alexametrics
30.6 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Induk dan Anak Orangutan Selamat

SUNGAI AWAN – Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia kembali menyelamatkan dan translokasi induk dan anak orangutan di kebun milik warga di Jalan Ketapang-Tanjungpura kilometer 9, Desa Sungai awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Senin (13/1).

Jumlah konflik manusia-orangutan di wilayah yang terbakar sejak Agustus 2019 belum juga surut. Data dari tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia kenunjukan jumlah konflik yang cenderung naik dari bulan September hingga Desember 2019. Awal tahun ini juga belum menunjukan tanda-tanda konflik manusia-orangutan semakin berkurang.

Laporan mengenai keberadaan orangutan induk dan anak yang diberi nama Qia dan Mama Qia ini didapatkan oleh tim Patroli OPU IAR Indonesia pada 4 Januari 2020. Tim langsung melakukan mitigasi dengan melakukan penggiringan orangutan kembali ke arah hutan yang tidak jauh dari kebun warga. Namun pada 8 Januari, tim patroli berjumpa kembali dengan kedua orangutan ini di lokasi yang sama. Setelah dilakukan survey lokasi, terlihat bahwa hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga hutan ini tidak lagi terhubung ke hutan besar.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap dua orangutan ini, tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk melakukan penyelamatan dan memindahkan kedua orangutan ini ke lokasi yang lebih baik dan aman.

Baca Juga :  Kauman Pusat Robo-robo

Penyelamatan induk orangutan diperkirakan berusia lebih dari 10 tahun dan bayinya yang berusia 2 bulan ini berjalan dengan baik. Setelah melewati serangkain pemeriksaan medis, dokter hewan IAR Indonesia yang memeriksa kedua orangutan ini menyatakan kedua orangutan ini dalam kondisi sehat. “Karena kedua orangutan ini sehat dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, maka kami bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk langsung mentranslokasikan mereka ke hutan Sentap kancang yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari lokasi penyelamatan ini,” kata Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.

Hutan seluas lebih dari 40.000 ha ini dinilai cocok sebagai rumah barunya. Selain menyediakan ruang hidup yang luas, jumlah jenis pakan orangutan berlimpah dan kepadatan orangutan di dalamnya belum terlalu tinggi.

Meskipun kegiatan ini sukses memindahkan orangutan ke hutan yang lebih baik untuk kehidupannya, tranlokasi semacam hanyalah solusi sementara. “Translokasi ini tidak bisa mengurai akar permasalahan sebenarnya. Permasalahan sebenarnya terletak pada alih fungsi dan kerusakan hutan,” lanjut Argitoe.

Ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan bertambah sejak kebakaran besar melanda sebagian besar wilayah di Ketapang. Hutan yang terbakar menyebabkan banyak orangutan kehilangan tempat tinggal dan dan sumber penghidupannya. Orangutan-orangutan ini pergi meninggalkan rumahnya yang terbakar dan masuk ke kebun warga untuk mencari makan, menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orangutan yang tidak jarang menimbulkan kjonflik yang dapat merugikan orangutan dan manusia itu sendiri.

Baca Juga :  Direktur PT SBI Jadi Tersangka, Mangkir Panggilan Polisi

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, berpuluh tahun, baik oleh pemerintah maupun bersama para mitra. Namun demikian tantangan dan masalah yang muncul justru semakin meningkat. “Sudah saatnya diambil langkah-langkah dan kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh bukan hanya pada sektor konservasi saja tetapi juga pada sektor yang terkait dengan pemanfaatan ruang atau wilayah,” katanya.

Dia menegaskan, akar masalah timbulnya konflik satwa dan manusia lebih banyak berawal dari penataan dan pemanfaatan ruang yang belum cukup memberikan perhatian pada aspek konservasi tumbuhan dan satwa liar.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, mengatakan konflik ini muncul karena orangutan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orangutan mencari makan ke kebun warga karena mereka tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. “Mama Qia mampu mempertahankan hidup dan menjaga bayinya tanpa makanan yang mencukupi selama berbulan-bulan karena instingnya sebagai induk yang mepertahankan hidup anaknya,” ungkapnya.

“Kami sangat prihatin dengan melihat bagaimana orangutan ini berusaha mempertahankan hoidup dengan kondisi habitat yang semakin hancur dan musnah. Kami berharap manusia akan sadar bahwa tanpa hutan, tidak hanya orangutan yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya di muka bumi, tetapi manusa juga akan mendapatkan konseskuensi yang sama,” harap Karmele. (afi)

SUNGAI AWAN – Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia kembali menyelamatkan dan translokasi induk dan anak orangutan di kebun milik warga di Jalan Ketapang-Tanjungpura kilometer 9, Desa Sungai awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Senin (13/1).

Jumlah konflik manusia-orangutan di wilayah yang terbakar sejak Agustus 2019 belum juga surut. Data dari tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia kenunjukan jumlah konflik yang cenderung naik dari bulan September hingga Desember 2019. Awal tahun ini juga belum menunjukan tanda-tanda konflik manusia-orangutan semakin berkurang.

Laporan mengenai keberadaan orangutan induk dan anak yang diberi nama Qia dan Mama Qia ini didapatkan oleh tim Patroli OPU IAR Indonesia pada 4 Januari 2020. Tim langsung melakukan mitigasi dengan melakukan penggiringan orangutan kembali ke arah hutan yang tidak jauh dari kebun warga. Namun pada 8 Januari, tim patroli berjumpa kembali dengan kedua orangutan ini di lokasi yang sama. Setelah dilakukan survey lokasi, terlihat bahwa hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga hutan ini tidak lagi terhubung ke hutan besar.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap dua orangutan ini, tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk melakukan penyelamatan dan memindahkan kedua orangutan ini ke lokasi yang lebih baik dan aman.

Baca Juga :  Kauman Pusat Robo-robo

Penyelamatan induk orangutan diperkirakan berusia lebih dari 10 tahun dan bayinya yang berusia 2 bulan ini berjalan dengan baik. Setelah melewati serangkain pemeriksaan medis, dokter hewan IAR Indonesia yang memeriksa kedua orangutan ini menyatakan kedua orangutan ini dalam kondisi sehat. “Karena kedua orangutan ini sehat dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, maka kami bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk langsung mentranslokasikan mereka ke hutan Sentap kancang yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari lokasi penyelamatan ini,” kata Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.

Hutan seluas lebih dari 40.000 ha ini dinilai cocok sebagai rumah barunya. Selain menyediakan ruang hidup yang luas, jumlah jenis pakan orangutan berlimpah dan kepadatan orangutan di dalamnya belum terlalu tinggi.

Meskipun kegiatan ini sukses memindahkan orangutan ke hutan yang lebih baik untuk kehidupannya, tranlokasi semacam hanyalah solusi sementara. “Translokasi ini tidak bisa mengurai akar permasalahan sebenarnya. Permasalahan sebenarnya terletak pada alih fungsi dan kerusakan hutan,” lanjut Argitoe.

Ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan bertambah sejak kebakaran besar melanda sebagian besar wilayah di Ketapang. Hutan yang terbakar menyebabkan banyak orangutan kehilangan tempat tinggal dan dan sumber penghidupannya. Orangutan-orangutan ini pergi meninggalkan rumahnya yang terbakar dan masuk ke kebun warga untuk mencari makan, menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orangutan yang tidak jarang menimbulkan kjonflik yang dapat merugikan orangutan dan manusia itu sendiri.

Baca Juga :  Satpol PP Ketapang Kembali Razia Layangan

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, berpuluh tahun, baik oleh pemerintah maupun bersama para mitra. Namun demikian tantangan dan masalah yang muncul justru semakin meningkat. “Sudah saatnya diambil langkah-langkah dan kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh bukan hanya pada sektor konservasi saja tetapi juga pada sektor yang terkait dengan pemanfaatan ruang atau wilayah,” katanya.

Dia menegaskan, akar masalah timbulnya konflik satwa dan manusia lebih banyak berawal dari penataan dan pemanfaatan ruang yang belum cukup memberikan perhatian pada aspek konservasi tumbuhan dan satwa liar.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, mengatakan konflik ini muncul karena orangutan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orangutan mencari makan ke kebun warga karena mereka tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. “Mama Qia mampu mempertahankan hidup dan menjaga bayinya tanpa makanan yang mencukupi selama berbulan-bulan karena instingnya sebagai induk yang mepertahankan hidup anaknya,” ungkapnya.

“Kami sangat prihatin dengan melihat bagaimana orangutan ini berusaha mempertahankan hoidup dengan kondisi habitat yang semakin hancur dan musnah. Kami berharap manusia akan sadar bahwa tanpa hutan, tidak hanya orangutan yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya di muka bumi, tetapi manusa juga akan mendapatkan konseskuensi yang sama,” harap Karmele. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/