alexametrics
24 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Kisah Sukses Desa Sumber Agung Mengolah Air Tanah Menjadi Layak Minum

Puaskan Dahaga Warga, Penuhi Pundi-Pundi Desa

Selama sekitar satu dekade, penduduk Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya selalu mengalami krisis air bersih. Mereka belum menikmati layanan PDAM. Bila kemarau tiba, stok air hujan yang ditampung warga sering habis. Sumur-sumur pun kering atau terintrusi air laut. Namun, sejak tiga tahun terakhir, kebutuhan air bersih mereka mulai tercukupi. Semuanya tak lepas dari inovasi yang dilakukan Arifin Noor Aziz.

Ramses Tobing, Batu Ampar

PRIA itu sudah enam tahun menjabat sebagai Kepala Desa Sumber Agung. Perawakannya tinggi. Kulitnya hitam dan kepalanya plontos. Meski bertampang agak sangar, nada bicaranya lembut. Arifin (33) masih ingat, puncak kemarau terjadi pada 2015 silam. Waktu itu, musim kemarau agak panjang dari biasanya. Selain menyebabkan kekeringan, kemarau juga memicu kebakaran hutan yang begitu dahsyat.

Di saat yang bersamaan itulah, kegelisahan warga mencapai klimaks. Air bersih kian sulit diperoleh. Kalaupun dapat, mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Harga air minum isi ulang bisa mencapai Rp25 ribu per galon. Harga itu terbilang mahal bagi warga setempat yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun.

Arifin semakin terpacu mencari solusi. Ia berpikir bagaimana jika desanya mengolah air sendiri. Air untuk masyarakat yang bisa langsung diminum, lebih berkualitas dan dengan harga yang lebih murah. “Saya terus berusaha. Kabar baiknya, saya mendapat informasi penanggulangan air dari grup penggiat desa secara nasional. Ada program pemberdayaan air bersih untuk masyarakat,” tutur Arifin, Sabtu (7/12).

Kala itu ia belum tahu nama programnya. Akhirnya Arifin bertanya langsung ke Bappeda Kubu Raya. Selain meminta penjelasan soal program, ia juga menjajaki kemungkinan adanya dukungan anggaran jika program itu dilaksanakan di Desa Sumber Agung. “Mereka bilang ada dan nama programnya Pamsimas. Saya langsung buat proposalnya dan lalu mengajukannya ke Pemerintah Kabupaten Kubu Raya,” kenangnya.

Pamsimas adalah penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. Program ini dilaksanakan Pemerintah Indonesia di kawasan pedesaan dan mendapat dukungan Bank Dunia. Arifin bersyukur seluruh warganya mendukung program ini meski belum tahu sumber air dari mana yang akan dimanfaatkan.

Tahun 2016, proposal diajukannya ke Pemkab Kubu Raya. Bak gayung bersambut, proposal itu disetujui. Pemkab Kubu Raya mengucurkan anggaran sebesar Rp300 juta untuk Pamsimas yang bersumber dari APBD 2017. Pemerintah desa tak lepas tangan. Melalui APBDesa, bantuan dana juga dikucurkan senilai Rp50 juta.

Total anggaran Rp350 juta itu lantas digunakan untuk membuat sumur bor dan rumah produksi pengolahan air. Air yang disedot dari sumur bor kemudian dialirkan ke tempat pengolahan yang menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Daya tampung saat pembangunan pertama sebesar 13.000 kubik. Pengolahan itu sukses dan Arifin mengklaim kualitas air yang diproduksi jauh lebih baik dibandingkan depot. Rasanya pun lebih enak dan menyegarkan.

“Itu respon dari masyarakat. Mereka yang merasakannya,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura ini. Meski demikian, proses produksi terkendala listrik. Kebutuhannya mencapai lima ribu watt. Sebagai solusi, mereka bekerja sama dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang dibangun desa. PLTS ini merupakan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Sumber Agung.

Baca Juga :  2.465 BUMDes Sudah Mendaftar di Kemendes PDTT

Pengembangan pengolahan air bersih dari sumur air tanah ini pun terus berlanjut. Tahun 2018 dukungan anggaran kembali mengalir, tetapi bukan dari pemerintah kabupaten melainkan desa. Nilainya Rp25 juta.

Anggaran itu digunakan untuk penambahan ruang produksi, membeli tong-tong penampung air dan perawatan filter serta mesin air. Tahun 2019, pemerintah desa kembali memberikan dukungan anggaran Rp30 juta. Anggaran ini dimanfatkan untuk membangun bak endapan dengan kapasistas 34 ribu meter kubik. “Jadi, air yang disedot dari sumur bor akan diendapkan terlebih dahulu di kolam ini. Beberapa hari kemudian, air baru diolah dengan teknologi RO agar layak konsumsi,” terang Arifin.

Menurut Arifin, proses produksi diawali dengan menyedot air untuk kemudian difilter menjadi air baku. Air tanah difilter guna menghilangkan bau, karat dan rasa payau. Bapak dua anak ini yakin, dengan teknologi yang tepat, air tanah bisa diolah menjadi air bersih, bahkan layak konsumsi. “Saya tahu itu karena dari beberapa referensi bacaan dan informasi yang saya terima. Alhamdulillah masyarakat setuju,” katanya.

Manfaat Ekonomi

Ide untuk mengolah air dengan teknologi RO ini mencontek apa yang dilakukan PDAM. Arifin yakin, dengan teknologi itu, masyarakat tak perlu lagi membeli air bersih layak konsumsi atau air minum dengan harga mahal. Selama ini, jika kesulitan air bersih, masyarakat terpaksa membeli dari pengusaha. Mereka mengambil air itu di ibu kota Kecamatan Batu Ampar. Harga jualnya terbilang tinggi. Satu galon dipatok Rp25 ribu.

Menariknya, Arifin menjadikan usaha pengolahan air bersih ini sebagai BUMDes. Aplikasi programnya agak berbeda dari Pamsimas yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah penduduk. BUMDes ini memilih menjual air bersih menggunakan galon ke masyarakat. Alasannya untuk mengurangi biaya. Hasil penjualan air dijadikan pendapatan asli desa. Cara ini tak hanya memberikan keuntungan finansial bagi desa tetapi juga mengurangi pengangguran.

BUMDes itu menyerap tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat. Mereka bekerja di rumah produksi, sales atau pengantar air bersih. Kalaupun dijual, kata Arifin, harga air dipatok lebih rendah dari depot. “Alhamdulillah masyarakat semua setuju karena untuk kebutuhan mereka juga,” ucapnya. Ia mengakui konsep ini mengundang reaksi negatif dari kalangan pengusaha air bersih.

Arifin menjelaskan, air produksinya dijual Rp10 ribu per galon ke masyarakat. Sementara jika dijual ke toko, harganya Rp8.000 per galon. Sedangkan harga dari rumah produksi ke pemasaran dipatok Rp6.000 per galon. “Artinya toko mendapat keuntungan Rp2.000 per galon. Bedakan dengan di depot yang bisa mencapai Rp25 ribu saat kemarau. Kalau kami, harganya tetap sama,” sambung Arifin.

Dengan sistem ini, Arifin tetap menjaga rantai perdagangan. Caranya masyarakat tidak dibolehkan membeli langsung ke rumah produksi atau isi ulang. Jika butuh air, masyarakat bisa membelinya di toko dengan harga yang sudah ditetapkan. “Jadi tidak ada pekerjaan yang hilang,” ujarnya.

BUMDes ini menyerap empat tenaga kerja sebagai sales. Tiap sales mendapat keuntungan Rp2.000 dari setiap galon yang terjual. Air galon didistribusikan ke 16 toko di Sumber Agung. Dalam sehari, satu toko bisa menjual tujuh hingga sepuluh galon. Jika dihitung maka pendapatan dari sales dapat mencapai Rp224 ribu per hari.

Baca Juga :  KPP Pratama Kubu Raya Adakan Bakti Sosial

Permintaan akan melonjak di saat musim kemarau. Dalam tiga hari saja, kebutuhan bisa mencapai 200 galon untuk seluruh masyarakat. Selain di Sumber Agung, penjualan air bersih juga masuk ke desa tetangga yakni Muara Tiga dan Sungai Kerawang. Selain ke desa-desa, penjualan juga menyasar perusahaan-perusahaan di Sumber Agung. Kebutuhannya bisa tiga ribu sampai enam ribu liter air bersih saat musim kemarau. Jika di hari biasa, kebutuhan perusahaan hanya 25 galon.

Arifin berharap, ke depan produksi air mereka bisa lebih besar. Selain itu, ia juga menginginkan agar 60 persen produksi air bisa disalurkan langsung ke rumah penduduk. Saat ini saluran ke rumah warga sudah terpasang, meski baru untuk 25 rumah atau kepala keluarga. Menurut data terakhir pada November 2019,  penduduk desa ini mencapai 1.230 jiwa dengan 379 kepala keluarga.

Sumber Agung merupakan desa yang terletak di Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya. Akses menuju kesana satu-satunya hanya bisa melalui air. Ada dua pilihan alat transportasi yang digunakan untuk sampai ke sana yakni kapal klotok atau speedboat. Bila menggunakan kapal klotok, dibutuhkan waktu 11 jam dari Kota Pontianak.

Ia bahkan berencana untuk memperluas target pasar. Produksi air nanti tidak hanya menyediakan air galon tapi juga Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK). “Kami melihat AMDK ini berpotensi untuk dikembangkan. Masyarakat di sini setiap hajatan selalu menggunakan air kemasan. Kenapa harus beli dari luar jika bisa diproduksi sendiri,” katanya.

Ratmini, salah seorang warga mengaku merasakan manfaat dengan adanya program pengolahan air bersih dari program ini. Kualitas air yang dihasilkan dinilai lebih baik. Selain itu, harganya juga lebih murah dan stabil. Di saat musim kemarau pun, harga jual tetap Rp10 ribu per galon.

Sebelumnya adanya pengolahan air bersih di Sumber Agung ini, masyarakat memanfaatkan air sumur untuk kebutuhan air bersih. Air yang diambil dari sumur diendapkan beberapa hari, baru kemudian direbus dan dikonsumsi. Bila air di sumur kering, masyarakat membeli dari luar desa. “Dari rasanya beda jauh. Lebih enak yang sekarang,” tegas Ratmini.

Kasubbid Perhubungan, Komunikasi dan Permukiman Bappeda Kabupaten Kubu Raya, Ida Widyastuti menilai Desa Sumber Agung telah berhasil menjalankan program pemenuhan air bersih bagi masyarakat. Desa ini bahkan dianggap dapat menjadi contoh bagi desa lain karena capaiannya sesuai dengan target yang diharapkan. Salah satu indikator keberhasilan adalah bagaimana desa dapat memelihara keberlanjutan program.

“Ini dibuktikan dengan pemeliharaan peralatan serta adanya penerima manfaat,” kata Ketua DPMU (District Project Management Unit) dalam program Pamsimas ini. Menurutnya, salah satu tujuan Pamsimas adalah menyediakan layanan air minum untuk masyarakat yang merupakan layanan kebutuhan dasar. Bappeda sendiri sejak awal melakukan pendampingan agar program itu berjalan dengan baik. (*)

 

Puaskan Dahaga Warga, Penuhi Pundi-Pundi Desa

Selama sekitar satu dekade, penduduk Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya selalu mengalami krisis air bersih. Mereka belum menikmati layanan PDAM. Bila kemarau tiba, stok air hujan yang ditampung warga sering habis. Sumur-sumur pun kering atau terintrusi air laut. Namun, sejak tiga tahun terakhir, kebutuhan air bersih mereka mulai tercukupi. Semuanya tak lepas dari inovasi yang dilakukan Arifin Noor Aziz.

Ramses Tobing, Batu Ampar

PRIA itu sudah enam tahun menjabat sebagai Kepala Desa Sumber Agung. Perawakannya tinggi. Kulitnya hitam dan kepalanya plontos. Meski bertampang agak sangar, nada bicaranya lembut. Arifin (33) masih ingat, puncak kemarau terjadi pada 2015 silam. Waktu itu, musim kemarau agak panjang dari biasanya. Selain menyebabkan kekeringan, kemarau juga memicu kebakaran hutan yang begitu dahsyat.

Di saat yang bersamaan itulah, kegelisahan warga mencapai klimaks. Air bersih kian sulit diperoleh. Kalaupun dapat, mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Harga air minum isi ulang bisa mencapai Rp25 ribu per galon. Harga itu terbilang mahal bagi warga setempat yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun.

Arifin semakin terpacu mencari solusi. Ia berpikir bagaimana jika desanya mengolah air sendiri. Air untuk masyarakat yang bisa langsung diminum, lebih berkualitas dan dengan harga yang lebih murah. “Saya terus berusaha. Kabar baiknya, saya mendapat informasi penanggulangan air dari grup penggiat desa secara nasional. Ada program pemberdayaan air bersih untuk masyarakat,” tutur Arifin, Sabtu (7/12).

Kala itu ia belum tahu nama programnya. Akhirnya Arifin bertanya langsung ke Bappeda Kubu Raya. Selain meminta penjelasan soal program, ia juga menjajaki kemungkinan adanya dukungan anggaran jika program itu dilaksanakan di Desa Sumber Agung. “Mereka bilang ada dan nama programnya Pamsimas. Saya langsung buat proposalnya dan lalu mengajukannya ke Pemerintah Kabupaten Kubu Raya,” kenangnya.

Pamsimas adalah penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. Program ini dilaksanakan Pemerintah Indonesia di kawasan pedesaan dan mendapat dukungan Bank Dunia. Arifin bersyukur seluruh warganya mendukung program ini meski belum tahu sumber air dari mana yang akan dimanfaatkan.

Tahun 2016, proposal diajukannya ke Pemkab Kubu Raya. Bak gayung bersambut, proposal itu disetujui. Pemkab Kubu Raya mengucurkan anggaran sebesar Rp300 juta untuk Pamsimas yang bersumber dari APBD 2017. Pemerintah desa tak lepas tangan. Melalui APBDesa, bantuan dana juga dikucurkan senilai Rp50 juta.

Total anggaran Rp350 juta itu lantas digunakan untuk membuat sumur bor dan rumah produksi pengolahan air. Air yang disedot dari sumur bor kemudian dialirkan ke tempat pengolahan yang menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Daya tampung saat pembangunan pertama sebesar 13.000 kubik. Pengolahan itu sukses dan Arifin mengklaim kualitas air yang diproduksi jauh lebih baik dibandingkan depot. Rasanya pun lebih enak dan menyegarkan.

“Itu respon dari masyarakat. Mereka yang merasakannya,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura ini. Meski demikian, proses produksi terkendala listrik. Kebutuhannya mencapai lima ribu watt. Sebagai solusi, mereka bekerja sama dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang dibangun desa. PLTS ini merupakan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Sumber Agung.

Baca Juga :  Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dengan Pengelolaan Equator Park

Pengembangan pengolahan air bersih dari sumur air tanah ini pun terus berlanjut. Tahun 2018 dukungan anggaran kembali mengalir, tetapi bukan dari pemerintah kabupaten melainkan desa. Nilainya Rp25 juta.

Anggaran itu digunakan untuk penambahan ruang produksi, membeli tong-tong penampung air dan perawatan filter serta mesin air. Tahun 2019, pemerintah desa kembali memberikan dukungan anggaran Rp30 juta. Anggaran ini dimanfatkan untuk membangun bak endapan dengan kapasistas 34 ribu meter kubik. “Jadi, air yang disedot dari sumur bor akan diendapkan terlebih dahulu di kolam ini. Beberapa hari kemudian, air baru diolah dengan teknologi RO agar layak konsumsi,” terang Arifin.

Menurut Arifin, proses produksi diawali dengan menyedot air untuk kemudian difilter menjadi air baku. Air tanah difilter guna menghilangkan bau, karat dan rasa payau. Bapak dua anak ini yakin, dengan teknologi yang tepat, air tanah bisa diolah menjadi air bersih, bahkan layak konsumsi. “Saya tahu itu karena dari beberapa referensi bacaan dan informasi yang saya terima. Alhamdulillah masyarakat setuju,” katanya.

Manfaat Ekonomi

Ide untuk mengolah air dengan teknologi RO ini mencontek apa yang dilakukan PDAM. Arifin yakin, dengan teknologi itu, masyarakat tak perlu lagi membeli air bersih layak konsumsi atau air minum dengan harga mahal. Selama ini, jika kesulitan air bersih, masyarakat terpaksa membeli dari pengusaha. Mereka mengambil air itu di ibu kota Kecamatan Batu Ampar. Harga jualnya terbilang tinggi. Satu galon dipatok Rp25 ribu.

Menariknya, Arifin menjadikan usaha pengolahan air bersih ini sebagai BUMDes. Aplikasi programnya agak berbeda dari Pamsimas yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah penduduk. BUMDes ini memilih menjual air bersih menggunakan galon ke masyarakat. Alasannya untuk mengurangi biaya. Hasil penjualan air dijadikan pendapatan asli desa. Cara ini tak hanya memberikan keuntungan finansial bagi desa tetapi juga mengurangi pengangguran.

BUMDes itu menyerap tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat. Mereka bekerja di rumah produksi, sales atau pengantar air bersih. Kalaupun dijual, kata Arifin, harga air dipatok lebih rendah dari depot. “Alhamdulillah masyarakat semua setuju karena untuk kebutuhan mereka juga,” ucapnya. Ia mengakui konsep ini mengundang reaksi negatif dari kalangan pengusaha air bersih.

Arifin menjelaskan, air produksinya dijual Rp10 ribu per galon ke masyarakat. Sementara jika dijual ke toko, harganya Rp8.000 per galon. Sedangkan harga dari rumah produksi ke pemasaran dipatok Rp6.000 per galon. “Artinya toko mendapat keuntungan Rp2.000 per galon. Bedakan dengan di depot yang bisa mencapai Rp25 ribu saat kemarau. Kalau kami, harganya tetap sama,” sambung Arifin.

Dengan sistem ini, Arifin tetap menjaga rantai perdagangan. Caranya masyarakat tidak dibolehkan membeli langsung ke rumah produksi atau isi ulang. Jika butuh air, masyarakat bisa membelinya di toko dengan harga yang sudah ditetapkan. “Jadi tidak ada pekerjaan yang hilang,” ujarnya.

BUMDes ini menyerap empat tenaga kerja sebagai sales. Tiap sales mendapat keuntungan Rp2.000 dari setiap galon yang terjual. Air galon didistribusikan ke 16 toko di Sumber Agung. Dalam sehari, satu toko bisa menjual tujuh hingga sepuluh galon. Jika dihitung maka pendapatan dari sales dapat mencapai Rp224 ribu per hari.

Baca Juga :  SKPD Harus Bekerja Lebih Cepat dan Tepat Sasaran 

Permintaan akan melonjak di saat musim kemarau. Dalam tiga hari saja, kebutuhan bisa mencapai 200 galon untuk seluruh masyarakat. Selain di Sumber Agung, penjualan air bersih juga masuk ke desa tetangga yakni Muara Tiga dan Sungai Kerawang. Selain ke desa-desa, penjualan juga menyasar perusahaan-perusahaan di Sumber Agung. Kebutuhannya bisa tiga ribu sampai enam ribu liter air bersih saat musim kemarau. Jika di hari biasa, kebutuhan perusahaan hanya 25 galon.

Arifin berharap, ke depan produksi air mereka bisa lebih besar. Selain itu, ia juga menginginkan agar 60 persen produksi air bisa disalurkan langsung ke rumah penduduk. Saat ini saluran ke rumah warga sudah terpasang, meski baru untuk 25 rumah atau kepala keluarga. Menurut data terakhir pada November 2019,  penduduk desa ini mencapai 1.230 jiwa dengan 379 kepala keluarga.

Sumber Agung merupakan desa yang terletak di Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya. Akses menuju kesana satu-satunya hanya bisa melalui air. Ada dua pilihan alat transportasi yang digunakan untuk sampai ke sana yakni kapal klotok atau speedboat. Bila menggunakan kapal klotok, dibutuhkan waktu 11 jam dari Kota Pontianak.

Ia bahkan berencana untuk memperluas target pasar. Produksi air nanti tidak hanya menyediakan air galon tapi juga Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK). “Kami melihat AMDK ini berpotensi untuk dikembangkan. Masyarakat di sini setiap hajatan selalu menggunakan air kemasan. Kenapa harus beli dari luar jika bisa diproduksi sendiri,” katanya.

Ratmini, salah seorang warga mengaku merasakan manfaat dengan adanya program pengolahan air bersih dari program ini. Kualitas air yang dihasilkan dinilai lebih baik. Selain itu, harganya juga lebih murah dan stabil. Di saat musim kemarau pun, harga jual tetap Rp10 ribu per galon.

Sebelumnya adanya pengolahan air bersih di Sumber Agung ini, masyarakat memanfaatkan air sumur untuk kebutuhan air bersih. Air yang diambil dari sumur diendapkan beberapa hari, baru kemudian direbus dan dikonsumsi. Bila air di sumur kering, masyarakat membeli dari luar desa. “Dari rasanya beda jauh. Lebih enak yang sekarang,” tegas Ratmini.

Kasubbid Perhubungan, Komunikasi dan Permukiman Bappeda Kabupaten Kubu Raya, Ida Widyastuti menilai Desa Sumber Agung telah berhasil menjalankan program pemenuhan air bersih bagi masyarakat. Desa ini bahkan dianggap dapat menjadi contoh bagi desa lain karena capaiannya sesuai dengan target yang diharapkan. Salah satu indikator keberhasilan adalah bagaimana desa dapat memelihara keberlanjutan program.

“Ini dibuktikan dengan pemeliharaan peralatan serta adanya penerima manfaat,” kata Ketua DPMU (District Project Management Unit) dalam program Pamsimas ini. Menurutnya, salah satu tujuan Pamsimas adalah menyediakan layanan air minum untuk masyarakat yang merupakan layanan kebutuhan dasar. Bappeda sendiri sejak awal melakukan pendampingan agar program itu berjalan dengan baik. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/