alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Bekuk Tujuh Tersangka Prostitusi Anak

KETAPANG – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Ketapang mengungkap praktik perdagangan anak di bawah umur yang terjadi di Kecamatan Kendawangan. Tujuh pelaku berhasil ditangkap polisi, terdiri dari empat perempuan yang menjual korban bersama tiga pria hidung belang. Ketujuh pelaku telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolres Ketapang melalui Kasubbag Humas Polres Ketapang, AKP Mukhlis, mengatakan, pada Selasa (5/1) pihaknya menerima adanya laporan terkait prostitusi anak di Kecamatan Kendawangan. Menindaklanjuti laporan tersebut, Satreskrim Polres Ketapang kemudian melakukan penyelidikan. “Pada 5 Januari 2021 kita menerima laporan bahwa telah terjadi perdangangan atau prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur yang terjadi di wilayah Kecamatan Kendawangan,” katanya, kemarin (6/1).

“Di hari itu juga sekitar pukul 13.00 WIB, kami langsung melakukan penyelidikan dan langsung mengamankan tujuh pelaku yang diduga sebagai muncikari dan pria hidung belang. Mereka kami amankan di Kecamatan Kendawangan,” lanjut Mukhlis.

Dia menjelaskan, tujuh dari pelaku tersebut terdiri dari empat perempuan yang berperan sebagai muncikari. Sedangkan tiga lainnya, disebutkan dia, adalah pria hidung belang yang memesan korban kepada muncikari. Para muncikari tersebut, dibeberkan dia, berinisial AY, HER, DA, dan HAR. Sedangkan pria hidung belang yang diamankan mereka adalah A, N, dan H. “Kejadian perdagangan anak ini dilakukan di waktu dan tempat yang berbeda,” ungkapnya.

Korban yang dijual oleh muncikari ini, menurutnya, masih berusia 16 tahun. Kepada mereka korban menceritakan bahwa kejadian bermula pada pertengahan November 2020 lalu. Dari pengakuan korban kepada mereka bahwa korban dijemput oleh AY, HER, DA, dan HAR di rumahnya yang tidak jauh dari rumah para pelaku. Diceritakan Mukhlis bahwa korban kemudian diajak jalan-jalan ke Pasar Kendawangan. “Namun di tengah perjalanan, pelaku membawa korban ke lokasi Pantai Pulau Kucing, Kecamatan Kendawangan,” ujar Mukhlis.

Baca Juga :  Tokoh Masyarakat: Junaidi-Sahrani Pas untuk Pimpin Ketapang

Di tempat ini, menurut Mukhlis, sudah ada pelaku A menunggu. Para muncikari ini, dipaparkan Mukhlis, terlebih dahulu menemui pelaku A untuk melakukan transaksi. Selanjutnya, dia menambahkan, bahwa korban ditinggalkan oleh para muncukari bersama A yang kemudian menyetubuhi korban di dalam mobil pelaku. “Setelah selesai, korban lalu dijemput kembali oleh keempat pelaku muncikari. Selanjutnya korban diberi uang Rp1 juta dan dibelikan sebuah handphone seharga Rp600 ribu sebagai imbalan atas jasanya melayani pelaku A,” paparnya.

Selang beberapa hari kemudian masih di bulan November 2020, korban, menurut Mukhlis, kembali dijual oleh pelaku AY kepada pelaku A, dengan modus yang sama, pelaku menunggu di lokasi pantai. Setelah korban melayani pelaku A, korban, menurutnya, diberikan imbalan uang sebesar Rp125 ribu. Dia juga menambahkan bahwa beberapa hari kemudian, korban kembali dijemput oleh pelaku AY dan diantar ke pantai untuk dijual kepada pelaku yang sama yaitu pelaku A. Korban pun, kata dia, kembali diberi imbalan uang Rp125 ribu oleh AY.

“Jadi, menurut pengakuan korban ini, dia sudah tiga kali dijual oleh pelaku AY kepada pelaku A, dengan modus dijemput oleh pelaku ke rumah dan diantar ke lokasi pantai. Setelahnya korban diberikan imbalan uang dan HP,” papar Mukhlis.

Baca Juga :  Penyegelan Hotel Jadi Warning, PHRI dan KPPAD Apresiasi Pemkot

Masih di bulan yang sama, dia menjelaskan bahwa korban kembali dijual oleh pelaku. Kali ini, dia menambahkan bahwa HER yang menjual korban kepada pelaku N. Korban, menurutnya, dijemput dan diantar ke sebuah rumah kosong di dekat SMKN 01 Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan. “Setelah melayani pelaku, HER memberikan uang Rp700 ribu kepada korban sebagai imbalan,” ucap Mukhlis.

Tak selesai sampai di situ, dari laporan yang mereka terima bahwa beberapa hari kemudian korban kembali dijemput AY dan pelaku HER untuk dijual kepada seorang laki-laki berinisial H. Korban, menurutnya, kembali disetubuhi di sebuah rumah kosong di daerah Dusun Sungai Tengar. Berdasarkan pengakuan korban kepada kepolisian, sebegai imbalan, kedua pelaku memberikan uang sebesar Rp125 ribu kepadanya. “Para muncikari dan pelaku pemesan korban kini sudah kita tahan di Mapolres Ketapang dan telah ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Mukhlis

Selanjutnya ketujuh tersangka menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat pasal 81 ayat 2 dan atau pasal 82 Jo pasal 76 E dan atau pasal 88 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (afi)

KETAPANG – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Ketapang mengungkap praktik perdagangan anak di bawah umur yang terjadi di Kecamatan Kendawangan. Tujuh pelaku berhasil ditangkap polisi, terdiri dari empat perempuan yang menjual korban bersama tiga pria hidung belang. Ketujuh pelaku telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolres Ketapang melalui Kasubbag Humas Polres Ketapang, AKP Mukhlis, mengatakan, pada Selasa (5/1) pihaknya menerima adanya laporan terkait prostitusi anak di Kecamatan Kendawangan. Menindaklanjuti laporan tersebut, Satreskrim Polres Ketapang kemudian melakukan penyelidikan. “Pada 5 Januari 2021 kita menerima laporan bahwa telah terjadi perdangangan atau prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur yang terjadi di wilayah Kecamatan Kendawangan,” katanya, kemarin (6/1).

“Di hari itu juga sekitar pukul 13.00 WIB, kami langsung melakukan penyelidikan dan langsung mengamankan tujuh pelaku yang diduga sebagai muncikari dan pria hidung belang. Mereka kami amankan di Kecamatan Kendawangan,” lanjut Mukhlis.

Dia menjelaskan, tujuh dari pelaku tersebut terdiri dari empat perempuan yang berperan sebagai muncikari. Sedangkan tiga lainnya, disebutkan dia, adalah pria hidung belang yang memesan korban kepada muncikari. Para muncikari tersebut, dibeberkan dia, berinisial AY, HER, DA, dan HAR. Sedangkan pria hidung belang yang diamankan mereka adalah A, N, dan H. “Kejadian perdagangan anak ini dilakukan di waktu dan tempat yang berbeda,” ungkapnya.

Korban yang dijual oleh muncikari ini, menurutnya, masih berusia 16 tahun. Kepada mereka korban menceritakan bahwa kejadian bermula pada pertengahan November 2020 lalu. Dari pengakuan korban kepada mereka bahwa korban dijemput oleh AY, HER, DA, dan HAR di rumahnya yang tidak jauh dari rumah para pelaku. Diceritakan Mukhlis bahwa korban kemudian diajak jalan-jalan ke Pasar Kendawangan. “Namun di tengah perjalanan, pelaku membawa korban ke lokasi Pantai Pulau Kucing, Kecamatan Kendawangan,” ujar Mukhlis.

Baca Juga :  Kajari Sambangi DPRD

Di tempat ini, menurut Mukhlis, sudah ada pelaku A menunggu. Para muncikari ini, dipaparkan Mukhlis, terlebih dahulu menemui pelaku A untuk melakukan transaksi. Selanjutnya, dia menambahkan, bahwa korban ditinggalkan oleh para muncukari bersama A yang kemudian menyetubuhi korban di dalam mobil pelaku. “Setelah selesai, korban lalu dijemput kembali oleh keempat pelaku muncikari. Selanjutnya korban diberi uang Rp1 juta dan dibelikan sebuah handphone seharga Rp600 ribu sebagai imbalan atas jasanya melayani pelaku A,” paparnya.

Selang beberapa hari kemudian masih di bulan November 2020, korban, menurut Mukhlis, kembali dijual oleh pelaku AY kepada pelaku A, dengan modus yang sama, pelaku menunggu di lokasi pantai. Setelah korban melayani pelaku A, korban, menurutnya, diberikan imbalan uang sebesar Rp125 ribu. Dia juga menambahkan bahwa beberapa hari kemudian, korban kembali dijemput oleh pelaku AY dan diantar ke pantai untuk dijual kepada pelaku yang sama yaitu pelaku A. Korban pun, kata dia, kembali diberi imbalan uang Rp125 ribu oleh AY.

“Jadi, menurut pengakuan korban ini, dia sudah tiga kali dijual oleh pelaku AY kepada pelaku A, dengan modus dijemput oleh pelaku ke rumah dan diantar ke lokasi pantai. Setelahnya korban diberikan imbalan uang dan HP,” papar Mukhlis.

Baca Juga :  Penyegelan Hotel Jadi Warning, PHRI dan KPPAD Apresiasi Pemkot

Masih di bulan yang sama, dia menjelaskan bahwa korban kembali dijual oleh pelaku. Kali ini, dia menambahkan bahwa HER yang menjual korban kepada pelaku N. Korban, menurutnya, dijemput dan diantar ke sebuah rumah kosong di dekat SMKN 01 Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan. “Setelah melayani pelaku, HER memberikan uang Rp700 ribu kepada korban sebagai imbalan,” ucap Mukhlis.

Tak selesai sampai di situ, dari laporan yang mereka terima bahwa beberapa hari kemudian korban kembali dijemput AY dan pelaku HER untuk dijual kepada seorang laki-laki berinisial H. Korban, menurutnya, kembali disetubuhi di sebuah rumah kosong di daerah Dusun Sungai Tengar. Berdasarkan pengakuan korban kepada kepolisian, sebegai imbalan, kedua pelaku memberikan uang sebesar Rp125 ribu kepadanya. “Para muncikari dan pelaku pemesan korban kini sudah kita tahan di Mapolres Ketapang dan telah ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Mukhlis

Selanjutnya ketujuh tersangka menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat pasal 81 ayat 2 dan atau pasal 82 Jo pasal 76 E dan atau pasal 88 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/