alexametrics
26 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Ribuan Ikan Mati Mendadak, Sungai Sepatah dan Retok Tercemar Limbah Sawit

NGABANG – Limbah pabrik sawit diduga mencemari Sungai Sepatah di Desa Agak, Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak dan Sungai Retok di Desa Retok, Kecamatan Kuala Mandor, Kabupaten Kubu Raya sejak Jumat (15/4). Air Sungai Retok berubah hitam dan mengeluarkan bau amis. Beberapa jenis ikan mati dan mengapung di atas sungai, termasuk arwana yang dilindungi.

Beberapa warga juga kini mengidap penyakit kulit dan diare. Warga terpaksa menggunakan air yang tercemar karena sungai tersebut memang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka. Mau tak mau mereka tetap menggunakannya untuk mandi dan cuci.

Kematian aneka jenis ikan di Sungai Retok tersebut pertama kali diketahui pada Jumat (15/4). Ikan-ikan didapati mati dengan cara yang tidak biasa.

“Ini sudah dari Jumat (15/4) kemarin. Banyak ikan yang mati. Kematian seperti ini cenderung aneh dan di luar kebiasaan,” kata Kepala Desa Retok Sahidin saat menyusuri Sungai Retok hingga ke Sungai Sepatah bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Minggu (17/4).

Melihat kejadian itu, dirinya bersama tim pun kemudian menelusuri Sungai Retok dengan melewati Kuala Mamparigang, Taluk Paten, Gadah, Bator hingga Sungai Sepatah di Kabupaten Landak pada Minggu, 17 April 2022.

Dalam perjalanan itu, rombongan melihat  sejumlah ikan mati tampak mengapung. Di antaranya ikan baung, tilan, tamparas dan ada pula ikan buntal. Menurut Sahidin, selain ikan yang disebutkan, juga ada jenis ikan lainnya yang mati, seperti tingadak, kilabo, tapah, udang, baung tikus, belut, bintutu, jelawat, ringau, kaloi, lais, sengarat, banga, babungalan, hingga siluk atau arwana.

Sahidin mengatakan, kematian ikan-ikan di sepanjang Sungai Retok dan sekitarnya itu bukan karena racun ikan, melainkan karena pencemaran limbah sawit.

“Saya pastikan ini bukan disebabkan racun ikan. Karena dari ciri-ciri air, air sungai keruh, berbeda jika disebabkan racun ikan. Selain itu, air sungai juga mengandung minyak,” bebernya.

Sahidin menduga ada kebocoran kolam penampungan limbah pabrik sawit PT SMS yang terletak di hulu sungai. Menurut dia, kejadian serupa sudah pernah terjadi tahun 2015 dan 2019. Penampungan limbah pabrik sawit tersebut diduga pernah mengalami kebocoran, mencemari sungai dan menyebabkan sejumlah ikan mati.

“Kolam penampungan sawit ini memang letaknya ada di Kabupaten Landak. Tapi aliran sungainya hingga ke Retok. Sejak saya menjadi kades, kejadian ini sudah tiga kali terjadi. Pertama di tahun 2015, 2019, dan sekarang tahun 2022. Tahun ini yang terparah, ratusan hingga ribuan ekor ikan mati,” katanya.

Sahidin mengatakan, akibat peristiwa tersebut, warga Desa Retok dan sekitarnya sangat dirugikan.

“Kami minta agar ada solusi dari perusahaan untuk memastikan limbahnya tidak berbahaya. Karena warga Retok dan sekitarnya tidak bisa menggunakan untuk mandi, cuci dan konsumsi. Masyarakat sangat dirugikan dan di antaranya ada yang kena diare,” harap Sahidin.

Baca Juga :  Program KIAT Guru Diperluas

Ia menilai pihak perusahaan telah abai dengan kewajibannya. Mestinya, kata dia, pengelolaan dan pendirian pabrik harus sesuai dengan standar lingkungan hidup. Selama ini, pihaknya di Retok tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) berdirinya pabrik. Sementara saat mengalami kebocoran, justru warganya yang mendapat masalah karena limbah mengalir hingga ke Sungai Retok.

“Akibatnya aneka jenis ikan di sungai mati, di antaranya ikan arwana merah dan arwana silver. Padahal jenis ikan ini dilindungi,” tambahnya.

Sementara itu, Aktivis dari Walhi Hendrikus Adam, mengingatkan bahwa dugaan pemcemaran yang menyebabkan matinya sejumlah ikan tidak dapat dianggap remeh. Selain berbahaya bagi lingkungan hidup khususnya biota sungai dan aneka jenis ikan, dugaan pencemaran yang terjadi pada Sungai Sepatah hingga Sungai Retok di hilirnya juga berbahaya bagi kesehatan warga. Terlebih selama ini warga sekitar menggunakannya untuk mandi, cuci dan bahkan untuk konsumsi.

“Ikan saja mabuk hingga banyak yang mati mengapung. Sepanjang menyusuri sungai, bau anyir menyesakkan napas. Tentu ini juga akan sangat berbahaya bagi kesehatan dan mengancam punahnya pengetahuan lokal terhadap aneka nama jenis ikan bagi komunitas sekitar,” terangnya.

Karenanya, Adam meminta agar pihak terkait sesuai kewenangannya di dua kabupaten (Landak dan Kubu Raya) juga provinsi melalui Dinas LHK Kalbar segera bertindak memastikan pemenuhan hak-hal warga dan melakukan tindakan tegas atas dugaan pelanggaran yang terjadi.

Pihaknya juga mempertanyakan sikap Dinas Lingkungan Hidup Landak yang sempat datang lantas pulang. Pihak dinas malah meminta agar pihak perusahaan yang mengambil sendiri sampel air meski saat di lapangan ditemani perwakilan dua desa.

“Sayang ya, kok pihak terkait justru pulang dan tidak melakukan pengambilan sampel air secara langsung? Terlebih pengambilan sampel oleh pihak perusahaan atas permintaan DLH tersebut pun juga dilakukan beberapa hari setelah limbah mencemari sungai. Bupati dalam hal ini perlu memastikan langkah tegas atas situasi begini,” pinta Adam.

Hingga Senin (18/4) kata dia, dugaan dampak dari limbah masih berlangsung. Sejumlah warga pun mencari ikan di sungai. Terutama ikan yang belum mati dan atau mati namun masih belum membusuk.

“Sebetulnya menggunakan air yang diduga mengalami pencemaran limbah terlalu berisiko digunakan. Terlebih pada saat ini ikan-ikan saja pada mabuk dan mati mengapung. Namun, karena sungai menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar selama ini maka tetap saja kenyataannya digunakan untuk mandi dan cuci,” tutup Adam.

Siap Tindak Tegas Perusahaan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak Banda Kolaga menyatakan, pihaknya siap mengambil langkah tegas apabila perusahaan terbukti membuang limbah sawit ke sungai tersebut. Ia mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel air dan ikan di beberapa titik untuk kemudian diuji di laboratorium di Pontianak.

Baca Juga :  Laksanakan Misa Bersama Masyarakat Jelimpo

“Saya minta tim untuk ambil sampel di beberapa titik. Kemudian nanti hasil dari lab baru kita ketahui apakah itu limbah pabrik atau bukan. Kita menunggu hasil lab yang sudah diakreditasi di Pontianak,” kata Banda di Ngabang, Senin (18/4).

Banda menyebutkan, pihaknya belum mengetahui apakah pencemaran itu berasal dari limbah pabrik atau dari hal lain. Namun menurut masyarakat, ikan mati itu karena dampak dari limbah sawit.

“Tim kami sudah turun ke lokasi bersama pihak kecamatan. Sayangnya pihak desa tidak hadir untuk menyaksikan. Supaya tidak ada anggapan bahwa Dinas LH ada bermain mata dengan pihak perusahaan, itu yang selalu saya hindarkan. Saya minta tim melibatkan desa dalam pengambilan sampel, untuk membuat berita acara. Tapi kemarin mereka tidak terlibat,” ungkap Banda.

Berdasarkan saran dari Gakkum LHK, perlu disediakan tanaman kangkung dan ikan di kolam IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terakhir, untuk bukti bahwa air di sana sudah aman. Jika sudah aman, ikan dan kangkung akan hidup.

Ia juga meminta kepada perusahaan, jika kematian ikan-ikan di sungai ini memang akibat dari limbah sawit, perusahaan harus bertanggung jawab. Pihaknya siap menyampaikan laporan kepada Gakkum Kementerian LHK dan membantu melakukan penindakan.

“Seandainya itu bukan limbah dari perusahaan sawit tersebut, mungkin ada orang yang membuang limbah, saya juga minta perusahaan melaporkan. Jadi, kita minta supaya tegak aturan, jika perusahaan salah, harus ditindak sesuai aturan. Begitu juga masyarakat. Sementara ini, kita belum bisa memberikan keputusan apakah itu limbah sawit atau limbah lainnya,” jelas dia.

Ia menyayangkan lapora kejadian itu tidak langsung sampai ke pihaknya. Ia baru mendapatkan kabar pada Sabtu (16/4) malam. “Jangan hanya divideokan saja. Kami begitu dapat informasi malam, esoknya langsung turun ke lokasi, tidak akan menunggu lagi. Kami kooperatif terhadap berita tersebut,” sebutnya.

Banda mengatakan, warga mengklaim bahwa pencemaran limbah tersebut juga pernah terjadi sebelumnya. Namun, dari hasil uji sampel di laboratorium hasilnya tidak menunjukkan bahwa itu merupakan limbah dari sawit.

“Waktu 2019 hasil uji lab sampel air tidak menyatakan bahwa air tercemar karena sawit,” tutup Banda.

Pontianak Post sudah berusaha menghubungi pihak manajemen PT SMS di Sebangki. Namun pihak perusahan menyatakan belum dapat memberikan keterangan resmi mengenai kasus tersebut. Hingga kini pihak perusahaan masih berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak.(mif/arf)

NGABANG – Limbah pabrik sawit diduga mencemari Sungai Sepatah di Desa Agak, Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak dan Sungai Retok di Desa Retok, Kecamatan Kuala Mandor, Kabupaten Kubu Raya sejak Jumat (15/4). Air Sungai Retok berubah hitam dan mengeluarkan bau amis. Beberapa jenis ikan mati dan mengapung di atas sungai, termasuk arwana yang dilindungi.

Beberapa warga juga kini mengidap penyakit kulit dan diare. Warga terpaksa menggunakan air yang tercemar karena sungai tersebut memang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka. Mau tak mau mereka tetap menggunakannya untuk mandi dan cuci.

Kematian aneka jenis ikan di Sungai Retok tersebut pertama kali diketahui pada Jumat (15/4). Ikan-ikan didapati mati dengan cara yang tidak biasa.

“Ini sudah dari Jumat (15/4) kemarin. Banyak ikan yang mati. Kematian seperti ini cenderung aneh dan di luar kebiasaan,” kata Kepala Desa Retok Sahidin saat menyusuri Sungai Retok hingga ke Sungai Sepatah bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Minggu (17/4).

Melihat kejadian itu, dirinya bersama tim pun kemudian menelusuri Sungai Retok dengan melewati Kuala Mamparigang, Taluk Paten, Gadah, Bator hingga Sungai Sepatah di Kabupaten Landak pada Minggu, 17 April 2022.

Dalam perjalanan itu, rombongan melihat  sejumlah ikan mati tampak mengapung. Di antaranya ikan baung, tilan, tamparas dan ada pula ikan buntal. Menurut Sahidin, selain ikan yang disebutkan, juga ada jenis ikan lainnya yang mati, seperti tingadak, kilabo, tapah, udang, baung tikus, belut, bintutu, jelawat, ringau, kaloi, lais, sengarat, banga, babungalan, hingga siluk atau arwana.

Sahidin mengatakan, kematian ikan-ikan di sepanjang Sungai Retok dan sekitarnya itu bukan karena racun ikan, melainkan karena pencemaran limbah sawit.

“Saya pastikan ini bukan disebabkan racun ikan. Karena dari ciri-ciri air, air sungai keruh, berbeda jika disebabkan racun ikan. Selain itu, air sungai juga mengandung minyak,” bebernya.

Sahidin menduga ada kebocoran kolam penampungan limbah pabrik sawit PT SMS yang terletak di hulu sungai. Menurut dia, kejadian serupa sudah pernah terjadi tahun 2015 dan 2019. Penampungan limbah pabrik sawit tersebut diduga pernah mengalami kebocoran, mencemari sungai dan menyebabkan sejumlah ikan mati.

“Kolam penampungan sawit ini memang letaknya ada di Kabupaten Landak. Tapi aliran sungainya hingga ke Retok. Sejak saya menjadi kades, kejadian ini sudah tiga kali terjadi. Pertama di tahun 2015, 2019, dan sekarang tahun 2022. Tahun ini yang terparah, ratusan hingga ribuan ekor ikan mati,” katanya.

Sahidin mengatakan, akibat peristiwa tersebut, warga Desa Retok dan sekitarnya sangat dirugikan.

“Kami minta agar ada solusi dari perusahaan untuk memastikan limbahnya tidak berbahaya. Karena warga Retok dan sekitarnya tidak bisa menggunakan untuk mandi, cuci dan konsumsi. Masyarakat sangat dirugikan dan di antaranya ada yang kena diare,” harap Sahidin.

Baca Juga :  Operasi Pasar Gas Elpiji 3Kg di Ngabang, Warga Rela Antre di Tengah Hujan

Ia menilai pihak perusahaan telah abai dengan kewajibannya. Mestinya, kata dia, pengelolaan dan pendirian pabrik harus sesuai dengan standar lingkungan hidup. Selama ini, pihaknya di Retok tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) berdirinya pabrik. Sementara saat mengalami kebocoran, justru warganya yang mendapat masalah karena limbah mengalir hingga ke Sungai Retok.

“Akibatnya aneka jenis ikan di sungai mati, di antaranya ikan arwana merah dan arwana silver. Padahal jenis ikan ini dilindungi,” tambahnya.

Sementara itu, Aktivis dari Walhi Hendrikus Adam, mengingatkan bahwa dugaan pemcemaran yang menyebabkan matinya sejumlah ikan tidak dapat dianggap remeh. Selain berbahaya bagi lingkungan hidup khususnya biota sungai dan aneka jenis ikan, dugaan pencemaran yang terjadi pada Sungai Sepatah hingga Sungai Retok di hilirnya juga berbahaya bagi kesehatan warga. Terlebih selama ini warga sekitar menggunakannya untuk mandi, cuci dan bahkan untuk konsumsi.

“Ikan saja mabuk hingga banyak yang mati mengapung. Sepanjang menyusuri sungai, bau anyir menyesakkan napas. Tentu ini juga akan sangat berbahaya bagi kesehatan dan mengancam punahnya pengetahuan lokal terhadap aneka nama jenis ikan bagi komunitas sekitar,” terangnya.

Karenanya, Adam meminta agar pihak terkait sesuai kewenangannya di dua kabupaten (Landak dan Kubu Raya) juga provinsi melalui Dinas LHK Kalbar segera bertindak memastikan pemenuhan hak-hal warga dan melakukan tindakan tegas atas dugaan pelanggaran yang terjadi.

Pihaknya juga mempertanyakan sikap Dinas Lingkungan Hidup Landak yang sempat datang lantas pulang. Pihak dinas malah meminta agar pihak perusahaan yang mengambil sendiri sampel air meski saat di lapangan ditemani perwakilan dua desa.

“Sayang ya, kok pihak terkait justru pulang dan tidak melakukan pengambilan sampel air secara langsung? Terlebih pengambilan sampel oleh pihak perusahaan atas permintaan DLH tersebut pun juga dilakukan beberapa hari setelah limbah mencemari sungai. Bupati dalam hal ini perlu memastikan langkah tegas atas situasi begini,” pinta Adam.

Hingga Senin (18/4) kata dia, dugaan dampak dari limbah masih berlangsung. Sejumlah warga pun mencari ikan di sungai. Terutama ikan yang belum mati dan atau mati namun masih belum membusuk.

“Sebetulnya menggunakan air yang diduga mengalami pencemaran limbah terlalu berisiko digunakan. Terlebih pada saat ini ikan-ikan saja pada mabuk dan mati mengapung. Namun, karena sungai menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar selama ini maka tetap saja kenyataannya digunakan untuk mandi dan cuci,” tutup Adam.

Siap Tindak Tegas Perusahaan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak Banda Kolaga menyatakan, pihaknya siap mengambil langkah tegas apabila perusahaan terbukti membuang limbah sawit ke sungai tersebut. Ia mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel air dan ikan di beberapa titik untuk kemudian diuji di laboratorium di Pontianak.

Baca Juga :  SD dan SMP di Landak Mulai Gelar PTM

“Saya minta tim untuk ambil sampel di beberapa titik. Kemudian nanti hasil dari lab baru kita ketahui apakah itu limbah pabrik atau bukan. Kita menunggu hasil lab yang sudah diakreditasi di Pontianak,” kata Banda di Ngabang, Senin (18/4).

Banda menyebutkan, pihaknya belum mengetahui apakah pencemaran itu berasal dari limbah pabrik atau dari hal lain. Namun menurut masyarakat, ikan mati itu karena dampak dari limbah sawit.

“Tim kami sudah turun ke lokasi bersama pihak kecamatan. Sayangnya pihak desa tidak hadir untuk menyaksikan. Supaya tidak ada anggapan bahwa Dinas LH ada bermain mata dengan pihak perusahaan, itu yang selalu saya hindarkan. Saya minta tim melibatkan desa dalam pengambilan sampel, untuk membuat berita acara. Tapi kemarin mereka tidak terlibat,” ungkap Banda.

Berdasarkan saran dari Gakkum LHK, perlu disediakan tanaman kangkung dan ikan di kolam IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terakhir, untuk bukti bahwa air di sana sudah aman. Jika sudah aman, ikan dan kangkung akan hidup.

Ia juga meminta kepada perusahaan, jika kematian ikan-ikan di sungai ini memang akibat dari limbah sawit, perusahaan harus bertanggung jawab. Pihaknya siap menyampaikan laporan kepada Gakkum Kementerian LHK dan membantu melakukan penindakan.

“Seandainya itu bukan limbah dari perusahaan sawit tersebut, mungkin ada orang yang membuang limbah, saya juga minta perusahaan melaporkan. Jadi, kita minta supaya tegak aturan, jika perusahaan salah, harus ditindak sesuai aturan. Begitu juga masyarakat. Sementara ini, kita belum bisa memberikan keputusan apakah itu limbah sawit atau limbah lainnya,” jelas dia.

Ia menyayangkan lapora kejadian itu tidak langsung sampai ke pihaknya. Ia baru mendapatkan kabar pada Sabtu (16/4) malam. “Jangan hanya divideokan saja. Kami begitu dapat informasi malam, esoknya langsung turun ke lokasi, tidak akan menunggu lagi. Kami kooperatif terhadap berita tersebut,” sebutnya.

Banda mengatakan, warga mengklaim bahwa pencemaran limbah tersebut juga pernah terjadi sebelumnya. Namun, dari hasil uji sampel di laboratorium hasilnya tidak menunjukkan bahwa itu merupakan limbah dari sawit.

“Waktu 2019 hasil uji lab sampel air tidak menyatakan bahwa air tercemar karena sawit,” tutup Banda.

Pontianak Post sudah berusaha menghubungi pihak manajemen PT SMS di Sebangki. Namun pihak perusahan menyatakan belum dapat memberikan keterangan resmi mengenai kasus tersebut. Hingga kini pihak perusahaan masih berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak.(mif/arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/