alexametrics
30 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Waspada Virus Demam Babi Afrika

NGABANG – Kalangan peternak babi di Kabupaten Landak diimbau mewaspadai penyebaran penyakit demam babi afrika atau African Swine Fever (ASF). Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak, Sahbirin menyebut virus demam babi afrika atau ASF belum ditemukan vaksin atau obat untuk menanggulanginya dan menyebabkan kematian tinggi pada ternak babi.

“Demam babi atau ASF ini pertama kali di provinsi Kalbar ditemukan di Kabupaten Kapuas Hulu sedangkan untuk Kabupaten Landak pertama kali ditemukan pertama kali ditemukan di Desa Ngarak Kecamatan Mandor,” terangnya saat melaksanakan kegiatan sosialisasi Penyakit African Swine Fever (ASF) di Aula Kecamatan Mempawah Hulu, Selasa (8/2).

Landak Sahbirin menyampaikan bahwa African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.

Baca Juga :  Pria di Sekadau Gasak Motor Temannya di Warung Kopi

“ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat, ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi,” ungkap Sahbirin.

Sementara itu, Dokter Hewan Dinas DPPKP Landak, Intan Aryani menyampaikan tanda-tanda klinis ASF secara umum kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga, demam dengan suhu 41 derajat Celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis, babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas, dan tidak mau makan.

Lebih lanjut ia menyampaikan ASF dapat menyebar melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan, pakan yang terkontaminasi.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok Normal Jelang Ramadan

“Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik serta pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang berisiko tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Mempawah Hulu Angela Priscilla yang membuka kegiatan sosialisasi penyakit ASF dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini sangat penting untuk semua masyarakat, terutama para peternak. Ia mengimbau kepada peternak dan penjual produk daging babi untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap virus AFS.

“Diharapkan seluruh yang hadir agar dapat menyampaikan ke masyarakat karena di Mempawah Hulu ini juga banyak yang terserang demam babi ini,” ungkap Camat. (mif)

NGABANG – Kalangan peternak babi di Kabupaten Landak diimbau mewaspadai penyebaran penyakit demam babi afrika atau African Swine Fever (ASF). Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak, Sahbirin menyebut virus demam babi afrika atau ASF belum ditemukan vaksin atau obat untuk menanggulanginya dan menyebabkan kematian tinggi pada ternak babi.

“Demam babi atau ASF ini pertama kali di provinsi Kalbar ditemukan di Kabupaten Kapuas Hulu sedangkan untuk Kabupaten Landak pertama kali ditemukan pertama kali ditemukan di Desa Ngarak Kecamatan Mandor,” terangnya saat melaksanakan kegiatan sosialisasi Penyakit African Swine Fever (ASF) di Aula Kecamatan Mempawah Hulu, Selasa (8/2).

Landak Sahbirin menyampaikan bahwa African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.

Baca Juga :  100 Persen SMP/MTS Landak Siap UNBK

“ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat, ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi,” ungkap Sahbirin.

Sementara itu, Dokter Hewan Dinas DPPKP Landak, Intan Aryani menyampaikan tanda-tanda klinis ASF secara umum kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, diare berdarah, berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga, demam dengan suhu 41 derajat Celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis, babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas, dan tidak mau makan.

Lebih lanjut ia menyampaikan ASF dapat menyebar melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan, pakan yang terkontaminasi.

Baca Juga :  Kunjungi Mempawah Hulu, DPRD Landak Bahas Pemekaran Kecamatan

“Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik serta pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang berisiko tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Mempawah Hulu Angela Priscilla yang membuka kegiatan sosialisasi penyakit ASF dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini sangat penting untuk semua masyarakat, terutama para peternak. Ia mengimbau kepada peternak dan penjual produk daging babi untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap virus AFS.

“Diharapkan seluruh yang hadir agar dapat menyampaikan ke masyarakat karena di Mempawah Hulu ini juga banyak yang terserang demam babi ini,” ungkap Camat. (mif)

Most Read

Artikel Terbaru

/