alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Warga Desa Teluk Bakung Kini Nikmati Listrik Negara

Adanya Listrik Memudahkan Percepatan Pembangunan Desa  

Kebahagian warga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya pecah di pertengahan September lalu. Perjuangan mereka mengajukan pemasangan aliran listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) akhirnya berbuah manis. Kini seribuan kepala keluarga di sana bisa menikmati terangnya listrik negara.

Mirza Ahmad Muin, Teluk Bakung

LAUNCHING masuknya aliran listrik dilakukan PLN Kalimantan Barat pada  23 September lalu di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Hari itu menjadi hari bahagia warga setempat. Pasalnya, pemasangan aliran listrik di Teluk Bakung direalisasikan oleh PLN.

Letak Desa Teluk Bakung sendiri berada di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalbar. Penduduknya sebanyak 1.387 kepala keluarga (KK). Desa yang mulai mengembangkan budidaya talas ungu ini memiliki tujuh dusun. Total luas wilayahnya mencapai 54 ribu hektare.

Dari tujuh dusun tersebut, seribuan KK di lima dusun kini telah menikmati pasokan listrik PLN. Sisanya sebanyak 300-an  KK di Dusun Benua dan Gunung Loncek masih menunggu giliran. PLN tengah mengupayakan agar rumah-rumah mereka pun teraliri listrik.

Kepala Desa Teluk Bakung, Rita Dihales bersyukur kini desanya telah teraliri listrik. Meski baru sampai ke lima dusun, ia yakin dua dusun lain yang belum teraliri secepatnya juga akan menyusul.  Soalnya, permohonan untuk pemasangan  listrik di dua dusun tersebut sudah disampaikan pada pihak PLN.

Baca Juga :  Kalbar Peringkat 18 Perolehan Medali, Jakarta Masih di Pucuk Klasemen

Rita pun optimistis masuknya listrik ke desa akan berdampak baik pada semua sektor. Saat ini saja, beberapa perusahaan  telekomunikasi berencana masuk. Bila itu terealisasi maka warganya akan bisa mengakses internet, sama seperti warga kota.

Menurut Rita, listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Diceritakannya, sebelum listrik masuk desa, warga mesti membeli solar sebagai energi utama untuk menyalakan genset.  Listrik yang dihasilkan dari mesin genset ini belum mampu mencukupi kebutuhan.

“Listrik hanya menyala di malam hari karena biaya beli solar tidak kecil. Warga harus mengeluarkan tiga sampai empat juta rupiah sebulan. Semua demi penerang di malam hari,” ungkapnya kepada Pontianak Post, kemarin. Nah, berkat listrik masuk desa, biaya solar dapat dialihkan buat keperluan lain.

Listrik masuk desa juga dinilainya akan mempermudah pelaksanaan program desa. Kegiatan-kegiatan yang menggunakan komputerisasi dipastikan bisa dijalankan di kantor desa. Warga juga tak perlu lagi khawatir dengan daya yang turun naik karena  listrik PLN memiliki daya yang stabil.

Salah satu warga Teluk Bakung, Fransiskus Mulyadi, menuturkan, sebelum  listrik negara masuk, ia kesulitan melakukan  kegiatan di malam  hari. Ia teringat saat mengantar warga sakit ke puskesmas pembantu (pustu) di waktu malam. Tenaga medis di sana cuma menggunakan penerangan pelita saat melayani pasien. Belum lagi jalan menuju pustu yang begitu gelap. “Senter jadi senjata kami,” kenangnya.

Baca Juga :  PLN Bantu Paguyuban Petani Kopi Sukadana Tingkatkan Nilai Jual Hasil Panen

Hal senada dikatakan Ignasius Dundun. Menurutnya, listrik menjadi indikator utama kemajuan sebuah desa. Listrik adalah kebutuhan yang vital. Terlebih lagi di kantor Desa Teluk Bakung kepengurusan administrasi perlahan sudah merambah pada sistem komputerisasi. Tentu saja keberadaan listrik sangat dibutuhkan.

Sebelum listrik PLN masuk, pelayanan di kantor desa belum bisa menggunakan komputer. Pernah mencoba menghidupkan komputer dengan tenaga genset tetapi tegangannya tidak stabil. Niat itu pun terpaksa diurungkan.

General Manager Area Siantan, Robi Andreas menyampaikan pemasangan listrik di Desa Teluk Bakung ini baru tahap pertama. Terdapat 13 km jaringan sedang proses pemasangan. Penggunaan listrik di Desa Teluk Bakung ini berjenis prabayar. Sedangkan untuk penerangan jalan raya, sepenuhnya menjadi wewenang Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Pada kesempatan itu, ia  menyarankan agar Desa Teluk Bakung membentuk BUMDes agar bisa dimanfaatkan untuk membuka PPOB (Payment Point Online Bank/loket pembayaran online) untuk melayani pembelian token listrik. Selama ini, warga membeli token listrik sampai ke Kecamatan Lingga karena ketiadaan sinyal telepon di Desa Teluk Bakung. Jika terdapat PPOB, warga desa akan semakin mudah membeli token listrik.(*)

 

Adanya Listrik Memudahkan Percepatan Pembangunan Desa  

Kebahagian warga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya pecah di pertengahan September lalu. Perjuangan mereka mengajukan pemasangan aliran listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) akhirnya berbuah manis. Kini seribuan kepala keluarga di sana bisa menikmati terangnya listrik negara.

Mirza Ahmad Muin, Teluk Bakung

LAUNCHING masuknya aliran listrik dilakukan PLN Kalimantan Barat pada  23 September lalu di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Hari itu menjadi hari bahagia warga setempat. Pasalnya, pemasangan aliran listrik di Teluk Bakung direalisasikan oleh PLN.

Letak Desa Teluk Bakung sendiri berada di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalbar. Penduduknya sebanyak 1.387 kepala keluarga (KK). Desa yang mulai mengembangkan budidaya talas ungu ini memiliki tujuh dusun. Total luas wilayahnya mencapai 54 ribu hektare.

Dari tujuh dusun tersebut, seribuan KK di lima dusun kini telah menikmati pasokan listrik PLN. Sisanya sebanyak 300-an  KK di Dusun Benua dan Gunung Loncek masih menunggu giliran. PLN tengah mengupayakan agar rumah-rumah mereka pun teraliri listrik.

Kepala Desa Teluk Bakung, Rita Dihales bersyukur kini desanya telah teraliri listrik. Meski baru sampai ke lima dusun, ia yakin dua dusun lain yang belum teraliri secepatnya juga akan menyusul.  Soalnya, permohonan untuk pemasangan  listrik di dua dusun tersebut sudah disampaikan pada pihak PLN.

Baca Juga :  Yayasan Baitul Mal PLN Kalbar Bangun Desa Mandiri Melalui Program ‘Desa Cahaya’

Rita pun optimistis masuknya listrik ke desa akan berdampak baik pada semua sektor. Saat ini saja, beberapa perusahaan  telekomunikasi berencana masuk. Bila itu terealisasi maka warganya akan bisa mengakses internet, sama seperti warga kota.

Menurut Rita, listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Diceritakannya, sebelum listrik masuk desa, warga mesti membeli solar sebagai energi utama untuk menyalakan genset.  Listrik yang dihasilkan dari mesin genset ini belum mampu mencukupi kebutuhan.

“Listrik hanya menyala di malam hari karena biaya beli solar tidak kecil. Warga harus mengeluarkan tiga sampai empat juta rupiah sebulan. Semua demi penerang di malam hari,” ungkapnya kepada Pontianak Post, kemarin. Nah, berkat listrik masuk desa, biaya solar dapat dialihkan buat keperluan lain.

Listrik masuk desa juga dinilainya akan mempermudah pelaksanaan program desa. Kegiatan-kegiatan yang menggunakan komputerisasi dipastikan bisa dijalankan di kantor desa. Warga juga tak perlu lagi khawatir dengan daya yang turun naik karena  listrik PLN memiliki daya yang stabil.

Salah satu warga Teluk Bakung, Fransiskus Mulyadi, menuturkan, sebelum  listrik negara masuk, ia kesulitan melakukan  kegiatan di malam  hari. Ia teringat saat mengantar warga sakit ke puskesmas pembantu (pustu) di waktu malam. Tenaga medis di sana cuma menggunakan penerangan pelita saat melayani pasien. Belum lagi jalan menuju pustu yang begitu gelap. “Senter jadi senjata kami,” kenangnya.

Baca Juga :  KPK Apresiasi Aplikasi CMS Bank Kalbar

Hal senada dikatakan Ignasius Dundun. Menurutnya, listrik menjadi indikator utama kemajuan sebuah desa. Listrik adalah kebutuhan yang vital. Terlebih lagi di kantor Desa Teluk Bakung kepengurusan administrasi perlahan sudah merambah pada sistem komputerisasi. Tentu saja keberadaan listrik sangat dibutuhkan.

Sebelum listrik PLN masuk, pelayanan di kantor desa belum bisa menggunakan komputer. Pernah mencoba menghidupkan komputer dengan tenaga genset tetapi tegangannya tidak stabil. Niat itu pun terpaksa diurungkan.

General Manager Area Siantan, Robi Andreas menyampaikan pemasangan listrik di Desa Teluk Bakung ini baru tahap pertama. Terdapat 13 km jaringan sedang proses pemasangan. Penggunaan listrik di Desa Teluk Bakung ini berjenis prabayar. Sedangkan untuk penerangan jalan raya, sepenuhnya menjadi wewenang Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Pada kesempatan itu, ia  menyarankan agar Desa Teluk Bakung membentuk BUMDes agar bisa dimanfaatkan untuk membuka PPOB (Payment Point Online Bank/loket pembayaran online) untuk melayani pembelian token listrik. Selama ini, warga membeli token listrik sampai ke Kecamatan Lingga karena ketiadaan sinyal telepon di Desa Teluk Bakung. Jika terdapat PPOB, warga desa akan semakin mudah membeli token listrik.(*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/