alexametrics
27.8 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

Relokasi Belasan Rumah Warga Kuala Karang

SUNGAI RAYA – Sebanyak 17 rumah warga di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, belum lama ini dihantam gelombang pasang laut dengan ketinggian sekitar 1 meter. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya pun berupaya merelokasi 17 kepala keluarga tersebut tak jauh dari kediaman masing-masing

“Untuk membantu warga yang terdampak bencana hantaman gelombang pasang itu, Pak Bupati (Muda Mahendrawan) bersama sejumlah jajarannya juga telah melakukan rapat koordinasi mengambil langkah seperti menyiapkan pangan dan sementara waktu merelokasi 17 kepala keluarga yang rumahnya telah disapu gelombang pasang di Desa Kuala Karang,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya, Mokhtar kepada Pontianak Post, Minggu (27/12) di Sungai Raya.

Relokasi tak jauh dari kediaman masing-masing ini sendiri, menurut Mokhtar merupakan langkah pengamanan jangka pendek. Namun untuk jangka panjang, Pemkab, menurut dia, akan mengupayakan perelokasian mereka ke daerah yang dinilai lebih aman dari hantaman gelombang air pasang laut.

“Tentunya untuk jangka panjang, daerah baru yang akan ditempati para korban hantaman gelombang pasang ini akan lebih aman dibanding tempat asalnya, yakni lebih jauh dari bibir pantai. Dan kami berfikir tentunya agar lebih aman di tempat yang baru nanti juga harus dibuat bangunan pemecah ombak,” jelasnya.

Mokhtar menilai bangunan pemecah ombak penting dibangun di Desa Kuala Karang, karena desa tersebut kata dia langsung menghadap ke laut. Dengan bangunan pemecah ombak tersebut, diharapkan dia, ketika terjadi gelombang pasang akan langsung menghantam rumah warga setempat.

Baca Juga :  43 Ribu Warga Kubu Raya Telah Divaksin

Selain di Kuala Karang, gelombang pasang laut kata Mokhtar juga sempat terjadi  di Dusun Sungai Kupah, Desa Jeruju Besar di Kecamatan Sungai Kakap. “Namun di Desa Jeruju Besar, Dusun Sungai Kupah ini gelombang pasangnya tidak sampai menghancurkan rumah warga namun memang membuat masyarakat setampat mengalami kerugian materi,” jelasnya.

Selain gelombang pasang laut, kata Mokhtar, cukup tingginya curah hujan beberapa waktu terakhir membuat sejumlah wilayah di Kubu Raya terendam banjir. “Belum lama ini terjadi banjir di beberapa titik Kecamatan Sungai Ambawang, Kuala Mandor B, dan Sungai Raya. Banjir ini terjadi akibat curah hujan ditambah alur pengeluaran air dari  anak-anak suangi ke sungai besar banyak yang terjadi pendangkalan dan penyempitan,” kata Mokhtar.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, diakui dia, hingga saat ini Kubu Raya juga sangat rentan terjadi bencana alam seperti puting beliung. Dalam upaya mengantisipasi adanya angina puting beliung, mereka pun kerap berkoordinasi memantau perkembangan cuaca yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Supadio.

“Untuk beberapa daerah yang kami pantau  rentan terjadi anginputing beliung ini, yakni di Kecamatan Sungai Kakap, Sungai Raya dan Kuala Mandor B. Makanya kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi hujan dengan angina kencang meski dalam durasi singkat,” ungkapnya.

Baca Juga :  PDI Perjuangan Bangun Balai Benih Tanaman, Masyarakat Bisa Dapat Bibit Gratis

Menanggapi adanya potensi bencana banjir dan puting beliung, secara terpisah, Wakil Ketua DPRD Kubu Raya, Usman mengimbau Pemkab melalui dinas terkait bisa terus memantau daerah-daerah yang dinilai rawan terjadi bencana lama tersebut. Usman juga mengimbau BPBD bisa meningkatkan pemantauan dan berkoordinasi dengan masyarakat, khususnya di sejumlah titik rawan terjadi banjir dan putting beliung.

Dia memperkirakan, selain karena berada di daratan rendah, bisa saja sejumlah desa yang rentan terjadi banjir itu salah satu penyebabnya karena aliran sungainya tidak baik atau tersumbat. Akibatnya, dia menambahkan, saat air masuk atau menggenang akan lebih sulit atau lama surutnya.

“Untuk mengatasinya masyarakat mungkin bisa secara bergotong royong melakukan normalisasi saluran air disekitar desa setempat. Dan keterlibatan pihak perusahaan yang berinvestasi disekitar lingkungan masyarakat desa juga sangat dibutuhkan dalam upaya mengantisipasi dan mencegah tarjadinya banjir. Hal ini bisa dilakukan pihak perusahaan melalui program Social Corporate Responsibility (CSR) yang dimiliki,” ungkapnya.

Usman juga berharap BPBD bersama sejumlah pihak terkait lainnya, untuk  kian proaktif memantau kondisi setiap desa yang dinilai rawan terjadi banjir dan puting beliung.

“Dengan adanya koordinasi dan kerjasama yang baik lintas sektor, Insyaallah upaya untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam seperti banjir, putting beliung dan sejenisnyabisa maksimal di lakukan,” pungkasnya. (ash)

SUNGAI RAYA – Sebanyak 17 rumah warga di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, belum lama ini dihantam gelombang pasang laut dengan ketinggian sekitar 1 meter. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya pun berupaya merelokasi 17 kepala keluarga tersebut tak jauh dari kediaman masing-masing

“Untuk membantu warga yang terdampak bencana hantaman gelombang pasang itu, Pak Bupati (Muda Mahendrawan) bersama sejumlah jajarannya juga telah melakukan rapat koordinasi mengambil langkah seperti menyiapkan pangan dan sementara waktu merelokasi 17 kepala keluarga yang rumahnya telah disapu gelombang pasang di Desa Kuala Karang,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya, Mokhtar kepada Pontianak Post, Minggu (27/12) di Sungai Raya.

Relokasi tak jauh dari kediaman masing-masing ini sendiri, menurut Mokhtar merupakan langkah pengamanan jangka pendek. Namun untuk jangka panjang, Pemkab, menurut dia, akan mengupayakan perelokasian mereka ke daerah yang dinilai lebih aman dari hantaman gelombang air pasang laut.

“Tentunya untuk jangka panjang, daerah baru yang akan ditempati para korban hantaman gelombang pasang ini akan lebih aman dibanding tempat asalnya, yakni lebih jauh dari bibir pantai. Dan kami berfikir tentunya agar lebih aman di tempat yang baru nanti juga harus dibuat bangunan pemecah ombak,” jelasnya.

Mokhtar menilai bangunan pemecah ombak penting dibangun di Desa Kuala Karang, karena desa tersebut kata dia langsung menghadap ke laut. Dengan bangunan pemecah ombak tersebut, diharapkan dia, ketika terjadi gelombang pasang akan langsung menghantam rumah warga setempat.

Baca Juga :  Ungkap 18 Kasus Selama Januari

Selain di Kuala Karang, gelombang pasang laut kata Mokhtar juga sempat terjadi  di Dusun Sungai Kupah, Desa Jeruju Besar di Kecamatan Sungai Kakap. “Namun di Desa Jeruju Besar, Dusun Sungai Kupah ini gelombang pasangnya tidak sampai menghancurkan rumah warga namun memang membuat masyarakat setampat mengalami kerugian materi,” jelasnya.

Selain gelombang pasang laut, kata Mokhtar, cukup tingginya curah hujan beberapa waktu terakhir membuat sejumlah wilayah di Kubu Raya terendam banjir. “Belum lama ini terjadi banjir di beberapa titik Kecamatan Sungai Ambawang, Kuala Mandor B, dan Sungai Raya. Banjir ini terjadi akibat curah hujan ditambah alur pengeluaran air dari  anak-anak suangi ke sungai besar banyak yang terjadi pendangkalan dan penyempitan,” kata Mokhtar.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, diakui dia, hingga saat ini Kubu Raya juga sangat rentan terjadi bencana alam seperti puting beliung. Dalam upaya mengantisipasi adanya angina puting beliung, mereka pun kerap berkoordinasi memantau perkembangan cuaca yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Supadio.

“Untuk beberapa daerah yang kami pantau  rentan terjadi anginputing beliung ini, yakni di Kecamatan Sungai Kakap, Sungai Raya dan Kuala Mandor B. Makanya kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi hujan dengan angina kencang meski dalam durasi singkat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Masyarakat Sungai Pinyuh Dikepung Banjir

Menanggapi adanya potensi bencana banjir dan puting beliung, secara terpisah, Wakil Ketua DPRD Kubu Raya, Usman mengimbau Pemkab melalui dinas terkait bisa terus memantau daerah-daerah yang dinilai rawan terjadi bencana lama tersebut. Usman juga mengimbau BPBD bisa meningkatkan pemantauan dan berkoordinasi dengan masyarakat, khususnya di sejumlah titik rawan terjadi banjir dan putting beliung.

Dia memperkirakan, selain karena berada di daratan rendah, bisa saja sejumlah desa yang rentan terjadi banjir itu salah satu penyebabnya karena aliran sungainya tidak baik atau tersumbat. Akibatnya, dia menambahkan, saat air masuk atau menggenang akan lebih sulit atau lama surutnya.

“Untuk mengatasinya masyarakat mungkin bisa secara bergotong royong melakukan normalisasi saluran air disekitar desa setempat. Dan keterlibatan pihak perusahaan yang berinvestasi disekitar lingkungan masyarakat desa juga sangat dibutuhkan dalam upaya mengantisipasi dan mencegah tarjadinya banjir. Hal ini bisa dilakukan pihak perusahaan melalui program Social Corporate Responsibility (CSR) yang dimiliki,” ungkapnya.

Usman juga berharap BPBD bersama sejumlah pihak terkait lainnya, untuk  kian proaktif memantau kondisi setiap desa yang dinilai rawan terjadi banjir dan puting beliung.

“Dengan adanya koordinasi dan kerjasama yang baik lintas sektor, Insyaallah upaya untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam seperti banjir, putting beliung dan sejenisnyabisa maksimal di lakukan,” pungkasnya. (ash)

Most Read

Hakim Bebaskan Enam Peladang

Remaja jadi Korban Kejahatan Seksual

Artikel Terbaru

/