alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Mata Pelajaran Mulok Gambut dan Mangrove Mulai Diajarkan

SUNGAI RAYA – Beberapa sekolah di Kubu Raya dalam waktu dekat mulai melakukan uji coba penerapan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove.  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, Muhammad Ayub mengatakan kurikulum yang digagas oleh Icraf Indonesia dan Disdikbud Kubu Raya ini bukanlah mata pelajaran yang baru, namun merupakan mata pelajaran yang berintegrasi dengan mata pelajaran lain.

“Setidaknya ada tiga mata pelajaran yang terintegrasi pada mata pelajaran Muatan Lokal Gambut dan Mangrove ini, yakni Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS,” kata Ayub usai membuka Bimtek Guru Mata Pelajaran Mulok Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove, di Gardenia Resort Sungai Raya, Selasa (2/8).

Kata Ayub, Bimtek yang dilakukan tersebut sudah dilakukan sejak November tahun lalu. Setelah hal tersebut beres maka tahap selanjutnya adalah uji coba.

“Nah uji coba ini dilakukan pada sekolah target yang sudah kita petakan dengan tiga kriteria. Yakni, sekolah yang berada di wilayah atau potensi di sekitar gambut, sekolah yang berada di wilayah mangrove, dan sekolah target yang tidak berada di wilayah keduanya,” jelasnya.

Baca Juga :  Menjaga Benteng Pencegah Abrasi

Uji coba yang akan dilakukan menurut Ayub nantinya akan melihat sejauh mana tingkat efektivitas, keseuaian dan efisiensi pada penerapannya di sekolah target yang sudah dipilih.

“Setelah itu, akan dilakukan evaluasi dimana kekurangan dan penyesuaian yang akan dilakukan,” ujar  Ayub.

Direktur Icraf Indonesia Kalbar, Happy Hendrawan menambahkan pihaknya memiliki tujuan yang sama dengan gagasan yang diinginkan oleh Pemkab Kubu Raya. Dimana hasil penelitian yang dilakukan agar bisa dimanifestasikan pada daerah secara langsung.

“Hingga pada akhirnya, Icraf Indonesia bersama Pemerintah Kubu Raya melaksanakan program yang sejalan dengan tujuan tersebut dengan melakukan kajian hingga menyusun hasil-hasil penelitian tersebut menjadi bagian dalam materi dan bahan ajar pada kurikulum gambut dan mangrove yang selanjutnya disusun bersama tim perumus yang terdiri dari unsur Disdikbud Kubu Raya serta didukung oleh kawan-kawan dari WWF, Black Forest, Walhi, BRG, dan lainnya,” papar Happy Hendrawan.

Baca Juga :  Pantau 716 RT Terapkan PPKM Mikro

Perwakilan Disdikbud Provinsi Kalbar Samsuni mengatakan kurikulim ini bisa menjadi role model untuk diterapkan di Kalbar.

“Saat ini kita memiliki kewenangan pada tingkat SMA,. Sedangkan kabupaten pada tingkat PAUD hingga SMP, sehingga apa yang dirancang dan dilakukan oleh Kubu Raya ini bukannya tidak mungkin akan diterapkan pada tingkat SMA nantinya,” kata Samsuni.

Dia melihat, sebaran gambut dan mangrove juga menyebar di beberapa wilayah SMA yang ada di Kalbar.

“Kalau di pesisir tentu banyak yang wilayahnya memiliki potensi mangrove. Sedangkan wilayah gambut juga ada beberapa SMA yang berada di kawasan tersebut,” tutup Samsuni. (ash)

SUNGAI RAYA – Beberapa sekolah di Kubu Raya dalam waktu dekat mulai melakukan uji coba penerapan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove.  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, Muhammad Ayub mengatakan kurikulum yang digagas oleh Icraf Indonesia dan Disdikbud Kubu Raya ini bukanlah mata pelajaran yang baru, namun merupakan mata pelajaran yang berintegrasi dengan mata pelajaran lain.

“Setidaknya ada tiga mata pelajaran yang terintegrasi pada mata pelajaran Muatan Lokal Gambut dan Mangrove ini, yakni Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS,” kata Ayub usai membuka Bimtek Guru Mata Pelajaran Mulok Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove, di Gardenia Resort Sungai Raya, Selasa (2/8).

Kata Ayub, Bimtek yang dilakukan tersebut sudah dilakukan sejak November tahun lalu. Setelah hal tersebut beres maka tahap selanjutnya adalah uji coba.

“Nah uji coba ini dilakukan pada sekolah target yang sudah kita petakan dengan tiga kriteria. Yakni, sekolah yang berada di wilayah atau potensi di sekitar gambut, sekolah yang berada di wilayah mangrove, dan sekolah target yang tidak berada di wilayah keduanya,” jelasnya.

Baca Juga :  Pantau 716 RT Terapkan PPKM Mikro

Uji coba yang akan dilakukan menurut Ayub nantinya akan melihat sejauh mana tingkat efektivitas, keseuaian dan efisiensi pada penerapannya di sekolah target yang sudah dipilih.

“Setelah itu, akan dilakukan evaluasi dimana kekurangan dan penyesuaian yang akan dilakukan,” ujar  Ayub.

Direktur Icraf Indonesia Kalbar, Happy Hendrawan menambahkan pihaknya memiliki tujuan yang sama dengan gagasan yang diinginkan oleh Pemkab Kubu Raya. Dimana hasil penelitian yang dilakukan agar bisa dimanifestasikan pada daerah secara langsung.

“Hingga pada akhirnya, Icraf Indonesia bersama Pemerintah Kubu Raya melaksanakan program yang sejalan dengan tujuan tersebut dengan melakukan kajian hingga menyusun hasil-hasil penelitian tersebut menjadi bagian dalam materi dan bahan ajar pada kurikulum gambut dan mangrove yang selanjutnya disusun bersama tim perumus yang terdiri dari unsur Disdikbud Kubu Raya serta didukung oleh kawan-kawan dari WWF, Black Forest, Walhi, BRG, dan lainnya,” papar Happy Hendrawan.

Baca Juga :  Dorong Lebih Banyak Pembentukan SSK di Kubu Raya

Perwakilan Disdikbud Provinsi Kalbar Samsuni mengatakan kurikulim ini bisa menjadi role model untuk diterapkan di Kalbar.

“Saat ini kita memiliki kewenangan pada tingkat SMA,. Sedangkan kabupaten pada tingkat PAUD hingga SMP, sehingga apa yang dirancang dan dilakukan oleh Kubu Raya ini bukannya tidak mungkin akan diterapkan pada tingkat SMA nantinya,” kata Samsuni.

Dia melihat, sebaran gambut dan mangrove juga menyebar di beberapa wilayah SMA yang ada di Kalbar.

“Kalau di pesisir tentu banyak yang wilayahnya memiliki potensi mangrove. Sedangkan wilayah gambut juga ada beberapa SMA yang berada di kawasan tersebut,” tutup Samsuni. (ash)

Most Read

Artikel Terbaru

/