alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Fasilitasi Pengembangan dan Pemasaran Produk KUPS

SUNGAI RAYA – Sebanyak 17 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari sejumlah desa di Kubu Raya, Senin (29/11) mengikuti temu usaha perhutanan sosial yang difasilitasi Pesona Kalbar Hijau dan sejumlah pihak lainnya di Hotel Dangau Kubu Raya. Sejumlah produk yang dihasilkan dari 17 KUPS yang tersebar dibelasan desa di Kubu Raya ini seperti madu kelulut, jahe, shilvofishery kepiting, agroforestry, dan jasa lingkungan ekowisata.

Koordinator Program Pesona Kalbar Hijau, Dede Purwansyah, menerangkan, KUPS merupakan bagian dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang berperan sebagai unit usaha untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditi yang berpotensi untuk dikembangkan. Kendati demikian, Dede melihat sejauh ini, dalam konteks pengembangan usaha Hutan Desa, masih banyak Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Kubu Raya yang belum maksimal dalam mengembangkan usaha komoditi secara mandiri.

Baca Juga :  Pantau Pendistribusian Beras bagi Warga Kurang Mampu

“Ada beberapa faktor yang membuat pengelolaan dan pengembangan usaha hasil hutan desa yang dikelola KUPS ini belum maksimal misalnya karena  keterbatasan modal, kapasitas pengelolaan usaha dan kapasitas produksi serta akses pasar,” ucap Dede di sela-sela Temu Usaha Perhutanan Sosial.

Dede menilai, dalam pengelolaan dan pengembangan KUPS diperlukan penguatan kelembagaan sebelum masuk ke tahapan pengembangan bisnis usaha. “Di Kelembagaan inikan sedikit rumit jika proses pendampingan bagi KUPS ini tidak full, karena kalau kelembagaaan ada masalah, maka berapapun besar produk dan uang yang dihasilkan belum tentu bisa dikelola dengan baik. Makanya Kami harap melalui skema temu usaha perhutanan sosial ini, teman-teman NGO dan semua pihak terkait lainnya bisa lebih intensif memberikan pendampingan bagi setiap KUPS yang ada,” jelasnya.

Melalui temu usaha perhutanan sosial tersebut, pihaknya berharap bisa memfasilitasi sekaligus mempertemukan antara KUPS bersama pelaku usaha kehutanan dan agribisnis lainnya, dengan pengusaha dan institusi terkait untuk meningkatkan kesempatan promosi atau transaksi teknologi, produk pertanian maupun jasa yang dibutuhkan petani atau pelaku agribisnis lokal lainnya. Pihaknya akan melihat lebih rinci potensi yang dimiliki setiap KUPS yang ada di Kubu Raya, untuk kemudian ditindaklanjuti diberikan pendampinga yang lebih masif.

Baca Juga :  916 Aset Bersertifikat Tahun Ini

“Nanti dari 17 KUPS ini akan kami pilih beberpa KUPS yang produknya sudah sangat siap dan layak masuk pasar untuk kami berikan pendampingan lebih lanjut. Meski begitu bagi KUPS yang belum terpilih kami harap jangan berkecil hati, karena secara berkelanjutan kami juga akan tetap memberikan pendampingan sehinga ke depan semua KUPS yang ada bisa lebih optimal dalam mengelola dan mengembangakan KUPS di desa masing-masing,” pungkasnya. (ash)

SUNGAI RAYA – Sebanyak 17 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari sejumlah desa di Kubu Raya, Senin (29/11) mengikuti temu usaha perhutanan sosial yang difasilitasi Pesona Kalbar Hijau dan sejumlah pihak lainnya di Hotel Dangau Kubu Raya. Sejumlah produk yang dihasilkan dari 17 KUPS yang tersebar dibelasan desa di Kubu Raya ini seperti madu kelulut, jahe, shilvofishery kepiting, agroforestry, dan jasa lingkungan ekowisata.

Koordinator Program Pesona Kalbar Hijau, Dede Purwansyah, menerangkan, KUPS merupakan bagian dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang berperan sebagai unit usaha untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditi yang berpotensi untuk dikembangkan. Kendati demikian, Dede melihat sejauh ini, dalam konteks pengembangan usaha Hutan Desa, masih banyak Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Kubu Raya yang belum maksimal dalam mengembangkan usaha komoditi secara mandiri.

Baca Juga :  Pantau Pendistribusian Beras bagi Warga Kurang Mampu

“Ada beberapa faktor yang membuat pengelolaan dan pengembangan usaha hasil hutan desa yang dikelola KUPS ini belum maksimal misalnya karena  keterbatasan modal, kapasitas pengelolaan usaha dan kapasitas produksi serta akses pasar,” ucap Dede di sela-sela Temu Usaha Perhutanan Sosial.

Dede menilai, dalam pengelolaan dan pengembangan KUPS diperlukan penguatan kelembagaan sebelum masuk ke tahapan pengembangan bisnis usaha. “Di Kelembagaan inikan sedikit rumit jika proses pendampingan bagi KUPS ini tidak full, karena kalau kelembagaaan ada masalah, maka berapapun besar produk dan uang yang dihasilkan belum tentu bisa dikelola dengan baik. Makanya Kami harap melalui skema temu usaha perhutanan sosial ini, teman-teman NGO dan semua pihak terkait lainnya bisa lebih intensif memberikan pendampingan bagi setiap KUPS yang ada,” jelasnya.

Melalui temu usaha perhutanan sosial tersebut, pihaknya berharap bisa memfasilitasi sekaligus mempertemukan antara KUPS bersama pelaku usaha kehutanan dan agribisnis lainnya, dengan pengusaha dan institusi terkait untuk meningkatkan kesempatan promosi atau transaksi teknologi, produk pertanian maupun jasa yang dibutuhkan petani atau pelaku agribisnis lokal lainnya. Pihaknya akan melihat lebih rinci potensi yang dimiliki setiap KUPS yang ada di Kubu Raya, untuk kemudian ditindaklanjuti diberikan pendampinga yang lebih masif.

Baca Juga :  Majukan Seni Budaya Nusantara

“Nanti dari 17 KUPS ini akan kami pilih beberpa KUPS yang produknya sudah sangat siap dan layak masuk pasar untuk kami berikan pendampingan lebih lanjut. Meski begitu bagi KUPS yang belum terpilih kami harap jangan berkecil hati, karena secara berkelanjutan kami juga akan tetap memberikan pendampingan sehinga ke depan semua KUPS yang ada bisa lebih optimal dalam mengelola dan mengembangakan KUPS di desa masing-masing,” pungkasnya. (ash)

Most Read

Artikel Terbaru

/