alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Januari, KPAD Endus Enam Kasus

SUKADANA – Januari baru saja dimasuki, tapi Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Kayong Utara telah menerima enam kasus kekerasan terhadap anak di kabupaten ini. Parahnya lagi, dua dari enam kasus tersebut merupakan kekerasan psikis.

“Bisa diartikan anak mengalami tekanan secara psikologis akibat permasalahan keluarga. Korbannya anak usia sekolah masih akibat permasalahan di rumah,” ungkap Ketua KPAD Kabupaten Kayong Utara Al-Ghazali kepada Pontianak Post. Dijelaskan dia bahwa yang dimaksud dengan kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, serta rasa tidak berdaya.

Mengenai kasus ini, pihaknya terus melakukan pendampingan. Kalau untuk psikologis, mereka telah melakukan konseling dan pendampingan secara sendiri, tanpa sampai ke laporan kepolisian. Namun dia memastikan, jika mereka menemukan unsur pidana di dalamnya, maka persoalan ini akan mereka bawa ke kepolisian. “Kalau ini kami melakukan pendampingan (dulu), tetapi kalau ada unsur pidana kami baru ke Polres,” sebutnya.

Kasus ini sendiri, diakui dia, di antaranya disebabkan karena para orang tua sedang dalam masalah keluarga. Selain itu, kata dia, juga akibat proses hukum. “Jadi lebih tertekan, cuma dalam klaster kami masuk ke kekerasan psikis. Kalau kekerasan psikis akibat permasalahan di dalam keluarga, jadi anak juga ikut merasa tertekan,” tuturnya.

Baca Juga :  Lokasi Wisata Tutup hingga 8 Juni

Sementara untuk anak yang dipekerjakan, tak dipungkiri dia masuk dalam kasus anak yang dipekerjakan dalam suatu kegiatan usaha. Sejauh ini pihaknya tidak dapat menjelaskan secara rinci. “Maaf kalau untuk anak yang dipekerjakan, kami tidak bisa menjelaskan,” lanjutnya.

Semantara itu,  salah satu warga, Toni Blair, menyayangkan bila hal tersebut terjadi. Sebab bagaimana pun, menurut dia, seorang anak harus benar-benar dilindungi. Dia berpandangan, bisa saja kasus tersebut terjadi lantaran terjadinya emosi tinggi.

Ya, mudah-mudahan saja hal seperti ini tidak kembali terjadi. Selain itu orang tua harus dapat menjaga emosi. Karena anak-anak pastinya tidak mengetahui apa yang sedang dialami permasalahan oleh orangtuanya,” ungkapnya.

Kasus kekerasan terhadap anak sempat mencuat pada Desember lalu. Seperti diberitakan, seorang  siswi 12 tahun menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oknum gurunya sendiri. Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kayong Utara,  Al-Ghazali membenarkan informasi tersebut. Kini pihaknya terus melakukan pendampingan dan berkoordinasi dengan Polres Kayong Utara.

“Korban umurnya 12 tahun, yang merupakan siswi di salah satu sekolah yang ada di Kayong Utara. Pendampingan dari KPAD sudah diberikan dari awal dan juga sudah berkoordinasi dengan pihak PGRI kecamatan, unit PPA Polres Kayong Utara, pihak sekolah dan pihak keluarga korban,” kata Al- Ghazali, 10 Desember lalu di Sukadana.

Baca Juga :  Warga Dukung Penataan Lokasi Wisata

Bupati Kayong Utara, Citra Duani sendiri sangat menyayangkan perbuatan yang diduga telah dilakukan oknum guru tersebut. Jika terbukti bersalah, ia berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal. Kepada pelaku, Citra juga berpesan agar segera bertobat.

“Dengan melakukan tindakan kekerasan saja sudah salah, apalagi dibarengi tindakan seksual. Hal seperti ini patut mendapatkan sanksi hukuman setimpal. Segeralah bertobat,” katanya saat diwawancarai Pontianak Post pada 11 Desember.

Seharusnya, sambung Citra, guru merupakan pendidik, memberikan contoh yang baik terhadap muridnya, bukan melakukan tindakan kekerasan seperti ini. Ia pun berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi di Kayong Utara. Tentunya, sambung dia, perlakuan ini akan berdampak serius terhadap siswi yang sedang menuntut ilmu, orang tua dan keluarganya.

“Mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi lagi. Sebagai panutan tentunya guru dapat mengarahkan agar siswanya ke jalan yang benar, agar menjadi orang yang pintar, terampil, berakhlak mulia, sopan santun dan berbudi pekerti luhur,” pesannya. (dan)

 

 

SUKADANA – Januari baru saja dimasuki, tapi Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Kayong Utara telah menerima enam kasus kekerasan terhadap anak di kabupaten ini. Parahnya lagi, dua dari enam kasus tersebut merupakan kekerasan psikis.

“Bisa diartikan anak mengalami tekanan secara psikologis akibat permasalahan keluarga. Korbannya anak usia sekolah masih akibat permasalahan di rumah,” ungkap Ketua KPAD Kabupaten Kayong Utara Al-Ghazali kepada Pontianak Post. Dijelaskan dia bahwa yang dimaksud dengan kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, serta rasa tidak berdaya.

Mengenai kasus ini, pihaknya terus melakukan pendampingan. Kalau untuk psikologis, mereka telah melakukan konseling dan pendampingan secara sendiri, tanpa sampai ke laporan kepolisian. Namun dia memastikan, jika mereka menemukan unsur pidana di dalamnya, maka persoalan ini akan mereka bawa ke kepolisian. “Kalau ini kami melakukan pendampingan (dulu), tetapi kalau ada unsur pidana kami baru ke Polres,” sebutnya.

Kasus ini sendiri, diakui dia, di antaranya disebabkan karena para orang tua sedang dalam masalah keluarga. Selain itu, kata dia, juga akibat proses hukum. “Jadi lebih tertekan, cuma dalam klaster kami masuk ke kekerasan psikis. Kalau kekerasan psikis akibat permasalahan di dalam keluarga, jadi anak juga ikut merasa tertekan,” tuturnya.

Baca Juga :  Hari-hari Keluhan Warga akan Rusaknya Jalan

Sementara untuk anak yang dipekerjakan, tak dipungkiri dia masuk dalam kasus anak yang dipekerjakan dalam suatu kegiatan usaha. Sejauh ini pihaknya tidak dapat menjelaskan secara rinci. “Maaf kalau untuk anak yang dipekerjakan, kami tidak bisa menjelaskan,” lanjutnya.

Semantara itu,  salah satu warga, Toni Blair, menyayangkan bila hal tersebut terjadi. Sebab bagaimana pun, menurut dia, seorang anak harus benar-benar dilindungi. Dia berpandangan, bisa saja kasus tersebut terjadi lantaran terjadinya emosi tinggi.

Ya, mudah-mudahan saja hal seperti ini tidak kembali terjadi. Selain itu orang tua harus dapat menjaga emosi. Karena anak-anak pastinya tidak mengetahui apa yang sedang dialami permasalahan oleh orangtuanya,” ungkapnya.

Kasus kekerasan terhadap anak sempat mencuat pada Desember lalu. Seperti diberitakan, seorang  siswi 12 tahun menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oknum gurunya sendiri. Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kayong Utara,  Al-Ghazali membenarkan informasi tersebut. Kini pihaknya terus melakukan pendampingan dan berkoordinasi dengan Polres Kayong Utara.

“Korban umurnya 12 tahun, yang merupakan siswi di salah satu sekolah yang ada di Kayong Utara. Pendampingan dari KPAD sudah diberikan dari awal dan juga sudah berkoordinasi dengan pihak PGRI kecamatan, unit PPA Polres Kayong Utara, pihak sekolah dan pihak keluarga korban,” kata Al- Ghazali, 10 Desember lalu di Sukadana.

Baca Juga :  Lokasi Wisata Tutup hingga 8 Juni

Bupati Kayong Utara, Citra Duani sendiri sangat menyayangkan perbuatan yang diduga telah dilakukan oknum guru tersebut. Jika terbukti bersalah, ia berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal. Kepada pelaku, Citra juga berpesan agar segera bertobat.

“Dengan melakukan tindakan kekerasan saja sudah salah, apalagi dibarengi tindakan seksual. Hal seperti ini patut mendapatkan sanksi hukuman setimpal. Segeralah bertobat,” katanya saat diwawancarai Pontianak Post pada 11 Desember.

Seharusnya, sambung Citra, guru merupakan pendidik, memberikan contoh yang baik terhadap muridnya, bukan melakukan tindakan kekerasan seperti ini. Ia pun berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi di Kayong Utara. Tentunya, sambung dia, perlakuan ini akan berdampak serius terhadap siswi yang sedang menuntut ilmu, orang tua dan keluarganya.

“Mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi lagi. Sebagai panutan tentunya guru dapat mengarahkan agar siswanya ke jalan yang benar, agar menjadi orang yang pintar, terampil, berakhlak mulia, sopan santun dan berbudi pekerti luhur,” pesannya. (dan)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/