alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Merindukan Mandor Hijau Kembali

Pulihkan Bekas Lokasi PETI

PONTIANAK – Mandor yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Landak tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah perjuangan di Kalimantan Barat. Di sana juga terdapat Cagar Alam (CA) Mandor yang merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA). CA Mandor menyimpan potensi keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi jika dapat dikelola dengan baik.

Satu di antaranya ialah anggrek hitam, yang mempunyai nama latin Coelogyne pandurata. Sebaran tumbuhan cantik ini adalah dari Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan. Anggrek hitam bahkan menjadi maskot salah satu provinsi di Indonesia.Tanaman langka dapat ditemukan di CA Mandor.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, anggrek hitam dapat menjadi modal dalam peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar CA Mandor. “Kekayaan tersebut untuk dijadikan modal dalam peningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya yang berkelanjutan,” katanya, Selasa (1/9).

Dalam rangka menuju pemanfaatan yang berkelanjutan tersebut, BKSDA Kalimantan Barat telah menyusun skenario yang akan dijalankan. Di mulai dari pemulihan kawasan CA Mandor yang saat ini masih marak aktivitas penambangan emas ilegal.

“Langkah teknis yang dapat diambil adalah dengan menyusun kajian pemulihan ekosistem guna merumuskan macam dan urutan langkah pemulihan. Studi ini dapat dipusatkan pada area yang mengalami kerusakan atau secara menyeluruh,” ujarnya.

Selanjutnya, tambah Sadtata, akan dilakukan beberapa kajian seperti sejarah pengelolaan kawasan, penyebab degradasi, status keanekaragaman hayati, struktur vegetasi dan populasi satwa jenis asli (endemik), kajian fenologi dan perkembangbiakan satwa, kondisi biofisik tempat tumbuh dan kehidupan satwa, dan kondisi klimatologi.

Selain itu, kehidupan mikro organisme, keberadaan dan populasi satwa mangsa, satwa pemangsa dan jaring makanan, kondisi dan penyebaran pohon induk, anakan pohon (seed bank), penyebaran biji dan sumber benih, ruang jelajah satwa liar utama dan potensi gangguan terhadap kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya juga tak luput dari analisis guna memulihkan CA Mandor.

Baca Juga :  Hiu Paus Ditemukan Mati, Hingga Sirip Terpotong

“Pada kajian pemulihan ekosistem ini akan diberikan rekomendasi cara pemulihan dan skala pemulihannya. Dari kajian ini kemudian disusun Rencana Pemulihan Ekosistem yang berisi tentang rencana pengelolaan yang akan dilakukan oleh pengelola kawasan,” katanya.

Menilik bentuk kerusakan yang terjadi di CA Mandor, tambah Sadtata, upaya pemulihan ekosistem hendaknya mengombinasikan teknik konservasi tanah. Hal ini dalam rangka memberikan media tanam yang baik bagi vegetasi yang akan tumbuh. Namun bentuk konservasi tanah ini tidak dapat lepas dari kaidah dan ketentuan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA).

Dengan berbekal Rencana Pemulihan Ekosistem tersebut, berbagai pihak dari berbagai kalangan dapat berkontribusi dalam upaya pemulihan ekosistem CA Mandor dengan BKSDA Kalimantan Barat sebagai Leading Sector. Pihak ini antara lain Dinas Pemerintah Daerah terkait, perusahaan swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR), masyarakat adat setempat, kalangan penggiat konservasi di Kalimantan Barat.

“Status kawasan sebagai Kawasan Suaka Alam dengan bentuk Cagar Alam tentu memberi berjuta makna. Sebuah keberuntungan bagi kita diberikan amanah menjaga warisan yang sangat berharga. Menghijaukan CA Mandor adalah ibadah dan tugas bagi seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat,” ucapnya.

Namun menurutnya yang cukup berat adalah menjaga CA Mandor tidak rusak kembali. Tentu saja ini berkaitan erat dengan tingkat perekonomian masyarakat sekitar kawasan. Jika masyarakat sekitar kawasan telah mandiri tentu tekanan terhadap kawasan akan berkurang.

“Bersama seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat, tentunya bukanlah mustahil untuk kita mewujudkan Mandor Hijau Kembali. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari pelestarian kawasan secara lestari,” pungkasnya dengan optimis.

Cagar Alam Mandor saat ini sedang membutuhkan perhatian serius dari masyarakat Kalimantan Barat. Kerusakan yang terjadi memerlukan tindakan spesifik untuk memulihkannya. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat sebagai pemangku wilayah telah menyusun Grand Design Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Mandor. “Usaha pemulihan ekosistem Mandor tidak dapat dilaksanakan oleh satu pihak saja namun dibutuhkan kerjasama multipihak guna memperoleh hasil yang maksimal,” katanya.

Baca Juga :  Timsus Penanganan PETI Segera Dibentuk

Koordinator Publikasi BKSDA Kalbar, Eni Ratnawati menjelaskan, potensi keanekaragaman hayati kawasan Cagar Alam Mandor antara lain terdiri dari kekayaan jenis pohon, tumbuhan bawah serta satwa liar. Terdata kawasan pada kawasan ini didominasi oleh jenis Shorea, Rengas, Jelutung dan Tengkawang. Jenis Ramin juga pernah terdata menghuni kawasan ini.

Selain tumbuhan berkayu, potensi tumbuhan bawah di kawasan CA Mandor dihuni oleh berbagai macam tumbuhan karnivor seperti Nepenthes ampularia, Nepenthes mirabilis, Nepenthes gracilis dan Nepenthes bicalcarata.

Tidak ketinggalan bahwa jenis anggrek menjadi potensi yang cukup mencuri perhatian. Sebut saja Anggrek Hitam yang dahulu sempat viral akan kemolekannya. Anggrek Hitam ini menghuni hamparan kawasan CA Mandor bersama jenis anggrek lainnya seperti Anggrek Tanah, Anggrek Kuping Gajah, Anggrek Tebu, dan Anggrek Lilin.

Selain kekayaan jenis flora, kawasan yang luasnya mencapai lebih dari 4.300 kali luas lapangan sepakbola ini juga dihuni oleh berbagai satwa liar. Terdata Beruang Madu, Kelempiau, Kucing Hutan, landak, Rusa Sambar dan juga Binturong menjadi penghuni kawasan ini. Terdapat pula jenis Enggang yang terlihat terbang di kawasan ini bersama Elang Bondol, Alap-Alap Capung dan Raja Udang. Burung Ruai yang menjadi ikon Suku Dayak selain Enggang juga terdata pernah tinggal di kawasan ini.

Cagar Alam Mandor, sebuah kawasan konservasi yang cukup fenomenal di Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, menuju kawasan ini cukup ditempuh kurang lebih dua jam menggunakan jalan darat dari ibu kota Provinsi, Pontianak. Aksesnya pun mudah dilalui karena telah dibangun jalan aspal sampai di pinggir kawasan. (ris)

Pulihkan Bekas Lokasi PETI

PONTIANAK – Mandor yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Landak tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah perjuangan di Kalimantan Barat. Di sana juga terdapat Cagar Alam (CA) Mandor yang merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA). CA Mandor menyimpan potensi keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi jika dapat dikelola dengan baik.

Satu di antaranya ialah anggrek hitam, yang mempunyai nama latin Coelogyne pandurata. Sebaran tumbuhan cantik ini adalah dari Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan. Anggrek hitam bahkan menjadi maskot salah satu provinsi di Indonesia.Tanaman langka dapat ditemukan di CA Mandor.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, anggrek hitam dapat menjadi modal dalam peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar CA Mandor. “Kekayaan tersebut untuk dijadikan modal dalam peningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya yang berkelanjutan,” katanya, Selasa (1/9).

Dalam rangka menuju pemanfaatan yang berkelanjutan tersebut, BKSDA Kalimantan Barat telah menyusun skenario yang akan dijalankan. Di mulai dari pemulihan kawasan CA Mandor yang saat ini masih marak aktivitas penambangan emas ilegal.

“Langkah teknis yang dapat diambil adalah dengan menyusun kajian pemulihan ekosistem guna merumuskan macam dan urutan langkah pemulihan. Studi ini dapat dipusatkan pada area yang mengalami kerusakan atau secara menyeluruh,” ujarnya.

Selanjutnya, tambah Sadtata, akan dilakukan beberapa kajian seperti sejarah pengelolaan kawasan, penyebab degradasi, status keanekaragaman hayati, struktur vegetasi dan populasi satwa jenis asli (endemik), kajian fenologi dan perkembangbiakan satwa, kondisi biofisik tempat tumbuh dan kehidupan satwa, dan kondisi klimatologi.

Selain itu, kehidupan mikro organisme, keberadaan dan populasi satwa mangsa, satwa pemangsa dan jaring makanan, kondisi dan penyebaran pohon induk, anakan pohon (seed bank), penyebaran biji dan sumber benih, ruang jelajah satwa liar utama dan potensi gangguan terhadap kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya juga tak luput dari analisis guna memulihkan CA Mandor.

Baca Juga :  Timsus Penanganan PETI Segera Dibentuk

“Pada kajian pemulihan ekosistem ini akan diberikan rekomendasi cara pemulihan dan skala pemulihannya. Dari kajian ini kemudian disusun Rencana Pemulihan Ekosistem yang berisi tentang rencana pengelolaan yang akan dilakukan oleh pengelola kawasan,” katanya.

Menilik bentuk kerusakan yang terjadi di CA Mandor, tambah Sadtata, upaya pemulihan ekosistem hendaknya mengombinasikan teknik konservasi tanah. Hal ini dalam rangka memberikan media tanam yang baik bagi vegetasi yang akan tumbuh. Namun bentuk konservasi tanah ini tidak dapat lepas dari kaidah dan ketentuan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA).

Dengan berbekal Rencana Pemulihan Ekosistem tersebut, berbagai pihak dari berbagai kalangan dapat berkontribusi dalam upaya pemulihan ekosistem CA Mandor dengan BKSDA Kalimantan Barat sebagai Leading Sector. Pihak ini antara lain Dinas Pemerintah Daerah terkait, perusahaan swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR), masyarakat adat setempat, kalangan penggiat konservasi di Kalimantan Barat.

“Status kawasan sebagai Kawasan Suaka Alam dengan bentuk Cagar Alam tentu memberi berjuta makna. Sebuah keberuntungan bagi kita diberikan amanah menjaga warisan yang sangat berharga. Menghijaukan CA Mandor adalah ibadah dan tugas bagi seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat,” ucapnya.

Namun menurutnya yang cukup berat adalah menjaga CA Mandor tidak rusak kembali. Tentu saja ini berkaitan erat dengan tingkat perekonomian masyarakat sekitar kawasan. Jika masyarakat sekitar kawasan telah mandiri tentu tekanan terhadap kawasan akan berkurang.

“Bersama seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat, tentunya bukanlah mustahil untuk kita mewujudkan Mandor Hijau Kembali. Sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari pelestarian kawasan secara lestari,” pungkasnya dengan optimis.

Cagar Alam Mandor saat ini sedang membutuhkan perhatian serius dari masyarakat Kalimantan Barat. Kerusakan yang terjadi memerlukan tindakan spesifik untuk memulihkannya. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat sebagai pemangku wilayah telah menyusun Grand Design Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Mandor. “Usaha pemulihan ekosistem Mandor tidak dapat dilaksanakan oleh satu pihak saja namun dibutuhkan kerjasama multipihak guna memperoleh hasil yang maksimal,” katanya.

Baca Juga :  Penyelundup Kakatua Dituntut Tiga Tahun Penjara

Koordinator Publikasi BKSDA Kalbar, Eni Ratnawati menjelaskan, potensi keanekaragaman hayati kawasan Cagar Alam Mandor antara lain terdiri dari kekayaan jenis pohon, tumbuhan bawah serta satwa liar. Terdata kawasan pada kawasan ini didominasi oleh jenis Shorea, Rengas, Jelutung dan Tengkawang. Jenis Ramin juga pernah terdata menghuni kawasan ini.

Selain tumbuhan berkayu, potensi tumbuhan bawah di kawasan CA Mandor dihuni oleh berbagai macam tumbuhan karnivor seperti Nepenthes ampularia, Nepenthes mirabilis, Nepenthes gracilis dan Nepenthes bicalcarata.

Tidak ketinggalan bahwa jenis anggrek menjadi potensi yang cukup mencuri perhatian. Sebut saja Anggrek Hitam yang dahulu sempat viral akan kemolekannya. Anggrek Hitam ini menghuni hamparan kawasan CA Mandor bersama jenis anggrek lainnya seperti Anggrek Tanah, Anggrek Kuping Gajah, Anggrek Tebu, dan Anggrek Lilin.

Selain kekayaan jenis flora, kawasan yang luasnya mencapai lebih dari 4.300 kali luas lapangan sepakbola ini juga dihuni oleh berbagai satwa liar. Terdata Beruang Madu, Kelempiau, Kucing Hutan, landak, Rusa Sambar dan juga Binturong menjadi penghuni kawasan ini. Terdapat pula jenis Enggang yang terlihat terbang di kawasan ini bersama Elang Bondol, Alap-Alap Capung dan Raja Udang. Burung Ruai yang menjadi ikon Suku Dayak selain Enggang juga terdata pernah tinggal di kawasan ini.

Cagar Alam Mandor, sebuah kawasan konservasi yang cukup fenomenal di Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, menuju kawasan ini cukup ditempuh kurang lebih dua jam menggunakan jalan darat dari ibu kota Provinsi, Pontianak. Aksesnya pun mudah dilalui karena telah dibangun jalan aspal sampai di pinggir kawasan. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/