alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Pulau Serutu Nan Menakjubkan

Membicarakan Kepulauan Karimata, tak hanya soal lautan luas, hamparan terumbu karang, ikan, dan gugusan pulau-pulau. Tak kalah menarik adalah kehidupan para penghuni pulau tersebut: Suku Bugis Sinjai.

ARIEF NUGROHO, Kepuluan Karimata

Pulau Serutu merupakan satu dari puluhan gugusan pulau di Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Secara adminitrasi, pulau ini berada di Desa Betok Jaya, Kecamatan Kepulauan Karimata.

Pulau ini dihuni sekitar 27 Kepala Keluarga (KK), yang hampir sebagian besar adalah masyarakat adat Bugis Binjai.

Hari itu, Sabtu (3/4), Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pulau terluar di Kayong Utara itu. Matahari cukup terik saat kami tiba di sana.

Begitu tiba, kami disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Air laut terlihat jernih, hamparan karang dan ikan berwarna warni tampak begitu jelas.

Setelah memasuki ke areal permukiman, kami disambut dengan ramah oleh warga penghuni pulau.

Sepintas, suasana permukiman di Pulau Serutu tidak jauh berbeda dengan permukiman atau kampung nelayan di daerah pesisir lainnya. Bedeng-bedeng kayu pengering ikan menjadi pemandangan.

Bedanya, rumah penduduk rata-rata dibangun berbentuk panggung setinggi 2-3 meter. Di bagian teras disekat menyerupai jendela menghadap ke laut. Sedangkan di bawah atau kolongnya dimanfaatkan untuk menyimpan barang-barang, seperti kayu bakar, perahu, jarring dan lain-lain.

Baca Juga :  Vanessa Angel dan Suami Tewas saat Kecelakaan, 3 Orang Lainnya Luka

Ada juga yang memanfaatkannya untuk membuka usaha seperti warung atau tempat beristirahat sementara kala cuaca panas.

“Rumah-rumah di sini memang sengaja dibangun tinggi. Kerana kalau ada gelombang laut tidak masuk ke rumah. Selain itu bisa terbebas dari ancaman binantang buas,” kata Ambotang (67) salah seorang warga Pulau Serutu.

Menurutnya, pulau ini mulai dihuni sejak sekitar 1975. Sementara ia sendiri datang dan mulai bermukim di pulau tersebut sekitar 1981. Saat itu, ia datang sebagai nelayan menggunakan kapal dari Belitung sekadar menumpang bersandar di pulau tersebut. “Waktu itu di sini masih hutan. Penghuninya baru sedikit,” katanya. Dari situ ia kemudian menetap dan membangun rumah.

“Setelah puas berlayar, kami (suku Bugis Binjai) akhirnya memutuskan untuk menetap di sini. Cari ikan di sini,” lanjutnya.

Untuk bisa bertahan di Pulau Serutu bukanlah hal mudah. Mereka harus bisa melwati berbagai tantangan. Di antaranya adalah perubahan musim, sumber air tawar, dan serangan penyakit Malaria.

“Di sini tidak ada air bersih. Kami mengandalkan air hujan. Jika musim kemarau, kami harus cari air ke pulau lain,” bebernya.

“Belum lagi, jika Malaria datang, terpaksa harus bawa ke Betok, menggunakan kapal selama 1 jam,” sambungnya.

Sementara untuk menghadapi perubahan musim, kebiasaan masyarakat di pulau ini  selalu berpindah-pindah. Pada saat terjadi musim selatan atau gelombang besar penduduk banyak yang pindah ke balik pulau. Di sana tidak ada gelombang besar. “Paling yang bertahan di sini sebagian saja. Sebagian lainnya pindah ke balik pulau,” lanjutnya.

Baca Juga :  Laksanakan Muscam Kecamatan, Golkar Pontianak Mulai Bangun Kekuatan

Menurut Ambotang, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama. Kecuali penduduk yang rumahnya kokoh akan berusaha bertahan di tempat itu. Namun jika warga yang biasanya memiliki kapal besar tetap akan berusaha mencari tempat yang aman.

“Sebab kalau mereka tetap di sini kapalnya tidak bisa sandar, makanya mereka pindah ke daerah yang tidak ada gelombangnya,” jelasnya.

Kepala Dusun Serutu Baso mengatakan, kondisi ini terpaksa mereka lakukan karena kehidupan nelayan sangat tergantung pada musim. Namun bagi Baso, dirinya tetap bertahan di pulau tersebut meskipun musim Selatan telah datang.

Yang menjadi persoalan, kata Baso, masyarakat di daerah itu adalah sulit untuk pergi berobat, karena mereka harus pergi ke pulau lain dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. “Memang ada petugas kesehatan yang kadang datang ke sini, hanya saja waktunya kan lama, nah kalau mendadak sakit kita juga harus bawa ke tempat yang lebih baik,” jelasnya. (*)

Membicarakan Kepulauan Karimata, tak hanya soal lautan luas, hamparan terumbu karang, ikan, dan gugusan pulau-pulau. Tak kalah menarik adalah kehidupan para penghuni pulau tersebut: Suku Bugis Sinjai.

ARIEF NUGROHO, Kepuluan Karimata

Pulau Serutu merupakan satu dari puluhan gugusan pulau di Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Secara adminitrasi, pulau ini berada di Desa Betok Jaya, Kecamatan Kepulauan Karimata.

Pulau ini dihuni sekitar 27 Kepala Keluarga (KK), yang hampir sebagian besar adalah masyarakat adat Bugis Binjai.

Hari itu, Sabtu (3/4), Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pulau terluar di Kayong Utara itu. Matahari cukup terik saat kami tiba di sana.

Begitu tiba, kami disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Air laut terlihat jernih, hamparan karang dan ikan berwarna warni tampak begitu jelas.

Setelah memasuki ke areal permukiman, kami disambut dengan ramah oleh warga penghuni pulau.

Sepintas, suasana permukiman di Pulau Serutu tidak jauh berbeda dengan permukiman atau kampung nelayan di daerah pesisir lainnya. Bedeng-bedeng kayu pengering ikan menjadi pemandangan.

Bedanya, rumah penduduk rata-rata dibangun berbentuk panggung setinggi 2-3 meter. Di bagian teras disekat menyerupai jendela menghadap ke laut. Sedangkan di bawah atau kolongnya dimanfaatkan untuk menyimpan barang-barang, seperti kayu bakar, perahu, jarring dan lain-lain.

Baca Juga :  Semah Laut di Pesisir Karimata

Ada juga yang memanfaatkannya untuk membuka usaha seperti warung atau tempat beristirahat sementara kala cuaca panas.

“Rumah-rumah di sini memang sengaja dibangun tinggi. Kerana kalau ada gelombang laut tidak masuk ke rumah. Selain itu bisa terbebas dari ancaman binantang buas,” kata Ambotang (67) salah seorang warga Pulau Serutu.

Menurutnya, pulau ini mulai dihuni sejak sekitar 1975. Sementara ia sendiri datang dan mulai bermukim di pulau tersebut sekitar 1981. Saat itu, ia datang sebagai nelayan menggunakan kapal dari Belitung sekadar menumpang bersandar di pulau tersebut. “Waktu itu di sini masih hutan. Penghuninya baru sedikit,” katanya. Dari situ ia kemudian menetap dan membangun rumah.

“Setelah puas berlayar, kami (suku Bugis Binjai) akhirnya memutuskan untuk menetap di sini. Cari ikan di sini,” lanjutnya.

Untuk bisa bertahan di Pulau Serutu bukanlah hal mudah. Mereka harus bisa melwati berbagai tantangan. Di antaranya adalah perubahan musim, sumber air tawar, dan serangan penyakit Malaria.

“Di sini tidak ada air bersih. Kami mengandalkan air hujan. Jika musim kemarau, kami harus cari air ke pulau lain,” bebernya.

“Belum lagi, jika Malaria datang, terpaksa harus bawa ke Betok, menggunakan kapal selama 1 jam,” sambungnya.

Sementara untuk menghadapi perubahan musim, kebiasaan masyarakat di pulau ini  selalu berpindah-pindah. Pada saat terjadi musim selatan atau gelombang besar penduduk banyak yang pindah ke balik pulau. Di sana tidak ada gelombang besar. “Paling yang bertahan di sini sebagian saja. Sebagian lainnya pindah ke balik pulau,” lanjutnya.

Baca Juga :  PLN Jaga Pasokan dan Keandalan Listrik Demi Ketahanan Energi NKRI

Menurut Ambotang, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama. Kecuali penduduk yang rumahnya kokoh akan berusaha bertahan di tempat itu. Namun jika warga yang biasanya memiliki kapal besar tetap akan berusaha mencari tempat yang aman.

“Sebab kalau mereka tetap di sini kapalnya tidak bisa sandar, makanya mereka pindah ke daerah yang tidak ada gelombangnya,” jelasnya.

Kepala Dusun Serutu Baso mengatakan, kondisi ini terpaksa mereka lakukan karena kehidupan nelayan sangat tergantung pada musim. Namun bagi Baso, dirinya tetap bertahan di pulau tersebut meskipun musim Selatan telah datang.

Yang menjadi persoalan, kata Baso, masyarakat di daerah itu adalah sulit untuk pergi berobat, karena mereka harus pergi ke pulau lain dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. “Memang ada petugas kesehatan yang kadang datang ke sini, hanya saja waktunya kan lama, nah kalau mendadak sakit kita juga harus bawa ke tempat yang lebih baik,” jelasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/