alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Satu ODP Meninggal Sesak Napas

KETAPANG – Satu orang dalam pemantauan (ODP) di Ketapang meninggal dunia pada Jumat (27/3) petang. Laki-laki berusia 45 tahun tersebut meninggal setelah menjalani isolasi mandiri di Kelurahan Kauman Kecamatan Benua Kayong. Sebelum meninggal dunia, ODP tersebut mengalami sesak nafas.

Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Rustami, mengatakan ODP tersebut merupakan warga Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Dia diisolasi mandiri di salah satu masjid di Kelurahan Kauman Kecamatan Benua Kayong. Korban termasuk rombongan yang datang dari kegiatan Ijtima’ di Malaysia kloter ke-2. “Yang bersangkutan tiba di Ketapang tanggal 20 Maret 2020 menggunakan jalan darat,” kata Rustami, kemarin (28/3).

Setibanya di Ketapang, lanjut Rustami, yang bersangkutan melakukan memeriksakan diri ke Puskesmas Tuan Tuan Kecamatan Benua Kayong. Korban mengaku sudah menjalani karantina di Kuching, Malaysia, selama 14 hari sebelum pulang ke Indonesia. “Saat datang ke Puskesmas yang bersangkutan mengaku batuk dan pilek serta demam dan tidak mengalami sesak nafas. Riwayat penyakit dahulu seperti hipertensi, diabetes dan lainnya disangkal oleh dia,” jelas Rustami.

Dari hasil pemeriksaan di puskesmas pada 20 Maret, tekanan darah korban 120/90 dengan suhu tubuh 36 drajat. Pihak puskesmas memberikan obat sesuai dengan keluhan. Korban pun ditetapkan sebagai ODP dan dilakukan karantina rumah di Kauman, Benua Kayong. “Pada 21 Maret, demamnya sudah mulai berkurang, batuk dan pilek masih ada, tapi tidak sesak nafas,” ungkapnya.

Di hari kedua dan ketiga, korban sudah tidak demam lagi. Namun masih batuk dan pilek. Di hari keempat, batuk dan pilek korban sudah berkurang. Di hari kelima, korban mulai mengeluhkan nyeri pinggang. Petugas pun menambahkan Analgetik, Vitamin dan pengencer dahak. “Di hari keenam hanya batuk berdahak,” ungkapnya.

Kondisi kesehatan korban mulai memburuk di hari ketujuh. Pada Jumat (27/3) sekitar pukul 11.00 WIB, korban mengalami sesak nafas, terutama saat berbaring, batuk berdahak dan nyeri ulu hati. Sekitar pukul 15.50 WIB, korban semakin sesak nafas. Korban pun berencana akan dibawa ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang menggunakan APD lengkap. Pukul 17.52 WIB korban dibawa ke RSUD dr Agoesdjam.

Baca Juga :  Jalan Pelang-Batu Tajam Segera Diperbaiki

“Yang bersangkutan mengalami sesak nafas dan dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang pada pukul 17.52 WIB. Setelah melalui pemeriksaan, yang bersangkutan ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan. Jam 18.35 WIB dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Rustami.

Rustami menambahkan, penanganan jenazah korban dilakukan sesuai prosedur penanganan Covid-19. Petugas memakamkan jasad korban menggunakan APD lengkap. Korban dimakamkan di Kelurahan Payak Kumang Kecamatan Delta Pawan pada Jumat (27/3) malam.

Sementara itu, lokasi yang dijadikan sebagai tempat isolasi korban merupakan masjid yang berada di pondok pesantren. Di pondok tersebut terdapat belasan santri. “Penanganan terhadap santri yang berada di pondok pesantren akan terus dipantau. Semua santri dijadikan ODP. Kemungkinan akan diisolasi di pondok pesantren. Konsepnya seperti itu, tapi finalnya menunggu hasil pengecekan langsung di lapangan. Termasuk mendata berapa jumlah santri dan orang yang melakukan kontak dengan korban,” papar Rustami.

Sementara itu, Sekda Ketapang, Farhan, mengatakan pihaknya berencana akan membentuk tim relawan penanganan korban meninggal akibat Covid-19 di Ketapang. Dia mengaku, sangat perlu untuk membentuk tim yang memang khusus menangani jenazah dalam kasus Covid-19. “Akan kami persiapkan. Saat ini sedang kami koordinasikan untuk merekrut relawan. Dalam tim gugus tugas Covid-19 ini, memang diperlukan adanya relawan yang memang khusus menangani jenazah dalam kasus Covid-19,” kata Farhan.

Tidak hanya itu, lanjut Farhan, pihaknya juga berencana untuk menyiapkan tempat untuk penanganan kasus Covid-19 di Ketapang. Di antaranya untuk tempat isolasi dan karantina bagi ODP. “Kami akan mencoba untuk meminjam gedung BSM yang ada di Jalan Lingkar Kota, karena gedung tersebut tidak digunakan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kisah Para Penyintas Kanker yang Berhasil Sembuh

Farhan menegaskan, Pemda Ketapang terus berupaya untuk menanangi Covid-19. Bersama dengan relawan, pihaknya terus berupaya untuk mencegah mewabahnya virus Covid-19. “Kami mengimbau dan menginstruksikan agar kegiatan kemasyarakatan untuk dihindari sementara waktu. Termasuk juga warung dan toko yang mengundang kerumunan orang ramai untuk dihentikan sementara waktu. Kita menginginkan masyarakat sadar. Covid-19 ini tidak kelihatan, tidak ada tanda-tanda yang nyata. Kalau gatal itu bisa kita garuk, tapi kalau Covid-19 tidak kelihatan dan tidak terasa,” imbaunya.

“Sekali lagi kami mohon dan meninta kepada masyarakat, untuk sementara waktu mengurangi kegiatan yang melibatkan orang ramai. Jika ingin membeli makanan, dibeli dan dibawa pulang,” tambahnya.

Sementara itu, Sekertaris Daerah Kayong Utara, Hilaria Yusnani, membenarkan jika seorang pasien yang meninggal di RSUD dr Agoesdjam Ketapang pada Jumat (27/3), merupakan warga Kayong Utara. Korban merupakan salah satu dari rombongan majelis taklim yang melaksanakan kegiatan ijtima di Malaysia.

“Ia memang benar itu warga Kayong Utara, sempat dirawat di RSUD dr Agoesdjam Ketapang. Pasien itu baru pulang dari majelis taklim melaksanakan kegiatan ijtima di Malaysia,” terang Hilaria Yusnani Kepada Pontianak Post, Sabtu (28/4).

Mengenai hal ini dikatakan Hilaria, meninggalnya warga Kayong Utara belum bisa dipastikan karena virus corona (Covid 19). Sebab, kabarnya hasil leb pasien tersebut belum keluar. Dalam hal ini, sambung Sekda Kayong Utara, tentunya telah berkoordinasi bersama pemerintah Kabupaten Ketapang, untuk memastikan jika warga tersebut merupakan warga Kayong Utara.

“Hasil lebnya sampai sekarang belum keluar, dan belum bisa dipastikan warga Kayong Utara meninggal karena virus corona, yang sudah dimakamkan di Ketapang,” tutupnya. (afi/dan)

KETAPANG – Satu orang dalam pemantauan (ODP) di Ketapang meninggal dunia pada Jumat (27/3) petang. Laki-laki berusia 45 tahun tersebut meninggal setelah menjalani isolasi mandiri di Kelurahan Kauman Kecamatan Benua Kayong. Sebelum meninggal dunia, ODP tersebut mengalami sesak nafas.

Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Rustami, mengatakan ODP tersebut merupakan warga Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Dia diisolasi mandiri di salah satu masjid di Kelurahan Kauman Kecamatan Benua Kayong. Korban termasuk rombongan yang datang dari kegiatan Ijtima’ di Malaysia kloter ke-2. “Yang bersangkutan tiba di Ketapang tanggal 20 Maret 2020 menggunakan jalan darat,” kata Rustami, kemarin (28/3).

Setibanya di Ketapang, lanjut Rustami, yang bersangkutan melakukan memeriksakan diri ke Puskesmas Tuan Tuan Kecamatan Benua Kayong. Korban mengaku sudah menjalani karantina di Kuching, Malaysia, selama 14 hari sebelum pulang ke Indonesia. “Saat datang ke Puskesmas yang bersangkutan mengaku batuk dan pilek serta demam dan tidak mengalami sesak nafas. Riwayat penyakit dahulu seperti hipertensi, diabetes dan lainnya disangkal oleh dia,” jelas Rustami.

Dari hasil pemeriksaan di puskesmas pada 20 Maret, tekanan darah korban 120/90 dengan suhu tubuh 36 drajat. Pihak puskesmas memberikan obat sesuai dengan keluhan. Korban pun ditetapkan sebagai ODP dan dilakukan karantina rumah di Kauman, Benua Kayong. “Pada 21 Maret, demamnya sudah mulai berkurang, batuk dan pilek masih ada, tapi tidak sesak nafas,” ungkapnya.

Di hari kedua dan ketiga, korban sudah tidak demam lagi. Namun masih batuk dan pilek. Di hari keempat, batuk dan pilek korban sudah berkurang. Di hari kelima, korban mulai mengeluhkan nyeri pinggang. Petugas pun menambahkan Analgetik, Vitamin dan pengencer dahak. “Di hari keenam hanya batuk berdahak,” ungkapnya.

Kondisi kesehatan korban mulai memburuk di hari ketujuh. Pada Jumat (27/3) sekitar pukul 11.00 WIB, korban mengalami sesak nafas, terutama saat berbaring, batuk berdahak dan nyeri ulu hati. Sekitar pukul 15.50 WIB, korban semakin sesak nafas. Korban pun berencana akan dibawa ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang menggunakan APD lengkap. Pukul 17.52 WIB korban dibawa ke RSUD dr Agoesdjam.

Baca Juga :  Jalan Pelang-Batu Tajam Segera Diperbaiki

“Yang bersangkutan mengalami sesak nafas dan dirujuk ke RSUD dr Agoesdjam Ketapang pada pukul 17.52 WIB. Setelah melalui pemeriksaan, yang bersangkutan ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan. Jam 18.35 WIB dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Rustami.

Rustami menambahkan, penanganan jenazah korban dilakukan sesuai prosedur penanganan Covid-19. Petugas memakamkan jasad korban menggunakan APD lengkap. Korban dimakamkan di Kelurahan Payak Kumang Kecamatan Delta Pawan pada Jumat (27/3) malam.

Sementara itu, lokasi yang dijadikan sebagai tempat isolasi korban merupakan masjid yang berada di pondok pesantren. Di pondok tersebut terdapat belasan santri. “Penanganan terhadap santri yang berada di pondok pesantren akan terus dipantau. Semua santri dijadikan ODP. Kemungkinan akan diisolasi di pondok pesantren. Konsepnya seperti itu, tapi finalnya menunggu hasil pengecekan langsung di lapangan. Termasuk mendata berapa jumlah santri dan orang yang melakukan kontak dengan korban,” papar Rustami.

Sementara itu, Sekda Ketapang, Farhan, mengatakan pihaknya berencana akan membentuk tim relawan penanganan korban meninggal akibat Covid-19 di Ketapang. Dia mengaku, sangat perlu untuk membentuk tim yang memang khusus menangani jenazah dalam kasus Covid-19. “Akan kami persiapkan. Saat ini sedang kami koordinasikan untuk merekrut relawan. Dalam tim gugus tugas Covid-19 ini, memang diperlukan adanya relawan yang memang khusus menangani jenazah dalam kasus Covid-19,” kata Farhan.

Tidak hanya itu, lanjut Farhan, pihaknya juga berencana untuk menyiapkan tempat untuk penanganan kasus Covid-19 di Ketapang. Di antaranya untuk tempat isolasi dan karantina bagi ODP. “Kami akan mencoba untuk meminjam gedung BSM yang ada di Jalan Lingkar Kota, karena gedung tersebut tidak digunakan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kisah Para Penyintas Kanker yang Berhasil Sembuh

Farhan menegaskan, Pemda Ketapang terus berupaya untuk menanangi Covid-19. Bersama dengan relawan, pihaknya terus berupaya untuk mencegah mewabahnya virus Covid-19. “Kami mengimbau dan menginstruksikan agar kegiatan kemasyarakatan untuk dihindari sementara waktu. Termasuk juga warung dan toko yang mengundang kerumunan orang ramai untuk dihentikan sementara waktu. Kita menginginkan masyarakat sadar. Covid-19 ini tidak kelihatan, tidak ada tanda-tanda yang nyata. Kalau gatal itu bisa kita garuk, tapi kalau Covid-19 tidak kelihatan dan tidak terasa,” imbaunya.

“Sekali lagi kami mohon dan meninta kepada masyarakat, untuk sementara waktu mengurangi kegiatan yang melibatkan orang ramai. Jika ingin membeli makanan, dibeli dan dibawa pulang,” tambahnya.

Sementara itu, Sekertaris Daerah Kayong Utara, Hilaria Yusnani, membenarkan jika seorang pasien yang meninggal di RSUD dr Agoesdjam Ketapang pada Jumat (27/3), merupakan warga Kayong Utara. Korban merupakan salah satu dari rombongan majelis taklim yang melaksanakan kegiatan ijtima di Malaysia.

“Ia memang benar itu warga Kayong Utara, sempat dirawat di RSUD dr Agoesdjam Ketapang. Pasien itu baru pulang dari majelis taklim melaksanakan kegiatan ijtima di Malaysia,” terang Hilaria Yusnani Kepada Pontianak Post, Sabtu (28/4).

Mengenai hal ini dikatakan Hilaria, meninggalnya warga Kayong Utara belum bisa dipastikan karena virus corona (Covid 19). Sebab, kabarnya hasil leb pasien tersebut belum keluar. Dalam hal ini, sambung Sekda Kayong Utara, tentunya telah berkoordinasi bersama pemerintah Kabupaten Ketapang, untuk memastikan jika warga tersebut merupakan warga Kayong Utara.

“Hasil lebnya sampai sekarang belum keluar, dan belum bisa dipastikan warga Kayong Utara meninggal karena virus corona, yang sudah dimakamkan di Ketapang,” tutupnya. (afi/dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/