alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Ayam Langka, Pedagang Hanya Dijatah Menjual 10 Ekor

Stok daging ayam menipis. Tahun Baru, menjadikan komoditi ini paling dicari. Menu ayam bakar, pada setiap perayaan tahun baru di rumah masing-masing, membutuhkan banyak ayam. Sedangkan sekarang, sedang masuk masa pembibitan lagi. Artinya, sebulan ke depan, baru ada stok siap panen.

Miftahul Khair

PEDAGANG ayam eceran pun dijatah 10 ekor ayam hidup per harinya. Stok semakin menipis di Pasar Rakyat, Ngabang.

“Kalau cuma jual 10 ekor ayam per hari ya untungnya jadi sedikit. Mungkin nanti akan beli atau ambil dari pedagang daging ayam eceran lain,” kata Dion.

Para pedagang daging ayam di Pasar Rakyat Ngabang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan ayam dalam beberapa hari terakhir. Ia pun memperkirakan harga ayam akan naik dalam beberapa hari ke depan.

Pemandangan pasar pun tampak sepi, kemarin. Tak semua pedagang ayam membuka lapaknya. Tarmiji, salah seorang pengecer daging ayam di pasar rakyat Ngabang mengatakan, kelangkaan stok ayam mulai terjadi sejak Hari Raya Natal. Puncaknya setelah tahun baru 2020.

Baca Juga :  Komisi DPRD Landak dan OPD Bahas Program Kerja 2022

Hari Raya tersebut memang membutuhkan daging ayam, lebih banyak di hari-hari biasa. Sedangkan, hari lainnya, tidak semua keluarga membutuhkan. Terbanyak adalah restoran atau rumah makan.

‘’Karena, selain ayam, masih ada banyak pilihan. Misalnya telur atau pun ikan segar,’’ imbuh seorang pedagang di pasar Ngabang. Sedangkan jika Natal dan Tahun Baru, dipastikan, nyaris setiap rumah mengkonsumsi daging ayam. Setahun sekali, yang pasti harus ada menu yang istimewa dibanding hari biasa.

“Ini saja saya saja masih belum jualan. Padahal, sudah jam 11.00 siang. Pasokan ayam belum datang. Jadi apa yang mau kita jual,” katanya kepada Pontianak Post, Jumat (3/1).

Kondisi ini, menurutnya membuat para pedagang kian sulit menjual daging ayam. Biasanya, ia dapat menjual ayam per kilogram, kini ia hanya menjual ayam per ekor atau setengahnya. Sebab, prinsip ekonomi. Barang sedikit, dipastikan mahal.

Baca Juga :  Anggota DPRD Laporkan Hasil Reses

“Kalau begini terus, pedagang dan konsumen yang susah. Pedagang tak berani menaikkan stok. Karena mahal, takut susah dijualnya. Konsumen pun mengeluh. Mau beli, tapi harganya mahal,” katanya.

Dion pedagang daging ayam lainnya, menyebut kelangkaan terjadi karena stok ayam dari dalam dan luar Landak kosong. Kini, para peternak masih dalam masa pembibitan ayam. Dan akan kembali mendapat stok tiga minggu kemudian.

“Dari cerita agen, ayam sudah habis di mana-mana. Sekarang masih masuk pembibitan lagi,” ujarnya. Para pedagang ayam eceran pun dijatah 10 ekor ayam hidup per harinya. Dikarenakan stok yang semakin menipis di Pasar Rakyat Ngabang.

“Kalau cuma jual 10 ekor ayam per hari ya untungnya jadi sedikit. Mungkin nanti akan beli atau ambil dari pedagang daging ayam eceran lain,” kata Dion.**

Stok daging ayam menipis. Tahun Baru, menjadikan komoditi ini paling dicari. Menu ayam bakar, pada setiap perayaan tahun baru di rumah masing-masing, membutuhkan banyak ayam. Sedangkan sekarang, sedang masuk masa pembibitan lagi. Artinya, sebulan ke depan, baru ada stok siap panen.

Miftahul Khair

PEDAGANG ayam eceran pun dijatah 10 ekor ayam hidup per harinya. Stok semakin menipis di Pasar Rakyat, Ngabang.

“Kalau cuma jual 10 ekor ayam per hari ya untungnya jadi sedikit. Mungkin nanti akan beli atau ambil dari pedagang daging ayam eceran lain,” kata Dion.

Para pedagang daging ayam di Pasar Rakyat Ngabang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan ayam dalam beberapa hari terakhir. Ia pun memperkirakan harga ayam akan naik dalam beberapa hari ke depan.

Pemandangan pasar pun tampak sepi, kemarin. Tak semua pedagang ayam membuka lapaknya. Tarmiji, salah seorang pengecer daging ayam di pasar rakyat Ngabang mengatakan, kelangkaan stok ayam mulai terjadi sejak Hari Raya Natal. Puncaknya setelah tahun baru 2020.

Baca Juga :  Pembahasan LPJ APBD 2021 Dilanjut, DPRD Landak Sampaikan Pandangan Umum

Hari Raya tersebut memang membutuhkan daging ayam, lebih banyak di hari-hari biasa. Sedangkan, hari lainnya, tidak semua keluarga membutuhkan. Terbanyak adalah restoran atau rumah makan.

‘’Karena, selain ayam, masih ada banyak pilihan. Misalnya telur atau pun ikan segar,’’ imbuh seorang pedagang di pasar Ngabang. Sedangkan jika Natal dan Tahun Baru, dipastikan, nyaris setiap rumah mengkonsumsi daging ayam. Setahun sekali, yang pasti harus ada menu yang istimewa dibanding hari biasa.

“Ini saja saya saja masih belum jualan. Padahal, sudah jam 11.00 siang. Pasokan ayam belum datang. Jadi apa yang mau kita jual,” katanya kepada Pontianak Post, Jumat (3/1).

Kondisi ini, menurutnya membuat para pedagang kian sulit menjual daging ayam. Biasanya, ia dapat menjual ayam per kilogram, kini ia hanya menjual ayam per ekor atau setengahnya. Sebab, prinsip ekonomi. Barang sedikit, dipastikan mahal.

Baca Juga :  Hindari Mobil Keluar Jalur, Mobil Box Terguling di Mempawah Hulu

“Kalau begini terus, pedagang dan konsumen yang susah. Pedagang tak berani menaikkan stok. Karena mahal, takut susah dijualnya. Konsumen pun mengeluh. Mau beli, tapi harganya mahal,” katanya.

Dion pedagang daging ayam lainnya, menyebut kelangkaan terjadi karena stok ayam dari dalam dan luar Landak kosong. Kini, para peternak masih dalam masa pembibitan ayam. Dan akan kembali mendapat stok tiga minggu kemudian.

“Dari cerita agen, ayam sudah habis di mana-mana. Sekarang masih masuk pembibitan lagi,” ujarnya. Para pedagang ayam eceran pun dijatah 10 ekor ayam hidup per harinya. Dikarenakan stok yang semakin menipis di Pasar Rakyat Ngabang.

“Kalau cuma jual 10 ekor ayam per hari ya untungnya jadi sedikit. Mungkin nanti akan beli atau ambil dari pedagang daging ayam eceran lain,” kata Dion.**

Most Read

Artikel Terbaru

/