alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Melanjutkan Hidup dengan Satu Tangan

Nanjung Sang Beruang Kembali ke Alam Liar

KENDAWANGAN – Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, melepasliarkan seekor beruang madu ke habitat aslinya, Jumat (17/1). Beruang yang diberi nama Nanjung ini, dilepaskan di kawasan hutan milik PT. Hutan Ketapang Industri (HKI) di Kecamatan Kendawangan.

Nanjung, tidak pernah menyangka, setelah kehilangan habitat, dia juga kehilangan sebelah lengannya. Semua berawal ketika seorang warga Desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, sengaja memasang tali jerat untuk menangkap beruang yang memasuki kebun miliknya. Warga tersebut mengaku sengaja memasang jerat, karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya.

Jerat tersebut dipasang pada 19 November 2019 lalu. Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter, yang dipasang di belakang pondoknya. Pada 20 November 2019, tali jerat tersebut mengenai seekor beruang. Warga yang mengetahui adanya jerat ini kemudian melapor ke BKSDA Kalimantan Barat SKW I Ketapang. Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia langsung meluncur ke lokasi.

Ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini, tampak stres dan agresif. Beruang malang tersebut dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas dari jerat. Usaha yang terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya.

Baca Juga :  Pupuk Subsidi dan Air Bersih di Sepuluh Kecamatan

Tim memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang berbobot 40 kilogram ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat dan dokter hewan IAR Indonesia membersihkan luka-lukanya. Nanjung pun dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia yang mempunyai fasilitas perawatan satwa, untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kendang karantina IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan Nanjung yang terkena jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk, tulang jari tangannya mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak dan sebagian membusuk. Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan untuk mengamputasi tangan beruang ini pada 25 November 2019. Amputasi dilakukan sebatas lengan, untuk mencegas infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh.

Hasil pemeriksaan ulang pada tanggal 1 Desember menunjukan lukanya sudah pulih dan saat ini Nanjung sudah siap dikembalikan ke habitatnya. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari 1 bulan, akhirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya. BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerja sama dengan PT. HKI melepaskan Nanjung ke kawasan hutan milik perusahaan tersebut di Kecamatan Kendawangan.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, yakin, meskipun kehilangan lengannya, beruang ini akan mampu bertahan hidup di alam. “Kami yakin beruang ini akan mampu bertahan hidup, karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk bertahan hidup di alam,” ujarnya.

Baca Juga :  PT. Cita Perbaiki Lima Jembatan

“Masalah sebenarnya tidak akan selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi. Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungun serta konversi dan alih fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit. Tidak apa pilihan lain baginya untuk bertahan hdup selain mencari makan di rumah warga,” sesal Karmele.

Status konservasi beruang di IUCN ada vulnerable atau terancam. Meskipun beruang madu dilindungi oleh undang-undang di Indonesia sejak tahun 1973 dan bahkan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, beruang madu saat ini terancam oleh perusakan habitat, kebakaran hutan, serta perburuan untuk peliharaan atau untuk diambil bagian tubuhnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan, sudah saatnya manusia berubah. Menurutnya, sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan. Semua bencana alam, konflik satwa, dan lain-lain, diingatkan dia, hanyalah pesan. Pesan yang dimaksud dia, telah disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, ditegaskan dia, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. “Ingatlah bahwa konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan,” ungkapnya. (afi)

Nanjung Sang Beruang Kembali ke Alam Liar

KENDAWANGAN – Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, melepasliarkan seekor beruang madu ke habitat aslinya, Jumat (17/1). Beruang yang diberi nama Nanjung ini, dilepaskan di kawasan hutan milik PT. Hutan Ketapang Industri (HKI) di Kecamatan Kendawangan.

Nanjung, tidak pernah menyangka, setelah kehilangan habitat, dia juga kehilangan sebelah lengannya. Semua berawal ketika seorang warga Desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, sengaja memasang tali jerat untuk menangkap beruang yang memasuki kebun miliknya. Warga tersebut mengaku sengaja memasang jerat, karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya.

Jerat tersebut dipasang pada 19 November 2019 lalu. Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter, yang dipasang di belakang pondoknya. Pada 20 November 2019, tali jerat tersebut mengenai seekor beruang. Warga yang mengetahui adanya jerat ini kemudian melapor ke BKSDA Kalimantan Barat SKW I Ketapang. Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia langsung meluncur ke lokasi.

Ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini, tampak stres dan agresif. Beruang malang tersebut dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas dari jerat. Usaha yang terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya.

Baca Juga :  Politap Gandeng SMK dan Industri Wujudkan Piloting Fast Track SMK DII

Tim memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang berbobot 40 kilogram ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat dan dokter hewan IAR Indonesia membersihkan luka-lukanya. Nanjung pun dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia yang mempunyai fasilitas perawatan satwa, untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kendang karantina IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan Nanjung yang terkena jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk, tulang jari tangannya mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak dan sebagian membusuk. Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan untuk mengamputasi tangan beruang ini pada 25 November 2019. Amputasi dilakukan sebatas lengan, untuk mencegas infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh.

Hasil pemeriksaan ulang pada tanggal 1 Desember menunjukan lukanya sudah pulih dan saat ini Nanjung sudah siap dikembalikan ke habitatnya. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari 1 bulan, akhirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya. BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerja sama dengan PT. HKI melepaskan Nanjung ke kawasan hutan milik perusahaan tersebut di Kecamatan Kendawangan.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, yakin, meskipun kehilangan lengannya, beruang ini akan mampu bertahan hidup di alam. “Kami yakin beruang ini akan mampu bertahan hidup, karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk bertahan hidup di alam,” ujarnya.

Baca Juga :  Baru Dibangun Sudah Terendam, Pelaksana Proyek Jalan Tanjungpura Salahkan Warga

“Masalah sebenarnya tidak akan selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi. Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungun serta konversi dan alih fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit. Tidak apa pilihan lain baginya untuk bertahan hdup selain mencari makan di rumah warga,” sesal Karmele.

Status konservasi beruang di IUCN ada vulnerable atau terancam. Meskipun beruang madu dilindungi oleh undang-undang di Indonesia sejak tahun 1973 dan bahkan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, beruang madu saat ini terancam oleh perusakan habitat, kebakaran hutan, serta perburuan untuk peliharaan atau untuk diambil bagian tubuhnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan, sudah saatnya manusia berubah. Menurutnya, sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan. Semua bencana alam, konflik satwa, dan lain-lain, diingatkan dia, hanyalah pesan. Pesan yang dimaksud dia, telah disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, ditegaskan dia, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. “Ingatlah bahwa konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan,” ungkapnya. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/