alexametrics
23.4 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Tersus di Bawah Jembatan Pawan II Kembali Beroperasi

SUNGAI AWAN – Terminal khusus (tersus) yang berada di bawah Jembatan Pawan II kembali beroperasi. Fasilitas yang tidak memiliki izin dan disegel oleh Dinas Perhubungan tersebut masih menambatkan sejumlah kapal. Selain menambatkan kapal, pemilik tersus juga terlihat merenovasi bagian lantai dermaga.

Tersus tersebut disegel dengan dipasangi papan rambu larangan tambat. Hal tersebut karena letak tersus sangat membahayakan jembatan dan dapat mengganggu lalu lintas di sungai, karena tepat berada di tikungan sungai. Tersus tersebut diketahui milik CV. Juara Motor.

Salah satu warga Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, Subandi (35), mengatakan, tersus tersebut tampak melakukan aktivitas sejak beberapa pekan lalu. Sejumlah kapal, menurut dia, ditambatkan di dermaga tersus. “Saya setiap hari lewat di Jembatan Pawan II. Saya lihat masih ada beberapa kapal yang ditambatkan di dermaga, padahal itu sudah jelas dilarang,” katanya, kemarin (28/7).

Dia menjelaskan, penambatan kapal di lokasi tersebut tentu melanggar aturan dan membahayakan bagi lalu lintas di sungai tersebut. Pemilik tersus dianggap dia tidak mengindahkan larangan tambat dan mengabaikan keselamatan. “Ini sudah berapa kali terjadi. Pemilik tersus tidak menaati larangan, bahkan mengacuhkan. Mereka terang-terangan menambat kapal di lokasi yang telah dilarang,” ungkapnya.

Jika hal tersebut dibiarkan tanpa tindakan tegas dari Pemda Ketapang, dikhawatirkan dia akan membahayakan dan mencelakai kapal lain. Dia juga khawatir kapal-kapal yang melintas akan menabrak jembatan yang jaraknya sangat dekat. Oleh karena itu, dia berharap agar Pemda melalui dinas terkait turun ke lokasi dan melakukan penindakan. “Kalau memang perlu dermaga yang telah dibangun itu dibongkar,” harapnya.

Baca Juga :  Dewan Sampaikan Hasil Reses

Subandi juga meminta agar Satpol PP kembali turun ke lokasi tersus dan melakukan penertiban. “Tugas pokok selaku penegak Perda harus ditonjolkan. Jangan berani merazia pemain layangan saja, tapi juga harus menertibkan dan menindak tegas yang melanggar aturan. Begitu juga dengan Dishub. Kalau secara aturan dilarang, maka harus ada kebijakan-kebijakan dikeluarkan untuk memberi sanksi kepada pemilik tersus,” sindirnya.

“Keberadaan tersus itu membahayakan. Selain berada di tikungan sungai, kapal-kapal tambat sangat dekat dengan Jembatan Pawan II. Kalau sampai hal-hal tidak diinginkan terjadi, misal kapal menghantam jembatan, maka jembatan bisa roboh. Dampaknya sangat merugikan masyarakat dan daerah,” tambahnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Ketapang, Muslimin, terkejut mengetahui informasi masih adanya aktivitas dan penambatan kapal di lokasi tersus yang telah dipasang rambu larangan tambat tersebut. “Saya cek dulu, karena harusnya tidak ada lagi aktivitas, termasuk penambatan kapal di lokasi itu. Nanti kita akan lihat di lapangan dan seperti apa sanksinya,” kata Muslimin.

Baca Juga :  Polisi Razia PETI di Indotani

Muslimin mengaku, sampai saat ini tidak ada izin tersus di lokasi tersebut. Pihaknya tidak pernah menerima tembusan soal izin tersebut. “Sampai saat ini tidak ada izinnya, soalnya kami tidak pernah menerima tembusannya,” tuturnya.

Kepala Bidang ASDP Dishub Ketapang, Subhi, menegaskan sampai saat ini tersus tersebut tidak memiliki izin dan tidak diberikan izin, lantaran lokasi tersebut tidak diperbolehkan. “Makanya Dishub ada memasang rambu larangan tambat di daerah tersebut, karena di lokasi tidak diperbolehkan. Selain berada di tikungan sungai, juga dekat dengan jembatan,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan pembahasan dengan pihak DPRD menindaklanjuti persoalan ini. Rencananya mereka akan melakukan pembongkaran terhadap dermaga yang dibangun oleh pemilik tersus. Sementara jadwal pembongkaran, menurutnya, akan ditentukan DPRD.

Sementara itu, pemilik tersus di bawah Jembatan Pawan II, Eko, membenarkan adanya penambatan kapal di tersus tersebut. “Kita hanya sementara saja nambat di situ, karena Pelabuhan Sukabangun tidak ada tempat bertambat akibat kapal menumpuk. Rencana kita tunggu cuaca bagus tanggal 31 Juli baru kita berangkat,” akunya.

Eko mengaku, pihaknya tidak melakukan bongkar muat kapal. Sementara waktu kapal-kapal dimaksud, menurut dia, menumpang bertambat di lokasi tersebut dan nantinya akan digeser ke lokasi yang diperbolehkan. (afi)

SUNGAI AWAN – Terminal khusus (tersus) yang berada di bawah Jembatan Pawan II kembali beroperasi. Fasilitas yang tidak memiliki izin dan disegel oleh Dinas Perhubungan tersebut masih menambatkan sejumlah kapal. Selain menambatkan kapal, pemilik tersus juga terlihat merenovasi bagian lantai dermaga.

Tersus tersebut disegel dengan dipasangi papan rambu larangan tambat. Hal tersebut karena letak tersus sangat membahayakan jembatan dan dapat mengganggu lalu lintas di sungai, karena tepat berada di tikungan sungai. Tersus tersebut diketahui milik CV. Juara Motor.

Salah satu warga Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, Subandi (35), mengatakan, tersus tersebut tampak melakukan aktivitas sejak beberapa pekan lalu. Sejumlah kapal, menurut dia, ditambatkan di dermaga tersus. “Saya setiap hari lewat di Jembatan Pawan II. Saya lihat masih ada beberapa kapal yang ditambatkan di dermaga, padahal itu sudah jelas dilarang,” katanya, kemarin (28/7).

Dia menjelaskan, penambatan kapal di lokasi tersebut tentu melanggar aturan dan membahayakan bagi lalu lintas di sungai tersebut. Pemilik tersus dianggap dia tidak mengindahkan larangan tambat dan mengabaikan keselamatan. “Ini sudah berapa kali terjadi. Pemilik tersus tidak menaati larangan, bahkan mengacuhkan. Mereka terang-terangan menambat kapal di lokasi yang telah dilarang,” ungkapnya.

Jika hal tersebut dibiarkan tanpa tindakan tegas dari Pemda Ketapang, dikhawatirkan dia akan membahayakan dan mencelakai kapal lain. Dia juga khawatir kapal-kapal yang melintas akan menabrak jembatan yang jaraknya sangat dekat. Oleh karena itu, dia berharap agar Pemda melalui dinas terkait turun ke lokasi dan melakukan penindakan. “Kalau memang perlu dermaga yang telah dibangun itu dibongkar,” harapnya.

Baca Juga :  26 Orang Ingin Adopsi Bayi yang Dibuang Ibunya

Subandi juga meminta agar Satpol PP kembali turun ke lokasi tersus dan melakukan penertiban. “Tugas pokok selaku penegak Perda harus ditonjolkan. Jangan berani merazia pemain layangan saja, tapi juga harus menertibkan dan menindak tegas yang melanggar aturan. Begitu juga dengan Dishub. Kalau secara aturan dilarang, maka harus ada kebijakan-kebijakan dikeluarkan untuk memberi sanksi kepada pemilik tersus,” sindirnya.

“Keberadaan tersus itu membahayakan. Selain berada di tikungan sungai, kapal-kapal tambat sangat dekat dengan Jembatan Pawan II. Kalau sampai hal-hal tidak diinginkan terjadi, misal kapal menghantam jembatan, maka jembatan bisa roboh. Dampaknya sangat merugikan masyarakat dan daerah,” tambahnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Ketapang, Muslimin, terkejut mengetahui informasi masih adanya aktivitas dan penambatan kapal di lokasi tersus yang telah dipasang rambu larangan tambat tersebut. “Saya cek dulu, karena harusnya tidak ada lagi aktivitas, termasuk penambatan kapal di lokasi itu. Nanti kita akan lihat di lapangan dan seperti apa sanksinya,” kata Muslimin.

Baca Juga :  Midji Pulangkan TKA yang Masuk Kalbar

Muslimin mengaku, sampai saat ini tidak ada izin tersus di lokasi tersebut. Pihaknya tidak pernah menerima tembusan soal izin tersebut. “Sampai saat ini tidak ada izinnya, soalnya kami tidak pernah menerima tembusannya,” tuturnya.

Kepala Bidang ASDP Dishub Ketapang, Subhi, menegaskan sampai saat ini tersus tersebut tidak memiliki izin dan tidak diberikan izin, lantaran lokasi tersebut tidak diperbolehkan. “Makanya Dishub ada memasang rambu larangan tambat di daerah tersebut, karena di lokasi tidak diperbolehkan. Selain berada di tikungan sungai, juga dekat dengan jembatan,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan pembahasan dengan pihak DPRD menindaklanjuti persoalan ini. Rencananya mereka akan melakukan pembongkaran terhadap dermaga yang dibangun oleh pemilik tersus. Sementara jadwal pembongkaran, menurutnya, akan ditentukan DPRD.

Sementara itu, pemilik tersus di bawah Jembatan Pawan II, Eko, membenarkan adanya penambatan kapal di tersus tersebut. “Kita hanya sementara saja nambat di situ, karena Pelabuhan Sukabangun tidak ada tempat bertambat akibat kapal menumpuk. Rencana kita tunggu cuaca bagus tanggal 31 Juli baru kita berangkat,” akunya.

Eko mengaku, pihaknya tidak melakukan bongkar muat kapal. Sementara waktu kapal-kapal dimaksud, menurut dia, menumpang bertambat di lokasi tersebut dan nantinya akan digeser ke lokasi yang diperbolehkan. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/