradisi lokal ini.

“Kita tidak tahu bahwa ada penghuni-penghuni laut yang tidak kasat mata. Kalau seandainya ada gelombang besar dan seterusnya, melalui ritual ini mereka sudah mendapatkan sedekah,” ujar Citra.

“Artinya mereka tidak banyak mengganggu nelayan. Ini juga salah satu melestarikan cagar alam kita dan sehingga budaya lokal bisa dikenang dan masyarakat itu positif. Mereka bisa mengikuti acara-acara ritual seperti ini,” sambungnya.

Ia mengaku siap mendorong dan memberikan dukungan penuh agar budaya lokal Semah Laut ini bisa lebih berkembang dan diminati para wisatawan. Namun kendalanya sekarang adalah, Desa Padang salah satu kawasan cagar alam.

Maka, ia berharap hati pemerintah pusat bisa terketuk untuk menyesuaikan status cagar alam ini menjadi taman nasional alam laut atau taman wisata alam laut.

“Saat ini kita tidak bisa menjual wisata di sini kalau masih cagar alam laut. Maka saya berharap ada penyesuaian status, sehingga siapapun yang datang ke sini mereka bisa berwisata dan wajib untuk melestarikan,” harapnya.

Tahun depan, kata Citra, budaya ini dikemas dengan baik agar menjadi perhatian pemerintah pusat. Tidak menutup kemungkinan, bisa dijadikan agenda nasional bahkan internasional. “Saya dukung,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/