alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Aktivitas PT. CMI Dituding Rusak Kawasan TNGP

SUKADANA – Aktivitas keluar masuk pelayaran tongkang bauksit milik PT. Cita Mineral Investindo (CMI) di perairan Simpang Keramat, Kecamatan Simpang Hilir diduga telah merusak kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Lokasi yang terdampak tersebut dikabarkan menjadi tempat bekantan biasanya mecari makan.

“Di sini banyak tongkang yang keluar masuk sungai,  kayu banyak yang tumbang karena tagboat. Dulu sore-sore kita bisa liat bekatan di tepi sungai bergantungan, tapi sekarang, pohon yang di tepi sungai banyak yang tumbang, jadi jarang melihat bekantan di sini lagi,” keluh seorang warga yang identitasnya enggan disebutkan.

Dirinya berharap, agar pihak terkait segera mengembalikan kerusakan lingkungan yang saat ini mengancam keseimbangan alam di wilayah perairan Simpang Keramat tersebut. “Kita berharap pemerintah dan pihak terkait melakukan penghijauan di lokasi yang rusak, agar habitat di sini bisa mencari makan seperti dulu,” harapnya.

Sementara itu diinformasikan dia jika di lokasi tersebut sering kali terdapat tongkang berukuran besar, yang diperkirakan 230 feet sampai  270 feet. Kendaraan yang dimaksud dia membawa bauksit dari Pelabuhan Matan Jaya menuju ke kapal induk laut yang berada di perairan Kayong Utara. Akitivitasnya dipastikan dia berlangsung hampir setiap hari, bahkan sempat beberapa waktu lalu menabrak fender Jembatan Melano yang menjadi satu- satunya penghubung ke tiga kecamatan di Kayong Utara.

Kepala Balai TNGP Ketapang, M. Ari  Wibawanto menduga ada kawasan TNGP yang rusak akibat aktivitas pelayaran perusahaan- perusahaan di sekitar Sungai Matan di wilayah kerja Kabupaten Kayong Utara.

Baca Juga :  Nelayan 70 Tahun dikabarkan Hilang Tenggelam di Muara Rantau Panjang

“Dari hasil pengecekan ada satu titik kemungkinan yang mengalami kerusakan diduga akibat pelayaran yang menabrak kawasan TNGP.  Kami tidak bisa memastikan perusahaan mana yang melakukan itu. Sebab jalur itu tidak hanya dilakukan satu perusahaan, tapi banyak perusahaan,” terangnya, Kamis (16/4).

Untuk saat ini, pihaknya telah melakukan survei ke lapangan dan mengukur sejauh mana kerusakan yang terjadi  akibat aktivitas lalu lintas kendaraan di atas air. Apalagi kendaraan-kendaraan yang melintas, menurut dia, didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Sejauh ini mereka sedang melakukan pengkajian lebih dalam terkait kerusakan tersebut.

Ia pun mengingatkan kepada oknum perorangan atau coorporate yang melakukan kerusakan kawasan yang dilindungi, bisa dipidanakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

“Sanksi sesuai UU Nomor 5 Tahun 1990  yang intinya jika merubah betang alam dari kawasan konservasi, maka ada sanksi  itu bisa masuk pidana jika tertangkap oleh kami, maka hukuman denda  serta kurungan,” jelasnya.

Dikataka dia, banyak populasi hewan dilindungi terutama bekantan di Sungai Matan, yang harus dijaga keberlangsungan hidupnya. “Posisi habitat bekantan tidak hanya di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tetapi juga di seberang Sungai Matan. Kata lain hutan lindung dan hutan lainnya itu jangan sampai ditebang, karena bekantan itu bisa menyeberang sungai.  lokasi betul-betul dijaga dan dipelihara sebagai habitat bekantan,” harapnya.

Baca Juga :  Lagi, Truk Bermuatan Sembako Terguling

Untuk mencegah meluasnya kerusakan yang terjadi di kawasan TNGP, pihaknya telah membuat spanduk besar di tempat strategis di pinggiran sungai, agar tidak parkir apalagi menabrak pohon di pinggir sungai  tersebut.

“Saat ini kami telah melakukan upaya-upaya seperti membuat spanduk besar di sana, di kawasan kami membuat imbauan, agar tidak bersandar atau tidak menabrak di kawasan kami. itu ada dua titik satu di daerah Desa Batu Barat dan di daerah Makam Keramat,” jelasnya.

Sebelumnya beredar kabar jika lokasi tersebut terkena tongkang milik  PT. CIM. Namun hal tersebut buru-buru dibantah oleh pihak perusahaan. Corporate Communications Manager PT. CMI, Liya, mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut belum bisa dipastikan karena tongkang milik mereka. Sebab, lanjut dia, untuk loksi kerusakan belum bisa dipastikan berada bagian sebelah mana, apakah masuk dalam kawasan atau bukan?

Selain itu, mereka bersama pihak TNGP akan terus berupaya meningkatkan patroli bersama terkait lain.  “PT. CMI dan TNGP akan meningkatkan patroli bersama, dan untuk tongkang tersebut belum bisa dipastikan milik PT. CMI,” jelasnya.

Liya pun memastikan,  untuk tongkang milik PT. CMI  saat bersandar tidak sedang menyandari daerah kawasan. “Tongkang itu punya kita,  tapi tidak sedang bersandar di kawasan TNGP,” tutupnya. (dan)

 

SUKADANA – Aktivitas keluar masuk pelayaran tongkang bauksit milik PT. Cita Mineral Investindo (CMI) di perairan Simpang Keramat, Kecamatan Simpang Hilir diduga telah merusak kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Lokasi yang terdampak tersebut dikabarkan menjadi tempat bekantan biasanya mecari makan.

“Di sini banyak tongkang yang keluar masuk sungai,  kayu banyak yang tumbang karena tagboat. Dulu sore-sore kita bisa liat bekatan di tepi sungai bergantungan, tapi sekarang, pohon yang di tepi sungai banyak yang tumbang, jadi jarang melihat bekantan di sini lagi,” keluh seorang warga yang identitasnya enggan disebutkan.

Dirinya berharap, agar pihak terkait segera mengembalikan kerusakan lingkungan yang saat ini mengancam keseimbangan alam di wilayah perairan Simpang Keramat tersebut. “Kita berharap pemerintah dan pihak terkait melakukan penghijauan di lokasi yang rusak, agar habitat di sini bisa mencari makan seperti dulu,” harapnya.

Sementara itu diinformasikan dia jika di lokasi tersebut sering kali terdapat tongkang berukuran besar, yang diperkirakan 230 feet sampai  270 feet. Kendaraan yang dimaksud dia membawa bauksit dari Pelabuhan Matan Jaya menuju ke kapal induk laut yang berada di perairan Kayong Utara. Akitivitasnya dipastikan dia berlangsung hampir setiap hari, bahkan sempat beberapa waktu lalu menabrak fender Jembatan Melano yang menjadi satu- satunya penghubung ke tiga kecamatan di Kayong Utara.

Kepala Balai TNGP Ketapang, M. Ari  Wibawanto menduga ada kawasan TNGP yang rusak akibat aktivitas pelayaran perusahaan- perusahaan di sekitar Sungai Matan di wilayah kerja Kabupaten Kayong Utara.

Baca Juga :  Imbau Orangtua Awasi Anak Lebih Ketat

“Dari hasil pengecekan ada satu titik kemungkinan yang mengalami kerusakan diduga akibat pelayaran yang menabrak kawasan TNGP.  Kami tidak bisa memastikan perusahaan mana yang melakukan itu. Sebab jalur itu tidak hanya dilakukan satu perusahaan, tapi banyak perusahaan,” terangnya, Kamis (16/4).

Untuk saat ini, pihaknya telah melakukan survei ke lapangan dan mengukur sejauh mana kerusakan yang terjadi  akibat aktivitas lalu lintas kendaraan di atas air. Apalagi kendaraan-kendaraan yang melintas, menurut dia, didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Sejauh ini mereka sedang melakukan pengkajian lebih dalam terkait kerusakan tersebut.

Ia pun mengingatkan kepada oknum perorangan atau coorporate yang melakukan kerusakan kawasan yang dilindungi, bisa dipidanakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

“Sanksi sesuai UU Nomor 5 Tahun 1990  yang intinya jika merubah betang alam dari kawasan konservasi, maka ada sanksi  itu bisa masuk pidana jika tertangkap oleh kami, maka hukuman denda  serta kurungan,” jelasnya.

Dikataka dia, banyak populasi hewan dilindungi terutama bekantan di Sungai Matan, yang harus dijaga keberlangsungan hidupnya. “Posisi habitat bekantan tidak hanya di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tetapi juga di seberang Sungai Matan. Kata lain hutan lindung dan hutan lainnya itu jangan sampai ditebang, karena bekantan itu bisa menyeberang sungai.  lokasi betul-betul dijaga dan dipelihara sebagai habitat bekantan,” harapnya.

Baca Juga :  Enam Jabatan Tinggi Pratama di Kabupaten Kayong Utara akan Dilelang

Untuk mencegah meluasnya kerusakan yang terjadi di kawasan TNGP, pihaknya telah membuat spanduk besar di tempat strategis di pinggiran sungai, agar tidak parkir apalagi menabrak pohon di pinggir sungai  tersebut.

“Saat ini kami telah melakukan upaya-upaya seperti membuat spanduk besar di sana, di kawasan kami membuat imbauan, agar tidak bersandar atau tidak menabrak di kawasan kami. itu ada dua titik satu di daerah Desa Batu Barat dan di daerah Makam Keramat,” jelasnya.

Sebelumnya beredar kabar jika lokasi tersebut terkena tongkang milik  PT. CIM. Namun hal tersebut buru-buru dibantah oleh pihak perusahaan. Corporate Communications Manager PT. CMI, Liya, mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut belum bisa dipastikan karena tongkang milik mereka. Sebab, lanjut dia, untuk loksi kerusakan belum bisa dipastikan berada bagian sebelah mana, apakah masuk dalam kawasan atau bukan?

Selain itu, mereka bersama pihak TNGP akan terus berupaya meningkatkan patroli bersama terkait lain.  “PT. CMI dan TNGP akan meningkatkan patroli bersama, dan untuk tongkang tersebut belum bisa dipastikan milik PT. CMI,” jelasnya.

Liya pun memastikan,  untuk tongkang milik PT. CMI  saat bersandar tidak sedang menyandari daerah kawasan. “Tongkang itu punya kita,  tapi tidak sedang bersandar di kawasan TNGP,” tutupnya. (dan)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/