alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Tantangan Pelajar Ikut Ulangan Daring di Pedalaman Ketapang

Tempuh Berjam-jam Hingga Bermalam di Perjalanan

Langkah Resi, agak tergesa pagi itu. Dia telah menyiapkan segala keperluannya, buku pelajaran, alat tulis dan pastinya ponsel andalannya. Menggunakan sepeda motor pun telah mendapat restu dari orang tuanya. “Ke Sandai jangan singah-singah ya. Masa Covid-19 begini mesti waspada,” pesan ayahnya yang masih terngiang di telinganya sambil menyusuri jalan tanah berbatu Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Laur, Kabupaten Ketapang.

AHMAD SOFI-IRWIN, Ketapang

Jarak tempuh dari kampungnya ke Sandai sekitar 4 jam perjalanan. Dia memilih Sandai karena memang di sana sinyal untuk mendukung ulangan daring (online) yang dia akan laksanakan. “Di kampung tidak ada sinyal. Di kota kecamatan ada, tapi sering juga gangguan, jadi terpaksa ke kota kecamatan tetangga yakni, Sandai. Di sana pun laptop berbagi dengan teman dari Randau,” ujar Resi, salah satu siswi kelas X jurusan Multimedia SMK Santo Petrus Ketapang.

Hari itu memang jadwal baginya dan teman-teman sekelasnya mengerjakan ulangan umum secara daring. Semenjak pandemi Covid-19 kegiatan belajar mengajar memang dialihkan dengan kegiatan belajar dari rumah. Tentu sebagai evaluasi untuk kegiatan proses belajar siswa, apalagi terkait dengan menjelang akhir tahun ajaran maka pihak sekolah melaksanakan kegiatan ulangan umum.

“Tahun ini memang sangat berbeda, akibat pandemi ini berpengaruh pada proses belajar siswa-siswi termasuk kita harus melaksanakan ulangan umum secara online, dari tanggal 3 Juni hingga 11 Juni mendatang. Teknisnya soal kita kirim lewat grup Whats App”, ungkap Darwis Alfonsus, salah satu guru yang juga menjabat Waka Humas SMK Santo Petrus Ketapang.

Baca Juga :  Gubernur Nobatkan WHW sebagai Pelaku Usaha Terbaik

Siswi lainnya, Yuliana Sonya, yang berasal dari kampung Karang Dangin Kecamatan Jelai Hulu mengungkapkan bahwa orang tuanya harus merogoh kocek lebih dalam untuk dapat membiayai transportasi, penginapan dan membeli kuota agar dia bisa mengikuti ulangan online di kota kecamatan. “Saya mesti nginap karena lokasi sinyal jauh dari tempat tinggal saya dan tentunya harus cukup uang untuk biaya kuota,” ujar siswi kelas XI SMK Santo Petrus ini.

Perjuangan para pelajar ini untuk mengikuti ulangan daring memang cukup beragam. Memang ada desa yang memfasilitasi para pelajar itu untuk ulangan daring di kantor desa yang tersedia fasilitas wifi, namun untuk penggunaanya pun ada desa yang meminta surat izin tertulis penggunaan wifi. Ada pula para pelajar yang harus masuk ke kebun sawit perusahaan di mana ada daerah-daerah tertentu sinyal internet cukup baik.

Sementara itu, beberapa perusahaan memang menutup atau membatasi akses masuk ke lokasi perusahaan terkait kebijakan pencegahan Covid-19. Ada pula karena keterbatasan secara ekonomi, pelajar tidak memiliki fasilitas seperti ponsel smartphone. Untuk meminjam menggunakan ponsel milik orang lain tentu mereka agak enggan atau malu.

Baca Juga :  Jembatan Ambruk, Jalan Manis Mata - Air Upas Lumpuh

Infrastruktur internet yang mendukung kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan saat pandemi Covid 19 ini memang belum memadai. Ini tentu harus menjadi skala prioritas dari pihak terkait khususnya pemerintah untuk melengkapi hal ini, mengingat proses belajar mengajar secara aktif di sekolah belum dapat dipastikan terkait situasi pandemi Covid 19 ini.

“Kita memang ada opsi ya dari sekolah bisa secara online seperti ini, bisa secara offline juga dengan mendistribusikan soal atau bahan pengajaran ke titik-titik tertentu yang dapat dijangkau oleh para siswa-siswi khususnya yang dari kecamatan-kecamatan, namun tentu hal ini juga beresiko, tapi ya tetap harus kita lakukan, tapi kita berharaplah infrastruktur BTS atau penyedia sinyal internet ini agar dapat terfasilitasi lebih merata hingga pelosok,” pungkas Darwis.

Kebijakan untuk belajar di rumah adalah salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam menghadapi pandemic Covid-19. Namun tak semua daerah di Indonesia ini terjangkau dengan fasilitas internet sebagai kebutuhan penunjang dari kegiatan ini. Tentu harus ada terobosan dan opsi-opsi sebagai solusi untuk mengatasi hal ini dengan tetap memprioritaskan faktor kesehatan dan keselamatan tenaga pendidik dan peserta didik di tengah pandemi ini. (*)

Tempuh Berjam-jam Hingga Bermalam di Perjalanan

Langkah Resi, agak tergesa pagi itu. Dia telah menyiapkan segala keperluannya, buku pelajaran, alat tulis dan pastinya ponsel andalannya. Menggunakan sepeda motor pun telah mendapat restu dari orang tuanya. “Ke Sandai jangan singah-singah ya. Masa Covid-19 begini mesti waspada,” pesan ayahnya yang masih terngiang di telinganya sambil menyusuri jalan tanah berbatu Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Laur, Kabupaten Ketapang.

AHMAD SOFI-IRWIN, Ketapang

Jarak tempuh dari kampungnya ke Sandai sekitar 4 jam perjalanan. Dia memilih Sandai karena memang di sana sinyal untuk mendukung ulangan daring (online) yang dia akan laksanakan. “Di kampung tidak ada sinyal. Di kota kecamatan ada, tapi sering juga gangguan, jadi terpaksa ke kota kecamatan tetangga yakni, Sandai. Di sana pun laptop berbagi dengan teman dari Randau,” ujar Resi, salah satu siswi kelas X jurusan Multimedia SMK Santo Petrus Ketapang.

Hari itu memang jadwal baginya dan teman-teman sekelasnya mengerjakan ulangan umum secara daring. Semenjak pandemi Covid-19 kegiatan belajar mengajar memang dialihkan dengan kegiatan belajar dari rumah. Tentu sebagai evaluasi untuk kegiatan proses belajar siswa, apalagi terkait dengan menjelang akhir tahun ajaran maka pihak sekolah melaksanakan kegiatan ulangan umum.

“Tahun ini memang sangat berbeda, akibat pandemi ini berpengaruh pada proses belajar siswa-siswi termasuk kita harus melaksanakan ulangan umum secara online, dari tanggal 3 Juni hingga 11 Juni mendatang. Teknisnya soal kita kirim lewat grup Whats App”, ungkap Darwis Alfonsus, salah satu guru yang juga menjabat Waka Humas SMK Santo Petrus Ketapang.

Baca Juga :  Tahun Ini Mulai Diperbaiki

Siswi lainnya, Yuliana Sonya, yang berasal dari kampung Karang Dangin Kecamatan Jelai Hulu mengungkapkan bahwa orang tuanya harus merogoh kocek lebih dalam untuk dapat membiayai transportasi, penginapan dan membeli kuota agar dia bisa mengikuti ulangan online di kota kecamatan. “Saya mesti nginap karena lokasi sinyal jauh dari tempat tinggal saya dan tentunya harus cukup uang untuk biaya kuota,” ujar siswi kelas XI SMK Santo Petrus ini.

Perjuangan para pelajar ini untuk mengikuti ulangan daring memang cukup beragam. Memang ada desa yang memfasilitasi para pelajar itu untuk ulangan daring di kantor desa yang tersedia fasilitas wifi, namun untuk penggunaanya pun ada desa yang meminta surat izin tertulis penggunaan wifi. Ada pula para pelajar yang harus masuk ke kebun sawit perusahaan di mana ada daerah-daerah tertentu sinyal internet cukup baik.

Sementara itu, beberapa perusahaan memang menutup atau membatasi akses masuk ke lokasi perusahaan terkait kebijakan pencegahan Covid-19. Ada pula karena keterbatasan secara ekonomi, pelajar tidak memiliki fasilitas seperti ponsel smartphone. Untuk meminjam menggunakan ponsel milik orang lain tentu mereka agak enggan atau malu.

Baca Juga :  45 Anggota DPRD Ketapang Periode 2019-2024 Dilantik

Infrastruktur internet yang mendukung kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan saat pandemi Covid 19 ini memang belum memadai. Ini tentu harus menjadi skala prioritas dari pihak terkait khususnya pemerintah untuk melengkapi hal ini, mengingat proses belajar mengajar secara aktif di sekolah belum dapat dipastikan terkait situasi pandemi Covid 19 ini.

“Kita memang ada opsi ya dari sekolah bisa secara online seperti ini, bisa secara offline juga dengan mendistribusikan soal atau bahan pengajaran ke titik-titik tertentu yang dapat dijangkau oleh para siswa-siswi khususnya yang dari kecamatan-kecamatan, namun tentu hal ini juga beresiko, tapi ya tetap harus kita lakukan, tapi kita berharaplah infrastruktur BTS atau penyedia sinyal internet ini agar dapat terfasilitasi lebih merata hingga pelosok,” pungkas Darwis.

Kebijakan untuk belajar di rumah adalah salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam menghadapi pandemic Covid-19. Namun tak semua daerah di Indonesia ini terjangkau dengan fasilitas internet sebagai kebutuhan penunjang dari kegiatan ini. Tentu harus ada terobosan dan opsi-opsi sebagai solusi untuk mengatasi hal ini dengan tetap memprioritaskan faktor kesehatan dan keselamatan tenaga pendidik dan peserta didik di tengah pandemi ini. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/