alexametrics
32 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Tiga Individu Orangutan Ditranslokasikan di Bukit Kubang

SUKADANA  – Tiga individu Orangutan ditranslokasikan di Bukit Kubang, Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Senin  (23/3). Bukit Kubang merupakan bagian dari Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).  Tiga orangutan tersebut merupakan satwa terdampak kebakaran hutan sepanjang tahun 2019.

Untuk diketahui, kegiatan translokasi berjalan dengan lancar hasil kerjasama yang baik Tim Satgas Rescue Satwa yang terdiri dari Balai TANAGUPA, BKSDA Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Tim gabungan ini pertama kali dibentuk pada awal bulan Maret 2020 untuk mengantisipasi dan menangani dampak kebakaran hutan dan lahan bagi satwa liar yang mungkin terjadi di tahun 2020 di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Translokasi merupakan kegiatan penyelamatan/rescue dan pemindahan orangutan liar dari lokasi alami (yang sedang mengalami kerusakan) ke habitat alami lainnya.

Ketiga individu Orangutan tersebut merupakan satwa yang direscue dari luar Kawasan TANAGUPA atas nama Inap (jantan, sekitar 20 tahun), Rawa (jantan, sekitatr 2 tahun) dan Mama Rawa (betina, sekitar 15 tahun).

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Teluk Melano Hazbullah menceritakan, sebelum dilakukan translokasi, Inap, Rawa dan Mama Rawa telah melewati proses penyelamatan (rescue), perawatan di YIARI Ketapang serta pemeriksaan kesehatan.

Orangutan yang ditranslokasikan, kata dia, telah dinyatakan sehat oleh Dokter YIARI, tidak ditemukan gejala dari suatu penyakit tertentu dan masih memiliki perilaku liar (aktif, lincah, agresif).

Baca Juga :  Sekelumit Kisah dari Lembaga Konservasi Orangutan di Sintang

Ia menceritakan pada saat proses translokasi bergerak dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Ketapang sejak pukul 03.00 Pagi. Target tim adalah sampai di Kantor SPTN Wil II Teluk Melano sebelum pukul  06. 00 Pagi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemacetan serta mengurangi potensi kerumunan massa sepanjang perjalanan.

Tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Batu Barat dengan waktu tempuh 1 jam. Dari Desa Batu Barat, Inap, Rawa dan Mama Rawa kemudian diangkut menggunakan long boat menuju Bukit Kubang. Transportasi air merupakan satu satunya pilihan untuk menuju Bukit Kubang.

“Kondisi ini merupakan salah satu alasan dipilihnya Bukit Kubang sebagai lokasi translokasi. Bukit Kubang cukup jauh dari pemukiman, memiliki ketersediaan pakan yang memadai dan kepadatan Orangutan yang rendah,” ujar Hazbullah, , Kamis (26/3).

Dikatakan dia, sepanjang Maret 2018 – September 2019 terdapat lima individu Orangutan telah dipindahkan ke Bukit Kubang. Inap, Rawa dan Mama Rawa menambah populasi orangutan translokasi di Bukit Kubang.

Selanjutnya,  ia mengatakan setelah menyusuri Sungai Kubang sekitar satu jam, tim tiba di Bukit Kubang. Ketiga individu Orangutan kemudian diangkut menggunakan kandang ke titik translokasi. Inap dilepas terlebih dahulu kemudian Rawa dan Mama Rawa.

Sementara itu, Direktur program Yayasan IAR Indonesia Karmele L. Sanchez mengatakan, Inap, Rawa dan Mama Rawa merupakan satwa terdampak kebakaran hutan sepanjang tahun 2019.

Baca Juga :  PJU tak Nyala, Dishub Lakukan Pengecekan

Ketiganya diselamatkan di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang oleh tim gabungan BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang dan YIARI. Inap ditemukan di Desa Sungai Pelang pada Jumat 24 Januari 2020.

Inap masuk ke kebun warga untuk mencari makan dikarenakan rusaknya kawasan hutan akibat kebakaran, penebangan liar dan pertambangan ilegal. Sementara itu, Rawa dan induknya diselamatkan di Jalan Pelang – Tumbang Titi Km 9 pada 02 Februari 2020. Anak dan induk Orangutan ini menyeberang Jalan raya untuk mencari habitat baru setelah hutan yang ada disekitarnya terbakar pada tahun 2019.

Mama Rawa terindikasi mengalami malnutrisi akibat kelaparan selama berbulan bulan sementara Inap memiliki luka lecet di tangan saat warga masyarakat mencoba menangkap Inap menggunakan penjerat.

“Penyelamatan dan translokasi dilakukan mengingat tidak ada lagi kawasan hutan disekitarnya yang dapat menjadi habitat untuk bertahan hidup bagi ke-tiga individu Orangutan tersebut. Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja YIARI,”sebutnya.

“Hilangnya hutan dengan skala sebesar ini, membuat tidak  ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan ketika orangutan karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi,”terangnya. (dan)

SUKADANA  – Tiga individu Orangutan ditranslokasikan di Bukit Kubang, Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Senin  (23/3). Bukit Kubang merupakan bagian dari Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).  Tiga orangutan tersebut merupakan satwa terdampak kebakaran hutan sepanjang tahun 2019.

Untuk diketahui, kegiatan translokasi berjalan dengan lancar hasil kerjasama yang baik Tim Satgas Rescue Satwa yang terdiri dari Balai TANAGUPA, BKSDA Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Tim gabungan ini pertama kali dibentuk pada awal bulan Maret 2020 untuk mengantisipasi dan menangani dampak kebakaran hutan dan lahan bagi satwa liar yang mungkin terjadi di tahun 2020 di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Translokasi merupakan kegiatan penyelamatan/rescue dan pemindahan orangutan liar dari lokasi alami (yang sedang mengalami kerusakan) ke habitat alami lainnya.

Ketiga individu Orangutan tersebut merupakan satwa yang direscue dari luar Kawasan TANAGUPA atas nama Inap (jantan, sekitar 20 tahun), Rawa (jantan, sekitatr 2 tahun) dan Mama Rawa (betina, sekitar 15 tahun).

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Teluk Melano Hazbullah menceritakan, sebelum dilakukan translokasi, Inap, Rawa dan Mama Rawa telah melewati proses penyelamatan (rescue), perawatan di YIARI Ketapang serta pemeriksaan kesehatan.

Orangutan yang ditranslokasikan, kata dia, telah dinyatakan sehat oleh Dokter YIARI, tidak ditemukan gejala dari suatu penyakit tertentu dan masih memiliki perilaku liar (aktif, lincah, agresif).

Baca Juga :  Tahun Ini, 1,6 Kilometer Diperbaiki

Ia menceritakan pada saat proses translokasi bergerak dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Ketapang sejak pukul 03.00 Pagi. Target tim adalah sampai di Kantor SPTN Wil II Teluk Melano sebelum pukul  06. 00 Pagi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemacetan serta mengurangi potensi kerumunan massa sepanjang perjalanan.

Tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Batu Barat dengan waktu tempuh 1 jam. Dari Desa Batu Barat, Inap, Rawa dan Mama Rawa kemudian diangkut menggunakan long boat menuju Bukit Kubang. Transportasi air merupakan satu satunya pilihan untuk menuju Bukit Kubang.

“Kondisi ini merupakan salah satu alasan dipilihnya Bukit Kubang sebagai lokasi translokasi. Bukit Kubang cukup jauh dari pemukiman, memiliki ketersediaan pakan yang memadai dan kepadatan Orangutan yang rendah,” ujar Hazbullah, , Kamis (26/3).

Dikatakan dia, sepanjang Maret 2018 – September 2019 terdapat lima individu Orangutan telah dipindahkan ke Bukit Kubang. Inap, Rawa dan Mama Rawa menambah populasi orangutan translokasi di Bukit Kubang.

Selanjutnya,  ia mengatakan setelah menyusuri Sungai Kubang sekitar satu jam, tim tiba di Bukit Kubang. Ketiga individu Orangutan kemudian diangkut menggunakan kandang ke titik translokasi. Inap dilepas terlebih dahulu kemudian Rawa dan Mama Rawa.

Sementara itu, Direktur program Yayasan IAR Indonesia Karmele L. Sanchez mengatakan, Inap, Rawa dan Mama Rawa merupakan satwa terdampak kebakaran hutan sepanjang tahun 2019.

Baca Juga :  Sekelumit Kisah dari Lembaga Konservasi Orangutan di Sintang

Ketiganya diselamatkan di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang oleh tim gabungan BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang dan YIARI. Inap ditemukan di Desa Sungai Pelang pada Jumat 24 Januari 2020.

Inap masuk ke kebun warga untuk mencari makan dikarenakan rusaknya kawasan hutan akibat kebakaran, penebangan liar dan pertambangan ilegal. Sementara itu, Rawa dan induknya diselamatkan di Jalan Pelang – Tumbang Titi Km 9 pada 02 Februari 2020. Anak dan induk Orangutan ini menyeberang Jalan raya untuk mencari habitat baru setelah hutan yang ada disekitarnya terbakar pada tahun 2019.

Mama Rawa terindikasi mengalami malnutrisi akibat kelaparan selama berbulan bulan sementara Inap memiliki luka lecet di tangan saat warga masyarakat mencoba menangkap Inap menggunakan penjerat.

“Penyelamatan dan translokasi dilakukan mengingat tidak ada lagi kawasan hutan disekitarnya yang dapat menjadi habitat untuk bertahan hidup bagi ke-tiga individu Orangutan tersebut. Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja YIARI,”sebutnya.

“Hilangnya hutan dengan skala sebesar ini, membuat tidak  ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan ketika orangutan karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi,”terangnya. (dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/