alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Pesantren Juga Bisa Kelola Objek Wisata

Terus Kembangkan Potensi Wisata

SUNGAI RAYA – Pengembangan potensi sektor pariwisata desa di Kubu Raya kian menggeliat. Setelah mendorong optimalisasi pengelolaan sejumlah objek wisata dibeberapa desa Kubu Raya, baru-baru ini (12/9), Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan kembali meresmikan objek Wisata Religi Pondok Pesantren Darul Fikri di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap.

Orang nomor satu di Pemerintahan Kubu Raya ini mengapresiasi objek wisata religi yang dikelola pondok pesantren. Dia menilai hal tersebut membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Pondok pesantren di Kubu Raya itu terbanyak di Kalimantan. Dengan kreativitas dan semangat, pondok pesantren itu tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang tapi lebih luas, yaitu bisa memberikan stimulan dampak ekonomi sosial yang luar biasa. Nah, Alhamdulillah luar biasa inisiatif konsepnya,” ucap Muda.

Muda melihat beberapa waktu terakhir pariwisata desa di Kubu Raya berkembang pesat. Setiap akhir pekan, berdasarkan laporan yang diterimanya, cukup banyak kunjungan ke objek-objek wisata desa di Kubu Raya. Karena itu, dirinya mengajak pengelola wisata religi Darul Fikri untuk terus mengembangkan potensi wisata yang ada.

Baca Juga :  Ubah Kawasan Kumuh jadi Objek Wisata

“Di sini areanya masih cukup memadai. Bisa saja nanti ada area untuk kamping atau berkemah. Dan itu bisa jadi potensi bagi anak-anak muda yang sangat aktif,” ucapnya.

Muda pun mengaku gembira dengan keberadaan wisata religi di Kubu Raya. Sebab hal itu relevan dengan visi religius Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Dirinya menyebut wisata tak selalu identik dengan kesenangan material.

“Wisata itu bukan hanya soal senang-senang, namun juga mengenai dampak manfaat yaitu memberikan suasana batin yang membahagiakan. Siapa yang tidak bahagia ketika berada di dekat pondok pesantren,” ujarnya.

Muda Mahendrawan menilai Kubu Raya dengan 118 desa dan profil penduduk yang heterogen menjadi aset besar khususnya di sektor pariwisata. Terlebih Kubu Raya memiliki tiga pintu muara dan akses masuk melalui darat, air, dan udara di mana terdapat bandara dan terminal bis internasional. Kubu Raya juga berbatasan langsung dengan enam kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Barat. Berbagai kelebihan itu, menurutnya, harus dikelola secara maksimal.

Baca Juga :  Jelang CGM, Kedatangan dari Luar Negeri Meningkat

“Kita kembangkan semua ini. Desa-desa ada 118 dan satu sama lain punya ciri khas budaya peradaban yang masih hidup. Inilah suatu potensi luar biasa buat kita. Dengan kreativitas dan inovasi, ini memunculkan inspirasi dan gerakan-gerakan penguatan yang dapat mengurangi pengangguran. Apalagi di tengah pandemi saat ini,” tuturnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fikri, Kiai Nur Holik, menerangkan dirinya menggagas Wisata Religi Ponpes Darul Fikri dengan tema unik. Hal itu untuk membangkitkan kembali budaya-budaya lokal yang selama ini mulai tergerus kemajuan teknologi.

”Jangan sampai budaya-budaya kearifan lokal leluhur kita dihilangkan. Sebab tanpa perjuangan para leluhur, kita tidak bisa menikmati kemerdekaan seperti saat ini,” ucapnya. (ash)

 

Terus Kembangkan Potensi Wisata

SUNGAI RAYA – Pengembangan potensi sektor pariwisata desa di Kubu Raya kian menggeliat. Setelah mendorong optimalisasi pengelolaan sejumlah objek wisata dibeberapa desa Kubu Raya, baru-baru ini (12/9), Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan kembali meresmikan objek Wisata Religi Pondok Pesantren Darul Fikri di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap.

Orang nomor satu di Pemerintahan Kubu Raya ini mengapresiasi objek wisata religi yang dikelola pondok pesantren. Dia menilai hal tersebut membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Pondok pesantren di Kubu Raya itu terbanyak di Kalimantan. Dengan kreativitas dan semangat, pondok pesantren itu tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang tapi lebih luas, yaitu bisa memberikan stimulan dampak ekonomi sosial yang luar biasa. Nah, Alhamdulillah luar biasa inisiatif konsepnya,” ucap Muda.

Muda melihat beberapa waktu terakhir pariwisata desa di Kubu Raya berkembang pesat. Setiap akhir pekan, berdasarkan laporan yang diterimanya, cukup banyak kunjungan ke objek-objek wisata desa di Kubu Raya. Karena itu, dirinya mengajak pengelola wisata religi Darul Fikri untuk terus mengembangkan potensi wisata yang ada.

Baca Juga :  Ubah Kawasan Kumuh jadi Objek Wisata

“Di sini areanya masih cukup memadai. Bisa saja nanti ada area untuk kamping atau berkemah. Dan itu bisa jadi potensi bagi anak-anak muda yang sangat aktif,” ucapnya.

Muda pun mengaku gembira dengan keberadaan wisata religi di Kubu Raya. Sebab hal itu relevan dengan visi religius Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Dirinya menyebut wisata tak selalu identik dengan kesenangan material.

“Wisata itu bukan hanya soal senang-senang, namun juga mengenai dampak manfaat yaitu memberikan suasana batin yang membahagiakan. Siapa yang tidak bahagia ketika berada di dekat pondok pesantren,” ujarnya.

Muda Mahendrawan menilai Kubu Raya dengan 118 desa dan profil penduduk yang heterogen menjadi aset besar khususnya di sektor pariwisata. Terlebih Kubu Raya memiliki tiga pintu muara dan akses masuk melalui darat, air, dan udara di mana terdapat bandara dan terminal bis internasional. Kubu Raya juga berbatasan langsung dengan enam kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Barat. Berbagai kelebihan itu, menurutnya, harus dikelola secara maksimal.

Baca Juga :  Aulia Pelopori Wisata Berkuda di Sanggau

“Kita kembangkan semua ini. Desa-desa ada 118 dan satu sama lain punya ciri khas budaya peradaban yang masih hidup. Inilah suatu potensi luar biasa buat kita. Dengan kreativitas dan inovasi, ini memunculkan inspirasi dan gerakan-gerakan penguatan yang dapat mengurangi pengangguran. Apalagi di tengah pandemi saat ini,” tuturnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fikri, Kiai Nur Holik, menerangkan dirinya menggagas Wisata Religi Ponpes Darul Fikri dengan tema unik. Hal itu untuk membangkitkan kembali budaya-budaya lokal yang selama ini mulai tergerus kemajuan teknologi.

”Jangan sampai budaya-budaya kearifan lokal leluhur kita dihilangkan. Sebab tanpa perjuangan para leluhur, kita tidak bisa menikmati kemerdekaan seperti saat ini,” ucapnya. (ash)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/