alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Hutan Terbakar, Orangutan Bersarang di Depan Rumah Warga

KETAPANG – Tim gabungan dari International Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang, kembali menyelamatkan dua individu orangutan dari Jalan Pelang-Tumbang Titi Kecamatan Matan Hilir Selatan, pada Minggu (2/2). Induk dan anak orangutan ini dievakuasi karena membuat sarang di depan rumah warga.
Seorang warga yang tinggal Jalan Pelang-Tumbang Titi tepatnya di kilometer 9, Purnomo, melapor ke IAR terkait keberadaan orangutan di depan rumahnya. Induk dan anak orangutan tersebut membuat sarang dan sudah tiga hari tinggal di sarang tersebut. Menurutnya, orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang hangus terbakar dan kemudian menyeberang jalan raya.
Ironisnya, tempat yang menjadi sarang orangutan untuk menyelamatkan diri inipun sudah tidak layak lagi. Lokasinya sudah tidak menyisakan pepohohan yang cukup layak untuk ditinggali maupun dijadikan tempat untuk mencari makan bagi orangutan. Kedua orangutan ini pun dievakuasi ke lokasi yang lebih layak.
Penyelamatan dua individu orangutan ini dilakukan lantaran di hutan di tempat kedua orangutan ini sudah habis terbakar, menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh. Hanya perlu waktu beberapa minggu untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.
Ketika tim penyelamat datang, tim menemukan tiga individu orangutan, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun. Mereka bertahan di pohon kering yang nampak kepayahan menahan beban mereka. Tim penyelamat yang berfokus pada penyelamatan induk dan anak sempat kehilangan orangutan jantan ini.
“Kami mengutamakan menyelamatkan induk dan anak ini karena kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan,” ujar Manager Survey, Release dan Monitoring IAR Indonesia, Argitoe Ranting, yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini.
“Orangutan jantan itu masih sangat liar dan masih cukup kuat. Kami pikir dia masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama. Meskipun demikian kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) kami untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali,” tambahnya.
Untuk mengevakuasi induk dan anak orangutan ini, tim penyelamat menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan.
Saat ini induk anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya. “Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.
Menururtnya, hilangnya hutan dengan skala besar ini, membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir, tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan ketika orangutan karena pihaknya tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa-sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi. “Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, kita harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran,” ungkapnya.
Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan kerusakan habitat satwa, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia dengan semakin maraknya konflik antara satwa dan manusia. Kegiatan penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang seharusnya diambil ke depan.
“Kepedulian akan keberadaan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Pada hakekatnya peduli pada satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri,” katanya.
Kebakaran hutan besar-besaran pada musim kemarau 2019 lalu masih menyisakan duka. Kerusakan ekologi akibat api tidak bisa pulih begitu saja meskipun hujan sudah kembali membasahi bumi. Efek kebakaran hutan masih terasa hingga saat ini. Sebagai makhluk yang hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan paling merasakan dampak hancurnya hutan akibat kebakaran hutan.
Kebakaran yang menghancurkan rumah mereka membuat mereka kehilangan tidak hanya sumber makanan, tetapi juga merampas ruang hidup mereka. Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih baik, meskipun kenyataannya hutan sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka biasanya akan berakhir di kebun atau pemukiman warga dan menghadapi resiko konflik dengan manusia. (afi)

Baca Juga :  Masyarakat Tolak Pembangunan Puskesmas Pemahan

KETAPANG – Tim gabungan dari International Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang, kembali menyelamatkan dua individu orangutan dari Jalan Pelang-Tumbang Titi Kecamatan Matan Hilir Selatan, pada Minggu (2/2). Induk dan anak orangutan ini dievakuasi karena membuat sarang di depan rumah warga.
Seorang warga yang tinggal Jalan Pelang-Tumbang Titi tepatnya di kilometer 9, Purnomo, melapor ke IAR terkait keberadaan orangutan di depan rumahnya. Induk dan anak orangutan tersebut membuat sarang dan sudah tiga hari tinggal di sarang tersebut. Menurutnya, orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang hangus terbakar dan kemudian menyeberang jalan raya.
Ironisnya, tempat yang menjadi sarang orangutan untuk menyelamatkan diri inipun sudah tidak layak lagi. Lokasinya sudah tidak menyisakan pepohohan yang cukup layak untuk ditinggali maupun dijadikan tempat untuk mencari makan bagi orangutan. Kedua orangutan ini pun dievakuasi ke lokasi yang lebih layak.
Penyelamatan dua individu orangutan ini dilakukan lantaran di hutan di tempat kedua orangutan ini sudah habis terbakar, menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh. Hanya perlu waktu beberapa minggu untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.
Ketika tim penyelamat datang, tim menemukan tiga individu orangutan, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun. Mereka bertahan di pohon kering yang nampak kepayahan menahan beban mereka. Tim penyelamat yang berfokus pada penyelamatan induk dan anak sempat kehilangan orangutan jantan ini.
“Kami mengutamakan menyelamatkan induk dan anak ini karena kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan,” ujar Manager Survey, Release dan Monitoring IAR Indonesia, Argitoe Ranting, yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini.
“Orangutan jantan itu masih sangat liar dan masih cukup kuat. Kami pikir dia masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama. Meskipun demikian kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) kami untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali,” tambahnya.
Untuk mengevakuasi induk dan anak orangutan ini, tim penyelamat menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan.
Saat ini induk anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya. “Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.
Menururtnya, hilangnya hutan dengan skala besar ini, membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir, tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan ketika orangutan karena pihaknya tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa-sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi. “Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, kita harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran,” ungkapnya.
Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan kerusakan habitat satwa, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia dengan semakin maraknya konflik antara satwa dan manusia. Kegiatan penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang seharusnya diambil ke depan.
“Kepedulian akan keberadaan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Pada hakekatnya peduli pada satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri,” katanya.
Kebakaran hutan besar-besaran pada musim kemarau 2019 lalu masih menyisakan duka. Kerusakan ekologi akibat api tidak bisa pulih begitu saja meskipun hujan sudah kembali membasahi bumi. Efek kebakaran hutan masih terasa hingga saat ini. Sebagai makhluk yang hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan paling merasakan dampak hancurnya hutan akibat kebakaran hutan.
Kebakaran yang menghancurkan rumah mereka membuat mereka kehilangan tidak hanya sumber makanan, tetapi juga merampas ruang hidup mereka. Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih baik, meskipun kenyataannya hutan sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka biasanya akan berakhir di kebun atau pemukiman warga dan menghadapi resiko konflik dengan manusia. (afi)

Baca Juga :  Eks Kantor PT. BSM jadi Tempat Karantina

Most Read

Artikel Terbaru

/