alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Masker Langka Jahit Sendiri

MINIMNYA stok masker di wilayah Ngabang dan sekitarnya mendorong Kris Wurianto dan konveksinya, LPK Pangsuma untuk membuat masker cuci pakai. Gayung bersambut, ia pun kebanjiran pesanan masker dari warga hingga Bupati Landak. Kebutuhan masker meningkat semenjak pandemi covid-19 melanda. Kris Wuranto berusaha mencari masker di sejumlah apotek, ia kaget harganya sudah mahal. Stok pun dikabarkan langka. Menjawab kegelisahan pribadinya itu, ia pun membuat masker untuk keperluan sehari ia dan keluarga.

Dari pada membeli masker yang harganya sudah melambung, ia pun berinisiatif membuat masker dengan bahan yang sudah ada di rumah usahanya pada 30 maret lalu. Tentu, dengan memperhatikan standar dan tuntutan yang telah direkomendasikan.

Rumah produksinya menggandeng enam penjahit. Setiap penjahit, kata dia dapat memproduksi sekitar 200 masker setiap harinya. Satu masker membutuhkan waktu 5 – 10 menit. Mulai dari pemotongan, jahit dan membungkus.

Satu masker dapat digunakan hingga lima sampai enam kali cuci. Masker yang ia buat berbahan dasar katun dan spongebone. Lalu dijahit dengan dua lapisan. Di kedua sisinya dikenakan karet, yang juga tersedia bagi pengguna hijab. Di tengahnya, diberikan rongga kosong, agar dapat diselipkan tisu sebagai penyaring ekstra.

Baca Juga :  Sembilan Ruko Hangus Dilahap Jago Merah

Setelah dicuci, anda dapat memasukkan tisu ke dalamnya. Rapikan kembali masker, lalu disetrika. Dan masker pun dapat digunakan kembali.

Satu masker, ia hargai Rp10 ribu. Dengan harga variasi jika dalam pesanan banyak. Ia pun tidak menerapkan minimal pesanan.

“Sesuai keperluan masyarakat. Datang ke sini, beli satu saya layani. Karena memang itu perlunya,” katanya. Pekerjaan pesanan lain pun untuk sementara ia kesampingkan. Dalam satu minggu terakhir, LPK ya hanya fokus memproduksi masker. Ia pun memohon maaf kepada para pemesan pakaian, seragam dan kaus.

Banjir pesanan ikut melanda. Pemerintah Kabupaten Landak pun telah memesan hingga 5.000 masker kepadanya. Rencananya, masker tersebut akan dibagi-bagikan ke masyarakat di Landak.

Ia mengatakan, Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasa secara langsung menghubunginya setelah postingan sang anak mendapat sambutan baik di media sosial facebook.

“Begitu ibu bupati menghubungi lewat whatsapp, ia langsung memberikan tutorial cara membuat masker. Begitu saya lihat, wah ini lah yang sudah buat. Langsung saya berikan foto contohnya. Beliau langsung ngomong, ini maksud saya yang saya mau pak. Kemudian beliau datang ke sini,” ceritanya.

Baca Juga :  Antisipasi Penyebaran Covid-19 di Sekolah

Bupati pun menyampaikan agar LPK Pangsuma dapat memberdayakan penjahit-penjahit yang dibina. Mereka diminta untuk fokus membuat masker. Pemkab yang akan menjadi pembeli utama. Dengan memesan 5.000 masker dan kemungkinan bisa bertambah.

“Kami mendapat banyak arahan ibu bupati, kebetulan bupati kita seorang dokter, ia banyak memberikan saran dan masukan untuk membuat masker ini. Beliau paham sekali,” ujarnya.

Ia pun menyanggupi permintaan bupati. Akan tetapi hanya dari segi tenaga. Untuk bahan baku ia mengaku tak bisa menjamin karena stok bahan baku dari agen di Pontianak juga terbatas. Sementara agen utama dari darah Tanah Abang, DKI Jakarta juga tidak bisa mengirimkan bahan.

Namun, ia mengatakan tetap akan mencari alternatif bahan lain untuk membuat masker. Dari stok bahan baku yang ada ia mengatakan, bisa mencukupi 2.000 masker. (miftahul khair, ngabang)

MINIMNYA stok masker di wilayah Ngabang dan sekitarnya mendorong Kris Wurianto dan konveksinya, LPK Pangsuma untuk membuat masker cuci pakai. Gayung bersambut, ia pun kebanjiran pesanan masker dari warga hingga Bupati Landak. Kebutuhan masker meningkat semenjak pandemi covid-19 melanda. Kris Wuranto berusaha mencari masker di sejumlah apotek, ia kaget harganya sudah mahal. Stok pun dikabarkan langka. Menjawab kegelisahan pribadinya itu, ia pun membuat masker untuk keperluan sehari ia dan keluarga.

Dari pada membeli masker yang harganya sudah melambung, ia pun berinisiatif membuat masker dengan bahan yang sudah ada di rumah usahanya pada 30 maret lalu. Tentu, dengan memperhatikan standar dan tuntutan yang telah direkomendasikan.

Rumah produksinya menggandeng enam penjahit. Setiap penjahit, kata dia dapat memproduksi sekitar 200 masker setiap harinya. Satu masker membutuhkan waktu 5 – 10 menit. Mulai dari pemotongan, jahit dan membungkus.

Satu masker dapat digunakan hingga lima sampai enam kali cuci. Masker yang ia buat berbahan dasar katun dan spongebone. Lalu dijahit dengan dua lapisan. Di kedua sisinya dikenakan karet, yang juga tersedia bagi pengguna hijab. Di tengahnya, diberikan rongga kosong, agar dapat diselipkan tisu sebagai penyaring ekstra.

Baca Juga :  Bupati Imbau ASN Pahami Regulasi

Setelah dicuci, anda dapat memasukkan tisu ke dalamnya. Rapikan kembali masker, lalu disetrika. Dan masker pun dapat digunakan kembali.

Satu masker, ia hargai Rp10 ribu. Dengan harga variasi jika dalam pesanan banyak. Ia pun tidak menerapkan minimal pesanan.

“Sesuai keperluan masyarakat. Datang ke sini, beli satu saya layani. Karena memang itu perlunya,” katanya. Pekerjaan pesanan lain pun untuk sementara ia kesampingkan. Dalam satu minggu terakhir, LPK ya hanya fokus memproduksi masker. Ia pun memohon maaf kepada para pemesan pakaian, seragam dan kaus.

Banjir pesanan ikut melanda. Pemerintah Kabupaten Landak pun telah memesan hingga 5.000 masker kepadanya. Rencananya, masker tersebut akan dibagi-bagikan ke masyarakat di Landak.

Ia mengatakan, Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasa secara langsung menghubunginya setelah postingan sang anak mendapat sambutan baik di media sosial facebook.

“Begitu ibu bupati menghubungi lewat whatsapp, ia langsung memberikan tutorial cara membuat masker. Begitu saya lihat, wah ini lah yang sudah buat. Langsung saya berikan foto contohnya. Beliau langsung ngomong, ini maksud saya yang saya mau pak. Kemudian beliau datang ke sini,” ceritanya.

Baca Juga :  Antisipasi Penyebaran Covid-19 di Sekolah

Bupati pun menyampaikan agar LPK Pangsuma dapat memberdayakan penjahit-penjahit yang dibina. Mereka diminta untuk fokus membuat masker. Pemkab yang akan menjadi pembeli utama. Dengan memesan 5.000 masker dan kemungkinan bisa bertambah.

“Kami mendapat banyak arahan ibu bupati, kebetulan bupati kita seorang dokter, ia banyak memberikan saran dan masukan untuk membuat masker ini. Beliau paham sekali,” ujarnya.

Ia pun menyanggupi permintaan bupati. Akan tetapi hanya dari segi tenaga. Untuk bahan baku ia mengaku tak bisa menjamin karena stok bahan baku dari agen di Pontianak juga terbatas. Sementara agen utama dari darah Tanah Abang, DKI Jakarta juga tidak bisa mengirimkan bahan.

Namun, ia mengatakan tetap akan mencari alternatif bahan lain untuk membuat masker. Dari stok bahan baku yang ada ia mengatakan, bisa mencukupi 2.000 masker. (miftahul khair, ngabang)

Most Read

Artikel Terbaru

/