alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Lahan Tidur Jadi Pertanian Terpadu 

BATU AMPAR – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Muara Tiga Bersatu Desa Muara Tiga Kecamatan Batu Ampar  saat ini mulai menerapkan pertanian terpadu di areal lahan yang dimiliki. Pertanian terpadu yang merupakan gabungan sistem pertanian dengan pemeliharaan gambut ini merupakan  inisiasi program revitalisasi ekonomi Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan bantuan kelengkapan pertanian yang diperbantukan untuk 100 hektar lahan pertanian.

Ketua Gapoktan Muara Tiga Bersatu, Harjo menceritakan gapoktan yang dipimpinnya semula terbentuk sejak tahun 2012 dan sempat vakum sehingga hasil padi yang dicapaipun masih jauh dari harapan. Harjo pun mengaku sempat patah semangat untuk mengembangkan geliat Gapoktan yang diketuainya.

Hingga pada akhirnya dia ditawarkan program untuk mengembangkan pertanian terpadu oleh pihak BRG. Menurut Harjo, program pertanian terpadu bukan sekadar mengelola lahan cetak sawah yang  sudah ada seluas 100 hektare saja,  namun melalui pertanian terpadu tersebut mampu mendorong meningkatkan semangat gotong-royong dan membuat para petani desa lebih bersemangat untuk maju dan menghasilkan panen yang lebih baik dan berkualitas.

Baca Juga :  Cegah Narkoba Mulai dari Keluarga

“Semangat gotong-royong dan keinginan untuk maju ini bisa dilihat dari kembali tumbuhnya kekompakan para anggota Gapoktan yang secara swadaya merapikan Jalan Umum Pertanian di desa  yang baru saja dinormalisasikan. Padahal sebelumnya jalan umum pertanian ini tidak pernah tersentuh, namun kini mulali dirapikan dan dibersihkan setiap minggunya untuk kebutuhan dan mendukung kegiatan pertanian terpadu,” ungkapnya, Minggu (26/7).

Kata Harjo, hingga saat ini sebagian besar mata pencahaharian masyarakat desa muara tiga berasal dari perkebunan sawit. Adanya pengembangan pertanian terpadu di lahan gambut diharapkan bisa kembali menggeliatkan hasil komoditas lokal seperti padi, kopi dan karet di desanya.

“Dengan kian baiknya hasil produksi sektor pertanian terpadu ini, secara tak langsung akan meningkatkan taraf hidup serta pendapatan masyarakat di desa,” ungkapnya. Dengan mengembangkan sistem pertanian terpadu, pihaknya menargetkan untuk mengubah perilaku masyarakat yang sebelumnya sering membakar lahan, menjadi tidak lagi membakar lahan.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem di Kalbar Hingga 13 Juli

Dinamisator BRG Kalimantan Barat, Hermawansyah menerangkan saat ini kegiatan BRG memiliki tiga komponen penting yakni Rewitting atau pembasahan lahan termasuk menjaga infrastruktur di lahan gambut yaitu sekat kanal di kawasan  tersebut, revegetasi atau penanaman dengan tanaman keras, serta revitalisasi ekonomi yakni pengembangan SDM di kawasan gambut dengan pertanian.

Desa Muara Tiga  merupakan Desa Peduli Gambut (DPG) di wilayah desa yang baru yang didampingi oleh kemitraan sebagai lembaga kolaborasi BRG.  Pendampingan di Desa Muara Tiga ini dipilih berdasarkan data kebakaran hutan dan lahan di tahun 2015  yang tergolong cukup besar.

“Berdasarkan data itu, desa ini kami nilai layak untuk direstorasi dan didampingi agar perilaku masyarakat yang tadinya mengelola lahan dengan cara dibakar menjadi tanpa bakar atau di BRG lebih dikenal dengan istilah (PLTB) tentunya dengan dampingan Fasilitator BRG yang ditempatkan di DPG,” pungkasnya. (ash)

 

BATU AMPAR – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Muara Tiga Bersatu Desa Muara Tiga Kecamatan Batu Ampar  saat ini mulai menerapkan pertanian terpadu di areal lahan yang dimiliki. Pertanian terpadu yang merupakan gabungan sistem pertanian dengan pemeliharaan gambut ini merupakan  inisiasi program revitalisasi ekonomi Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan bantuan kelengkapan pertanian yang diperbantukan untuk 100 hektar lahan pertanian.

Ketua Gapoktan Muara Tiga Bersatu, Harjo menceritakan gapoktan yang dipimpinnya semula terbentuk sejak tahun 2012 dan sempat vakum sehingga hasil padi yang dicapaipun masih jauh dari harapan. Harjo pun mengaku sempat patah semangat untuk mengembangkan geliat Gapoktan yang diketuainya.

Hingga pada akhirnya dia ditawarkan program untuk mengembangkan pertanian terpadu oleh pihak BRG. Menurut Harjo, program pertanian terpadu bukan sekadar mengelola lahan cetak sawah yang  sudah ada seluas 100 hektare saja,  namun melalui pertanian terpadu tersebut mampu mendorong meningkatkan semangat gotong-royong dan membuat para petani desa lebih bersemangat untuk maju dan menghasilkan panen yang lebih baik dan berkualitas.

Baca Juga :  Percepat Pertumbuhan Pembangunan Muda Ingatkan Birokrasi dengan Tanggung Jawab

“Semangat gotong-royong dan keinginan untuk maju ini bisa dilihat dari kembali tumbuhnya kekompakan para anggota Gapoktan yang secara swadaya merapikan Jalan Umum Pertanian di desa  yang baru saja dinormalisasikan. Padahal sebelumnya jalan umum pertanian ini tidak pernah tersentuh, namun kini mulali dirapikan dan dibersihkan setiap minggunya untuk kebutuhan dan mendukung kegiatan pertanian terpadu,” ungkapnya, Minggu (26/7).

Kata Harjo, hingga saat ini sebagian besar mata pencahaharian masyarakat desa muara tiga berasal dari perkebunan sawit. Adanya pengembangan pertanian terpadu di lahan gambut diharapkan bisa kembali menggeliatkan hasil komoditas lokal seperti padi, kopi dan karet di desanya.

“Dengan kian baiknya hasil produksi sektor pertanian terpadu ini, secara tak langsung akan meningkatkan taraf hidup serta pendapatan masyarakat di desa,” ungkapnya. Dengan mengembangkan sistem pertanian terpadu, pihaknya menargetkan untuk mengubah perilaku masyarakat yang sebelumnya sering membakar lahan, menjadi tidak lagi membakar lahan.

Baca Juga :  Sejak Awal Calonkan Diri, Komitmen Bangun Pertanian

Dinamisator BRG Kalimantan Barat, Hermawansyah menerangkan saat ini kegiatan BRG memiliki tiga komponen penting yakni Rewitting atau pembasahan lahan termasuk menjaga infrastruktur di lahan gambut yaitu sekat kanal di kawasan  tersebut, revegetasi atau penanaman dengan tanaman keras, serta revitalisasi ekonomi yakni pengembangan SDM di kawasan gambut dengan pertanian.

Desa Muara Tiga  merupakan Desa Peduli Gambut (DPG) di wilayah desa yang baru yang didampingi oleh kemitraan sebagai lembaga kolaborasi BRG.  Pendampingan di Desa Muara Tiga ini dipilih berdasarkan data kebakaran hutan dan lahan di tahun 2015  yang tergolong cukup besar.

“Berdasarkan data itu, desa ini kami nilai layak untuk direstorasi dan didampingi agar perilaku masyarakat yang tadinya mengelola lahan dengan cara dibakar menjadi tanpa bakar atau di BRG lebih dikenal dengan istilah (PLTB) tentunya dengan dampingan Fasilitator BRG yang ditempatkan di DPG,” pungkasnya. (ash)

 

Most Read

Paparkan Anggaran di Depan Kapolda

Tanda Anak Siap Sekolah

Artikel Terbaru

/