alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Dusun Sidorejo Gagal Panen saat Dilanda Bajir

SUKADANA – Lumbung padi Kayong Utara yang terletak  di Dusun Sidorejo, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, terancam gagal tanam akibat daerah tersebut sering terendam air beberapa minggu belakangan ini.

“Kerugian material sudah pasti, apalagi masyarakat di sana mayoritas petani. Beberapa  petani di sana menanam, beberapa kali busuk padinya karena terendam air terus. Terus mau dijadikan apa masyarakat kalau pemerintah hanya ngomong dan janji selama ini namun tidak terealisasi,” kata salah seorang tokoh masyarakat Kirno, Selasa (26/10).

Menurutnya, sebanyak kurang lebih 510 hektare  hamparan sawah di daerah tersebut  terendam air lebih dari sepekan. Banjir tersebut melanda, saat hujan turun dengan insentisitas tinggi akibat dari aliran sungai yang mengalami pendangkalan, sehingga padi yang baru ditanam petani setempat membusuk karena terendam air terlalu lama.

“Air di situ  tidak seperti pasang surut air laut, bisa berminggu-minggu, ditambah lagi sampai sekarang padi  masih terendam. Tergantung curah hujan sih. Kalau airnya deras bisa satu sampai dua minggu baru bisa turun kering airnya,” jelasnya.

Baca Juga :  KLM Sinar Kencana Bermuatan Pupuk Karam

Ia pun menceritakan, dusun yang dihuni 136 kepala keluarga tersebut sering dijadikan tempat ajang janji politik saat musim pemilihan umum tiba. Janji apapun telah sampai ke telinga mereka seperti normalisasi sungai yang memiliki panjang 7 kilometer. Namun sampai saat ini, diungkapkan dia, Sungai Benawai  tidak terawat, sehingga berdampak kepada petani setempat.

“Kalau bisa jangan hanya ngomong saja, Pemda sudah lama berjanji dari zaman ke zaman tidak pernah terealisasi sampai  sekarang. Intinya cuman janji saja. Ada beberapa kali dari Pemda maupun DPRD itu pernah ke sana, itu yang paling dibutuhkan masyarakat yang belum terwujud,” katanya.

Dusun Sidorejo yang berada di kaki Gunung Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) selama ini terkenal sebagai lumbung padi di daerah setempat. Padi dari dusun tersebut bisa menghasilkan beras lebih kurang 2.000 ton setiap tahunnya. Namun sejak adanya pendangkalan Sungai  Benawai membuat hasil produktifitas bidang pertanian menurun drastis sampai saat ini.

Baca Juga :  Menuju Surga Tanah Bertuah

“Kalau dulu di sini terkenal jadi lumbung padi, sejak beberapa tahun ini  sudah berubah jadi lubung air karena sawahnya sering terendam air,” Kirno.

Sementara,  Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Kayong Utara, Hery Safuan, mengatakan rencana Pemda Kayong Utara mendapatkan bantuan alat dari Pemerintah Provinsi untuk melakukan normalisasi Sungai Benawai. Harapan dia semua bisa  direalisasikan tahun ini. Saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi kepada pihak terkait agar bisa terlaksana secepat mungkin.

“Barang itu rencanya dapat  bantuan, tapi belum tahu kapan, masih menunggu jawaban dari Balai Wilayah Sungai  Kalimantan Barat, intinya kami siap untuk membantu pekerjaan itu,” katanya. (dan)

SUKADANA – Lumbung padi Kayong Utara yang terletak  di Dusun Sidorejo, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, terancam gagal tanam akibat daerah tersebut sering terendam air beberapa minggu belakangan ini.

“Kerugian material sudah pasti, apalagi masyarakat di sana mayoritas petani. Beberapa  petani di sana menanam, beberapa kali busuk padinya karena terendam air terus. Terus mau dijadikan apa masyarakat kalau pemerintah hanya ngomong dan janji selama ini namun tidak terealisasi,” kata salah seorang tokoh masyarakat Kirno, Selasa (26/10).

Menurutnya, sebanyak kurang lebih 510 hektare  hamparan sawah di daerah tersebut  terendam air lebih dari sepekan. Banjir tersebut melanda, saat hujan turun dengan insentisitas tinggi akibat dari aliran sungai yang mengalami pendangkalan, sehingga padi yang baru ditanam petani setempat membusuk karena terendam air terlalu lama.

“Air di situ  tidak seperti pasang surut air laut, bisa berminggu-minggu, ditambah lagi sampai sekarang padi  masih terendam. Tergantung curah hujan sih. Kalau airnya deras bisa satu sampai dua minggu baru bisa turun kering airnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Menuju Surga Tanah Bertuah

Ia pun menceritakan, dusun yang dihuni 136 kepala keluarga tersebut sering dijadikan tempat ajang janji politik saat musim pemilihan umum tiba. Janji apapun telah sampai ke telinga mereka seperti normalisasi sungai yang memiliki panjang 7 kilometer. Namun sampai saat ini, diungkapkan dia, Sungai Benawai  tidak terawat, sehingga berdampak kepada petani setempat.

“Kalau bisa jangan hanya ngomong saja, Pemda sudah lama berjanji dari zaman ke zaman tidak pernah terealisasi sampai  sekarang. Intinya cuman janji saja. Ada beberapa kali dari Pemda maupun DPRD itu pernah ke sana, itu yang paling dibutuhkan masyarakat yang belum terwujud,” katanya.

Dusun Sidorejo yang berada di kaki Gunung Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) selama ini terkenal sebagai lumbung padi di daerah setempat. Padi dari dusun tersebut bisa menghasilkan beras lebih kurang 2.000 ton setiap tahunnya. Namun sejak adanya pendangkalan Sungai  Benawai membuat hasil produktifitas bidang pertanian menurun drastis sampai saat ini.

Baca Juga :  Tangkal Karhutla, Warga Uji Pemadam Mini

“Kalau dulu di sini terkenal jadi lumbung padi, sejak beberapa tahun ini  sudah berubah jadi lubung air karena sawahnya sering terendam air,” Kirno.

Sementara,  Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Kayong Utara, Hery Safuan, mengatakan rencana Pemda Kayong Utara mendapatkan bantuan alat dari Pemerintah Provinsi untuk melakukan normalisasi Sungai Benawai. Harapan dia semua bisa  direalisasikan tahun ini. Saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi kepada pihak terkait agar bisa terlaksana secepat mungkin.

“Barang itu rencanya dapat  bantuan, tapi belum tahu kapan, masih menunggu jawaban dari Balai Wilayah Sungai  Kalimantan Barat, intinya kami siap untuk membantu pekerjaan itu,” katanya. (dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/