alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Pengendalian Karhutla Jadi Tugas Bersama 

SUNGAI RAYA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai menjadi salah satu masalah yang kerap terjadi setiap tahunnya terutama saat memasuki musim kemarau. Beberapa penyebab terjadinya karhutla seperti masih adanya pembuka lahan pertanian, perkebunan dengan cara membakar dan sejenisnya.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendarwan mengatakan, akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak negatif yang sangat beragam. Misalanya saja, mulai dari kerusakan ekologi, menurunnya keanekaragaman hayati, hingga asap yang mengganggu kesehatan dan aktiivitas masyarakat. Kata Muda, masa sulit karhutla di tahun 2019 telah mengakibatkan kabut asap di Kalimantan Barat. Sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan penutupan penerbangan di Bandara Supadio.

“Hal itu merupakan titik balik dalam kegiatan pengendalian karhutla yang sebelumnya berorientasi penanggulangan, kemudian berubah dengan lebih mengutamakan pencegahan dan peningkatan koordinasi antarpihak,” katanya usai menjadi Pembina Apel Siaga Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan tingkat Kalimantan Barat, Kamis (23/7), di halaman Kantor Bupati Kubu Raya.

Dia menilai pengendalian karhutla, termasuk di Kubu Raya menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Agar penanganan itu berhasil, maka perlu kebijakan yang dapat meningkatkan keterlibatan semua pihak dalam penanganan karhutla secara aktif.

“Upaya pengendalian karhutla perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni dan dukungan sarana prasarana serta penganggaran yang memadai. Sehingga upaya pengendalian karhutla di Kubu Raya tahun 2020 ini dapat terlaksana secara optimal,” terangnya.

Baca Juga :  Ayo Dukung Program Desa

Apel yang digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan menanggulangi bencana Karhutla di Kalimantan Barat, lanjut Muda, salah satunya bertujuan memfokuskan langkah-langkah persiapan pengendalian karhutla yang dilakukan oleh setiap pihak. Baik jajaran TNI, Polri, masyarakat, dan pihak terkait lainnya pada periode puncak kemarau tahun 2020.

“Diadakannya apel ini adalah untuk menyamakan langkah dan menyatukan tekad untuk bahu membahu dalam pencegahan dan penanggulangan bencana asap di Kalimantan Barat khususnya di Kubu Raya,” ungkapnya.

Kepada semua pihak, Muda mengajak untuk mengubah stigma yang ada selama ini, yakni stigma yang menempatkan masyarakat sebagai korban. Menurutnya, sudah saatnya masyarakat lebih diberdayakan sebagai subjek dalam penanganan bencana. “Keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam menentukan keberhasilan suatu upaya penanganan bencana,” ucapnya,

Dia mengajak jajaran instansi pemerintah, swasta, dan seluruh masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan. Bentuknya dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Karena sebagian besar kondisi lahan di Kubu Raya adalah lahan gambut yang potensial menyebabkan kebakaran yang cepat meluas. Dirinya meminta semua pihak menyadari bahwa bencana karhutla merupakan tanggung jawab dan pekerjaan rumah bersama.

“Jadi mari tingkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan serta perkokoh kerja sama yang sudah terjalin dengan baik. Koordinasi yang harmonis dan sinergis antarpihak serta keterlibatan semua pihak baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan syarat mutlak dalam mewujudkan pengendalian karhutla yang integratif dan komprehensif di wilayah Kabupaten Kubu Raya,” pungkasnya.

Baca Juga :  3.480 Vial Vaksin Covid-19 Tiba di Kubu Raya

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kubu Raya Mokhtar mengatakan,  selain telah memetakan sejumlah daerah yang dinilai rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, Pemerintah Kubu Raya pun juga sudah menetapkan status siaga Karhutla yang berlaku sejak 1 Februari 2020 hingga 20 Oktober 2020 mendatang.

Mengacu pada hasil pemetaan yang telah dilakukan, kata Mokhtar saat ini terdapat 18 desa di Kubu Raya yang cukup rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. 18 desa tersebut kata dia tersebar di Kecamatan Sungai Raya, Rasau Jaya, Sungai Kakap, Sungai Ambawang, dan Kuala Mandor B.

Selain melibatkan sejumlah instansi terkait, kata Mokhtar, dalam upaya pemadaman titik api, pihaknya juga selalu melibatkan Kelompok Masyarakat Peduli Api yang ada disetiap desa di Kubu Raya. Dia melihat kiprah Pokmas Peduli Api sejauh ini cukup baik. Meski begitu lantaran keterbatasan alat yang dimiliki pokmas dalam hal peralatan perlu disiasati dengan strategi sinergi yang efektif.

“Saya melihat keterlibatan masyarakat melalui Pokmas Peduli Api sudah baik. Namun yang menjadi titik lemah pokmas adalah peralatan. Karena kapasitas mesin yang ada di desa, jangkauan penyemprotannya tidak sekuat yang menjadi standar penanganan karhutla. Maka setiap kejadian karhutla kami selalu mengajak pokmas bahu membahu dalam penanganan dengan menggunakan peralatan yang ada BPBD,” ungkapnya. (ash)

 

SUNGAI RAYA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai menjadi salah satu masalah yang kerap terjadi setiap tahunnya terutama saat memasuki musim kemarau. Beberapa penyebab terjadinya karhutla seperti masih adanya pembuka lahan pertanian, perkebunan dengan cara membakar dan sejenisnya.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendarwan mengatakan, akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak negatif yang sangat beragam. Misalanya saja, mulai dari kerusakan ekologi, menurunnya keanekaragaman hayati, hingga asap yang mengganggu kesehatan dan aktiivitas masyarakat. Kata Muda, masa sulit karhutla di tahun 2019 telah mengakibatkan kabut asap di Kalimantan Barat. Sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan penutupan penerbangan di Bandara Supadio.

“Hal itu merupakan titik balik dalam kegiatan pengendalian karhutla yang sebelumnya berorientasi penanggulangan, kemudian berubah dengan lebih mengutamakan pencegahan dan peningkatan koordinasi antarpihak,” katanya usai menjadi Pembina Apel Siaga Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan tingkat Kalimantan Barat, Kamis (23/7), di halaman Kantor Bupati Kubu Raya.

Dia menilai pengendalian karhutla, termasuk di Kubu Raya menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Agar penanganan itu berhasil, maka perlu kebijakan yang dapat meningkatkan keterlibatan semua pihak dalam penanganan karhutla secara aktif.

“Upaya pengendalian karhutla perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni dan dukungan sarana prasarana serta penganggaran yang memadai. Sehingga upaya pengendalian karhutla di Kubu Raya tahun 2020 ini dapat terlaksana secara optimal,” terangnya.

Baca Juga :  Ayo Dukung Program Desa

Apel yang digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan menanggulangi bencana Karhutla di Kalimantan Barat, lanjut Muda, salah satunya bertujuan memfokuskan langkah-langkah persiapan pengendalian karhutla yang dilakukan oleh setiap pihak. Baik jajaran TNI, Polri, masyarakat, dan pihak terkait lainnya pada periode puncak kemarau tahun 2020.

“Diadakannya apel ini adalah untuk menyamakan langkah dan menyatukan tekad untuk bahu membahu dalam pencegahan dan penanggulangan bencana asap di Kalimantan Barat khususnya di Kubu Raya,” ungkapnya.

Kepada semua pihak, Muda mengajak untuk mengubah stigma yang ada selama ini, yakni stigma yang menempatkan masyarakat sebagai korban. Menurutnya, sudah saatnya masyarakat lebih diberdayakan sebagai subjek dalam penanganan bencana. “Keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam menentukan keberhasilan suatu upaya penanganan bencana,” ucapnya,

Dia mengajak jajaran instansi pemerintah, swasta, dan seluruh masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan. Bentuknya dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Karena sebagian besar kondisi lahan di Kubu Raya adalah lahan gambut yang potensial menyebabkan kebakaran yang cepat meluas. Dirinya meminta semua pihak menyadari bahwa bencana karhutla merupakan tanggung jawab dan pekerjaan rumah bersama.

“Jadi mari tingkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan serta perkokoh kerja sama yang sudah terjalin dengan baik. Koordinasi yang harmonis dan sinergis antarpihak serta keterlibatan semua pihak baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan syarat mutlak dalam mewujudkan pengendalian karhutla yang integratif dan komprehensif di wilayah Kabupaten Kubu Raya,” pungkasnya.

Baca Juga :  Realisasikan Pembangunan Hutan Kota

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kubu Raya Mokhtar mengatakan,  selain telah memetakan sejumlah daerah yang dinilai rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, Pemerintah Kubu Raya pun juga sudah menetapkan status siaga Karhutla yang berlaku sejak 1 Februari 2020 hingga 20 Oktober 2020 mendatang.

Mengacu pada hasil pemetaan yang telah dilakukan, kata Mokhtar saat ini terdapat 18 desa di Kubu Raya yang cukup rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. 18 desa tersebut kata dia tersebar di Kecamatan Sungai Raya, Rasau Jaya, Sungai Kakap, Sungai Ambawang, dan Kuala Mandor B.

Selain melibatkan sejumlah instansi terkait, kata Mokhtar, dalam upaya pemadaman titik api, pihaknya juga selalu melibatkan Kelompok Masyarakat Peduli Api yang ada disetiap desa di Kubu Raya. Dia melihat kiprah Pokmas Peduli Api sejauh ini cukup baik. Meski begitu lantaran keterbatasan alat yang dimiliki pokmas dalam hal peralatan perlu disiasati dengan strategi sinergi yang efektif.

“Saya melihat keterlibatan masyarakat melalui Pokmas Peduli Api sudah baik. Namun yang menjadi titik lemah pokmas adalah peralatan. Karena kapasitas mesin yang ada di desa, jangkauan penyemprotannya tidak sekuat yang menjadi standar penanganan karhutla. Maka setiap kejadian karhutla kami selalu mengajak pokmas bahu membahu dalam penanganan dengan menggunakan peralatan yang ada BPBD,” ungkapnya. (ash)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/