alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Warga Tunggu Bantuan Sembako

SUNGAI AMBAWANG – Banjir masih menggenangi rumah-rumah warga di sepanjang Jalan Trans Kalimantan, mulai dari Desa Pancaroba hingga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Selasa (17/12). Meski tidak setinggi sehari sebelumnya, ratusan rumah warga masih tergenang banjir. Sementara itu ruas jalan Trans Kalimantan yang melewati dua desa ini juga masih terendam banjir.

Warga korban banjir berharap pemerintah segera memberikan bantuan. Bantuan yang paling diperlukan adalah sembako. Jaka, warga Desa Pancaroba (52) berharap instansi terkait dapat turun tangan menyikapi bencana ini. Ia juga mengakui banjir tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Hal ini tampak pada genangan air yang masuk ke dalam rumah. Tahun lalu, kata Jaka, ketinggian air dalam rumahnya hanya setengah meter. Sementara sekarang, ketinggian air mencapai sekitar  satu meter.

Menurutnya, bantuan yang sangat diharapkan masyarakat setempat saat ini adalah sembako. Bantuan itu sangat perlu karena warga tidak bisa bekerja akibat banjir. “Masyarakat tak bisa noreh karena banjir seperti sekarang,” ungkapnya.

Warga lainnya, Yulianus (54), berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi parit atau sungai. Ia berpendapat, banjir ini terjadi tak lepas dari derasnya hujan dan meluapnya air sungai.  “Kalau memang ada anggarannya, tolonglah lebarkan sungai kami agar daerah kami tak tergenang sepanjang tahun,” pintanya.

Ia menjelaskan genangan air yang merendam rumah warga di kawasan Pancaroba ini merupakan luapan dari Sungai Benua dan Sungai Lonce. Saat hujan, debit air bertambah dan di saat yang bersamaan sungai tak mampu lagi menampung sehingga terjadi banjir.

“Tempat kami terendam banjir karena sungai yang menampung air terlalu kecil. Agar tak menjadi langganan banjir, kami minta normalisasi sungai,” kata pria yang sehari-hari menoreh karet ini.

Baca Juga :  Akses Jalan Desa Songga Putus Akibat Banjir

Kepala Dusun Teluk Lais, Desa Teluk Bakung, Silpianus mengatakan ada sekitar 130 rumah di Teluk Lais yang terendam. Ketingian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 cm. “Di dalam rumah belum ada yang sampai satu meter,” katanya.

Menurutnya, banjir yang terjadi di Teluk Lais ini terhitung sejak enam hari lalu. Ada tiga hari di mana kondisi banjir dinilai cukup parah.

Ia menambahkan, sehari sebelumnya kondisi banjir belum begitu parah. Bahkan kendaraan roda dua masih bisa melintas. “Karena hujan deras turun, lalu makin parah. Motor tak bisa lewat. Ada maksa dan kendaraannya pun mogok,” tambahnya.

Menyikapi hal ini, dirinya sudah melapor ke pemerintah desa, BPBD dan dinas sosial. Selain itu, laporan tentang kondisi masyarakat korban banjir juga disampaikan ke kepolisian. “Sudah dilaporkan semua, dikirimkan foto rumah yang terendam air,” katanya.

Dalam pelaporan itu, ia juga mengajukan permohonan bantuan ke dinas terkait. Ia berharap bantuan utama berupa bahan pokok dapat segera disalurkan. “Bantuan yang diberikan jangan tanggung-tanggung. Masyarakat di sini hingga ke Pancaroba, mata pencahariannya menoreh getah. Dengan kondisi kayak gini masyarakat pun tak bisa turun noreh,” jelasnya.

Di satu sisi, Silpianus merasa prihatin karena warganya sedang tertimpa musibah banjir. Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur. Soalnya, masa panen nanas telah tiba. Dengan demikian, sebagian masyarakat punya alternatif penghasilan selain dari menoreh karet. “Itu pun tak semua masyarakat panen nanas. Makanya kami berharap bantuan utama seperti beras bisa segera diberikan ke masyarakat,” harapnya.

Waspada Hujan Angin

Baca Juga :  Kandas Realisasikan Target Juara Umum

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia akan diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir selama tiga hari ke depan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah untuk bentuk tim siaga bencana.

Adi menuturkan, pada Desember ini, kondisi atmosfer di mana angin muson barat sudah mulai stabil. Terdapat sirkulasi siklonik di Laut Natuna, Samudera Pasifik di utara Papua, dan Australia bagian utara. Konvergensi tersebut memanjang dari Laut Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara bagian selatan hingga Papua Barat.

Belokan angin tersebut kemudian memanjang di sekitar wilayah khatulistiwa. Kecepatan angin terpantau lebih dari 25 knot bertiup dari Laut Cina Selatan. ”Suplai uap air dari lautan Indonesia juga sudah mulai intens. Sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan hujan,” beber Adi. Selama periode musim hujan ini, dia mewanti-wanti agar masyarakat terus siaga.

Kepala Pusat, Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo mengimbau masyarakat yang daerahnya diguyur hujan lebat disertai petir dan angin kencang untuk waspada. Sebab, fenomena alam tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeotologi. ”Seperti angin puting beliung, banjir, atau longsor,” terangnya.

Agus memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Februari hingga Maret. BNPB menghitung ada sekitar 489 kota/kabupaten berpotensi banjir. Juga ada 441 kota/kabupaten berpotensi terjadi bencana tanah longsor.

”BNPB meminta pemerintah daerah yang dianggap rawan bencana hidrometeotologiuntuk segera menetapkan status siaga darurat,” beber Agus. BNPB sudah menyiapkan dana siap pakai jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Agus menegaskan, status siap siaga bukan berarti sudah terjadi bencana. Justru status tersebut merupakan langkah antisipasi sebelum terjadi bencana. (han/mia)

 

SUNGAI AMBAWANG – Banjir masih menggenangi rumah-rumah warga di sepanjang Jalan Trans Kalimantan, mulai dari Desa Pancaroba hingga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Selasa (17/12). Meski tidak setinggi sehari sebelumnya, ratusan rumah warga masih tergenang banjir. Sementara itu ruas jalan Trans Kalimantan yang melewati dua desa ini juga masih terendam banjir.

Warga korban banjir berharap pemerintah segera memberikan bantuan. Bantuan yang paling diperlukan adalah sembako. Jaka, warga Desa Pancaroba (52) berharap instansi terkait dapat turun tangan menyikapi bencana ini. Ia juga mengakui banjir tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Hal ini tampak pada genangan air yang masuk ke dalam rumah. Tahun lalu, kata Jaka, ketinggian air dalam rumahnya hanya setengah meter. Sementara sekarang, ketinggian air mencapai sekitar  satu meter.

Menurutnya, bantuan yang sangat diharapkan masyarakat setempat saat ini adalah sembako. Bantuan itu sangat perlu karena warga tidak bisa bekerja akibat banjir. “Masyarakat tak bisa noreh karena banjir seperti sekarang,” ungkapnya.

Warga lainnya, Yulianus (54), berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi parit atau sungai. Ia berpendapat, banjir ini terjadi tak lepas dari derasnya hujan dan meluapnya air sungai.  “Kalau memang ada anggarannya, tolonglah lebarkan sungai kami agar daerah kami tak tergenang sepanjang tahun,” pintanya.

Ia menjelaskan genangan air yang merendam rumah warga di kawasan Pancaroba ini merupakan luapan dari Sungai Benua dan Sungai Lonce. Saat hujan, debit air bertambah dan di saat yang bersamaan sungai tak mampu lagi menampung sehingga terjadi banjir.

“Tempat kami terendam banjir karena sungai yang menampung air terlalu kecil. Agar tak menjadi langganan banjir, kami minta normalisasi sungai,” kata pria yang sehari-hari menoreh karet ini.

Baca Juga :  Giliran Sejangkung Direndam Banjir

Kepala Dusun Teluk Lais, Desa Teluk Bakung, Silpianus mengatakan ada sekitar 130 rumah di Teluk Lais yang terendam. Ketingian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 cm. “Di dalam rumah belum ada yang sampai satu meter,” katanya.

Menurutnya, banjir yang terjadi di Teluk Lais ini terhitung sejak enam hari lalu. Ada tiga hari di mana kondisi banjir dinilai cukup parah.

Ia menambahkan, sehari sebelumnya kondisi banjir belum begitu parah. Bahkan kendaraan roda dua masih bisa melintas. “Karena hujan deras turun, lalu makin parah. Motor tak bisa lewat. Ada maksa dan kendaraannya pun mogok,” tambahnya.

Menyikapi hal ini, dirinya sudah melapor ke pemerintah desa, BPBD dan dinas sosial. Selain itu, laporan tentang kondisi masyarakat korban banjir juga disampaikan ke kepolisian. “Sudah dilaporkan semua, dikirimkan foto rumah yang terendam air,” katanya.

Dalam pelaporan itu, ia juga mengajukan permohonan bantuan ke dinas terkait. Ia berharap bantuan utama berupa bahan pokok dapat segera disalurkan. “Bantuan yang diberikan jangan tanggung-tanggung. Masyarakat di sini hingga ke Pancaroba, mata pencahariannya menoreh getah. Dengan kondisi kayak gini masyarakat pun tak bisa turun noreh,” jelasnya.

Di satu sisi, Silpianus merasa prihatin karena warganya sedang tertimpa musibah banjir. Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur. Soalnya, masa panen nanas telah tiba. Dengan demikian, sebagian masyarakat punya alternatif penghasilan selain dari menoreh karet. “Itu pun tak semua masyarakat panen nanas. Makanya kami berharap bantuan utama seperti beras bisa segera diberikan ke masyarakat,” harapnya.

Waspada Hujan Angin

Baca Juga :  Akses Jalan Desa Songga Putus Akibat Banjir

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia akan diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir selama tiga hari ke depan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah untuk bentuk tim siaga bencana.

Adi menuturkan, pada Desember ini, kondisi atmosfer di mana angin muson barat sudah mulai stabil. Terdapat sirkulasi siklonik di Laut Natuna, Samudera Pasifik di utara Papua, dan Australia bagian utara. Konvergensi tersebut memanjang dari Laut Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara bagian selatan hingga Papua Barat.

Belokan angin tersebut kemudian memanjang di sekitar wilayah khatulistiwa. Kecepatan angin terpantau lebih dari 25 knot bertiup dari Laut Cina Selatan. ”Suplai uap air dari lautan Indonesia juga sudah mulai intens. Sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan hujan,” beber Adi. Selama periode musim hujan ini, dia mewanti-wanti agar masyarakat terus siaga.

Kepala Pusat, Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo mengimbau masyarakat yang daerahnya diguyur hujan lebat disertai petir dan angin kencang untuk waspada. Sebab, fenomena alam tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeotologi. ”Seperti angin puting beliung, banjir, atau longsor,” terangnya.

Agus memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Februari hingga Maret. BNPB menghitung ada sekitar 489 kota/kabupaten berpotensi banjir. Juga ada 441 kota/kabupaten berpotensi terjadi bencana tanah longsor.

”BNPB meminta pemerintah daerah yang dianggap rawan bencana hidrometeotologiuntuk segera menetapkan status siaga darurat,” beber Agus. BNPB sudah menyiapkan dana siap pakai jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Agus menegaskan, status siap siaga bukan berarti sudah terjadi bencana. Justru status tersebut merupakan langkah antisipasi sebelum terjadi bencana. (han/mia)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/